Tea Love

Reads
3.2K
Votes
0
Parts
26
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

24. That\'s A Love

Naila memang sangat kelelahan semalam setelah siang melakukan latihan pencak silat lebih keras. Naila tidak terbangun saat panggilan telepon dari Naura yang mungkin tengah berputus asa.
Naila menyesal semalam gara-gara dirinya tidak mengangkat telepon Naura menyebabkan Naura mengambil keputusan untuk bunuh diri.
Naila sedih pasti Naura berprasangka buruk kalau dirinya memang benar-benar sudah tidak mau lagi mengenalnya sampai-sampai sudah mencoba menelepon berulang kali dirinya tetap tidak mau mengangkatnya. Sekarang segudang rasa sesal menyesakan dada Naila.
“Kasihan Naura, maafkan aku yang membiarkan dirimu melewati saat berat sendiri,” bisik hati Naila.
Saat Naura ditangani dokter, Mama Miranda merasa terpukul. Berbagai pikiran berkecamuk, sekejap pupus rasa ego Mama Miranda. Mama Miranda menghubungi satu persatu orang yang pasti ingin Naura dekat bersamanya. Menghadirkan orang yang memang paling berarti hidup semoga membuat Naura bangun dari komanya.
Arjuna langsung melesat ke Rumah Sakit Persahabatan saat malam Mama Miranda mengabarkan Naura masuk rumah sakit demikian juga Fabian dan orang tuanya.
Tengah malam mereka berkumpul menunggui Naura. Sementara Naila tidak mengangkat telepon karena sudah tidur.
***
Sekarang semua berkumpul dan memilih diam dengan pikiran masing-masing. Semua mencoba tenang saat dr Budiman yang habis mengecek Naura di ICU datang. Tampak wajah tua dr Budiman yang terpancar sebagai dokter senior berpengalaman. Wajah yang tetap berwibawa di usianya yang lanjut.
Papa Ramon merangkul Mama Miranda dan mengelus perlahan untuk memberikan kesabaran dan kekuatan.
\"Naura semakin membaik, dia butuh istirahat cukup. Gadis itu depresi sepertinya ada masalah tapi sulit untuk diungkapkan,\" dr Budiman menjelaskan dengan tenang.
Mama Miranda merasa menyesal terlalu memaksakan kehendaknya, hampir dua bulan ini dia memperlakukan Naura seperti buronan saja yang perlu diawasi.
Melarang dan mengancam Arjuna menemuinya. Fabian tidak ada pilihan harus datang menemani Naura sesuai permintaan mutternya agar tumbuh rasa suka, nyatanya kedatangan Fabian juga tidak membuat Naura terhibur apalagi berubah jatuh cinta.
Naura benar-benar hanya menanti Arjuna yang tidak sekalipun mengunjunginya. Arjuna tidak berani mendekati Naura karena ancaman preman sewaan Mama Miranda. Dan Mama Miranda juga yang merakayasa pengiriman paket foto mesra Arjuna dan Naila beserta sepucuk surat.
Arjuna memilih menjauh karena masalah perceraian kedua orang tua Arjuna, sebenarnya lengkap juga penderitaan Arjuna sudah patah hati ditambah keributan orang tuanya yang akan berujung perceraian.Kalau memang Pengadilan Agama yang terbaik menjadi anak broken home bukan masalah bagi Arjuna. Asalkan ibundanya tidak lagi babak belur karena tangan kasar ayahnya.
Fabianpun sama tengah berkompromi apakah cinta dihatinya terhadap Naila akan mati karena dia hanya anak pembantu? Nyatanya hatinya masih tetap mencari Naila.
Naila, Naura, Fabian, dan Arjuna semua jatuh dan mereka tengah mencoba memecahkan masalah tanpa menghubungkan hati satu sama lain.
Sekarang semua berkumpul di ruang tunggu ICU lantai 3 atas usaha bunuh diri Naura. Mungkin ini satu-satunya jalan agar semua kembali berkumpul yang ada dalam benak Naura sebelum nekad melukai nadi tangannya.
Naila menatap Fabian, tampak tatapan rindu dan sungguh Naila pun merindukan berbicang dengan Fabian. Rindu cerita-cerita tulisannya dan cerita keindahan negara vaternya.
Kalau bukan karena laranganvater dan mutter, Fabian pasti juga sudah mencoba mencari Naila. Fabian sangat merindukan saat duduk-duduk sambil berdiskusi diantara buku dan cemilan di taman kompleks Riverside menunggu senja bersama Naila.
