9. Hati Yang Mendekat
Beberapa kali Jasmine bercermin, tadi Raka menelepon akan menjemput jam 10.00. Bingung juga karena Raka tidak mau menyebut apa acaranya dan mau ke mana.
Jasmine jadi bingung mau pakai baju apa? Rasanya sudah bertahun-tahun setelah putus dari Tetra dia harus bingung memantas-mantas baju.
Akhirnya baju berbahan kaos bermodel babby doll segitiga di bagian sisi depan belakang dominasi kuning muda hitam dan putih serta celana jeans tiga perempat menjadi pilihannya.
Rambut panjang dikucir ekor kuda tinggi, sepatu sendal dan tas ransel soft jeans. Jasmine menyapu wajahnya dengan bedak tipis dan mengoleskan lipstik lembut di bibirnya yang tipis.
***
Tok... tok... tok...
“Mbak Jas, ada tamunya di depan...”
Suara Ibu Arinda, ibu kostnya mengagetkan Jasmine yang masih memantas penampilannya.
Srooot… srooot... minyak wangi over drive senorita pemberian papanya yang lama tak tersentuh melengkapi kepercayaan dirinya.
“Aduh Mbak, ayu sekali, itu pacarnya ya?” Ibu Arinda yang beriringan menuruni tangga berkomentar.
Jasmine tidak mengiyakan dan juga tidak menyangkal, karena dirinya tengah menikmati hatinya yang berbunga-bunga.
Raka tersenyum melihat penampilan Jasmine yang terlihat sportif feminim, hatinya tidak bisa mengingkari gadis mungil yang sekarang berdiri malu di depannya memang mirip Lita.
“Apakah kali ini aku bisa melupakan Lita? Aku harus berusaha, aku tidak mau Jasmine kecewa. Kemarin aku sudah menguatkan Jasmine untuk bisa berubah dan belajar membuka hati lain. Tapi aku sendiri dalam hati kecilku masih saja mengingat Lita... aaghhhhhh... Lita Lita please go away!”
“Mas Raka… kok bengong gitu sih, aku terlalu berlebihan ya dandannya?” Jasmine jadi tidak percaya diri.
“Nggak! Nggak! Aku malah pangling. Kamu cantik Jas!” jawab Raka spontan dan menghadirkan semburat merah muda di pipinya yang putih pucat.
***
Sudah lima belas menit di mobil Raka dengan alunan musik Phil Collins, “How can I just let you walk away ... Just let you leave without a trace ... when I stand here taking ... every breath with you ... you’re the only one ... who really knew me at all ... how can you just walk away from me ... when all I can do is watch you leave ...’cause we’ve shared the laughter and the pain ... and even shared the tears ... you’re the only one ... who really knew me at all .. So take a look at me nowoh there’s just an empty space ...”(Phil Collins_Take A Look At Me Now)
Ada resah menjalar di hati Jasmine, sepertinya Raka lebih diam dari hari pertama kemarin dia lebih antusias mengenalnya.
Tapi biarlah Jasmine mencoba sedang membuka hatinya untuk bisa mengenal hati lain, memang terlalu cepat kalau dirinya berharap banyak terhadap Raka yang menyentuh hatinya.
Jasmine harus sadar hati, Mas Raka masih menyimpan banyak kenangan dengan Mbak Lita yang sekilas dia ceritakan sudah jadian sejak kelas 12 sampai semester empat.
Hubungan tiga tahun yang tidak diduga Mas Raka akan kandas karena Mbak Lita kembali pada cinta pertamanya waktu putus di masa SMU kelas 11.
Jasmine belajar dari dirinya yang juga sulit bahkan menutup hatinya, jangankan menerima cowok, untuk bersosialisasi saja dia memilih menutup hatinya untuk semua orang.
“Sepertinya aku harus bisa menyesuaikan diri dengan Mas Raka... aku tidak bisa terlalu GR dan berharap banyak. Ah biarlah aku nikmati rasa bahagia ini sebatas dalam harapan Mas Raka akan menerima dirinya tak lebih dari sekedar teman.”
