Hati Yang Beku

Reads
2.1K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

11. Sebuah Konspirasi Hati

Ternyata ada terselip kebahagiaan tersendiri saat kita bisa berbagi dengan sesama. Jasmine tersenyum riang membantu mengumpulkan berkas riwayat kesehatan para calon donor darah.
Dirinya sudah donor di awal agar bisa membantu saat pelaksanaan donor darah dibuka.
Donor darah kedua kali sudah tidak membuat dirinya tegang seperti tiga bulan lalu, bahkan sekarang tengah disibukkan dengan merapikan mana berkas yang lolos dan tidak lolos.
Berkas-berkas ini akan jadi database oleh dinas PMI. Bila sewaktu-waktu pihak PMI butuh darah maka mereka punya data orang-orang yang sudah pernah berdonor dengan golongan darah mereka.
Dari sebuah sudut, Raka tidak berkedip menatap wajah ayu Jasmine yang selalu mengingatkannya pada Lita.
“Kasihan Jasmine kalau aku menganggapnya seperti Lita, dia berbeda. Sampai kapan bayang-bayang Lita terus menghantuiku? Sampai-sampai aku membuat hubungan aku dengannya menggantung saja,” hati kecil Raka berbisik.
Raka teringat beberapa kali Lintang mengingatkan untuk memastikan status mereka, karena Jasmine bercerita kebingungan hatinya tentang Mas Raka yang sekedar teman atau menginginkan ke depannya serius.
Raka tidak tahu kalau Jasmine telah memutuskan untuk menunggu sampai kata cinta sesungguhnya meluncur dari bibirnya. Entah sampai kapan. Tokh dirinya sudah terbiasa dengan sunyinya hati, cukup kehadiran Raka membuat hatinya berbunga-bunga menjalani masa kuliah di Kota Solo.
***
Acara bakti sosial donor darah selesai lebih sore karena peserta donor darah mengalami peningkatan. Tidak sia-sia anak-anak Fakultas Kedokteran melakukan sosialisasi pentingnya donor darah melalui seminar, workshop, media majalah kampus dan poster-poster.
Jasmine merasa beruntung terlibat dalam sosialisasi yang dilakukan Raka dan teman-temannya. Setidaknya dia tidak perlu takut lagi dengan darah, trauma darah sejak kematian mamanya sudah mengikis perlahan. Terpenting julukan dirinya yang antisosial berangsur menepis.
“Mama aku bahagia bisa berbagi darah untuk sesama, ini aku lakukan demi kebahagiaan Mama di sana...” tiba-tiba rasa rindu menyelimuti hatinya. Sudah setahun ini dirinya tidak pulang ke Tegal untuk berziarah ke makam mamanya.
***
Pukul 20.00 Jasmine sampai ke kostan, untunglah besok sudah mulai libur semesteran.
“Mama Gabby!” Jasmine berseru.
Raka paham siapa Mama Gabby, dari balik kaca mobil mereka melihat seorang ibu dengan dandanan penuh dan baju yang terlihat mahal.
“Mas Raka, ada apa ya Mama Gabby bisa sampai ke kostan aku?” ada kekhawatiran tersorot di mata Jasmine, yang Jasmine takutkan adalah ada apa-apa dengan papanya.
Terselip rasa bersalah Jasmine memutuskan memercayakan papa pada Mama Gabby yang seratus persen hatinya kesal dengan perilaku Mama Gabby yang masih seperti gadis remaja.
Tapi Jasmine harus mengambil keputusan itu, no choice! Karena papa tampaknya cinta dengan mama barunya dan dirinya sementara memilih menjauh dari kehidupan mereka bertiga. Menjauh dari papa, Mama Gabby dan Tetra.
***
Beruntung Raka menggenggamnya saat menghampiri mama tirinya. Dan tampaknya genggaman Raka membuat mamanya terbelalak.
