23. The Times Running
Naura dan Naila sebenarnya setiap hari sekolah tetapi jurusan dirinya dan Naila berbeda menyulitkan Naila dan Naura berkomunikasi.
Naila merasa Naura menghindar darinya. Naura pun merasa bersalah dan tidak enak hati. Sekarang jadi ada jarak yang menghalangi mereka. Masing-masing memilih menjauh walau sebenarnya dalam hati mereka tersimpan kerinduan.
Naila juga tidak melihat lagi Arjuna menjemput Naura, bahkan sebulan ini Arjuna tidak lagi berlatih pencak silat.
***
Fabian juga hilang bagai ditelan bumi. Naila merasa sedih karena sekarang semua bagai jalan dengan koridor orang tua masing-masing. Demikian juga Naila harus mengikuti aturan ayahnya.
Dua saudara adik laki-laki tirinya juga sangat tertib, Naila harus menyesuaikan dengan aturan ayahnya yang ketat dengan agama.
Bahkan ayah Awan juga sudah melarang Naila berpacaran dengan bule yang tidak seagama. Walau Naila tahu Fabian muslim tapi mungkin tidak sesempurna harapan ayahnya. Sepertinya yang terbaik saat ini semua harus menuruti apa yang paling terbaik buat mereka dengan aturan orang tua masing-masing.
Kenangan berbagi teh dengan Naura melintas berkelebat.
***
Naila bangun kesiangan ada miss call lebih dari lima belas kali dari Naura dan lima miss call dari Mama Miranda. Semalam dia tidur cepat seperti biasa badannya kecapaian setelah Sabtu siang berlatih pencak silat.
Hari Minggu ini sebenarnya Naila ingin jalan ke toko buku menghilangkan kepenatan hati. Matanya terbelalak saat mengecek telepon total ada dua puluh miss call.
Tiba-tiba telpon genggamnya berbunyi ada nama mama Miranda di layar telepon.Hati Naila mencelas tidak jelas. Ada debar yang mengisyaratkan ada yang tidak beres tengah terjadi.
Tiba-tiba hatinya berdebar tidak karuan, perasaannya mengatakan Naura sedang mengalamai masalah.
Naila cepat menerima telepon panggilan Mama Miranda.
\"Nai cepat ke Rumah sakit Persahabatan ke ruang ICU ya! Naura semalam berusaha bunuh diri!\" Suara Mama Miranda sudah parau penuh tekanan.
Naila panik dan segera bangkit dari tempat tidur mewahnya untuk mandi cepat dan mengganti pakaian.
Segera meminta Mang Dirman menyalakan mobil, sebelumnya Naila sempatkan menginformasi berita bunuh diri Naura pada ibunya yang sedang menyiapkan sarapan pagi dengan Ibu Asih.
Ibu Ratna sangat bersedih. Naila meminta ibunya di rumah saja dan berdoa, melihat Ibu Ratna yang tampak kurang sehat juga. Sementara ayah Awan ikut menemani Naila menuju Rumah Sakit Persahabatan.
Hati Naila merasa tidak tenang. Naila berlari cepat menuju ruang ICU di lantai 3. Sampai di ruang tunggu ICU sudah berkumpul Arjuna, Fabian, Tante Tiwi dan Om Kay Mueller. Tampak Mama Miranda yang pias memegang erat lengan suaminya Papa Ramon.
\"Ada apa Mah? Kenapa Naura sampai nekad begini?\" Naila langsung bertanya pada Mama Miranda.
\"Naura berusaha bunuh diri...\" Mama Miranda tidak sanggup meneruskan ceritanya.
“Nau berusaha bunuh diri dengan memotong urat nadinya,” Papa Ramon menjelaskan tanda tanya di wajah Naila.
\"Hah! Naura!” tidak pernah terpikirkan adiknya akan melakuakan perbuatan nekad dengan mencoba memotong urat nadinya.
\"Kenapa bisa begitu Mah Pah?\"Naila bertanya setengah tidak percaya.
Dua bulan berjalan hati mereka memang menjadi semakin jauh ditambah satu bulan ini Naila sudah tidak serumah lagi. Naila tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan Naura.
Di sekolahan pun masing-masing sibuk dengan urusan yang berbeda. Naila mengambil kelas jurusan sosial sementara Naura mengambil jurusan eksakta.