“Mas Raka... kita mau ke mana nih? Mas Raka sudah sarapan?” Jasmine membuka kediaman mereka.
Raka mengecilkan volume suara Phil Collins yang mulai mendendangkan, “Oh think twice ... it\'s another day for ... you and me in paradise ... Oh think twice ... it\'s just another day for you ... you and me in paradise,” (Another Day In Paradise_Phil Collins).
“Mas Raka kita mau ke mana?” Jasmine menengak-nengok sekitar jalan.
“Kita akan jalan-jalan ke another paradise kaya Om Phil Collins bilang barusan, Jasmine?” Raka tersenyum jahil.
“Mas Raka serius nih... aku setahun di Solo nggak pernah pergi lebih jauh dari kostan ke kampus.”
“Dan juga berdandan cantik seperti hari ini, ya kan?”
“Eee iya sih, aku rasanya sudah bertahun-tahun tidak perlu bingung memilih baju pergi,” kata Jasmine jujur.
“Sudah… hari ini kita refreshing. Tugas kamu bercerita biar aku nggak ngantuk, soalnya jalanan yang berkelok dan sejuk. Kalau kamu lapar aku udah sediain biskuit, kue, buah dan minuman di jok belakang.”
Jasmine membalikkan badannya dan ternyata Raka telah mempersiapkan bekal perjalanan.
“Wah, aku lapar Mas... boleh ya apelnya...” tanpa menunggu diizinkan, Jasmine langsung menyomot apel yang menyembul dari tas plastik putih.
“Asyik juga punya teman pak dokter, makanan yang dibawa sehat semua,” Jasmine mengembangkan senyum sambil melihat apa saja bekal yang dibeli Raka.
“Iya dong Jas, seminimal mungkin kita harus antisipasi dengan makanan yang serba pengawet... makanya aku bawain kue-kue handmade... itu sebenarnya jajanan pasar. Dan itu buatan bulek Ira, mamanya Lintang...”
“Ohh... ooh..”
Jasmine mengangguk-angguk, baru tahu kalau mamanya Lintang punya usaha jajanan pasar.
Dengan tenang Raka mengendarai mobil dan membiarkan Jasmine bercerita apa saja, termasuk sebuah novel yang tengah dibuatnya.
“Aku memutuskan untuk coba menulis novel, selama ini tulisan aku hanya tersimpan rapi di diary-saja Mas Raka,” Jasmine berkata riang.
“Wow bagus Jas! Kamu juga harus belajar berteman. Aku senang membaca, siapa tahu suatu hari novel kamu bisa terbit dan aku bisa menemukan namamu di antara buku-buku yang ter-display di toko buku. Kereen Jas! Calon Sarjana Ekonomi sekaligus penulis.”
“Waah terlalu tinggi mengkhayalnya, menjadi penulis novel tidak gampang, apalagi bisa sampai masuk ke penerbitan! Wah persaingannya sangat ketat!” Jasmine bicara penuh semangat.
“Itu dia Jas tantangannya! Kamu harus bisa tembus ke toko buku! Pokoknya aku tunggu kiprah kamu di penulisan!” Raka mengedipkan matanya.
“Eeee baiklah aku akan coba yang terbaik Mas...” Jasmine tergagap dengan kedipan Raka.
***
Hampir satu jam perjalanan dari dearah Palur tempat kostan Jasmine, jalanan berkelok, pemandangan yang indah juga udara sejuk merasuk mendatangkan aroma yang berbeda dari hari-hari biasa.
“Ini namanya Tawamangu, letaknya masih kecamatan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Kecamatan ini ternama karena merupakan daerah wisata yang sangat sejuk. Tawangmangu dikenal sebagai objek wisata pegunungan di lereng barat Gunung Lawu yang bisa ditempuh dengan kendaraan darat selama sekitar satu jam dari Kota Surakarta. Objek tujuan wisata utama adalah air terjun Grojogan Sewu yang tingginya 81 m.