“Oh jadi ini Jasmine yang sekarang? Sudah punya pacar yang ganteng dan dear… kamu tampak lebih cantik,” Mama Gabby menegur lalu langsung memeluk dan menciumnya.
“Ma ini sahabat Jasmine, namanya Mas Raka,” Jasmine mencoba bersikap tenang walau dalam hatinya bertanya-tanya, ada apa sebenarnya Mama Gabby capek-capek menengoknya, sepertinya sesuatu yang mustahil dan tak terpikirkan sedetikpun.
“Raka, Tante...” Raka mengulurkan tangannya.
“Iyaaa… iya, aku mamanya Jasmine.”
Entah kenapa ada sedikit nada yang mengisyaratkan mama tirinya tidak terlalu suka Raka. Tapi Jasmine tidak mau terlalu berpikiran negatif pada mamanya.
“Sepertinya sudah malam ya Mas Raka, saya juga ingin kangenan dengan Jasmine,” Mama Gabby tanpa basa-basi seperti mengusir Raka untuk cepat meninggalkan mereka.
“Oh iya Tante, memang saya berniat hanya mengantarkan Jasmine saja. Soalnya kasihan dari pagi selain dia donor darah juga ikutan jadi panitia. Jas… besok jadi kan ke toko bukunya? Novel kamu cepat dikelarin mumpung liburan semester!” Raka mengedipkan matanya.
“Iya... iya... Mas Raka...” melihat kedipan Raka, hati Jasmine merekah.
Setelah Raka pergi. Tiba-tiba mama masuk ke dalam mobil dan mengetuk-ngetuk kaca mobil yang memang gelap, apalagi malam hari.
Tiba-tiba keluar seorang pria yang sepertinya tidak jauh beda dengan dirinya. Paling maksimal beda lima tahun.
Pria dengan tubuh bidang, rambut cepak dan kulitnya tidak hitam dan tidak putih. Tapi tubuhnya atletis menandakan sang empunya rajin olahraga.
Tapi yang membuat Jasmine kaget ada senjata pistol terselip di saku jeans-nya, “Siapa sih dia?” Jasmine jadi bertanya-tanya.
“Jas kok bengong? Ganteng ya! Sampai-sampai kamu bengong gitu! Cakepan siapa dengan Raka tadi temen kamu?” Mama Gabby menyindir.
Jasmine jadi tidak suka dengan kalimat yang tidak mengenakan kupingnya. Rasanya murah sekali kalau mengiyakan hanya karena fisik semata.
Bisa saja Raka tidak seatletis cowok yang tengah tersenyum manis dan menatap tajam dirinya sekarang. Tapi Raka mempunyai tatapan yang lembut dan tidak setajam mengulitinya seperti yang sedang dilakukan cowok bersenjata tajam itu.
“Jas, ini Mas Deru... dia seorang pengusaha. Masih muda, selisih lima tahun lah kamu dengannya, kaya dan baik hati juga tidak sombong. Banyak yang antri lho,” Mama mempromosikan cowok yang bernama Mas Deru dengan kerling matanya yang masih saja genit.
“Mah kita masuk ya ke ruang tamu, nggak enak sama bu kost.”
Jasmine tidak berniat mengulurkan tangan dan berkenalan. Entah kenapa hatinya ill feel, mengisyaratkan hatinya akan terusik dengan kedatangan mama tirinya.
“Aduuh nggak usah deh, sekarang temani Mama sama Mas Deru cari penginapan aja. Besok kamu sudah mulai libur kan? Mama sengaja lho ke Solo karena kangen sama kamu sekaligus nanti deh kalau sudah di penginapan Mama ceritakan keadaan rumah terutama Papa kamu.”
Jujur kalau bukan karena ingin dengar kabar papa, Jasmine ingin menolak ikut dengan mama tirinya.
“Kenapa Mama tidak tidur saja di sini dan Mas Deru biar cari penginapan?” usul Jasmine.
