Tea Love

Reads
3.2K
Votes
0
Parts
26
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Prolog

Lima belas tahun lalu,seorang ibu dengan balitanya mengetuk sebuah rumah mewah dikawasan elite.
Datang dengan wajah pucat seperti orang yang tengah menahan kelaparan. Demikian juga dengan balitanya yang tampak gelisah tengah tertidur dalam gendongannya.
Tiba-tiba seorang wanita pemilik rumah megah itu membukakan pintu dan mempersilakan masuk.
\"Maafkan saya lancang mengetuk rumah Nyonya, karena saya dengar Nyonya sedang butuh pengasuh anak. Tolong saya...\"kata ibu muda ituyang juga tengah menggendong anak berumur kurang lebih dua tahun.
\"Benar saya memang tengah mencari seorang pengasuh.Saya mempunyai putri berumur dua setengah tahun, dan karena pengasuhnya sudah tua,dua minggu lalu dia minta berhenti. Masalahnya saya dan suami sama-sama bekerja, jadi saya perlu seorang pengasuh pengganti yang bisa menjaganya.\"
Dengan ringan dan akrab wanita pemilik rumah itu bercerita kondisinya, seakan sudah mengenal baik dengan wanita di depannya yang tampak lelah dan lusuh.
\"Oo… umur berapa putri Ibu?\"
\"Bulan ini 2.5 tahun, Nyonya.Naila lahir 24 Maret 1997.\"
\"Wah…kalau begitu seumur dengan putri saya, hanya selisih lima hari,\"wanita pemilik rumah tampak terkejut dengan waktu yang berdekatan kelahiran Naura,putrinya dengan balita yang masih tertidur dalam gendongan wanita tersebut.
\"Putri Ibu cantik dan lucu.Seperti juga Naura, putriku. Naura lahir 29 Maret 1997, jadi lebih tua Naila lima hari saja,\" komentar nyonya yang diketahui bernama Miranda itu.
Nyonya Miranda,si pemilik rumah megah itu mengelus pipi balita yang mulai mengulet dan terbangun. tapi tiba-tiba menangis sangat keras.
\"Kenapa?Cup… cup… Sayang,\"Ibu Miranda berusaha menenangkan Naila,balita perempuan dengan panggilan ‘Sayang’.
Dari sebuah tas kain yang hampir putus talinya, dikeluarkan sebuah dot yang sepertinya berisi air teh.Lalu didekatkan pada bibir si balita yang diisap dengan cepat. Tampaknya balita itu sangat kehausan dan kelaparan.
Nyonya Miranda mengernyitkan dahi, tengah berpikir kenapa bukan air susu yang diminumkan, melainkan air teh.Karena Naura, putri sebayanya selalu meminum air susu formula dalam botol juga.
Terbersit rasa kasihan dalam hatinya. Sepertinya ibu sang balita memang tidak punya uang sama sekali untuk membelikan susu yang sesuai buat putrinya yang tampak kurus, apalagi untuk membelikan makanan dan pakaian yang layak.
Balita mungil itu terus mengisap dengan rakus air teh dari botol dot yang ibunya berikan pada mulut mungilnya. Matanya yang bening mengerjap-kerjap.
Ternyata saat botol dot yang berisi air teh habis, si balita menangis lagi. Ibu yang usianya juga tidak jauh lebih tua dari Nyonya Miranda,tampak kebingungan.
\"Sudah…pergi ke dapur saja,Bu!Saya punya stok susu balita banyak kok. Buatkan segelas dari susu formula punya Naura.Toh…putri Ibu seumuran dengan putriku.”
Nyonya Miranda berdiri dan membimbing ibu yang wajahnya tampak malu dan canggung itu mengekor menuju dapur.
***
Dalam pikiran Nyonya Miranda, sudah terbersit sebuah rencana untuk mempekerjakan ibu yang baru saja mengetuk pintu dan menanyakan pekerjaan itu.
Sepertinya memang berjodoh. Pas dirinya butuh pengasuh untuk Naura agar dirinya bisa terus berkarier,datang seorang ibu yang tengah membutuhkan pekerjaan untuk menyambung hidup dirinya dan putrinya.
Dengan adanya pengasuh untuk Naura, maka suaminya tidak ada alasan melarang dirinya untuk berhenti berkarier. Sisa cutinya Miranda harus bisa mengajari pengasuh baru dengan cepat apa saja yang harus dilakukan sebagai pengasuh Naura,putri semata wayangnya.