Dua bulan kondisi tidak nyaman sepertinya berdampak besar pada Naura. Naila yakin Naura sangat tertekan dengan keadaannya.
Naila merasa sangat bersalah bila Naura sampai tidak bisa diselamatkan. Selama ini dia terlalu sibuk memikirkan hatinya sendiri tanpa memedulikan adik yang dari kecil selalu dilindungi.
Naila merasa sangat bersalah! Seharusnya dia tidak ikut menjauhi adiknya karena hinaan Mama Miranda. Harusnya dia mencari tahu apa yang dirasakan oleh Naura. Tapi rasa sakit karena hinaan Mama Miranda yang menganggap dirinya dan ibunya hanya pembantu membuat Naila sakit hati dan memilih menjauh dari keluarga ini. Apalagi ibunya sudah setulus hati merawat Naura juga seperti anaknya tapi seolah tidak ada artinya sama sekali di mata Mama Miranda.
Tampak wajah Arjuna yang sangat khawatir dan Fabian yang menghalau rasa sedihnya dengan memainkan Ipadnya entah apa yang tengah ditulis.
\"Sekarang gimana Mah kondisi Nau?\" Naila mulai berkaca-kaca rasa takut mendera dirinya, diapikir selama ini dirinya seorang yang tersiksa dan merasa terpuruk. Ternyata Naura lebih tertekan dengan pengawasan ketat Tante Miranda yang mengkhawatirkan sepak terjang Naura. Naura yang dianggapnya penurut berubah menjadi pemberontak.
Naila pernah diberi tahu dari ibunya kalau Arjuna pun diancam oleh orang suruhan mama Miranda. Tanpa sengaja Ibu Ratna pernah mendengar pembicaraan mama Miranda dengan orang suruhan yang ditugaskan mengawasi Naura dan disuruh mengancam Arjuna agar tidak lagi mendekati Naura.
Naura merasa kehilangan pegangan karena Mama Miranda yang berubah sikap demi mencapai ambisi pribadi.
Ditambah ketidak beradaan Ibu Ratna dan Naila yang sedari kecil menemani dirinya sehari-hari. Kepergian Naila dan Ibu Ratna dan ibunya membuat Naura sangat kesepian, tidak ada lagi saudara berbagi minuman teh dan berbagi cerita.
Sementara Mama Miranda terus mendesak agar dirinya cepat bisa menerima Fabian yang sesekali datang kerumah karena permintaan mutter dan vaternya, lengkap membuat Naura semakin tertekan dengan tuntutan yang sama sekali tidak diinginkan.
Kalau Fabian tampak cool dengan masalahnya. Itu yang sekilas Naila lihat saat satu setengah sebulan tidak bertemu dengannya.
“Naila kamu baik-baik saja?” Papa Ramon menyapa menanyakan keadaan Naila.
“Baik Pah,” Naila menjawab lirih.
“Naila, memang terakhir-terakhir ini Naura sudah beberapa kali ribut dengan Mama tidak hanya masalah perjodohan tapi juga Naura ingin kamu dan Ibu Ratna kembali ke rumah,” Papa Ramon tengah menjelaskan keadaan rumah setelah dirinya dan ibu pergi.
“Naura tegas menolak perjodohan dengan Fabian!Tapi Mama masih saja memaksa,” Papa Ramon memandang isterinya yang tampak putus asa.
Papa Ramon meneruskan ceritanya, “Setelah semuanyasudah Naura coba agar semua kembali netral tetapi tidak berhasil. Tampaknya Naura putus asa. Semalam setelah Fabian pulang darirumah, entah setan mana yang merasuki Naura melakukan perbuatan nekad untuk bunuh diri.”
“Bersyukur semalam Papa kebangun karena ada pertandingan bola, Papa mendengar seperti air kran tidak mati-mati dari kamar Naura. Hati Papa berbisik untuk mengecek! Dan ternyata benar Naura sudah pingsan di kamar mandi dengan tangan banyak darah. Papa langsung larikan ke rumah sakit ini.”
Naila mendengar cerita Papa Ramon dan membayangkan bagaimana Naura yang sudah putus asa. Rasa bersalah yang ada sekarang dalam hatinya karena tidak menjaganya tapi sebaliknya meninggalkan Naura yang ternyata kebingungan dan putus asa sendiri.
Other Stories
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...
Just, Open Your Heart
Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...