“Ya nggak gitulah Jas! Mosok Mas Deru dilepas sendiri di kota yang banyak gadis-gadis ayunya,” Mama sekali lagi mengerling genit.
“Oh ya udah kalau gitu, Jas ambil baju ganti ya Mah sebentar,” Jasmine berlari ke kamar yang terletak di lantai dua.
***
“Kita cari makan dulu ya Jas, kasihan Mas Deru pasti sudah lapar,” Mama Gabby mengusulkan sebelum dapat penginapan untuk mencari makanan.
Akhirnya sebuah restoran yang bernuansa homely atau seperti makan di rumah sendiri. Suasananya lebih njawani dengan berbagai ukiran kayu dan foto-foto kuno Raja Kasunanan Surakarta.
Menurut cerita, Omah Selat Jagalan ini pada awal berdirinya, hanya teras depan saja yang dipakai untuk berjualan, lambat laun kemudian berkembang menggunakan bagian dalam rumah.
Selat yang dikenal dengan rasa yang berbeda karena selat di Omah rasanya cenderung mirip masakan selat khas Belanda (Eropa). Beragam menu masakan selat ditawarkan di sini, diantaranya Selat Iga Bakar, Selat Sirloin Beef Bakar Madu, Kentang Mayonaise, Sop Manten, dll.
Menu andalan di tempat ini adalah Selat Iga Bakar. Jasmine merasa enaknya selat ini dengan bumbu bakarnya yang manis meresap ke dalam daging yang lumayan empuk, ditemani lotus, ketela ungu, kentang, dan sayuran lainnya. Penyajiannya pun menarik.
Sementara Mama Gabby dan Mas Deru juga tampak asyik dengan menu selat di warung ini yang telah modifikasi dari masakan selat Solo, mereka tidak menyajikan dalam bentuk hotplate, karena lebih memilih untuk memakai piring meski pun untuk menyantapnya memakai garpu dan pisau.
***
Sampai di penginapan hampir jam 23.00, setelah check in untuk dua kamar, Jasmine memilih mandi hangat dan menggulung badannya di balik selimut tebal.
Mama Gabby pun menyusul di sebelahnya.
“Jas, papa kamu semakin sibuk saja dengan usaha gentengnya, sepertinya kehadiran Mama hanya formalitas saja. Apalagi sejak hampir satu-dua tahun ini kamu kuliah di sini, Papa jarang pulang juga,” Mama Gabby curhat suasana rumah di Tegal.
“Mas Tetra gimana kabar Mah?” bagaimanapun rasa ingin tahu mantan pacar sekaligus kakak tirinya walau berakhir menyakitkan membuat Jasmine bertanya.
“Tetra sejak pacaran dengan anak seorang pejabat penting juga semakin jarang pulang, dia lebih senang dengan papanya, apalagi lagi sakit-sakitan.”
Jasmine hanya mengangguk-angguk, pikirnya suasana sama saja seperti dulu dia masih di rumah, hanya saja kepentingan mereka sudah berbeda-beda.
“Hmmm Mah, maaf kalau Mas Deru itu siapa? Kok Mama kelihatannya dekat dan sayang banget...” Jasmine yang awalnya sudah lelah, jadi membuka matanya mencoba menjadi pendengar curhatan mama tirinya.
“Mas Deru itu memang biasa berteman dengan para ibu-ibu Jas, dia sih tadinya dekat dengan Tante Liga, sahabat Mama. Jadi biasalah sering main dan mengawal kita emak-emak! Kebetulan bisnis dia juga perhiasan dari mutiara, emas, permata yang dia datangkan dari Lombok, Kalimantan dan entah mana lagi makanya dia gaulnya sama ibu-ibu pejabat, konglomerat.
“Eh Jas, dia kaya raya lho! Banyak yang suka ama dia dari anak ABG bahkan emak-emak. Maknya saat dia bilang lagi cari pacar, Mama jadi ingat kamu. Siapa tahu kamu dan dia berjodoh.”
