Pra Wedding Escape

Reads
2.3K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

13. Escape

Senin setengah hari Nastiti mempersiapkan segala sesuatu presentasi yang akan dilakukan selama empat hari dari Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat. Sabtu dan Minggu Nasti memenuhi janji bersama Icang menjelajah Tanah Karo. Senin untuk kembali ke Jakarta.
Icang berkata Tanah Karo adalah tanah jelajahan selama dia kuliah. Dalam hati Nasti merasa kangen dan penasaran dengan perjalanan kali ini. Sudah lama dirinya ingin berkunjung ke kantor yang ada di cabang Medan. Dan kesempatan datang bersamaan dengan guide yang sudah terbiasa dengan rute menuju danau terbesar di Asia. Apalagi kalau bukan Danau Toba yang menjadi sasaran utama trip kali ini.
Jam setengah tiga sore Nastiti jalan menuju bandara, sekali ini Nastiti benar-benar menjadi pelarian. Pagi tadi dia berangkat pukul empat pagi, terpagi yang dia lakukan menuju kantor. Nastiti tidak ingin ibu dan ayahnya tahu kalau hari ini sampai Senin depan tidak ada di rumah. Seumur-umur baru Nastiti melakukan aksi kabur dari rumah. Nastiti ingin menenangkan hati, walau dia ragu apakah menenangkan hati terbang ke Medan dan bertemu lagi dengan Faisal akan meringankan bebannya atau bahkan sebaliknya akan timbul masalah baru.Nastiti hanya mengikuti kata hatinya…
Horas Medan!
Dengan pesawat Garuda ekonomi, Nastiti melintasi Jakarta-Sumatera. Sempat delay satu jam keberangkatan pukul 18.30 dengan cuaca yang kurang baik karena memang setiap sore akan banyak turun hujan.
Perjalanan cukup menyenangkan dengan segala fasilitas dari pelayanan Garuda yang memuaskan. Nastiti nikmati santap malam dengan sekotak macaroni schotel daging sapi yang hangat dan gurih, agar-agar mangga yang segar dan manis ditutup dengan air putih.
Tanpa terasa dua jam terlewati tepat pukul 20.30 Nastiti sampai di Bandara Kualanamu. Senangnya karena Ria dan beberapa rekan kantor menjemputnya. Nastiti merasa cukup puas berkeliling sesaat Kota Medan di malam hari.
Medan di malam hari yang sempat terekam dalam catatan yang Nastiti bawa ke mana-mana. Medan adalah jantung kota perekonomian Pulau Andalas. Sepanjang perjalanan Bandara Kualanamu ke daerah Setia Budi dalam bayangan Nastiti ramai seperti Jakarta, ternyata jauh lebih tenang. Banyak café dan kedai. Rasanya ingin mampir ke salah satu kedai kopi tapi belum terwujud karena semua diatur oleh Ria yang tampaknya sudah cape pulang dari kantor. Menjelajah Medan malam hari menjadi PR kunjungan berikutnya.
Apalagi menurut cerita Google, harus menjajal Bentor yang merupakan becak mesin sepeda motor berkeliling, menikmati ikan bawal steam Bintang, menikmati keramaian Walk Merdeka… ah dan penasaran memasuki kedai-kedai di sepanjang jalan yang terlewati.
Ria menemani dirinya tidur di Hotel Aston. Selasa dan Rabu dia harus masuk kantor melakukan sosialisasi system Marketing By Approval. Sebuah proses manual yang berubah menjadi on line.
Sebuah proses step by step agar pengajuan dana yang dibutuhkan bisa berproses dengan Standar Operational yang berlaku.
Bukan hanya cara tetapi analisa agar pengajuan budget rasional. Ada perhitungan cost ratio yang tidak melebihi dari 3%.
Hari kedua sampai Jumat harus mengenalkan juga tentang system claim Marketing By Approval setelah komplit. Marketing By Approval system pengajuan budget untuk melakukan berbagai aktivitas marketing, sales atau yang bersifat official dan terakhir cara pencairan budget untuk di settle yang menunjukkan proses awal dan akhir telah selesai. Budget habis atau sisa harus di-close.
WA Message Icang :
Nasti kamu sudah sampai, nginap di mana?
WA Message Nasti :
Sudah, tadi sampe Kualanamu 20.30 muter sejenak ama Ria dan sekarang di Aston.
WA Message Icang :
Ok, aku juga baru selesai seminar dan mau balik ke Swiss Bell Hotel. Jumat malam baru kelar.
WA Message Nasti :
Ok kita ketemu Sabtu pagi and let’s go to Toba Lake, aku sudah mulai menulis trip aku kali ini.
WA Message Icang :
Wow kamu masih suka nulis aja
WA Message Nasti :
Iyalah, aku nggak mau kehilangan momen perjalanan. Meski sibuk aku tetap sempatin menulis.
WA Message Icang :
Iya percaya, aku lihat buku-buku indi kamu makin banyak saja di blog, kapan nulisnya? Kerjaan dan masalah seabreg-abreg??
WA Message Nasti :
Ada deh, aku kan Miss Time Management
WA Message Icang :
Hehehehe salut! Siap-siap ya mencatat apa yang aku info dalam trip menjelajah Tanah Karo kali ini
WA Message Nasti :
Siap! Aku tidur dulu ya ... Ria uda terlelap tuh …
WA Message Icang :
Nice sleep on my homeland ;)
“Homeland ? ooooh”
Nastiti tersadar kalau Medan adalah tanah kelahiran Icang. Ah Nastiti menepuk jidat tersadar dan bergumam, “Faisal ‘Icang’ Lubis adalah pria yang berasal dari tanah Medan”
WA Message Nasti :
Nice sleep to… abang Faisal Lubis …
Selasa sampai Jumat Nastiti sibuk melakukan sosialisasi. Pesan Pak Chris, bosnya adalah jangan sampai cabang-cabang tidak bisa mengajukan dana karena hanya tidak menguasai sistemnya sehingga menjadi alasan penjualan menurun.
Nastiti berusaha menerangkan hingga detail sampai larut malam baru pulang ke hotel. Nastiti maklum juga dengan Icang yang hanya sesekali menyapa karena sebagai salah satu pembicara seminar, pasti dia juga tidak bisa memelototi Hp-nya terus hanya demi komunikasi terus menerus dengan dirinya.
