Suara Dari Langit

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Nina Rahayu Nadea

13. Suara Dari Langit

Setelah di rumah rutin dilaksanakan pengajian, setiap malam Jumat tepatnya, lambat laun kekhawatiran dan kecemasan yang menimpa keluarga besar Kusuma berangsur hilang. Ajengan Samhuri selalu mengingatkan agar tidak menuduh atau percaya pada hal lain yang nantinya akan berakibat musyrik. Dan menuduh orang lain tanpa bukti itu merupakan fitnah yang lebih keji dari perbuatan membunuh. Dan Nola tak mau termasuk ke dalam golongan seperti itu.
Setiap magrib selepas beraktivitas, Bu Kusuma mengingatkan anak-anaknya untuk selalu melaksanakan salat berjamaah di rumah. Tak lupa mengaji. Mereka yang selama ini buta agama, sedikit-sedikit dapat merasakan hati disirami rohani. Dapat merasakan ketenangan karena belajar ilmu agama. Selama ini, melulu yang dipikirkan adalah harta dan harta. Hingga tanpa disadari mereka telah diperbudak harta. Kesumpekan yang melanda berangsur luluh. Terasa sekali nikmat dan kelegaan hati dapat menerima dengan ikhlas tentang apa yang telah terjadi. Nola menghilangkan prasangka buruk tentang Alex. Nola ingin menikmati semua. Mengkhusyukan diri pada-Nya, belajar berserah diri dan merasakan begitu lapangnya hidup disertai dengan ibadah pada-Nya.
Setelah melaksanakan salat malam, Nola pejamkan mata, merapal doa menguntai zikir hanya pada-Nya. Terasa nikmat setelah rutinitas dalam kegiatan yang begitu padat. Malam ini ketenangan begitu sangat Nola rasakan. Rasa ikhlas dan berserah diri pada-Nya. Memulai hidup baru dan siap melangkah untuk selalu berbuat baik, enyahkan duka dari berbagai cobaan serta derita yang selama ini kerap datang. Mencoba bersabar dan sabar. Bibir Nola tersenyum penuh kemenangan. Menang. Mengatasi derita. Menang dari segala kemelut yang hadir. Karena rasa ikhlas dan berserah diri itulah akhirnya hatinya kini begitu lapang.
Mata Nola terbuka ketika mendengar suara erangan halus. Dan terkejut ketika Nola terbangun, bahwa ia tidur bukan di kamarnya. Semua bercat putih bersih. “Di manakah aku?” Nola celingukan. Seperti rumah sakit. Ya, Nola tidur di kamar sebuah rumah sakit. “Kak Mia?” Nola terkejut ketika memandang ke sampingnya. Terhalangi gorden putih yang menari karena tertiup angin. Lebih terkejut lagi ketika Nola bangkit dan melihat Mia mengerang dengan mata melotot. Dari mulutnya keluar buih putih bercampur darah.
“Kak... Kak?”
Mia tak menjawab. Seperti tak menyadari kedatangan Nola.
“Pei!” ucap Mia lemah, berkata pada sosok yang datang.
“Haha... Mia. Ternyata kau masih ingat aku. Ingat sampai kapan pun, takkan kubiarkan kau hidup bahagia. Kau yang telah membuat hidupku hancur, hancur karena penolakanmu. Dan seumur hidup aku bersumpah, tak akan kubiarkan orang sekelilingmu bahagia.”
“Kau...” Mia terkulai.
“Aku mencintaimu Mia. Mencintai darahmu,” Pei mengecup bibir Mia yang bersimbah darah.
Beberapa menit kemudian ketika Alex datang, keriuhan terjadi. Para medis berlarian membawa perlengkapan untuk dapat menolong Mia. Tapi apa daya, nyawa Mia tak bisa tertolong. Alex menangis histeris mendapati Mia terbujur kaku.
“Istrimu mengalami pendarahan hebat. Ia mengalami shock yang berat.”
“Ya Tuhan!”Alex limbung
“Kak Mia... Kak Mia...” Nola berteriak. Tapi suaranya tak jua ke luar. “Kak... Kak....” napasnya tersengal seperti ditindih beban yang besar. Dikumpulkannya kekuatan untuk menyusun energi, mendorong beban yang sepertinya tepat di badan. “Ya, Alloh, ternyata aku tertidur di atas sajadah ini,” Nola mengamati sekeliling. Tempat yang tak asing lagi, di kamarnya sendiri. Merinding Nola mengingat mimpi yang seperti nyata. Dilihatnya jam yang menempel di dinding kamar, jam 2 malam. Bayangan Mia menari-nari di pelupuk mata, seolah nyata. Tubuh Nola berpeluh keringat. Sesaat ia termenung di atas sajadah, mengingat apa yang baru saja terjadi. Seolah nyata dan dilihat sendiri. Tidak, itu hanya mimpi, Nola menepis semunya.