“Hah... nggaklah Mah, Jasmine sudah dekat dengan Mas Raka. Lagipula males lah sama cowok ganteng yang banyak diidolakan cewek-cewek,” Jasmine berusaha menolak kemauan mamanya.
Jasmine tahu kalau mama tirinya mempunyai keinginan biasanya akan dikejar dan memaksa. Tetra saja pernah mengatakan kalau mamanya egois, waktu itu Jasmine tidak terlalu tahu apa yang dipeributkan Tetra dan mamanya sebelum menikah dengan papanya. Tapi Jasmine yakin kalau mamanya tidak tahu dia dan Tetra pacaran sampai akhirnya memilih putus begitu saja karena pernikahan kedua orang tua mereka.
Banyak cerita mengalir begitu saja menghantarkan hingga Jasmine tertidur. Sebelumnya Jasmine meminum air putih satu gelas seperti kebiasaannya.
***
Jasmine menyipitkan matanya dan matahari sudah menembus jendela kamarnya. Mama Gabby sudah tidak ada di sebelahnya.
Tapi samar terdengar suara mama yang khas tengah tertawa dengan pria yang bukan lain Mas Deru.
Jasmine membetulkan baju tidurnya yang terlepas beberapa kancing, “Ampuun aku tidur udah kaya apa aja....”
Jasmin berjingkat mengintip dari balik pintu, mamanya tengah ngobrol asyik dengan secangkir kopi dan rokok mengepul. Agak kaget juga karena waktu lalu mama tirinya tidak merokok, sementara Mas Deru juga merokok.
“Sabarlah Ru... Jasmine memang anaknya jinak-jinak merpati, dia setelah putus dengan Tetra memang sangat tertutup.”
Dari balik pintu Jasmine tersadar, ternyata hubungan dia dan Tetra akhirnya diketahui mama tirinya. Jesmine berharap hal ini tidak perlu diketahui papanya, Jasmine takut papa akan merasa bersalah dengan menikahi mama yang ternyata status putranya pacar dari putri tunggalnya, padahal Jasmine sudah yakin ini adalah sebuah takdir dia tidak berjodoh dengan Tetra dan adanya Raka semoga menghadirkan harapan baru.
Ada resah menyelubungi hatinya karena Mama Gabby berniat menjodohkan pria yang memang kelihatan sudah matang dan mapan itu. Tapi Jasmine sudah memutuskan hari ini bersikap tegas menolaknya karena memang tidak bisa menghadirkan perasaan suka dengan hanya waktu yang pendek. Terutama hatinya sudah dicuri oleh Raka.
“Eh Jas sudah bangun, sini gabung! Sini!” Mama melambaikan tangannya tapi Jasmine memutuskan untuk mandi saja, apalagi tidak nyaman dengan baju tidur harus berbicara dengan pria yang baru semalam dikenalnya.
***
“Jas, hari ini temani Mama jalan-jalan ya ke Pasar Klewer, banyak nih titipan ibu-ibu ingin dibelikan batik Solo, mumpung ada Mas Deru yang mau traktir semuanya.”
Mama mengedipkan matanya ke cowok yang bernama Deru dan disambut dengan senyumnya yang mempertontonkan giginya putih tertata rapi.
Memang harus Jasmine akui setelah diamati cowok yang bernama Deru memang mempunyai daya tarik pesona tersendiri. Wajahnya bersih terawat juga tubuhnya atletis, gigi putih bersih menawan, alis tebal bertaut, mata setajam elang yang selalu menatapnya tajam dari semalam mulai bertemu. Terus terang membuat dadanya berdebar apalagi mengingat Mama Gabby berniat menjodohkan. Tampaknya Deru juga suka pada dirinya.
