6. Naura\'s Fight
Sabtu sore Naila sudah siap-siap berangkat mau ikutan latihan pencak silat. Tiba-tiba Naura mendekati Naila sudah siap memakai kaos bergambar Mini Mouse gombrang dan training abu-abu.
Naila mengernyitkan dahinya.
\"Nau mau ngapain pakai baju olah raga?\"
\"Hehehe ini salah satu langkah perjuangan aku untuk bisa dekat dengan Arjuna.\" Naura berkata polos.
\"Maksudnya?\" Naila bingung dengan kelakuan saudaranya.
\"Nai, kemarin aku pura-pura banyak bertanya tentang kegiatan persilatan kalian.”
\"Bertanya ke Juna?\" Nailamempertegas.
\"Iyalah! Habis aku bingung mau bicara topik apa dengan Juna pas ketemuan kemarin jadi aku pura-pura tanya banyak hal tentang dunia persilatan, makanya aku tidak lagi bertanya banyak padamu Nai.\" Naura bicara sambil senyum-senyum.
Naila memasang tampang cuek.
\"Trus sekarang jangan bilang kalau kamu akan ikutan pencak silat deh Nau!\" Naila mempertegas perkataannya, ada rasa was-was atas kenekatan saudaranya bila benar-benar ikutan gabung kegiatan pencak silat.
\"Kenapa tidak Nai? Memang nggak boleh ya? Selama ada Juna aku yakin akan baik-baik saja!\" Naura berkata penuh semangat diri.
\"Nau aku tahu kamu! Kamu itu nggak suka kegiatan fisik! Udahlah nggak usah nekad! Aku takut kalau kamu kenapa-kenapa nantinya deh! Nanti Mama Miranda dan ibu marah denganku!\" Naila mengingatkan Naura yang tampaknya tidak peduli dengan peringatan Naila, malah tetap semangat memasukan handuk, minuman,dan dompet kecil kosmetiknya ke dalam tas ransel yang akan dibawa ke padepokan pencak silat Merpati Putih.
\"Masalahnya Nai aku sudah janji dengan Juna, kalau aku mau ikutan kegiatan pencak silat, please Nai boleh ya! Aku ingin lihat Juna berlatih!\" Naura memasang tampang memelas.
Kalau sudah begini meski hati Naila sangat dongkol tapi dia tidak akan mungkin tega membantah. Dari kecil apa yang selalu Naura mau selalu Naila luluskan. Naila sayang sekali pada Naura walau harus selalu mengalah. Dia sudah terbiasa untuk mengabaikan perasaannya.
\"Hmmm baiklah tapi kamu jangan memaksakan diri ya.\" Naila memberikan saran.
\"Maksudnya?\"
\"Nau kamu harus ikut trial untuk seleksi jadi anggota, kalau kamu nggak kuat jangan dipaksain ya...apalagi mengingat kamu nggak suka olah raga keras.\"Naila memperingati adiknya.
\"Ok Bos! Siap!\" Wajah Naura langsung ceria.
\"Ayolah kita berangkat berboncengan saja.\" Naila menganjurkan naik sepedanya bersamaan.
Wajah Naura sore ini benar-benar penuh keceriaan, sepertinya jatuh cinta itu menyenangkan pikir Naila.
***
Sore itu Naila datang bersama Naura.Memang ternyata hari ini penerimaan anggota baru perguruan Pencak Silat Merpati Putih.
Arjuna yang sudah datang terlebih dahulu langsung menghampiri kedua gadis tersebut.
Naila dari kejauhan melihat Arjuna sudah tersenyum cerah melihat kedatangan dirinya dengan Naura. Demikian Naura yang memerah pipinya.
\"Wah Nau beneran nih mau ikutan pencak silat? Aku kira kemarin kamu cuma bercanda saja.\" Arjuna menyapa hangat, senyumnya terus mengembang.
“Nggak dong, sekarang aku buktikan datang ke sini. Aku sudah siap ikutan trial dulu Juna.” Tatapan Naura tajam memandang Juna.
Naila mendadak merasa jadi asing, apalagi Arjuna tidak sedikitpun bertanya apapun atau sekedar basa-basi terhadap dirinya.
Arjuna yang baru kenal Naura dalam hitungan hari dan mungkin berlanjut lewat BB, SMS dan telepon tampaknya sudah akrab bertahun-tahun. Tanpa sepengetahuan Naila mereka sudah ketemuan juga jadi wajar kedekatan mereka semakin terasa. Naila merasa kehilangan Arjuna yang bertahun-tahun dekat dengannya.
Tidak enak hati melihat kedekatan, tatapan saling jatuh cinta sahabatnya dan adiknya Naila memilih menyingkir.
\"Aku ganti baju dulu ya! Aku mau langsung latihan,\" tegur Naila sebagai basa-basi. Naila tetap memasang senyum agar mereka tidak curiga dengan hatinya yang galau.
\"Silakan, biar Naura bersama aku. Aku akan temani dia dulu seleksi penerimaan anggota baru kebetulan aku jadi panitia kok Nai,” jawab Arjuna datar.
Naila kaget kalau Arjuna ternyata sebagai panitia penerimaan anggota baru diangkatan kali ini. Dan baru memberitahukan sekarang, biasanya apa-apa berhubungan dengan kegiatan persilatan Arjuna selalu langsung menginformasikan dengannya.