***
Naila dan Fabian hanya bisa saling tatap. Naila tidak berani menatap Tante Tiwi dan Om Kay Mueller yang sebenarnya dalam juga merasa tidak enak hati karena sudah menganggap Naila rendah hanya anak pembantu.
\"Naila, maaf atas sikap kami waktu lalu. Kami tidak bemaksud menghinamu,\" Tante Tiwi mengulurkan tangan.
Naila menyambut dan mencium tangan tersebut.
“Maafkan saya Tante,” Naila meminta maaf, entahlah apa yang akan terjadi setidaknya dia juga perlu meminta maaf atas konspirasi yang telah dilakukan dengan Naura waktu lalu.
Fabian dan vaternya tersenyum juga Ayah Awan melihat Tante Tiwi memeluk Naila. Mereka saling bermaafan.
***
Penanganan yang sigap dan insentif menghasilkan kesembuhan. Bersyukur masa kritis Naura terlewati.
Keluarga yang tadinya kecil hanya Mama Miranda dan Papa Ramon dengan kehadiran sahabat-sahabat Naura, keluarga Ayah Awan dan keluarga Kay kini menjadi besar dan kompak. Mereka bergantian menjaga Naura.
Tante Tiwi dan Mama Miranda sudah tidak meributkan masalah perjodohan mereka yang gagal total. Mereka lebih memfokuskan kesembuhan Naura.
Bahkan membiarkan Fabian dan Naila berdua sejenak melepas rindu setelah hampir dua bulan tidak diijinkan bertemu.
Ketika senja di hari ketiga saat mereka berkumpul di ruang tunggu rumah sakit tiba-tiba Naura memanggil nama Arjuna dengan lemah.
”Junaaa....”
Semua langsung melihat ke arah tempat tidur Naura terbaring.
Arjuna sigap sudah memegang jemari Naura. Perlahan Naura tampak mulai tersenyum membuka matanya.
Hanya air matanya menetes, kerinduan terpancar pada sepasang kekasih yang terpisah. Pas semuanya tengah berkumpul, semaunya memilih diam dengan pikiran masing-masing. Inilah cinta tengah bekerja menyirami semua hati.
That love show us ....
***
Satu bulan kemudian...
Naura bersandar pada bahu Arjuna sementara Naila duduk dekat Fabian. Bercanda kembali berbagi ceria. Berceloteh banyak hal tentang lagu, film,gosip, dan entah apa lagi. Satu mug teh besar menemani suara-suara riang remaja. Berbagi teh dan cinta.
“Ehhh kalian mau tahu apa yang membuat aku ingin kembali bersama kalian saat aku koma?” Naura tiba-tiba ingin menceritakan pengalaman saat koma.
“Wah mau dong! Pasti seru deh cerita kamu,” Fabian sudah bersiap-siap mendengarkan dengan semangat.
“Jangan kamu jadikan novel ya kisahku ini Fabi!” Naura melotot galak.
“Ayo jadi apa yang buat kamu bersemangat kembali?” tanya Naila juga tidak kalah antusias.
“Baiklah akan aku ceritakan, jadi malam waktu aku mencoba bunuh diri itu adalah malam yang terburuk karena aku sangat terpukul dengan foto-foto rekayasa kemesraan Naila dan Arjuna. Aku sangat kecewa dengan diriku sendiri yang tidak punya perasaan kalau saudaraku masih tetap mencintai Arjuna meskipun kita sepakat kalau Fabian yang harusnya dekat dengan Naila. Aku mencoba menghubungi Naila berkali-kali untuk memastikan foto kemesraan yang sekarang kita tahu itu rekayasa.”
Naila menggenggam tangan Naura, kalau ingat miss call ada lima belas waktu lalu pasti keingintahuan Naura akan kebenaran foto yang diterima.Ternyata dirinya malah tidur dan terlelap dalam mimpi sampai tidak bisa merasakan saudaranya tengah kacau dengan foto-foto dirinya dengan Arjuna yang kelihatan mesra. Padahal itu semua adalah foto yang diedit.
Naura melanjutkan ceritanya, “Aku putus asa, mama sangat berubah! Aku merindukan Naila dan Ibu Ratna. Bagaimana bisa kalian tega meninggalkan aku dalam keadaan kacau. Kita terbiasa berbagi minuman teh dan apapun. Aku sangat merindukan masa-masa kita selalu bersama. Aku tidak bisa hidup dengan sendiri. Aku kangen teh buatan kamu Nai juga belaian Ibu Ratna saat aku lelah.”
Naila tersenyum,” Sekarang kita tidak akan terpisah lagi Nau...tidak ada kejadian apapun yang akan memisahkan kita lagi.”
“Saat aku koma, aku sangat marah karena semua tidak ada yang peduli. Tiba-tiba aku melihat mug kesayangan kita. Di situ ada teh hangat mengepul dengan aromanya yang wangi. Aku menyesap teh ternikmat. Tubuhku merasa hangat padahal baru saja aku menggigil kedinginan.”