Bahkan selama jalan, Mama Gabby memilih duduk di belakang dan membiarkan Jasmin menemani Deru di balik setir.
Karena usianya yang matang memang Deru tampak tenang membawakan diri, ternyata Deru cukup hafal juga jalan-jalan Solo karena beberapa tahun lalu cukup lama berbisnis baju batik juga di sini.
***
Jasmine memutuskan menelepon Raka untuk mengabari tidak bisa pergi ke toko buku, karena mamanya memaksa menemani jalan-jalan.
“Mas Raka maaf ya kita nggak jadi ke toko buku hari ini... Mamaku...” belum selesai menelepon, Raka sudah memotongnya.
“Sudahlah Jas! Aku tahu tanpa kamu batalin aku sudah tahu kamu akan memilih cowok itu!”
Clik!
Jasmine jadi tergugu, kaget! Ada apa dengan Raka kenapa tiba-tiba sangat marah dengannya? Ada yang salahkah dengan hatinya? Kenapa langsung yakin kalau dirinya memilih Deru untuk jadi pacarnya? Ini sangat terlalu cepat dan mustahil. Sementara harusnya Raka tahu kalau hatinya yang beku seperti hati Raka sendiri mulai mencair karena kehadiran Raka.
Sangat tidak mungkin kalau dia langsung bisa menyukai pria bahkan menjadikan pacar dalam waktu semalam.
Baru kali ini Raka bersikap ketus, dari kemarin Jasmine bersabar bila tiba-tiba Raka bersikap dingin tapi kemudian bersahabat lagi karena Lintang sudah memperingatkan dirinya untuk siap-siap menjaga hatinya dengan sikap Raka yang masih kadang terkenang dengan Lita.
Sejujurnya Raka memang menyalahkan dirinya saat putus dengan Lita, merasa sekolah kedokteran yang jadi pilihannya telah membuat perhatian ke Lita berkurang dan akibatnya Lita kembali pada pacar pertamanya.
Berkali Lintang juga sudah kasih masukan pada kakak sepupunya itu, penyebab putus yang terutama adalah bukan karena Mas Raka yang memilih konsentrasi untuk kuliah, tapi Mbak Lita-lah yang tidak setia dan mungkin memang masih mencintai Mas Riki, cinta pertamanya.
***
“Jas kenapa bengong? Pacarmu marah kamu memilih pergi dengan Mama dan Mas Deru?” Mama bertanya dengan nada sinis.
“Jasmine tidak mengerti kenapa Mama tidak menyukai Raka? Apa alasannya? Ooh apa karena misi Mama menjodohkan dirinya dengan Mas Deru? Kalau seperti itu aku akan tolak tegas-tegas.”
Jasmine menatap curiga mama tirinya yang memang sudah tidak dipercayai sejak harus melihat tingkah sehari-hari Mama Gabby saat tidak ada papa. Hanya demi ketenangan papa makanya Jasmine memilih diam.
Tapi bukan berarti Mama Gabby bisa semena-mena juga saat ini pada hatinya yang memilih kabur dari mereka.
***
Sepanjang menemani mama dan Deru, Jasmine lebih banyak bengong. Jasmine mencoba BBM Raka tapi tidak dibaca, menelepon juga tidak diangkat. Ini bukan Raka yang dia kenal selama tiga bulan ini.
“Hallo Lin... Lin... hallo Lin!”
Clik!
Jasmine mencoba menelepon Lintang tapi ternyata Lintang mematikan teleponnya saat hatinya ingin mencurahkan sikap Raka yang terasa aneh. Tapi sekarang Lintang juga bersikap aneh.
Jasmine berharap Lintang sedang ribet atau dibalik setir jadi tidak bisa menerima teleponnya.
Tapi harapan hanya harapan karena baik Raka dan Lintang tak satupun yang menelepon balik.
