12. Everything Changed
“Saron hamil dan sekarang sedang meminta tanggung jawab Bram…” informasi dari Naon petang tadi mengiang-ngiang di telinga Nasti.
Drett drett. SMS masuk, tertera nama “Bram-koe”
SMS Bram :
Nasti kamu sudah tahu pasti Saron hamil. Itu bukan anakku! Nasti kita harus bicara. Tolong Nasti besok kita ketemuan.
Seperti biasa Nasti langsung delete.
“Maaf Bram masalah Saron hamil sama sekali bukan urusanku,” Nastiti bergumam sendiri.
Nastiti menurunkan tas ranselnya, besok dia akan melakukan business trip Jakarta-Medan selama dua hari untuk urusan kerjaan, sisanya adalah pelarian saja.
Ingat janji dengan Icang akan menghabiskan week end menjelajah Tanah Karo membuat Nastiti asyik memilih kaos-kaos dan celana santai untuk ber-backpacker.
WA Message Icang :
Nasti kamu sedang packing yach
WA Message Nasti :
Iya nih aku sudah nggak sabar menjadi pelarian sesaat meninggalkan keruwetan Jakarta, Icang. Tadi sore aku ngopi dengan Naon dan Naon bercerita Saron, selingkuhan Bram hamil.
WA Message Icang :
Hmmm ya sudahlah biar Bram yang urus dan bertanggung jawab
WA Message Nasti :
Ada lagi ini yang buat aku kesal…
Sebenarnya Nasti ragu untuk curhat kekesalan yang tidak lama berselang. Tadi ibu dan ayahnya sepertinya membujuk dirinya untuk kembali pada Bram.
***
Selepas salat isya tadi, Nasti dipanggil ibunya.
“Nasti sini Nduk, kita mau bicara tentang kamu dan Bram. Sudah tiga bulan ini hubungan kamu dan Bram sangat buruk. Yah Ibu tahu semuanya. Kami juga menyayangkan sebenarnya akan kecerobohan Bram.”
Nastiti terbelalak, “Kecerobohan?”
Tampak ada resah juga di kedua bola mata orang tua yang Nastiti sayangi berjalan semakin senja. Ada rasa bersalah meresap, entahlah rasa bersalah yang tidak bisa digambarkan. Bagaimanapun sebenarnya pernikahan dirinya dan Bram sangat menjadi kebanggaan mereka.
Nastiti berasal dari keluarga biasa dan Nastiti mendapat kekasih yang baik, ganteng, mapan, dari keluarga yang tidak biasa saja karena orang tua Bram adalah pengusaha sukses yang terhormat. Bisa saja uang mereka tidak lagi bernomor seri saking banyaknya.
Nastiti maklum ibunya sangat shocked waktu itu semata bukan karena asmanya, tapi pasti juga nasib dirinya bila batal menikah dengan Bram. Belum beban moral mereka yang sudah membanggakan dirinya pada teman, sahabat, dan saudara. Begitu banyak yang memancarkan rasa ikut bahagia juga iri karena dia bakalan dipersunting salah satu pengusaha kaya.
Pastilah dipikir lebih panjang menikah dengan Bram akan menjamin dan mengangkat kehidupan mereka yang selama ini hanya bersahaja biasa-biasa saja.
Kenapa orang tuanya baru merasa keberatan dengan keputusan Nastiti setelah hampir tiga bulan menolak permintaan Bram melanjutkan pernikahan mereka.
“Nastiti, Ayah dan Ibu bukan bermaksud memaksa kamu untuk kembali pada Bram. Tapi cobalah kamu berpikir ulang. Kesalahan Bram itu hanya taruhan dan dia dijebak oleh temannya yang merasa kesal karena dalam taruhan sebelumnya kalah. Yah kami sudah dengar pengakuan dari Bram semuanya,” Pak Harjo yang selama ini diam dan mendukung keputusan Nastiti membatalkan perkawinan, sekarang sepertinya balik membela Bram.
“Ada apa sih sebenarnya? kenapa Nastiti harus melangkah mundur lagi? Nastiti nggak bisa kembali pada Bram. Apalagi tadi Naon dan Bram sendiri SMS kalau Saron selingkuhan Bram sudah positif hamil Itu karena Bram!” Nastiti bersikeras beradu dengan kedua orang tuanya.
“Saron hamil bukan karena Bram. Dia wanita panggilan dan bisa setiap hari berganti-ganti dengan siapapun! Bram mau test DNA untuk membuktikan semuanya,” Ibu Ratna menginformasikan.
“Hamil atau tidak tetap Bram bertanggung jawab karena dia telah melanggar batas!” Nastiti menatap tajam kedua orang tuanya.
“Nasti sekali ini Ibu dan Ayah meminta pengorbanan kamu sebagai anak harus berbakti. Kita teruskan pernikahan kamu dan Bram kalau kamu ingin Ibu sehat dan tidak meninggal karena perasaan terhina!” Ibu menatap tajam Nastiti.
Selama ini kedua orang tuanya sangat baik bersikap terhadap dirinya dan semua apa yang menjadi kemauan Nastiti selalu diikuti. Tapi kali ini untuk pertama kalinya mereka menentang semua yang menjadi pendiriannya. Pendirian yang dia turuti karena kata hatinya. Apakah karena ada Icang yang telah merebut sedikit demi sedikit mengikis perasaan cinta dia terhadap Bram berkurang. Benarkah sudah tidak ada sisi baik Bram yang bisa membuatnya bertahan untuk tetap di sampingnya.