Let’s Go To Toba Lake!
Waktu urusan kantor kelar juga Jumat malam, Icang sudah menginformasikan Sabtu pagi-pagi sekitar pukul 06.00 akan jemput Nastiti dengan kendaraan Fortuner milik Ompung Borunya.
Setelah berdoa di subuh yang dingin karena semalaman hujan mengguyur Kota Medan dan mengucapkan rasa syukur pekerjaan sudah kelar.
Di samping itu ingin segera bisa menyelesaikan kemelut hatinya yang melebar karena ayah dan ibu yang memaksa dirinya untuk menerima kembali Bram dan memaafkan kesalahannya.
“Nasti kamu sehat kan?” Icang tampak berkerut melihat Nasti semakin ramping dari dua setengah bulan lalu dia bertemu.
“I am ok, so jam enam yuk,” Nastiti menyelempangkan seat belt-nya. Memakai kaos oblong hijau polos dan jeans tiga perempat dan kacamata hitam bertengger seperti bando.
Faisal menatapnya tanpa berkedip. Ada keceriaan terbersit dan Faisal suka. Kali ini dia ingin membuat Nastiti melupakan kesedihannya.
“Wah sudah banyak cemilan Icang?” Nastiti berbinar melihat bermacam-macam cemilan guruh, manis sudah tertata rapi di bangku tengah.
“Yah aku kan tahu tamu istimewaku hobby ngemil, apalagi kalau lagi stress,” Icang tersenyum jahil.
“Hemmmm gitu ya,” kali ini Nastiti menanggapi santai.
Berhubung ini bukan perjalanan yang pertama kali buat Icang bahkan sudah biasa di waktu lalu pembawaan Icang biasa saja. Tentu saja beda dengan Nastiti yang sangat excaiting dengan penjelajahan pertama kali ke tanah Medan yang selama ini hanya dia kenal lewat cerita dan buku panduan yang dibeli untuk siap menjelajah tanah Medan dengan joke agar nggak dibohongin ama Icang tentang Medan, setidaknya Nastiti ada buku pegangan.
Untung pemandu perjalanan sekaligus driver ini adalah Icang, yang familiar dengan seluk beluk tanah Medan.
Icang banyak memberi masukan cerita dan joke yang membuat perjalanan buat Nastiti menyenangkan. Saat ini biarkan cinta mulai bersemi, hadir dengan apa adanya di tengah kericuhan hatinya.
“Nasti percaya nggak di sini kereta saja menjadi sasaran pencurian lho!” kata Icang dengan mimik serius.
“Oh ya… gimana mencurinya?” tanya Nastiti sambil ngebayangin kereta api di gotong beberapa pencuri. Ah Impossible!
“Ya gampang lah Nasti, tinggal diangkat terus taruh mobil bak terbuka lalu di bawa kabur.”
Nasti yakin ada yang nggak beres dengan tebakan barusan. Tapi terjawab juga karena Icang sudah tidak tahan melihat wajah Nasti yang aneh.
“Nasti kereta itu bahasa Medan, tapi sebenarnya yang dimaksud kereta adalah motor.”
“Ha ha ha pagi buta aku sudah kena tipu Icang, sialan!” Nasti menggerutu.
Icang mencandai sepanjang jalan membuat Nasti tidak tidur semenit pun dalam trip menjelajah Tanah Karo.
Tiba-tiba…
“Nasti jangan heran jalan kecil ini akan banyak pajak kalau siang hari?” kata Icang saat melintasi jalan yang samping kanan dan kirinya adalah proyek pembangunan perumahan.
“Oh ya, ngapain petugas pajak di jalan kecil gini? apa yang harus dipajakin?” tanya Nasti masih saja lurus-lurus.
“Nasti kalau kamu punya pacar orang Batak harus mulai belajar kosakata bahasa Medan, hehehehe… pajak itu pasar Non.”
“Ih lagian siapa yang punya pacar Batak, weeee…” Nastiti menjulurkan lidahnya. Membuat Icang tergelak-gelak di balik setir.
“Eh eh itu apa Icang, kaya lemper tapi lebih besar bungkusannya?” kata Nastiti melihat makanan lemper yang sedang dibakar.
“Oh itu namanya lemang Medan, makanan khas Sumatera Utara dari beras ketan dimasak dalam seruas bambu setelah sebelumnya digulung dengan selembar daun pisang. Gulungan daun bambu berisi tepung beras bercampur santan kelapa ini kemudian dimasukkan ke dalam seruas bambu lalu dibakar sampai matang. Enak dinikmati hangat-hangat! Dan beragam menikmatinya ada yang suka manis dengan selai srikaya kalau mau yang gurih ditambah dengan lauk pauk dan telur.”
“Hmmm yummy… harus dicoba nih!” celetuk Nasti.
“Ayo kita coba…” Icang ingin memenuhi semua keingintahuan Nasti yang besar tentang segala hal.
Mobil kembali melintas dengan kecepatan sedang 110-140 km/jam. Perjalanan yang cukup jauh ada beberapa tempat yang sempat diceritakan oleh Icang seperti melintasi sebuah taman permainan Hill Park Sibolangit.
Cerita Icang tentang Hill Park Sibolangit merupakan arena permainan anak-anak, ada beberapa wahana seperti rollercoaster (gelegar), ferries wheel (kincir raksasa) dan 4D Theater. Mereka mengusung tiga tema Lost City, Toon Town serta Heritage. Sangat tepat dikunjungi dengan putra putri.
Pemandangan yang segar dan sangat sejuk sepanjang perjalanan, tampak gunung Sibaya yang merupakan terusan Bukit Barisan.
Rasa lapar mulai melanda, mereka butuh breakfast untuk kekuatan tubuh karena menuju Danau Toba masih berjam-jam.
Pukul 07.30 Nasti dan Icang berhenti di Rumah Makan Sehati, letaknya di Jenderal Jamin Ginting. Rumah Makan yang sangat tertata rapi dan sangat bersih. Nastiti suka dengan tempat makan yang rapi, bersih juga artistik. Penataan tempat yang menarik dan ada foto Surya Saputra saat demo Kuliner Kecap Bangau, semakin mantap saja! Untuk promosi.