Miranda memandang ibu yang tengah membuat air susu buat putrinya dari samping. Menurut Miranda, wajah ibu itu tampak keibuan dan tampak sabar. Hatinya merasa cocok untuk mempekerjakannya sebagai pengasuh Naura.
Nyonya Miranda menarik napas sesaat, sudah hampir seminggu ini dia berdiam diri di rumah mengurus Naura. Mencoba menjadi full time mother sungguh bukan hal yang dia inginkan. Apalagi dirinya yang meraih gelar Sarjana Strata Dua lewat beasiswa kantornya, dan sekarang karier yang dirintis dari bawah juga tengah menanjak. Tentu sangat disayangkan bila harus mengundurkan diri dari kantornya saat ini.Tapi Ramon, suaminya juga seorang pembisnis yang sukses. Saat ini gaji dia belum ada apa-apanya dengan Ramon, makanya suaminya itu meminta dirinya tidak egois.
Ramon meminta Miranda untuk mengundurkan diri dari kantor,walaupun harus membayar sejumlah uang penalti karena perusahaan sudah menyekolahkan dirinya sampai meraih gelar sarjana Strata Dua.
“Siapa lagi yang akan mengurus Naura dan rumah kalau bukan seorang ibu?” kata Ramon beberapa waktu lalu.
“Iya aku tahu, Pah.Tapi aku juga masih ingin bekerja. Kamu tahukan cita-cita aku dari sebelum menikah adalah menjadi wanita karier. Dan kamu juga janji tidak akan menghalangi karier aku setelah kita menikah?” Miranda protes saat suaminya mendesak untuk resign.
“Masalahnya…selama kita bekerja, cari asisten rumah tangga sangat susah, Mah! Kamu tega Naura sendirian?Dan mana mungkinkan meninggalkan putri kita sendirian! Naura itu anak tunggal kita!” Ramon mulai kesal dengan istrinya yang keras kepalauntuk tetap bekerja dan mengejar karier.
“Oke,untuk sementara aku ambil cuti sambil cari pengasuh dan pembantu secepatnya, terutama cari pengasuh dulu untuk Naura. Dan akan aku ajari untuk menjaga Naura. Secepatnya juga aku akan cari pembantu khusus untuk mengurus rumah.”
Kehadiran ibu yang sekarang tengah kebingungan mencari pekerjaan sebagai pengasuh itu membuat harapan Ibu Miranda untuk tetap bekerja dan menjadi wanita karier sepertinya akan terwujud.
Miranda yakin kalau wanita yang di depannya sekarang wanita yang baik dan cocok untuk mengasuh Naura.
Tidak menjadi masalahkalau dia juga mempunyai putri seumuran Naura, jadi sekalian saja mengasuh dua anak.
PR-nya sekarangtinggal cari satu pembantu lagi untuk urusan beberes rumah, cuci, dan masak. Biar ibu ini yang khusus pegang Naura dari bangun tidur sampai tidur malam lagi.
Dengan wajah ragu Ibu Ratna memandang Ibu Miranda, balitanya tengah menangis...apakah benar putrinya yang tengah kelaparan boleh meminum susu putrinya.
Bu Miranda tersenyum, tampak kebaikan dan ketulusan terpancar dari dua mata bening yang indah, walau terhalang kacamata beningnya.
“Ayo, ini dapur saya. Silakan buatkan susu untuk putri Ibu. Oh ya, nama Ibu siapa dan nama si kecil siapa?” tanya Miranda lanjut.
“Maaf saya sambil buat susu Nyonya. Nama saya Ratna, dan putri saya bernama Naila.”
Miranda memperhatikan Ibu Ratna yang masih tampak canggung membuatkan susu untuk putrinya, mungkin karena merasa ini bukan rumahnya.
Tapi Bu Miranda yakin mempekerjakan Ibu Ratna untuk menjaga putri semata wayang mereka.
Air susu sudah jadi, tapi Ibu Ratna belum juga menuangkan ke dalam botol dot putrinya.
“Ayo cepetan berikan pada Naila! Biar berhenti menangis. Kasihan anak Ibu kelaparan,” perintah Miranda.
Balita bernama Naila itu langsung meminumnya dengan lahap sampai tampak kekenyangan dan langsung tertidur.