Naila jadi sadar diri kalau hampir seminggu dari perkenalan Arjuna dan Naura memang susah ketemu Arjuna. Arjuna telah menemukan orang yang menurutnya paling pas. Paling pas untuk menjadi teman bicara dan orang terdekat. Dan itu Naura! Bukan dirinya lagi.
Diam-diam kehadiran Naura telah merubah kedekatan mereka sebagai sahabat. Naila merasa Arjuna tidak lagi menghiraukan keberadaannya.
Hati Naila melaras sendiri,\"Juna sudah tidak membutuhkan diriku lagi.\"
***
Naila coba berkonsentrasi untuk tetap mengikuti latihan pencak silat yang berlangsung hampir satu setengah jam. Latihannya terhenti karena tiba-tiba dikagetkan keributan.
\"Nai! Nai!Adikmu pingsan!\"
Rommi teriak-teriak memanggil dirinya yang tengah asik menghanjar sansak yang menggantung di tengah lapangan.Samsak yang sangat pas untuk melampiaskan kekesalan hatinya. Dengan menghajar samsak dengan pukulan dan tendangan menjadi pilihan menyalurkan energi negatifnya.
Naila kaget dan panik segera mengikuti Rommi. Hatinya langsung deg-degan, takut kalau ada apa-apa yang terjadi Naura bakalan dirinya yang akan disalahkan ibu dan Mama Miranda.
“Aduh...Nau! Nau!” Naila memanggil Naura yang pingsan.
Naura tertidur di pangkuan Arjuna yang sibuk melonggarkan ikatan sabuk tingkat dasar yang melilit pinggangnya.
Perlahan mengusap halus hidung Naura dengan wewangian di jari telunjuknya agar merangsang Naura bangun dari pingsan.
Wajah Naura tampak pucat. Dalam hati Arjuna merasa khawatir tapi tetap berusaha tenang.
Naila tahu pasti Naura memaksakan dirinya dengan menghajar fisiknya yang tidak pernah terlatih langsung dengan keras.
Tadi dari tempat Naila berlatih dari jendela-jendela yang terbuka lebar Naila bisa melihat sekilas murid-murid calon peserta Perguruan Tinggi Merpati Putih yang tengah seleksi.
Memang Naura tampak antusias mengikuti perintah mas Imam yang memimpin pemanasan. Dan akibatnya sekarang Naura pingsan karena kecapaian.
\"Aduh,\" Naura mengeluh lirih.
Naila merasa lega karena Naura siuman.
\"Udah tenang Nau, kamu kecapaian,\" Naila menenangkan Naura yang mulai memerah wajahnya.
Arjuna juga tampak lega, sambil menyanggah punggungnya dan menyandarkan pada bahunya lalu memberikan botol air mineral.
Naura meminum air mineral yang Arjuna dekatkan pada mulutnya. Naura merasa lebih baik sekarang, apalagi sadar dia tengah dalam dekapan cowok yang dicintai.
Diam-diam malah Naura bersyukur atas pingsannya karena sekarang bisa merasakan enaknya bersandar di bahu Arjuna yang kuat. Arjuna lah yang membuat perasaan aneh di hati Naura untuk pertama kali.
\"Nau udah merasa baikan?\" Arjuna bicara lembut.
Naura menganggu-angguk.
Jujur walau cemburu Nailamerasa lega dan memilih tersenyum. Hanya dalam hati Naila mengeluh,\"Tentu saja sehat cepat karena dipeluk Juna.\"
Naila berusaha membuang kesebalan dalam hatinya dan lebih baik menunjukan rasa damai bersama mereka. Naila sadar ini bukan kesalahan Naura dan Arjuna kalau mereka saling suka. Kenyatanya memang cinta bisa saja hadir begitu saja pada dua hati yang baru saja bertemu.
\"Nau…Nau kamu benar-benar berjuang keras ya hari ini demi masuk pencak silat!\"Naila mengayuh sepedanya, sementara Naura di boncengan tanpa sepengetahuan Naila tengah tersenyum-senyum bahagia mengingat tadi bisa dipeluk Arjuna.
Dalam dekapan Arjuna semuanya begitu indah dan tidak ada lagi rasa lelah yang membuatnya pingsan sesaat.
“Hmmm demi Arjuna apapun akan aku perjuangkan Nai! Jangankan nekad untuk menyukai pencak silat, apa pun kegiatan yang bisa mendekatkan aku dengan Arjuna pasti aku jabani. Asalkan aku bisa selalu dekat dengannya!” Naura bicara keras-keras di balik punggung Naila yang menahan emosi hatinya sambil mengayuh sepedanya kencang-kencang.
“Nai jangan kencang-kencang dong kayuh sepedanya!” teriak Naura.
Naila menurut memperlambat kayuhannya.
“Nai menurut kamu aku bakalan lolos nggak ya untuk jadi anggota pencak silat? Duh kalau sampai aku enggak diterima aku harus bagaimana Nai? Ada saran enggak biar aku bisa tetap dekat dengan Juna walau akhirnya nggak harus ikutan pencak silat?” tanya Naura tiba-tiba gelisah.
Naila hanya geleng-geleng kepala dengan mengayuh sepedanya kencang kembali.
“Naiiiiii pelan-pelan dong ah!”
Naila tidak menghiraukan teriakan Naura.
Other Stories
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...
Autumn's Journey
Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...