Sepertinya yang khas di sini gulai kepala ikan, ayam goreng dan sup ayam. Sementara sekarang yang tersaji di hadapan mereka ada kering tempe, opor ayam, telur mata sapi, ayam goreng, sayur kobis tumis. Enak sekali dengan menu sederhana tetapi kenikmatan luar biasa, apalagi kalau bukan sayur kobis tumis dengan sayuran asli Brastagi yang sangat segar. Luar biasa!
Akhirnya ada kalimat “Mejuah-Juah” Tanah Karo Daerah Penatapan sampailah Icang dan Nastiti pukul 08.15 kemari. Setelah melintasi jalan dengan keindahan menatap Bukit Barisan dari daerah sinilah bila malam hari Kota Medan akan tampak bersinar.
Mejuah-juah seperti ucapan selamat datang, mereka juga melintasi Sidebuk-debuk, sebuah pemandian air panas dengan suhu air 27 – 35 derajat celcius. Cerita Icang yang sudah sempat berkunjung dan berendam selama satu jam di sini terasa tubuh rileks dan lebih segar. Jadi sebenarnya jika cukup banyak waktu jangan dilewatkan.
Pukul 08.30 sampailah di kota kecil Brastagi. Langsung menuju ke pasar Brastagi, dari buku panduan yang Nastiti baca dengan judul “Brastagi Tidak Lagi Di Monopoli” apa hubungannya Brastagi dengan monopoli?
Setelah dibaca detail ternyata jika bermain monopoli ada versi kota besar dan tujuan wisata mulai dari Jakarta, Bandung, Medan, Brastagi dan Danau Toba.
Brastagi sejuk, segar dan menikmati buah strawberry manis langsung di tempat. Tidak hanya strawberry, semua buah Nastiti cicipin dari jeruk, anggur, kesemek yaitu buah genit dengan bedak putih menyelimuti, salak, cherry mini. Semua segar dan manis.
Harga juga termasuk murah, masih bisa ditawar-tawar. Belanja buah-buahan di sini untuk oleh-oleh temen kantor dan tetangga.
Brastagi menjadi kawasan pariwisata yang terkenal di Sumatera Utara. Terletak di dataran tinggi Karo dengan ketinggian 1.220 meter di atas permukaan laut. Brastagi cukup dekat dengan Danau Toba dari sisi lain. Dari Medan, Brastagi berjarak 70 km dan bisa ditempuh minibus sekitar 2-3 jam perjalanan.
Brastagi lebih tepat sebagai tempat peristirahatan, udaranya sejuk, cenderung mendung dengan suhu rata-rata 20 derajat celcius. Tidak ada objek wisata yang khusus di sana, kecuali suasana Kota Berastagi sendiri yang terasa nyaman.
Sebenarnya ada sih satu, Taman Mejuah-juah dengan tiket Rp1,000,- yang ada di samping pasar buah dan tanaman hias.
Pilihan Icang menuju sini adalah pasar Brastagi yang terletak tidak jauh dari Tugu Perjuangan Brastagi, yang juga sebagai tanda memasuki kota ini.
Menelusuri pasar buah yang segar akan menemukan buah pepino yang familiar disebut terung Belanda. Buah pepino mirip terung dengan uliran memanjang di kulitnya juice, ada yang ungu pudar dan ada yang kuning, konon buah ini dibawa dari Belanda ke Sumatra pada masa penjajahan. Buah dengan kadar air tinggi ini memiliki rasa semacam melon, apel dan mentimun. Tanaman ini tumbuh di dataran tinggi dan banyak dibudidayakan di Belanda, Brasil, dan wilayah pegunungan Andes.
Di Brastagi dan Kabanjahe adalah satu-satunya penghasilan buah ini. Buah lain yang bisa diburu adalah markisa yang sudah punya nama dari dulu.
Selain buah-buahan yang bisa kita eksplor dari pasar ini, ada juga tanaman bunga hias, baju-baju khas Brastagi dan Danau Toba, pasmina, ulos dengan beragam harga.
Nasti kaget sedang asyik memilih buah jeruk tiba-tiba Icang melilitkan pasmina silver dengan corak Medan.
“Aiy cantik banget, makasih ya… aku memang kedinginan,” Nastiti merapatkan pasmina yang menghangatkan tubuhnya dari kabut pagi Brastagi.
“Ok kita siap menuju ke Danau Toba sekitar pukul 08.30, start ke Togging kurang lebih dari Brastagi 37 km. Pukul 09.45 kita sampai di Kabanjahe. Danau Toba kalau mau dihitung start dari Medan 4-5 jam perjalanan menggunakan bus dari Medan,” Icang berbicara sudah seperti guide profesional saja.
Nastiti dibuat melupakan keruwetan hatinya.
Tiba-tiba Nastiti ingat cerita tentang asal-usulnya Danau Toba, tentang Toba seorang ayah yang mengucapkan kata-kata pada anak kandungnya dengan sebutan dasar anak ikan yang membuat murka istrinya. Lalu amarah istrinya yang membuat air bah dan menyelamatkan anak pada pulau di tengah Danau Toba yang disebut Pulau Samosir.
Keindahan Danau Toba kesohor hingga mancanegara, karena danau terluas di Asia Tenggara dan danau tertinggi di dunia. Secara scient, danau ini terbentuk dari letusan gunung purba, dengan kedalaman yang luar biasa dan masih ditambah dengan Pulau Samosir di tengahnya.
Danau Toba memiliki luas 1.265 kilometer persegi, dengan kedalaman mencapai rata-rata 450 meter dan dapat dilalui Feri besar. Danau Toba adalah sebuah danau purba yang dalam penelitian disebutkan terjadi karena adanya ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu pada sebuah gunung berapi besar dengan letusan mahadasyat. Konon letusannya terjadi selama satu pekan dan debunya terlontar hingga 10 km di atas permukaan laut.
Dalam penjelasan ilmiah, para ahli dari berbagai belahan dunia menyatakan bahwa akibat letusan itu maka terbentuklah kaldera, yaitu fitur vulkanik yang terbentuk dari jatuhnya tanah sesudah letusan vulkanik. Berbentuk seperti wadah cekung yang kemudian terisi air, itulah yang disebut Danau Toba saat ini. Yang mencengangkan konon menurut para ahli, letusan vulkanik Danau Toba sampai ke Kutub Utara. Pulau Samosir yang muncul di tengah-tengah Danau Toba terbentuk menurut karena adanya magma yang tertekan ke atas dan belum sampai muncul di permukaan bumi. Keren sekali ya!
