10. Hati Yang Beku
“Jas, Jas! Tunggu dong... iih sombong banget sih! Lintang tergopoh-gopoh mengejarnya.
Jasmine tersenyum melihat tingkah Lintang yang lari kaya dikejar maling saja.
“Jas! Kamu Minggu malam kejebak badai ya di Tawamangu?” Lintang bertanya penuh tahu.
“Nggak! Lebay banget ah kejebak badai! Pasti Mas Raka yang ngomong gitu ya? Jasmine menebak.
“Ya iyalah, siapa lagi? Jas, kamu dengan Mas Raka jadian ya?” Lintang tersenyum jahil.
“Tanya aja ama Mas sepupumu itu! Aku aja bingung abis Mas-mu cuek terkadang. Tiba-tiba deket tapi tiba-tiba ngebingungin deh Lin.”
Jasmine teringat saat sampai di kostan kemarin pukul 15.00 Raka berpamitan biasa saja, seolah semalam tidak terjadi apa-apa, padahal jujur Jasmine ingin kepastian dan kejujuran. Jadi dirinya merasa malu menjadi terlalu berharap atas ciuman spontan di wisma.
Ciuman yang merupakan first kiss!
Dan tiba-tiba wajahnya memanas mengingat apa yang telah terjadi dua malam lalu.
“Jas! Tapi sih feeling-ku Mas Raka memang suka kamu beneran. Soalnya setelah putus dengan Mbak Lita, hati dia ama cewek beku banget. Udah kaya es deh, makanya pas banget kamu berdonor darah jadi dia bisa buka mata kalau ada yang lebih menarik dari sekedar Mbak Lita. Aku memang berniat mengenalkan kamu sama dia soalnya kamu rada-rada satu tipe dengan mantannya, eeeh kali jodoh ya tanpa aku musti sulit-sulit kalian kaya ada daya tarik magnet saja tiba-tiba saling mendekat,” Lintang nyerocos kaya kereta api di pinggir pintu mobil Jasmine.
“Ehhh gimana kalau ngobrolnya sambil makan siang pecel Mbok Broto di belakang kampus, aku lapar banget nih Lin,” usul Jasmine yang tidak bisa menahan rasa keroncongan perutnya.
“Kalau gitu aku coba telepon Mas Raka deh, siapa tahu dia mau gabung. Soalnya pecel Mbok Broto kesukaan dia tuh.”
Tanpa menunggu persetujuan Jasmine, Lintang sudah langsung menelepon Raka.
***
Pecel Mbok Broto_Belakang Kampus
Hampir setengah pecel Mbok Broto yang enak tersisa, tiba-tiba Raka mengejutkan dengan duduk di samping Jasmine.
“Hai... tambah ya biar gemukan...” Raka menyindir Jasmine yang berbadan langsing tirus.
“Nggak ah udah cukup,” jawab Jasmine malu, apalagi Lintang udah senyum-senyum penuh arti.
“Yah… terus aku siapa dong yang temani makan?” Raka memasang wajah memelas.
“Tenang Mas Raka, kita tungguin kok! Abis ini kita ada kelas lagi.” Lintang menjawab tenang.
“Oh ya, rencana donor darah akan jadi acara sosial rutin setiap tiga bulan, jadi Jas… kamu bisa rutin berdonor darah. Kamu tertarik nggak ikut team Unit Kegiatan Mahasisawa PMI?” Raka menatap tajam Jasmine.
Yang ditatap jadi salah tingkah, sementara Lintang tersenyum-senyum jahil. Lintang senang sepupunya sekarang sudah mulai mencair hatinya. Dugaan awal dia benar kalau Jasmine pasti akan membuat kakak sepupunya luluh.
Bagaimanapun Lintang juga kesal dengan Lita yang telah memutuskan Mas Raka tanpa alasan yang jelas dan kembali pada pacar pertamanya.
***
Setelah kejadian di wisma, Raka dan Jasmine memang dekat. Hanya saja Raka tetap menjaga jarak.
“Lin aku bingung dengan Mas Raka, memang sih kita dekat dan sudah dua bulan ini kita kadang ketemu dan jalan. Tapi Mas-mu tidak pernah mengatakan kita jadian atau aku cinta kamu Jasmin,” Jasmine mengeluh pada Lintang sepulang dari kampus, untuk pertama kalinya Jasmin main ke rumah Lintang. Itupun karena Lintang meminta sesekali main ke rumahnya.
Kamar Lintang bernuansa pink dan ungu, serta masih banyak pernak-pernik boneka dan miniatur-miniatur Hello Kitty.
“Memang sih, Mas Raka masih sayang dengan Mbak Lita. Mereka jadian saat kenaikan kelas 12 dan Mbak Lita habis putus dengan Mas Riki. Mas Raka jadian dengan Mbak Lita karena dari kelas 10 Mas Raka memang naksir Mbak Lita. Lulus SMU, Mbak Lita gak keterima di universitas negeri sementara Mas Raka keterima kedokterannya. Mereka pisah tapi tetep pacaran sampai semester empat. Akhirnya putus karena Mas Raka tahu Mbak Lita kerap jalan dengan Riki, pacar pertamanya. Yang buat sakit hati, bisa-bisanya Mbak Lita memakai cincin dan ada namanya Riki, seperti tunangan saja. Pokoknya gitu deh, akhir-akhir putus Mas Raka menyaksikan kemesraan mereka berdua dan membuat sakit hatinya. Sejak resmi putus, konsentrasi sekolah Mas Raka jadi lebih menggila! Dan dia jadi beku hatinya. Sepupu lain juga udah coba deketin dengan beberapa cewek, tapi tahu deh hatinya memang sudah berubah jadi es. Naaaahhhh makanya Jasmine saat dia melihatmu, aku rasa dia liat sosok Mbak Lita di dirimu, kamu memang tipenya, buktinya hati bekunya mulai cair,” Lintang mengacak-acak Jasmine yang bengong.
“Iya sih Lin, sepertinya sabar saja...” Jasmine memutuskan untuk bersabar menunggu sebuah rasa cinta yang bermekaran di hatinya.
Suara Letto dari CD mobilnya mengantar pulang ke kostan, membuat hatinya tersenyum.
“Walau sehari ku tak berhenti... Untuk mencari bunga hati... Oh rasa cinta bersabarlah menantinya... Oh rasa cinta bersabarlah menantinya... Begitu lama aku mencoba... Dan sampai kini tak berdaya... Oh rasa cinta bersabarlah menantinya... Oh rasa cinta bersabarlah menantinya... Walau tak ku punya... Tapi ku percaya cinta itu indah... Walau tak terlihat... Tapi kupercaya cinta itu indah” (Cinta Bersabarlah_Letto)
Other Stories
Final Call
Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...
Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat
Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat
Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...