Tea Love

Reads
3.2K
Votes
0
Parts
26
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

4. Does Love At First Sight?

Kelompok anak-anak berandalan akhirnya menyerah.Mereka lari tunggang langgang. Naura terpana melihat kekompakan Naila, cowok misterius, dan beberapa cowok sebaya yang masih memasang posisi kuda-kuda siaga.
Sampai yakin musuh lari tunggang langgang menyerah dan tidak akan datang lagi, mereka baru berbaur menanyakan keadaan masing-masing sambil melakukan gerak pelenturan dan pernapasan.
Naila celingukan memanggil saudaranya.
“Nauuuu…Nauuuuu…perangnya sudah bubar kok!” Naila berteriak memanggil Naura yang tidak muncul-muncul dari tempat persembunyian.
Naura masih ragu keluar dari tempat dirinya sembunyi.
“Nauuu…ayo keluar! Kamu sudah aman!” teriak Naila lagi.
Naura bukannya tidak mau cepat-cepat keluar, karena dari tempat persembunyiannya dia malah lebih merasa nyaman bisa memandang bebas cowok yang mendadak ditaksir tengah membersihkan baju seragamnya.
Tapi sayangnya Naila tahu juga tempat dirinya bersembunyi, lalu memberi isyarat agar Naura mendekat.
“Nau…sini!” Naila melambaikan tangannya.
Dengan langkah pelan Naura mendekati Naila yang duduk di samping cowok yang membuat hatinya semakin berdebar saat dirinya jalan mendekati Naila.
Arjuna tengah menyodorkan botol air mineral yang langsung disambut dengan antusias oleh Naila.
Naura tersenyum geli melihat Naila yang tidak menyadari kalau tampang dia cuek banget, padahal di sebelahnya cowok ganteng memandangi tingkahnya.
Arjuna masih geleng-geleng melihat tingkah Naila yang tomboy sekali.
“Nai… kamu tuh bisa jadi cewek dikit nggak sih?Minum yang pelan dikit dan sopan nggak bisa ya?” Arjuna menyindir.
“Sorry… haus banget, Juna!”
Naila cuek dan meminum air mineral sampai tandas. Padahal Arjuna masih tampak kehausan juga.
Naura melihat keakraban mereka dan tersenyum. Otaknya berputar-putar bahagia. Banyak hal yang ingin dia tahu tentang cowok yang tampaknya akrab dengan Naila ini. Cowok yang membuatnya terkesima sepanjang pertarungan tadi.
***
“Ya ampun, Nau… ngapain lo bengong di situ! Sini!”
Naila geleng-geleng kepala melihat kelakuan Naura yang seperti orang bingung dan malu-malu.
Naura pelan mendekati Naila dan kelompok teman-teman pencak silatnya yang tengah duduk kecapaian.
Dalam kondisi lelah, Naila bisa melihat mata elang Arjuna menatap tajam Naura, saudaranya.
Entah kenapa ada perih yang tiba-tiba terasa menjalari hatinya, lebih perih dengan kakinya yang tampaknya tadi tergores benda tajam.
Tatapan Arjuna menyiratkan kekaguman dan misteri, bahkan tidak ada waktu berkedip sejenak memandang Naura yang semakin mendekat.
“Hem… hem… Juna, ini adikku, namanya Naura Tisya. Naura, ini Arjuna…”Naila memperkenalkan cowok yang sepertinya mendadak antusias saat diperkenalkan dengan saudaranya.
Tampak Naura juga agak grogi saat bersalaman dengan Arjuna, demikian juga Arjuna kelihatan gelisah.
Naila sungguh bingung dihadapkan oleh kelakuan dua makhluk yang tampaknya saling malu-malu dan canggung ini. Baru pertama kali mereka bertemu dan sepertinya langsung saling terkesan dan tertarik satu sama lain.
“Oh ya, Juna… kita cabut dulu ya. Ibu kita pasti sudah menunggu dengan khawatir, karena hampir sore gini kita belum pulang,” kata Naila memecahkan kekakuan yang tercipta antara mereka.
“Eh… aku kawal kalian ya, takut saja anak-anak berandal itu masih berminat menggangu kalian,” Arjuna dengan sigap menawarkan perhatiannya.
“Hah…oh ya!” Naila sempat bengong. Sejak kapan Arjuna jadi over protect dengan dirinya.
“Biar Naura aku bonceng saja Nai. Kamu jadi nggak keberatan beban,” Arjuna meminta penuh arti.
“Ya ampun… Naura mau dibonceng di sebelah mana?Sepeda Juna kan tidak ada boncengannya?”bisikNaila dalam hati.
“Seharusnya aku yang diboncengin, mengingat kakiku terluka....”
Dan, “Aduh!”Naila mulai merasakan perih memanas pada kaki kanannya.
“Kenapa Nai?Ups… kaki kamu tampaknya terluka deh,” Arjuna berjongkok dan mengamati luka di kaki kanan Naila.