Pikiran Nastiti berputar-putar melelahkan, nyatanya Bram tiga bulan ini tidak menyerah meminta maaf pada dirinya. Ssetiap hari mengirim SMS, WA memohon maaf, mengingatkan kebiasaan-kebisaan dia, menanyakan kabar dirinya juga orang tuanya, pekerjaannya, kesehatannya, dan semua yang selama bersama dia lakukan.
Apakah hanya karena jebakan teman-temannya Nastiti mengabaikan semua kebaikan Bram dan keluarganya selama berpacaran. Keluarga Bram yang kaya raya tapi begitu welcome terhadap dirinya yang berasal dari kalangan keluarga biasa saja.
Mama Linda yang selalu memanjakan dengan berbagai barang-barang yang tidak pernah bisa dibeli dengan gaji dia sebulan. Nastiti memandang kotak perhiasan yang telah dibungkus rapi. Di dalamnya ada beberapa gelang, kalung, cincin, bros pemberian Mama Linda. Setiap dia ulang tahun, saat dia lulus kuliah, saat dia diterima kerja selalu dimanjakan dengan kado-kado berupa perhiasan.
Selalu perhiasan yang Tante Linda berikan dengan alasan bisa jadi tabungan. Nastiti berencana mengembalikan semua perhiasaan pemberian mama papa Bram minggu ini, apalagi sudah tahu kepastian tentang kehamilan Saron. Jadi memang sudah tertutup untuk dirinya memasuki kehidupan Bram dan keluarganya.
Tentu saja Nastiti bisa masuk karena mereka memang tetap mengharapkan dirinya, tapi hatinya tidak bisa. Haruskah hatinya terbayar dengan semua kekayaan yang mereka punya?
“Nasti, tidak mudah menjadi Bram. Dia juga sangat menderita. Dia sangat menyesal telah salah bergaul dan merahasiakan pergaulan yang ternyata menjadi bumerang. Setiap pasangan tidak ada yang sempurna. Apalagi nanti bila sudah menikah. Ayah dan Ibu ingin kamu tetap bersamanya. Bersama keluarga yang sudah pasti menyayangimu. Kamu sendiri berkata calon mertua kamu tidak cerewet dan bawel seperti yang sering kamu dengar dari teman-teman lain tentang mertua mereka yang cerewet dan malah memberati dengan permintaan yang macam-macam. Sementara kamu sudah ketemu yang terbaik.”
“Nasti sekali lagi Ibu minta kembalilah ke Bram. Lupakan kenangan buruk tiga bulan lalu. Anggap ini ujian pre wedding kamu. Setiap menuju perkawinan memang ada saja ujian. Ujian yang membawa kamu untuk sanggup melanjutkan niat suci awal kalian sebagai ibadah ataukah malah sebaliknya kalian lari untuk menyempurnakan apa yang menjadi kewajiban Allah. Jadilah orang yang memaafkan pasangan, karena kita tidak tahu ke depannya apakah kita juga bisa lurus-lurus saja? Maafkanlah Bram,” Ibu mengelus rambut Nastiti.
Nastiti benar-benar tidak ada pilihan.
“Maaf Ayah, Ibu… sepertinya Nastiti masih sangat sulit memaafkan. Biarkan saja waktu yang menjawab semuanya,” Nastiti memilih berlalu dan sekilas saja melihat kekecewaan yang tergurat di kedua orang tuanya.
Berbagai misteri berkecamuk. Selama tiga bulan dia terlalu sibuk menghindari Bram dan tidak memedulikan apa yang tengah terjadi pada kedua orang tuanya. Sepertinya dirinya lengah untuk melibatkan perasaan kebencian akan Bram pada kedua orang tuanya. Sepertinya mereka menganggap kediaman dia selama ini untuk menenangkan saja tanpa niat berlari sejauh mungkin dari Bram.
“Mereka salah, semakin aku tahu Saron hamil nyatanya aku semakin tidak merasakan apapun tentang Bram. Hatiku sudah mati rasa bagaimana mungkin aku menikah dengannya.”
Nastiti memutuskan untuk melakukan business trip selama seminggu sekalian mengambil cuti di Senin minggu depannya.
WA Message Icang :
Besok aku pesawat terpagi soalnya aku langsung ikuti acara seminar. Dari rumah udah jalan jam empat pagi. Senin dan macet
WA Message Nasti :
Aku sore jam 4 dari kantor. Sampai ketemu di Medan ya. Horas
WA Message Icang :
Bye Nastiti, sampai ketemu... hampir tiga bulan tidak bertemu langsung I realy miss u ... take care Honey…
WA Message Nasti :
U too…
Nastiti sekilas membaca kembali percakapan WA dengan Icang. Menarik napas dalam, mengikuti kata hatinya yang mulai terpaut dengan sosok lelaki masa lalunya. Lelaki yang ditolak mentah-mentah dan sekarang dibiarkan mulai menyusup lembut ke relung hatinya. Mengalirkan debaran kehangatan dan sinyal-sinyal yang tidak dipaksakan lagi. Menikmati cinta mulai hadir dengan apa adanya. Dan membiarkan hati membimbingnya pada sebuah muara yang berharap menghentikan kegalauan pada titik kepastian.
Nastiti melanjutkan packing. Nastiti memesan taxi untuk ke kantor lebih pagi karena selain Senin dengan kemacatan tol Jagorawi dan dalam kota, ada beberapa berkas yang harus disiapkan untuk presentasi di cabang Medan.
Nastiti memutuskan untuk tidak pamit seminggu dia di Medan pada ayah dan ibu. Anggap saja ini adalah salah satu cara dirinya memberontak menolak untuk mengikuti kemauan mereka.
Nastiti hanya mengikuti kata hatinya. Sejenak melarikan diri dari semuanya sembari mengurusi kerjaan yang ada di cabang Medan.
Other Stories
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...
Kesempurnaan Cintamu
Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...