Mama Gabby asyik berfoto di Keraton Surakarta. Belum sah dikatakan dolan ke Solo kalau belum mengunjungi Keraton Kasunanan Surakarta. Berkunjung ke keraton Surakarta, seolah kita akan dibawa untuk menjadi saksi tentang kejayaan Kerajaan Mataram yang telah dibagi menjadi dua pada perjanjian Giyanti, yaitu Surakarta dan Yogyakarta.
Saat ini, yang sedang bertakhta di keraton Surakarta yaitu Gusti Hangabehi yang telah diangkat menjadi ISKS Paku Buwana XIII. Di Keraton Surakarta ini bisa melihat berbagai benda peninggalan kerajaan yang terdapat di dalam museum. Juga akan mengenal lebih dekat bagian-bagian keraton seperti Panggung Sanggabuwana, Sasana Handrawina, Sasana Sewaka, Ndalem Ageng Prabasuyasa dan lain-lain. Hamparan pasir putih yang terdapat di dalam area keraton adalah pasir yang diambil dari pantai Selatan.
Masih di dalam kompleks Keraton Surakarta, bisa menikmati wisata belanja di Pasar Klewer. Sebuah pasar tradisional yang cukup besar dan terkenal di Kota Solo. Berbagai cendera mata khas Solo dan baju batik bisa dijumpai di sini.
Jasmine merasa curiga karena mama malah terlihat sangat dekat dan manja dengan Mas Deru.
Walau sesekali menyuruh Deru lebih akrab dengan dirinya, tapi nyatanya keakraban mama dan Deru yang sebenarnya lebih pantas jadi anaknya lebih heboh. Memang melihat Mama Gabby yang awet muda lebih pantas seperti kakak adik.
“Ayo Jasmine, minum saja jeruk Deru kalau kamu masih kepedasan,” setengah memaksa mama mengambil es jeruk Deru untuk diminumnya karena kepedasan makan pecel lele setelah mama memborong batik-batik dalam jumlah banyak.
Untuk membeli batik dan akomodasi selama di Solo, Jasmine melihat Deru yang membiayai semua.
Jasmine jadi ngeri sendiri, berbagai pikiran negatif berkecamuk, jangan-jangan mama menjodohkan dirinya untuk membayar semua apa yang sudah dikeluarkan oleh Deru.
Tubuhnya bergidik dan mendadak kepalanya pusing.
“Eh Jas... kamu nggak kenapa-kenapa?” Deru menangkap dirinya yang tiba-tiba oleng.
“Maaf... maaf...” Jasmine menolak tapi sesaat tubuhnya sempat bersandar untuk tertahan dari jatuh ke jalan.
“Jas! Kamu pucat banget! Pasti gara-gara sok-sokan ikutan donor darah kemarin tuh dengan si Raka, makanya kamu sekarang HB-nya rendah!” Mama Gabby tampak kesal.
Jasmine bingung mengartikan kekesalan mama tirinya, apakah karena benar-benar kesal dengan Raka atau mama cemburu karena sekarang Deru tengah memapahnya menuju mobil dengan erat?
Jasmine yakin kalau Mama Gabby dan Deru tidak hanya berteman biasa, apalagi melihat Deru juga sepertinya sangat melindungi mama tirinya. Untuk menjadi kekasih juga pantas saja.
Ya, zaman sekarang selisih umur 15 – 20 tahun tuaan yang wanita nggak terlalu tampak. Cuma mungkin sebagian orang beranggapan aneh saja.
***
Sampai di hotel Jasmine tidak bisa menahan lelahnya, seharian ini benar-benar melelahkan.
Sebelum ke keraton sempat main ke Stadion Manahan, Mama Gabby dan Deru juga dirinya yang dipaksa ikutan naik Delman atau andhong.
Kereta yang ditarik dua ekor kuda mengelilingi area stadion Manahan. Di antara gelak tawa Mama Gabby dan Mas Deru, Jasmine berusaha menanggalkan resah yang tiba-tiba hadir karena Raka yang tidak mau menjawab teleponnya.