Perjalanan menuju Tongging. Icang memilih Tongging sebagai tempat untuk melihat Danau Toba (selain Parapat), karena Tongging memberikan keindahan yang berbeda dan belum banyak yang terjamah oleh industri pariwisata dan ditambah beberapa informasi teman Icang yang asli orang Karo menyarankan ke Tongging dahulu sebelum melihat dari Parapat.
Menyusuri Tanah Karo sungguh menyenangkan, kanan kiri mereka disuguhi pemandangan khas Pulau Sumatera. Berbagai hamparan bukit nan hijau memanjang sepanjang mata melihat keindahan Tanah Karo.
Sepanjang perjalanan dari Kabanjahe menuju Tongging banyak sekali warung-warung yang buat umat muslim diharamkan.
“Don’t worry banyak makanan halal kok di sini yang bisa kita makan,” kata Icang tetap semangat menginformasikan segala sesuatu tentang tanah kelahirannya.
Satu jam perjalanan, akhirnya memasuki bukit dengan pemandangan Danau Toba di bawah mereka. Masuk ke daerah Danau Toba setelah mobil diparkir dekat dengan penjual berbagai baju bertema Danau Toba.
Nastiti semakin menikmati indahnya pemandangan, tidak ketinggalan mengambil view untuk foto-foto dan repotase.
Dari atas baru tahu indahnya Danau Toba. Amat disayangkan jika tempat wisata ini tidak di-blow-up seperti Bali. It’s the one most beautiful place of Indonesia. Suasana yang dingin ditambah hamparan air yang sangat tenang menyejukkan mata membuat Icang dan Nastiti tidak sabar untuk turun ke bawah mendekati Danau Toba.
Dari ketinggian ini kita bisa melihat air terjun Sipiso-piso yang letaknya tidak jauh dari Danau Toba. Air terjun yang memesona, saat dilihat seperti ada pelangi.
Setelah puas memandang dari atas bukit dengan latar belakang danau Toba, Icang turun menyusuri jalan berliku yang berjarak lebih 2 km dari atas bukit tadi.
Akhirnya sampailah kita di tepi Danau Toba. Rasa lapar menyerang mereka saat jam menunjukkan pukul 10.30.
Sambil menunggu makan siang, aku puaskan mata untuk terus memandang keindahan Danau Toba dan burung-burung yang melintasi danau yang sangat cantik di antara awan yang berarak ini.
Setengah jam makan siang tersaji, tampak potongan ikan mas dengan bumbu warna kuning sudah tersedia di hadapan mereka. Icang dan Nastiti langsung serbu ramai-ramai ikan mas arsik, gurame goreng, ikan bakar. Terasa sekali bumbu-bumbunya, asam, pedas lada bercampur dengan sambal merah wah tanpa terasa mereka menyantap makanan khas Tanah Karo.
Two thumbs! Buat makan siang kali ini tanpa sadar satu porsi ikan arsik telah tandas. Ikan yang segar dan bumbu tersebut di atas telah memuaskan mereka siang itu dan menambah semangat untuk melanjutkan penjelajahan Danau Toba.
Pukul 12.45 mereka memasuki Kabupaten Simalungun, Icang dan Nastiti disambut dengan kepadatan jalan karena ada acara pernikahan dengan tarian Tor-tor. Saat melintasiKkecamatan Simarjalunjung ada keramaian juga, menurut Icang kalau kaum lelakinya pakai ikat putih itu pertanda kematian.
Jalan menuju Danau Toba berkelok-kelok hingga akhirnya tiba di sisi kalau Danau Toba tidak terlihat pandangan mata berarti akan menuju Kota Parapat yang masih 20 km lagi.
Menuju ke Parapat salah satu lokasi yang juga menjadi tujuan wisatawan untuk menyaksikan keindahan Danau Toba selain Tongging yang sudah dijelajahi.
Menuju ke Parapat bakal disambut dengan saudara lama alias monyet-monyet liar yang bertebaran. Tetapi mereka dalam lindungan pemerintah sebagai satwa yang dilindungi dan dilarang keras mengganggu mereka.
Icang dan Nastiti sampailah ke penginapan, mereka memilih penginapan yang dekat dengan Danau Toba, tepatnya pas banget kamar mereka menghadap view-nya Danau Toba. Di depan kamar ada pasir putih dan anak-anak kecil bermain bebas membuat istana pasir, berenang dan hanya berendam sambil berkejar-kejaran.
Ada juga kapal boat, kapal bebek-bebekan kayuh yang ditawarkan untuk berkeliling jarak dekat-dekat saja.
Icang dan Nastiti bermalam pada sebuah hotel kuno dan antik dengan kamar AC, kamar mandi air panas dan dingin, tempat tidur besar, televisi, kulkas. Hotel yang menyerupai rumah terbagi menjadi dua kamar yang terpisah dengan satu pintu penghubung.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.30 dan Icang mengajak Nastiti untuk lanjut ke penyeberangan Pulau Samosir dengan menyewa speed boat.
Air sedang pasang dan tiupan angin kencang menerpa speed boat memecahkan deburan air yang membasahi kaos Nastiti. Dan kunjungan pertama trip menyusuri Danau Toba adalah Batu Gantung.
Rambut Nastiti yang panjang terurai dengan angin kencang yang menyapunya. Icang puas memandang wajah yang semakin manis dengan kacamata hitam bertengger di wajahnya. Icang membiarkan Nastiti melupakan masalahnya dan dirinya sendiripun mencoba menepis sejenak.
Ada kisah dari Batu Gantung yang terletak di pinggiran salah satu sisi tepian Danau Toba, menurut tukang speed boat ini. kisah seorang putri yang dipaksa menikah dengan Boru Sinaga, karena tidak suka ia memilih bunuh diri.
Sekitar sepuluh menit berputar dan mengamati Batu Gantung, mereka menuju ke Tomok. Tomok adalah salah satu area pintu masuk Pulau Samosir. Seperti pelabuhan dan tampak pendaratan kapal. Masuk ternyata area pasar yang menjual berbagai macam souvenir dari kaos, daster, baju bermain, celana, gantungan kunci, ulos, pernak pernik Toba.
Dan menyusuri terus menuju makam purba Raja Sidabutar dan keturunannya atau mengunjungi Museum Batak yang terletak seperti perkampungan. Hanya dengan jalan kaki tidak jauh dari pelabuhan tempat speed boat menunggu. Menurut informasi bila pagi hari banyak pedagang hasil danau dan makanan tradisional yang menjajakan dagangannya. Ini serupa pasar tradisional.