Selain udaranya yang sejuk, keindahan alam di sekitarnya tidak kalah menarik dengan kawasan lain di Indonesia, terlebih lagi di daerah ini terkenal dengan produksi pertanian penghasil sayur mayur, selain dari keberadaan obyek wisata Air Terjun Grojokan Sewu,” Raka yang sedari tadi jadi pendengar, tengah menerangkan tujuan refreshing mereka.
“Wah iya sejuk dan sangat indah ya Mas... pantesan kamu bilang another day in paradise… hehehehe...”
Setelah memasuki daerah Grojogan Sewu yang berarti \"seribu air terjun\", air terjun ini terletak di dalam sebuah kawasan hutan lindung seluas 20 ha, Raka memegang tangan Jasmine dan menuntunnya.
Pedagang makanan dan minuman bertebaran di sekitar air terjun siap menjadi tempat melepas lelah atau bersantai menikmati udara segar di bawah pepohonan rindang.
“Jas lapar kan? Yuk, tuh ada warung sate kelinci!” Raka menunjuk salah satu warung yang agak ramai pengunjung.
Maklum hari Minggu banyak wisatawan yang ingin melepas penat.
“Sate kelinci? Aku sudah tahu sih kelinci memang enak katanya disantap, tapi terus terang aku gak tega jadi sampai sekarang aku belum pernah makan sate kelinci,” Jasmine agak bergidik.
“Tenang saja Jas, jangan bayangin kelinci ya... apalagi kalau dari segi kesehatan menurut para ahli, selain rendah kolesterol, daging kelinci juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Daging kelinci mengandung zat yang disebut senyawa kitotefin. Senyawa ini apabila digabungkan dengan senyawa lain seperti omega 3 dan 9 disinyalir bisa untuk menyembuhkan penyakit asma. Berdasarkan pengalaman beberapa orang, daging ini juga berkhasiat menurunkan kadar gula bagi para penderita diabetes, sementara otaknya berkhasiat sebagai penyubur kandungan wanita,” Sekarang gantian Raka yang banyak ngobrol dan Jasmine mengangguk-angguk mengiyakan.
“Duh susah nih gaul ama calon dokter, semua dilihat dari kesehatan! Jangan-jangan aku gak boleh nih jajan-jajan sembarangan!” Jasmine menggoda Raka.
Tidak ada pilihan, yang ada sate kelinci maka Jasmine harus mau mencobanya. Daging kelinci yang sedikit alot namun memiliki serat daging yang lembut dipadu dengan sambal kacang, irisan cabe dan bawang merah, disajikan bersama lontong.
“Gimana, enak kan?” Raka memastikan Jasmine yang mengunyah pelan.
“Hmmm iya not bad-lah, tapi aku paling mau makan lagi kalau pas jalan sama kamu. Setelah ini aku mending makan daging ayam atau sapi saja Mas Raka...” Jasmine masih tetap kurang suka dengan sate kelinci.
“Okelah Non,” sementara dirinya lahap menyantap sate kelinci yang masih harum dan hangat.
Setelah makan siang lalu berjalan menyusuri area wisata ini yang juga dilengkapi dengan fasilitas flying fox, arung jeram kecil, duta playground dengan pemancingannya, dan arena outbond dengan taman lalu lintas dan kereta pohon.
“Wah sudah mulai senja... kita habiskan senja lalu kita balik ya Jas,” Raka berkata sambil mengambil foto-foto hutan, air terjun Gerojogan Sewu, monyet-monyet liar yang harus diwaspadai makanya Raka memegang tangan Jasmine yang menggembol tas ransel dan tentu saja Jasmine menjadi foto model dalam kamera DSLR-nya.
Raka menge-zoom wajah Jasmine yang putih merona, ada desiran dalam hatinya. Wajah yang mengingatkan pada Lita yang kabar terakhir akan tunangan dengan Riki, pacar pertamanya.