Kesibukan yang padat ternyata telah melupakan Nola pada Mia. Berdoa. Mengingatnya Nola segera bangkit. Melangkah ke kamar mandi dan berwudu. Melakukan solat hajat, memohon ketenangan agar dijauhi dari prasangka.
Salat khusyuk, untuk mendoakan almarhum Mia. Semoga dengan cara seperti itu dapat memupus bayangan Mia. Serta mudah-mudahan Mia dapat hidup tenang di sana, di alam yang abadi. Kali ini salat Nola begitu mendalam, sajadah sampai basah karena air mata. Yang dipinta pada-Nya, bahwa semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa Mia sewaktu hidup. Menempatkannya di tempat yang layak dan tenang.
“La....” seperti ada suara yang tiba-tiba terdengar. Sesaat Nola berhenti merapal doa. Menyimpan tasbih sesaat. Menengadah melihat ke sekeliling, tak ada apa-apa. Hanya suara angin yang kemudian terdengar dari balik jendela. Nola meneruskan doa. Tapi baru beberapa hitungan, kembali suara itu terdengar. “La... bantu Kakak...” jelas. Entah dari mana asalnya. Nola memasang telinga lebar. “La... bantu Kakak...” kembali suara itu terdengar. Sangat dekat, berbisik ke telinga. Dan Nola yakin kali ini ia tidak salah dengar. Tapi siapakah dia? Sementara di kamarnya hanya ada seorang, yaitu dirinya. Pastilah ada seseorang di luar. Segera dilipat sajadahnya. Berdiri berinjit. Langkahnya mendekat ke arah jendela.
“Bismillah,” ucapnya perlahan lalu membuka jendela kamar. Tak ada apa pun, yang dilihat hanya pepohonan dengan aneka bunga-bunga yang terlihat di sana. Harum semerbak. Sesaat Nola termangu memandang sekeliling. Setelah yakin tidak apa-apa, ia memegang jendela kamar berniat untuk menutupnya. Tapi sebelum niat terlaksana, tiba-tiba kembali terdengar suara yang halus tapi jelas. ”La... bantu Kakak.” kali ini jelas seperti suara dari atas, dari langit. Nola mendongak. Dan kini terlihat bayangan putih meliuk di sana. Di atas langit, tak jelas wujudnya. Tapi bayangan putih itu nyata terlihat. Saling berkumpul membentuk sosok, sosok manusia.
“Kakak... Kak Mia!” Nola berusaha berkata walau dengan rasa takut. Mencoba memanggil. Karena suara itu... suara itu, mirip dengan suara Mia.
“Pei...”
“A... apa...?” Nola tergagap.
“Pei...,” suaranya melemah, tapi jelas terdengar oleh Nola. Semakin lama bayang itu semakin tipis. Memudar. Bayangan yang dilihat kemudian berpendar dan menghilang menuju langit.
“Kak Mia. Pei?” Nola terlongo menyaksikan sosok yang beberapa detik lalu ada di hadapannya. Tapi secepat kilat menghilang dari pandangan. Digigitnya bibir, tak percaya dengan yang terjadi. Antara nyata dan tidak, tapi benar-benar Nola tidak bermimpi.
Membandingkan mimpi dengan kejadian baru saja, adakah mimpi dan bayangan putih serta suara dari langit keterkaitan? Apakah ini sebuah petunjuk? Tuhan, jangan kau biarkan Pei mengalami hal tragis seperti kakakku. Nola bergidik dan segera berkemas ketika mengetahui hal itu. Tanpa menunggu lagi Nola langsung menyalakan mobil, berangkat sendirian menuju rumah Pei. Baru disadari beberapa hari ia tak bertemu dengan Pei dan Nola tak mau ada kejadian yang tidak diinginkan menimpa Pei, kekasihnya.
Nola mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Yang diinginkan hanya ia bisa cepat sampai di rumah Pei yang dingin di daerah Lembang. Suasana malam yang dingin serta kabut tipis mulai menyambut Nola ketika memasuki perkebunan. Aneka bunga-bunga dihirup, menyambut dengan ceria. Rumah Pei yang sederhana mulai kelihatan dari jauh. Terburu Nola datang dan menghampiri rumah yang sepi itu.