Akhirnya Nastiti membeli souvenir miniature rumah Danau Toba dan kura-kura kayu untuk oleh-oleh. Juga beberapa kaos Danau Toba dengan ukuran M dan L.
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 17.00, mereka segera kembali ke hotel, sebenarnya Nastiti masih penasaran dengan Tuktuk yang diceritakan Icang sebagai salah satu desa di Pulau Samosir yang sangat terkenal. Karena di sinilah wisatawan asing suka berkunjung bahkan ada yang menetap dan menikah dengan masyarakat di sini. Di sini masih ada penginapan murah mulai Rp100.000,- per malam, mulai yang di tengah desa hingga sampa bibir danau. Bisa sewa sepeda, sepeda motor, warung internet, toko souvenir lengkap.
Tuktuk adalah wilayah yang memiliki atmosfer tenang, cocok untuk relaxing karena cenderung sepi. Bisa menuju Tuktuk melalui Pelabuhan Tomok dengan menggunakan ojek sekitar Rp35.000,- dengan lama perjalanan 15 – 20 menit.
Pas pukul 17.30 kembali ke hotel. Rasa cape mulai melanda, setelah mandi dan salat magrib mereka siap-siap untuk menikmati makan malam yang sudah difasilitasi hotel.
Makan malam yang nikmat, dengan bakso Medan sebagai pembuka dilanjutkan dengan ayam goreng dan sayur tumis brokoli plus kerupuk. Masih terbayang juga nikmatnya ikan arsik yang disantap siang hari di tepi Danau Toba benar memanjakan kenikmatan perut dengan kuliner Tanah Karo.
Malam mereka berputar sejenak di sekitar hotel Indah untuk menikmati Kota Perapat yang cukup ramai dengan lalu lalang motor dan mobil. Nastiti sempat melihat pesanggrahan Bung Karno di malam hari dan besok pagi berencana mengunjungi walau hanya diizinkan mengambil foto di luar pesanggrahan.
Tampak dari teras kamar Nastiti dan Icang mobil yang melintasi jalan Perapat di atas hotel-hotel. Jadi hotel-hotel di salah satu bibir Danau Toba terletak di bawah jalan tempat melintas kendaraan. Dan dari teras kamar hotel seru sekali kelihatannya, ada mobil melintasi atap-atap hotel. Amazing!
Icang dan Nastiti masih duduk menikmati keindahan gemerlap lampu-lampu di sepanjang tepian Danau Toba. Pasmina pemberian Icang melilit menghalau udara dingin.
Icang datang dari kamar sebelah dengan dua mug teh celup hangat. Senyumnya mengembang.
“Puas jalan-jalannya, Nasti?”
“Puas banget, nih aku lagi tulis detail penjelajahan Tanah Karo,” Nasti sambil asyik mengetik di laptop-nya. Icang tersenyum gadis di depan ini tidak penah berubah untuk urusan menulis. Icang mengagumi beberapa tulisannya yang berupa opini waktu lalu di koran-koran lokal. Gadis galak ini memang punya prinsip dan kemauan keras dalam segala hal.
Nastiti tersadar kalau Icang tengah mengamatinya lekat-lekat. Sejenak Nastiti lepas dari laptopnya dan mereka saling bertatapan lekat.
Hati Nastiti berdesir sesiang tadi dia terlalu sibuk membuat repotase perjalanan dan bertanya berbagai hal. Icang dengan kesabaran dan pengetahuannya selalu berusaha memberikan penjelasan detail tentang segala hal.
Sehari ini menjelajah Tanah Karo dengan seluk beluknya membuat otaknya terpacu akan pengetahuan baru. Jiwa traveling yang terbatasi dengan jam kerja membuat Nastiti berpikir ulang untuk bisa melewati hari-hari ke depan seperti hari ini.
Tiba-tiba Icang mengambil alih laptopnya, membaca sekilas repotase yang dibuat Nastiti.
“Bagus, rapi dan runtut, hmmm tapi saatnya waktu untuk kita. Boleh aku matiin?” Icang bertanya lembut.
“Eee iya…”
Icang merapikan pasmina yang dikenakan Nastiti, merapatkan agar lebih lekat dan menghangatkan tubuhnya. Jantung Nastiti berdetak keras seakan malam ini dia harus membayar kebahagiaan yang telah teraih sehari ini dan juga untuk hari besok.
Nasti pasrah dalam sebuah dekapan, wangi tubuh Icang merebak dalam hidungnya dan semakin membuat dirinya merapatkan dalam kehangatan. Sebuah ciuman panjang merapatkan bibirnya untuk berkata-kata ataupun memprotes apapun. Dan biarkan sensasi itu menguasainya.
Tiba-tiba hp-nya berdering-dering, menyadarkan ciuman yang masih belum beranjak. Nastiti terhenyak, rasa kecewa terbersit dan tertera dalam layar hp-nya ‘rumah-koe’.
Nastiti terdiam ragu untuk mengangkat, setelah enam malam baru kali ini orang tuanya mencari. Mereka baru tersadar kalau dirinya benar-benar kabur dari rumah.
“Nas angkatlah, siapa tahu penting.”
“Nggak penting kalau hanya memaksa aku kembali dan melanjutkan rencana pernikahan aku dengan Bram,” kata Nastiti lesu.
“Ayah dan Ibu meminta kamu kembali pada Bram?” ada nada tidak percaya pada pertanyaan Icang.
“Makanya itu aku ke sini tanpa pamit ke mereka. Semalam sebelum aku kemari, mereka meminta aku untuk memaafkan dan menerima Bram. Aku tidak bisa Icang. Aku hanya ingin melupakan semuanya dan memulai dari awal dalam pencarian teman hidup.”
“Ya ampun jadi kamu lagi jadi pelarian ceritanya! Gawat aku bisa dituduh membawa lari calon pengantin,” Icang berpura-pura memasang wajah khawatir.
“Sepertinya begitu…” Nastiti menjawab lesu. Sadar kalau saat ini dirinya seperti pelarian dan kedua orang tua, mungkin Bram juga calon mertuanya tengah kelabakan mencari sang calon mempelai wanita yang kabur.