“Panggil saja aku dengan Mama Miranda, Bu Ratna!” kata Miranda tersenyum.
“Baik Nyonya, eh Mama Miranda,” jawab Ibu Ratna tergagap.
“Mulai sekarang Ibu Ratna dan Naila tinggal di sini. Saya sangat butuh seorang pengasuh yang bisa merawat Naura selama saya dan suami bekerja. Jadi kalau Ibu Ratna bersedia, saya akan dengan senang hati menerimanya. Asalkan Ibu juga menyayangi Naura seperti Ibu Ratna menyayangi Naila, putri Ibu Ratna.
“Iya...baik Mama Miranda.Saya akan berusaha sebaik mungkin. Dan terima kasih… saya sudah diperbolehkan tinggal di sini,” jawab Ibu Ratna bergetar.
Bu Ratna sungguh bersyukur menemukan tempat berlindung buat diri dan putrinya, sekaligus mendapat pekerjaan untuk mengasuh gadis kecil yang seusia putrinya.
***
Sejak saat itu,Ibu Ratna dan Naila putri kecilnya resmi menjadi bagian keluarga kaya raya. Keluarga Tuan Ramon dan Nyonya Miranda.
Kehadiran Ibu Ratna membawa kedamaian di rumah Miranda dan Ramon, karena kedua orang
tua ini bisa lebih tenang meninggalkan putri semata wayang mereka di bawah asuhan Ibu Ratna.
Beruntung juga segera mendapat seorang pembantu satu lagi yang bernama Bibi Tirah. Bibi Tirah khusus bekerja untuk bersih-bersih rumah, mencuci, dan lain sebagainya.
Naura dan Naila tumbuh bersama dengan kasih sayang yang sama. Sepintas mereka hampir sama dalam karakter, mengingat selisih kelahiran yang cuma lima hari. Naila lebih tua lima hari, jadi dianggap sebagai kakak oleh Naura.
Mama Miranda memercayakan kepengasuhan Naura pada Ibu Ratna yang lemah lembut. Sepertinya keputusan Mama Miranda mempekerjakan Bu Ratna suatu keputusan yang tepat.
Bu Ratna seorang pengasuh yang benar-benar baik. Dia memberikan kasih sayang yang sama porsinya kepada Naura dan Naila, anak kandungnya.
***
Dalam asuhannya, Naura tumbuh menjadi anak yang baik. Beranjak remaja, Naura seorang gadis yang berprestasi.Dia juga tumbuh menjadi gadis yang cantik danbaik hati.
Sementara prestasi Nailalebih menonjolpada hal yang berbau fisik. Walau tidak sepintar Naura, tapi Naila di kelasnya juga tidak pernah lepas dari sepuluh besar.
Mereka berdua sama-sama gadis yang tumbuh cerdas dan baik. Mama Miranda sangat bersyukur mempunyai asisten rumah tangga seperti Ibu Ratna.
Karier Miranda semakin melejit,demikian juga bisnis Ramonsemakin besar.Sehingga keduanya kerap menghabiskan banyak waktu di luar rumah.
Ibu Ratna bagi Miranda adalah anugerah.Karena berkat Bu Ratna yang sabar membimbing,Naura tumbuh menjadi sosok yang baik. Mama Miranda menyadari dirinya tidak bisa mendampingi Naura setiap saat. Sebagai wanita karier, kerap kali dia meninggalkan keluarga ke luar kota dan luar negeri. Pun demikian dengan suaminya.
Dari bangun tidur sampai malam tidur, Naura selalu bersama Bu Ratna. Mengikuti didikan Bu Ratna. Bu Ratna sendiri menyayangi Naura seperti dirinya menyayangi Naila. Bu Ratna tidak mau menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan Mama Miranda.
Bahkan rasa sayangnya kadang melebihi pada Naura, karena merasa kasihan melihat anak yang tidak sempat merasakan kasih sayang orang tuanya. Keduanya sama-sama berambisi mengejar karier.

Other Stories
Cinta Bukan Ramalan Bintang

Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...

Melepasmu Untuk Sementara

Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...

Separuh Dzarah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...

Buah Mangga

buah mangga enak rasanya ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

Keikhlasan Cinta

6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...

Download Titik & Koma