“Pei,” Nola mengetuk pintu perlahan. Tak ada jawaban. “Pei,” pintu diketuk kembali. Sesaat berdiri lama di depan pintu. Dipendarkannya pandangan ke sekeliling rumah. Tiada tanda-tanda Pei akan muncul. Pei di manakah kau? Beragam pertanyaan dan rasa takut mulai menjalari tubuh Nola. Nola begitu takut ada apa-apa dengan Pei. “Hah tak dikunci?” gumannya, ketika ia mendorong pintu. “Pei, Pei, di mana kau?” Nola masuk dengan kecemasan dua kali lipat. Membayangkan Pei yang tidak ada ditambah dengan pintu tidak dikunci. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Pei. Nola langsung masuk. Memperhatikan seluruh ruang tamu yang sepi. Menelisik keadaan rumah yang memang sangat senyap, tiada berpenghuni.
Nola memberanikan diri masuk ke kamar Pei, mudah-mudahan ia ada di sana sedang tertidur, akan Nola bangunkan dan membuat Pei suprise dengan kedatangannya. Bahwasanya ia datang ke sini sendirian di malam gulita. Nola tersenyum membayangkan mimik Pei yang lucu, pastinya akan tambah lucu melihatnya berada di sini.
“Pei,” ucapnya pelan. Tangannya membuka pintu kamar yang sama, tidak terkunci. Seketika pintu kamar terbuka lebar. Dan Nola terkejut menyaksikan kamar yang kosong, tiada orang. Pei, di mana kau? Mata Nola mulai basah karena memikirkan nasib Pei. Ia begitu takut nasib buruk menimpa Pei.
Nola melihat keadaan kamar. Baru disadari kini ternyata kamar Pei penuh dengan barang-barang. “Ya Tuhan. Bukankah ini barang-barang yang aku titipkan untuk anak panti asuhan, tapi kok ada di sini?” Nola melihat karung dan membuka dus karena ingin meyakinkan isinya. Memang benar berasal darinya. “Pei terlalu sibuk kiranya, hingga belum sempat mengantarkan ke panti asuhan. Tapi kenapa 3 hari yang lalu meneleponku dan meminta mentransfer uang serta meminta barang-barang untuk panti asuhan kembali? Padahal di sini pun masih menumpuk.”
Di tengah pertanyaan yang menggunung dalam pikiran. Nola tertarik untuk melihat-lihat album yang berserak di atas meja dekat kamar tidur. Satu dua lembar mulai dibuka. Dan Nola terkejut ketika melihat foto-foto Mia dan Alex. Bukankah ini foto yang ada di Bali? Kenapa Pei bisa mempunyai foto sebanyak ini. Nola melihat foto-foto mereka begitu ceria. Tiada kesedihan terlihat di sana. Ada yang di pantai, di Pura atau bahkan ada yang di penginapan. Dan hii… Nola bergidik ngeri ketika melihat foto Alex dan Mia berada di tempat pribadinya. Tempat yang terlalu pribadi. Tempat yang sakral untuk mereka berdua. Gila, masa hal seperti ini harus dipublikasikan? Siapa yang mengambil fotonya? Nola terkejut dan lebih terkejut lagi ketika lembaran demi lembaran dibuka terus. Lebih terkejut lagi ketika menemukan foto yang lain.
Foto Mia, Si Pushi, Mang Maman, Bi Ina, Pak Kusuma. Semua ada di sana. Yang lebih mengerikan adalah foto tersebut dilingkari dengan tinta merah. Di bawah foto Pak Kusuma ada tulisan ‘tunggu kematianmu’ dengan tanda tanya besar. Apakah Pei... apakah... tidak. Tak mungkin Pei melakukannya. Napas Nola mulai tersengal dan bayangan mulai kabur. Namun dikuatkan kembali hatinya, menelisik foto-foto itu kembali setelah Pak Kusuma. Dan kemudian ada Bu Kusuma, dan terakhir adalah foto... foto dia sendiri. Nola Amalia. Haaah, foto apaan ini?
“Tuhan, benarkah yang kulihat ini? Apakah ini sebuah petunjuk? Akan aku beri tahukan semua bukti ini. Mudah-mudahan ada jalan terang.” Nola membuka pintu kamar ingin segera hengkang dari tempat ini. Tempat terkutuk yang dipenuhi tabir. Tapi...

Other Stories
Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Separuh Dzarrah

Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...

Cinta Di Ujung Asa

Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Kesempurnaan Cintamu

Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...

Download Titik & Koma