“Nasti…. kamu nih… pre wedding escape…” Icang menyeletuk.
“Aku hanya ingin mengikuti kemauan hatiku,” Nastiti menatap Icang.
“Aku mencintaimu Nastiti… sangat… maukah kamu memulai denganku?” Icang menggenggam tangan Nastiti.
Hanya tatapan dan sebuah anggukan mewakili hatinya yang ingin berlabuh pada pria yang ternyata dulu dibencinya sekarang bersemi mengisi hatinya.
Nastiti ragu tapi apakah ini sebuah pilihan terakhir hatinya? Tapi untuk kesekian kali Nastiti hanya berpikir mengikuti kata hatinya yang berseru, karena aku memilihmu, seseorang di masa lalu yang hadir penuh dengan kebencian.
Dan malam biarkan lewat menjadi saksi bisu. Dua hati yang menyatu setelah terpisah putaran waktu yang menyisakan kebencian, nyatanya hadir kembali dalam selimut cerita cinta yang penuh kelembutan.
Icang melepaskan pelukannya, “Nasti sudah larut, tidurlah, besok kita lanjutkan penjelajahan Tanah Karo. Besok kita ke Pemantang Siantar dan nikmati kuliner di sana.”
Nastiti meregangkan tubuhnya yang bersandar di dada Icang dan melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Rasa lelah mulai terasa mendera tapi rasa romantis menjalari hatinya. Kalau tidak mengingat berbagai hal mungkin bisa saja dirinya terlarut lebih jauh.
***
Minggu pagi menjelang
Samar Nastiti mendengar kegaduhan di samping kamarnya dan itu kamar Icang yang terhubung dengan pintu.
Nastiti berjingkat, hatinya tersirap dengan suara wanita yang menangis dan memohon untuk Icang mengantarnya pulang.
“Abang! Pokoknya Abang pulang dan antar aku ke rumah sekarang. Aku tidak rela Abang jadian dengan perempuan itu!”
“Nggak bisa Luna, kamu kan tahu Abang sangat mencintai Nasti. Dia cinta pertama Abang. Pulanglah Luna, kita selesaikan masalah kita di rumah. Biarkan Abang menghibur Nastiti, dia baru saja putus dengan tunangannya.”
“Aku nggak rela Abang jadian dengannya. Kalau perjodohan kita batal aku lebih rida kalau Abang berpacaran dengan wanita manapun asal jangan Nastiti! Abang tidak ingat sakit hati Abang gara-gara penolakan dia! Aku lihat bagaimana Abang sangat susah menerima hati wanita lain dan menyakiti beberapa cewek yang berusaha mendekati Abang! Pokoknya aku nggak rela! Abang!”
“Luna… Luna… pulanglah. Jangan paksa Abang mengusir kamu karena buat keributan pagi-pagi. Sudah berulang kali Abang katakan kalau Abang tidak bisa suka dengan perempuan lain kecuali dia!”
“Abang jahat! Aku mencintai Abang dan kedua orang tua kita sudah sepakat! Tapi Abang membatalkan tiba-tiba! Abang jahat karena bertemu kembali dengan Nastiti yang berubah! Abang lebih memilih dia. Ingat Bang! Ingat siapa yang menemani Abang saat terluka! Luna, Abang! Lunaaa!” kali ini Luna berteriak lebih keras.
“Luna! Sudah! Sudah!” Luna memukuli tubuh Icang bertubi-tubi.
Nastiti membuka pintu penghubung dan melihat Icang yang berusaha menghindari pukulan Luna. Icang menangkap dan merengkuhnya.
Nastiti menatap nanar pemandangan yang di depannya. Luna dalam pelukan Icang lalu memeluknya erat dan menangis.
“Nasti… eee… tunggu…”
Nasti memilih menutup pintu penghubung dan menguncinya. Jujur dia kaget dengan pemandangan barusan saat Icang memeluk seorang gadis yang dia dengar bernama Luna.
Tubuh Nastiti menggelosor, tersadar tujuh tahun terpisah dan dia belum tahu apa-apa tentang Icang sekarang. Tujuh tahun bukan waktu pendek, Nastiti tidak terbersit di otaknya tentang status Icang sebenarnya.
Air hangat mengguyur tubuhnya, Nastiti membiarkan air matanya meleleh dan terbawa derasnya air shower. Perasaan semakin campur aduk, mencoba lari dari masalah Bram dan pelariannya berlabuh pada Icang. Nyatanya tujuh tahun ada banyak hal yang Nastiti belum ketahui, sementara semalam dia telah memercayakan hatinya padanya. Semua karena cinta.
“Nasti… Nasti…” Icang mengetuk pintu dan memanggil namanya lembut.
“Masuk Icang, nggak dikunci,” Nastiti duduk di pinggir tempat tidur. Menunduk memainkan kakinya bergerak maju mundur. Resah meliputi hatinya.
“Nasti maafkan keributan tadi. Tadi Luna… orang tua kami merencanakan perjodohan aku dan dia. Nasti tapi kamu tahu kan kalau hatiku hanya untukmu. Luna sangat marah dan kami bertengkar hebat.”
“Icang, aku juga salah, tujuh tahun kita berpisah dan aku terlalu cepat menerima cintamu. Icang lupakan apa yang terjadi semalam, kita tetap berteman baik. No more sampai kita bisa yakin dengan pilihan hati kita dan tidak ada yang tersakiti,” entah kekuatan mana yang membuat Nastiti mampu mengucapkan kata-kata yang sejujurnya hatinya pun tidak ingin kembali terluka.
Icang menunduk, ada pedih tergores kembali dengan ucapan Nasti barusan. Semalam dia begitu bahagia bisa merengkuh, menciumnya, dan memiliki Nastiti yang telah terlalu lama dirindukan. Sekarang Nastiti harus berlari lagi meninggalkannya.
“Nasti, kalau itu yang kamu anggap terbaik, aku akan menerima. Aku hadir kembali tidak akan memaksamu. Biarkan cinta bersemi dengan waktu yang mengatur kita.”
Icang merengkuh Nastiti.
Wajahnya berusaha tegar, “Ok kita masih punya satu malam lagi untuk menuntaskan penjelajahan kita. Are you ready repoter?“ Icang berusaha menetralisir kekakuan yang tercipta.