“Hmmm terus…terus….” Fabian antusias bertanya penuh penasaran.
“Rasanya aku baru sedikit meminumnya tapi teh itu sudah habis, sementara aku lihat darah di tanganku mengucur deras lagi akibat aku melukainya. Aku ketakutan! Mendadak ternyata aku takut kematian! Aku menyesal melakukan kebodohan! Mug yang tadinya sudah kosong karena aku minum tiba-tiba sudah berisi teh lagi dan aku meminumnya dan seketika darah yang mengucur di tanganku berhenti.”
“Aku berpikir apa yang menyebabkan teh kedua terisi lagi dan setelah aku meminumnya lagi darah yang mengucur juga berhenti? Yang terlintas saat itu dalam benakku adalah wajah Naila. Mug itu terisi teh lagi karena masih ada yang tidak kebagian. Mug ini adalah mug kesayangan aku dan Naila, terbiasa tersentuh dua bibir jadi saat bibir pertama meneguk nikmatnya teh sampai habis dia terisi lagi untuk bibir yang kedua. Mug ini menciptakan kebersamaan kita berdua.”
Arjuna tersenyum mendengarkan cerita Naura yang dianggapnya seperti cerita film saja. Selama ini dia bukan cowok yang melankolis sama sekali. Berteman dan bersahabat dengan Fabian yang novelis dan Naura yang juga melankolis sedikit membuat dirinya terbawa dengan sikap lembut mereka.
“Seketika aku berlari mencari kamu Nai karena aku yakin kamu juga merindukan teh yang sangat nikmat ini. Aku tidak mau kehilangan lagi menikmati teh kebersamaan. Aku memutuskan untuk berlari dari kematian. Aku terus lari mencari kamu Nai, aku merindukan menghabiskan waktu minum teh dengan mu. Berlari hingga aku terjatuh dan tampak wajah seseorang. Coba tebak wajah siapa?“
Semua berkenyit penasaran.
“Hoiiiii semua kok jadi serius banget! Yang membuat aku bangun saat terjatuh karena wajah ini nih! Wajah jeleknya tiba-tiba muncul karena aku tubruk.”
Naura memegang wajah Arjuna dengan dua tangannya yang sontak berubah merah padam diperlakukan seperti anak kecil. Semua seketika tertawa menertawakan kelakuan Naura terhadap Arjuna.
Arjuna sadar bagian terakhir cerita sepertinya karangan Naura belaka untuk menggodanya. Tapi Arjuna yang tengah di bully Naura seperti apa tetap stay cool. Sekarang yang membuat bahagia dia tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi untuk bisa dekat dengan Naura. Semua sudah jelas terbuka. Fabian dan Naila juga tidak perlu lagi malu-malu dengan keseriusan mereka.
***
Fabian menghadirkan cerita-cerita novel lain yang tengah digarap. Fabian dengan terbuka berbagi tentang cerita novelnya untuk dapat masukan dari orang-orang dekatnya.
Naila jadi tertarik untuk menulis selama ini dia hanya menulis kisah-kisahnya hanya dalam diary. Dekat dengan Fabian banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, toko buku, dan diskusi-diskusi penulisan yang menarik. Ini menyenangkan buat Naila yang tidak lagi hanya mengenal dunia pencak silat.
Naura dan Arjuna saling melengkapi. Naura seorang pianist sedangkan Arjuna masih sama dengan Naila menyukai olah raga bela diri pencak silat. Sesekali Naura dan Arjuna saling mendukung setiap ada acara yang menarik sesuai dengan hobi masing-masing.
Masa remaja menjadi sangat indah dengan terus berprestasi dengan seseorang yang saling mendukung dan dekat di hati. Teman dekat yang saling men support dan teman dekat yang mengarahkan pada aktivitas yang positif.
Sesekali Naila tidur di rumah Naura demikian juga Naura sesekali tidur di rumah Naila. Tentu saja Naila tetap bersikap rendah hati walau dirinya sekarang seorang putri pembisnis yang kaya raya.

Other Stories
Susan Ngesot

Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...

Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Baca Tanpa Dieja

itulah cara jpload yang bener da baik ...

Sweet Haunt

Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...

Download Titik & Koma