Dan selanjutnya Jasmine memilih memejamkan mata dengan dinginnya hotel. Jasmine tidak peduli dengan mama dan Deru yang masih ingin berkeliling di Kota Solo.
Entahlah ke mana mereka bukan urusan Jasmine, lagi pula Deru hafal jalanan Solo jadi sebenarnya tanpa dirinya ikut mereka berdua bisa bepergian, daripada jadi obat nyamuk dari aktivitas mereka.
Kalau Mama Gabby berniat menjodohkan, kenapa dia yang tampak lebih agresif? Walau Jasmine sesekali merasa risih saat Deru coba bersikap mesra dengannya secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.
***
Jasmine merasa ada yang begitu dekat dengan dirinya, antara sadar dan tidak dari tidurnya. Tapi Jasmine yang terpejam yakin ada tangan yang tengah membelai dahinya.
Napasnya memburu sangat dekat dan Jasmine memilih bangun lalu, “Plaak!” tangannya otomatis menampar lelaki yang sekarang setengah memaksa menciumnya.
“Ihhh Mas Deru apa-apaan sih?”
Sontak Jasmine berusaha bangkit tapi badannya yang baru saja bangun tidur terasa limbung ketika sebuah tangan yang kuat menarik kaosnya dan menyebabkan dirinya terlentang.
Deru yang entah kerasukan apa mencoba mencium Jasmine dan sekuat tenaga Jasmine berusaha mendorong, tapi sia-sia badannya terlalu lemah.
Semua bagai berkelebatan tidak jelas, “Tolong Mas, saya baru mengenal Mas dan saya juga tidak pernah berniat jahat... ta... pi... agh.. .kennapa Mas Deru tega mau... mau...”
“Mau apa? Kalau kamu tidak bersikap sok malu-malu dan mamamu yang menjodohkan aku ke kamu juga tidak setengah-setengah! Aku tidak tergoda melakukan ini padamu! Selama ini semua wanita gampang aku miliki.”
Jasmine merasa sedikit lega, karena Deru sudah lebih sadar walau dalam kondisi emosi.
“Mas Deru... maaf... maaf... kalau aku bersikap tidak berkenan... baik-baik aku akan lebih bersikap sopan...” Jasmine sebenarnya bingung dengan apa yang diucapkan, tapi sepertinya tidak ada pilihan.
“Mama tolong Jasmine...” jerit batinnya.
Sepertinya taktik untuk lebih jinak bisa membuat Deru lebih tenang.
Napas Jasmine sesekali masih tersengal dan perlahan Jasmine bisa merosot dari tempat tidur ke lantai, diliriknya ternyata ada botol kaca. Otaknya berpikir cepat dan dengan sebuah kekuatan yang entah datang dari mana Jasmine cepat menyambar botol kaca.
“Pyaaar!” Jasmine memukulkan pada kepala Deru yang tengah lengah.
Dan tanpa memedulikan suara rintihan orang yang kesakitan lalu suara sumpah serapah Jasmine lari.
“Mama Gabby!” Jasmine menjerit dan mama Gabby hanya memasang wajah dingin.
Jasmine sadar ternyata Mama Gabby saat dirinya tengah bahaya ada di depan kamar tengah merokok dan ada minuman keras menemaninya.
Jasmine sudah tidak peduli. Bahkan tidak ada lagi rasa percaya secuil pun. Hatinya berteriak, “Ternyata ini memang konspirasi hati antara Mama Gabby dan Mas Deru menjebaknya! Tapi untuk apa?”
Hatinya baru terasa lega setelah taksi yang ditumpangi menghantarkannya ke kostan.

Other Stories
Mozarella Bukan Cinderella

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...

Kesempurnaan Cintamu

Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Final Call

Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...

Pasti Ada Jalan

Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...

Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

Download Titik & Koma