Tidak sia-sia Nastiti pun setuju dengan ucapan terakhir Icang, biarlah waktu yang mengatur cinta mereka bersemi. Terdengar lebih indah, karena Nastiti pun tidak mau menyakiti perasaan siapapun apalagi berbahagia di atas penderitaan orang lain.
Pemantang Siantar Nikmatnya Kopi
Breakfast pagi ini menikmati bubur ala Medan yang gurih, tidak terlalu beda dengan bubur Jakarta juga. Lanjut dengan mencicipi nasi goreng dan mie goreng. Sengaja Icang menginfokan jangan terlalu kenyang kerena setelah ini mereka akan mencoba menikmati roti bakar dan secangkir kopi di Pematang Siantar.
“Wow kereen! I like coffee and bread!!” teriak riang Nastiti menutupi galau hatinya.
Pukul 07.30 mereka check out dan first mengambil gambar-gambar di Pesanggrahan Bung Karno yang terbangun megah dengan bangunan zaman kuno yang sudah dimodifikasi, salah satu keunikan adalah patung garuda di bibir Danau Toba yang agak jauh dari pesanggrahan beliau.
Start pukul 08.15 mereka menuju ke Pemantang Siantar, perjalanan yang memakan waktu 1.5 jam, wah hati-hati mulai ada beberapa tempat yang ternyata longsor. Mereka melintasi perkebunan sawit, taman anggrek, dan hutan karet.
Hingga akhirnya sampai ke Kota Pematang Siantar yang bersih. Melintasi Jl. Merdeka – Jl. Sutomo dengan becak motor (betor) untuk wisata keliling Pemantang Siantar.
Icang memarkir mobil di dekat Jl. Sutomo 97 dan mampir ke Kedai Sedap. Menikmati kopi hitam tanpa ampas dan roti bakar isi selai srikaya. Nikmat banget dan sempat membeli setengah kilo kopi untuk konsumsi sesampainya di Jakarta. Di sini mereka melihat proses pembuatan kopi dan roti bakarnya.
Sekilas kopi bubuk ditaruh pada kain yang seperti saringan lalu diguyur air panas dan dihidangkan panas-panas, untuk roti bakar isi selai sirkaya tidak memakai mentega dan dibakar kering. Nikmat!
Saat pukul 10.32 mereka memasuki Serdang Badage, sebuah daerah sebelum Tebing Tinggi dan pukul 11.00 sampai di Tebing Tinggi. Perjalanan satu jam ini melintasi hutan karet yang ternyata milik Perusahaan Ban terbesar, Bridgestone, pabrik rokok Union dan Hero yang diekspor ke Amerika.
“Nasti gimana penjelajahan Tanah Karo bersamaku? Seru kan?”
\"Wah seru sekali Icang. Aku tidak enak dengan kemarahan Luna tadi,\" masih terlintas kemarahan Luna tadi pagi yang memutuskan Nastiti untuk tidak berharap banyak terhadap Icang.
\"Sudahlah, Luna bukan urusan kamu, dia memang harus saatnya ketemu dengan kamu. Selama ini dia selalu penasaran denganmu, karena alasan aku menolak perjodohan ini adalah kamu, Nasti.\"
“Tapi aku tidak enak hati, Icang. Luna sepertinya sangat terpukul. Aku... aku bisa merasakan dia sangat menderita. Apa yang dia alami tidak beda jauh dengan apa yang aku alami. Memergoki orang yang kita cintai tengah bersama dengan orang lain.”
Icang terdiam, apa yang dikatakan Nastiti ada benarnya tapi tidak juga seratus persen benar karena dia dan Nastiti tidak melakukan apa-apa. Hanya sebuah kecupan panjang yang hangat semalam. Ciuman yang telah sekian tahun menjadi hasrat terpendam. Ciuman yang sebenarnya semakin membakar hasratnya untuk sepenuhnya memiliki.
\"Aku janji akan menyelesaikan kesalahpahaman ini dengan Luna. Dia harus paham kalau cinta tidak pernah bisa dipaksakan. Aku hanya menyukai satu wanita yang mencuri hatiku tujuh tahun silam.”
\"Icang ...\" Nastiti mendesis.
Ciuman semalam meyakinkan dirinya memang telah takluk pada Icang bahkan ada rasa takut bila Luna memenangkan hati Icang sementara dirinya pun ingin memiliki pria yang telah menawannya.
Nastiti sadar karena kehadiran Icang dengan cepat melupakan kesedihan akan perselingkuhan Bram, batalnya acara perkawinan mereka dan keputusasaan. Icang menghadirkan cinta lama yang tidak sempat bersemi menjelma menjadi harapan indah.
Dr. Faisal Lubis menghadirkan pesona setelah tujuh tahun menyepi dengan ilmu-ilmu kedokteran dan mencoba menghapus segala tentang Nastiti. Ternyata gadis bernama Nastiti terlalu kokoh bersemayam dan memesonakannya sampai sungguh sulit menemukan penggantinya.
Nastiti merasakan sebuah cinta yang tidak ada matinya, Icang masih possessive tapi kali ini Nastiti suka dan kelembutannya menenangkan dirinya. Nastiti jatuh hati pada lelaki yang dulu sangat dibencinya.
Kembali ke Medan dari Tebing Tinggi, start pukul 12.00 mulai melintasi perjalanan dijumpai banyak lemang dan melewati daerah Serempak tepatnya Jl. Raya Medan Tebing Tinggi Km 10. Di sini seperti kota tua yang masih banyak bangunan kuno peninggalan zaman Belanda.
Pukul 12.40 memasuki daerah pasar Bengkel dan ternyata di sini banyak sekali dodol dan wajik yang juga sebagai khas oleh-oleh. Pas pukul 13.00 memasuki Kecamatan Perbaungan, disambut dengan peringatan mobil hancur bekas kecelakaan di sebuah tikungan yang tidak tajam.
Fortuner terus melaju dan udara cukup hangat dan tidak terasa memasuki Kabupaten Deli Serdang yang merupakan ibukota Lubuk Pakam, diawali dengan sungai ular sebagai perbatasan.
Pukul 13.15 masuk Tanjung Morawa dan 13.25 mereka masuk kembali ke Kota Medan. Saatnya membeli berbagai panganan khas Medan baik oleh-oleh maupun titipan rekan-rekan Jakarta.
Sisa perjalanan terakhir, kembali menuju Medan. Icang menggenggam tangan Nastiti.