“Aduuh… perih Juna,” Naila mendesis.
“Sepertinya kaki kamu tergores deh!” Arjuna menengadahkan wajahnya ke arah Naila yang meringis kesakitan.
“Romm… minta betadine!”Arjuna memanggil Rommi, salah satu teman mereka juga. Dengan cepat Rommi mengeluarkan botol kuning berukuran sedang dan kapas, lalu diberikan pada Arjuna.
Arjuna tanpa ragu mengusap-usap luka gores pada bawah lutut Naila dengan kapas dan lumuran betadine.
“Uhhh…perih,”Naila mendesis.
Ini sebenarnya bukan pertama kali bagi Naila mendapat perlakuan seperti ini dari Arjuna.
Di waktu lalu saat terlibat perkelahian dengan preman pasar, tangan Naila sempat tergores pisau juga. Arjuna dengan cepat menutup lukanya dengan kain kaos yang dibawa dalam tas ranselnya serta mengucurkan betadine.
Saat itu sebenarnya lukanya lebih parah daripada sekarang yang hanya tergores tipis, tapi saat Arjuna memberi betadine, Naila sempat menggenggam erat tangan Arjuna karena menahan kepedihan. Saat sempat menggenggam tangan Arjuna, jantungnya seakan berhenti berdetak, dan wajahnya terasa memanas. Sayangnya hanya hati Naila yang tahu. Tidak dengan Arjuna dan juga Naura yang melihatnya seperti yang biasa saja.
Meski jelas kakinya terluka, Arjuna bukan memilih untuk memboncengkan Naila, tapi tetap memilih memboncengkan Naura. Sungguh Naila ingin marah pada Arjuna yang sepertinya tidak punya hati sedikitpun pada dirinya, tapi apa daya...apalagi alasan Arjuna dengan dirinya yang memboncengkan Naura maka Naila terbebas dari beban memboncengkan Naura.
Naila ingin protes, kenapa harus Naura yang dibonceng, bukan dirinya! seharusnya biar Naura saja yang bawa sepeda sendirian, sementara dirinya yang terluka yang dibonceng oleh Arjuna.
“Kenapa Juna tidak menyuruh Naura memboncengkan dirinya yang sakit, malahan Arjuna berminat sekali memboncengkan Naura? Apakah Juna?”
Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak Naila.
Dengan perasaan ditegarkan dan menahan pedih, Naila mengayuh sepedanya mengikuti sepeda Arjuna.
Naila melihat Naura diboncengan depan karena sepeda Arjuna sepeda balap yang tidak ada boncengan di belakang.
Naura duduk anteng berpegangan stang danduduk separuh di boncengandepan. Tampak mesra karena kedua tangan Arjuna melindungi tubuh Naura.
Hati Naura berdebar-debar setiap bersentuhan dengan dada Arjuna saat kaki Arjuna tengah mengayuh sepedanya. Napas Arjuna begitu dekat berhembus di balik rambutnya yang panjang.
Demikian juga hati Arjuna berdegup kencang, setiap rambut Naura menerpa wajahnya dan tercium bau wangi.
Pemandangan yang mesra melihat Arjuna dan Naura seperti sepasang kekasih. Tanpa mereka sadari, tatapan Naila bukan tatapan yang ramah, tapi tatapan rasa cemburu dan marah.
***
Naila hampir enam tahun mengenal Arjuna, tapi sampai sekarang tak sekalipun Arjuna mengizinkan makhluk cewek untuk dibonceng sepeda balapnya. Termasuk dirinya saja tak sekalipun merasakan dibonceng dengan sepeda balap kesayangan Arjuna.
Tapi sekarang, dengan mudahnya Naura bisa dekat dengan cowok berhati dingin itu. Naila tengah berpikir sebuah teori love first sigth. Kalau memang cinta ada sejak pandangan pertama.
Naura dan Arjuna tidak kenal satu sama lain. Baru bertemu pertama kali ini. Selama ini memang Naila bersahabat dengan Arjuna, tapi tidak pernah bercerita banyak tentangnya. Mungkin pernah, tapi hanya sekilas.
Sekarang ada kesempatan bertemu tampaknya baik Naura maupun Arjuna sama-sama saling mendekat satu sama lain.
Naila tersadar mungkin inilah yang namanya cinta pada pandangan pertama...cinta yang penuh kejutan. Bertahun-tahun dirinya mengenal Arjuna hingga rasa cinta tumbuh di hatinya, tetapi sepertinya tak ada arti buat Arjuna yang selalu menganggapnya hanya sekedar sahabat.

Other Stories
Akibat Salah Gaul

Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...

Melodi Nada

Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Srikandi

Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...

Puzzle

Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...

Download Titik & Koma