\"Maukah kamu menjadikan aku tidak sekedar sahabat baik, Nasti?\" Icang melirik wajah yang tampak merona merah.
\"Icang, kalau aku mengikuti kata hati sekarang, aku jawab ‘iya’, tapi aku menolak karena peristiwa pagi tadi Luna datang ke penginapan kita dan berakhir berurai air mata. Aku tahu sekarang dia lebih membutuhkan kamu,\" Nastiti mencoba arif menghadapi gejolak hatinya.
Sungguh kalau tidak ada kejadian amarah Luna mungkin saja meluncur dari bibirnya untuk mengiyakan. Mengingat hatinya telah luluh dengan sosok pria yang sekarang tampak murung dengan jawaban dia barusan.
Nastiti tersadar kalau Icang pun ternyata pria yang rapuh, tapi dia tampak menerima keputusan untuk hanya berteman kembali, nyatanya siang ini dia berharap lebih kembali akan hubungan mereka.
\"Nasti, memang ini masalahku. Baiklah, beri aku waktu untuk menyelesaikan dengan terbaik. Aku pun tidak pernah ada niat melukai Luna, bagaimanapun aku menghargai cintanya. Aku paham itu sangat tidak adil bila aku bersikap kasar dan meninggalkan begitu saja. Karena ...\"
\"Icang... aku tahu seterusnya karena kamu sudah mengalami sakitnya cinta ditolak tujuh tahun lalu olehku. Maafkan aku Icang, waktu itu aku masih ABG dan aku ketakutan sendiri dengan pengejaran kamu yang jauh dewasa. Waktu itu berbagai rasa bercampur antara benci, suka, gengsi, dan kesal membuat aku memutuskan menolak dirimu,\" ada kelegaan dalam hati Nastiti setelah mengungkapkan perasaan sejujurnya di waktu lalu.
\"Iya. Luna adalah putri sahabat bapak dan omak. Aku menghabiskan masa kecil sampai 3 SMP kita pindah ke Jakarta. Kedua orang tua kami sudah berencana menjodohkan kami setelah sama-sama selesai kuliah dan bekerja. Tiga tahun aku dan Luna terpisah karena aku SMA di Jakarta dan Luna tak terlintas lagi karena hatiku tercuri Nastiti Prameswari. Walau aku ditolak! Bagaimanapun aku frustasi, beruntung aku keterima Fakultas Kedokteraan di Medan.”
“Nasti, kembali aku bertemu Luna karena kita satu almamater. Dan ternyata kedua orang tua kami selalu berkomunikasi. Bisa jadi aku dan Luna diarahkan ke satu universitas yang sama. Luna di Fakultas Pertanian. Saat kami pertama ketemu lagi setelah tiga tahun terpisah buatku yang ada hanya perasaan sayang sebagai kakak. Awalnya Luna juga tidak terlalu menganggap spesial pertemuan kita. “
“Dia masih saja cewek yang ribut, manja dan hmmm… tidak mandiri. Omaknya mengetahui kita satu universitas. Rumah Luna ke kampus jauh maka sekalian meminta tolong aku mencarikan asrama buat dirinya. Yah kita seperti kembali pada masa kecil, persahabatan, aku menyayanginya seperti adik yang aku lindungi. Bersama mencari asrama buat dia, lalu aku juga cari kostan yang tidak jauh dari asrama Luna agar sewaktu-waktu dia butuh apapun bisa minta tolong aku. Apalagi omaknya benar-benar memasrahkan semuanya padaku dan ini seakan jadi beban karena omakku sendiri tegas-tegas meminta aku menjaga Luna.”
Nastiti mendengarkan perjalanan tujuh tahun terpisah. Saatnya dia harus tahu juga tujuh tahun apa yang telah dilewati oleh Icang.
\"Semester kedua, Luna jatuh cinta pada teman kampusnya. Ada yang aneh sebenarnya saat dia memutuskan untuk jadian dengan cowoknya.”
Ia sempat berkata, \"Sebenarnya cowok yang dia suka adalah seseorang yang dekat pada masa lalunya, tapi setelah bertemu kembali hati cowok itu sudah untuk gadis lain. Setiap saat dia selalu bercerita dan menghubungkan apapun dengan gadis itu. Daripada menunggu seseorang yang maya lebih baik menerima cinta yang nyata.\"
“Saat itu aku tidak terlalu sadar siapa cowok yang dimaksud. Tapi yang jelas sejak dekat dengan pacarnya, Luna hanya sesekali berkomunikasi denganku. Aku pun tidak punya waktu untuk bermain-main karena tugas kampus sangat banyak, Nasti. Aku juga nggak mau jadi dokter bodoh, tanggung jawab pekerjaanku adalah nyawa orang.”
Nastiti terdiam, Icang sangat bertanggung jawab dan dewasa. Tidak ada ragu untuk menolaknya, tapi tetap dia harus menjaga perasan hati perempuan lain. Nastiti tidak mau jadi pecundang atau apalah perebut pacar orang.
“Hingga suatu minggu. omakku menelepon, meminta agar aku mengunjungi asrama Luna karena omaknya Luna sudah seminggu tidak bisa menghubunginya. Perasaanku ada yang tidak enak dengan perilaku Luna yang menghilang begitu saja.”
“Saat aku ke asramanya tampak senyap, maklum hari Minggu, beruntung ada penjaga asrama si bibi. Aku bertanya bisa ketemu Luna, sesaat si bibi mengetok-ngetok pintu dan tidak dijawab.”
“Entahlah. perasaanku mendorong aku untuk membuka pintu, akhirnya bibi mengambil kunci serep ternyata Luna tengah sekarat. Banyak pil berhamburan! Aku langsung membawanya ke rumah sakit, dia tertolong karena obat penenang yang overdosis.”
Icang melihat Nasti tampak mencerna cerita dia dan Luna, tapi di sisi lain tampak lelah juga tersirat.
\"Nasti kamu bobo dulu ya, nanti aku cerita lagi.\"
Memang dirinya lelah, perjalanan dua hari ini menyita tenaganya.
Sejenak Nastiti sudah terlelap. Sementara pikiran dr. Icang seakan melangkah mundur pada enam tahun lalu saat menemukan Luna terkapar tak berdaya.

Other Stories
Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Tiada Cinta Tertinggal

Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Kuraih Mimpiku

Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...

Dari Luka Menjadi Cahaya

Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Download Titik & Koma