“Ngapain aku mikirin Lita, ada Jasmine dan aku harus belajar menerima kenyataan kalau aku bukan apa-apa bagi Lita. Padahal hatiku begitu mencintainya, tapi sudahlah...”
“Mas Raka sudah boleh berdiri nggak?” Jasmine berteriak dari tempat duduk batu ber-background Grojogan Sewu.
“Siippp... uiih kereen banget!” Raka berlari mendekat, kata keren membuat Jasmine berbunga.
“Yang keren pemandangannya ya...” Jasmine memastikan.
“Dan tentu saja modelnya yang ayu juga semakin membuat foto ini hidup,” Raka tersenyum penuh arti dan membuat Jasmine semakin berdebar melambung.
“Yuk balik udah mau sore...” Raka menarik tangan Jasmine.
Tapi sepertinya masalah baru menghampiri sejoli yang sepertinya tengah saling mendekatkan hati ini.
***
Raka mencoba menstater mobilnya, tapi mati-mati lagi setiap akan masuk gigi.
“Aduh kenapa nih mobil? Jangan-jangan akinya. Bentar ya Jas aku tanya bapak-bapak itu ada bengkel deket-deket sini nggak ya,” Raka berusaha tenang apalagi kabut tipis mulai turun, senja yang mendung tiba-tiba menyelimuti pegunungan Tawamangu.
Jasmine juga merasa resah, selama ini dia belum pernah pergi berlama-lama dan meninggalkan kostan. Yang membuat hatinya tenang adalah selama ini tidak ada yang peduli padanya termasuk papa, jadi tidak ada yang merasa kehilangan.
Dari balik kaca mobil, Jasmine melihat Raka berbicara sopan pada seorang bapak-bapak yang sebentar kemudian sudah bareng bersama seorang pemuda. Kalau lihat bajunya sepertinya memang orang bengkel dan tangannya masih hitam-hitam seperti kena oli.
“Jas, mobil mau dicek. Sabar ya, semoga Pak Supri bisa atasi kenapa mogok mendadak begini.”
Jasmine tidak ada pilihan, pasrah menunggu di warung terdekat sambil menikmati secangkir teh panas.
Sesaat kemudian, “Jas akinya udah soak dan di sekitar sini nggak ada, saran Pak Supri kita nginap semalam. Dia akan usahakan besok pagi turun ke bengkel cabang di bawah.”
“Menginap Mas?” ada kekhawatiran terpeta dari wajah Jasmine. Tak menyangka akan bermalam dengan cowok di tempat yang masih asing.
“Iya, itu ada wisma milik Bapak Sastro yang tadi nunjukin bengkel Pak Supri, aku pesenin dua kamar ya, bentar ya Jas!”
“Aku ikut Mas...” Jasmin langsung bergabung dengan Raka menghampiri Pak Sastro.
“Waduuh kamarnya tinggal satu Mas? Gimana ya, soalnya memang kebetulan ada yang sewa dari pagi tadi,” kata Pak Sastro.
Raka mengerutkan mukanya, “Hmmm… ya sudah gak apa-apa Pak Sastro saya ambil, yang penting adik saya bisa tidur nyaman malam ini.”
“Aduh hanya satu kamar, Gimana nih? Aku harus tidur bareng dengan mas Raka?” Jasmine jadi resah tak karuan.
“Maaf ya Jas, gak ada pilihan. Aku juga lalai cek mobil... memang sih dari kemarin aku terlalu sibuk dengan urusan donor darah,” Raka merasa bersalah.
“Iya gimana lagi ya, yang penting aku jangan dipaksa makan sate kelinci aja malam ini...” Jasmine mencoba tersenyum.
“Oh tenang Non, saya ada sedia mie rebus Jawa, mie goreng Joglo, nasi goreng ayam telor ceplok. Untuk minuman lengkap mau jahe hangat, susu jahe, wedang ronde atau kopi? Untuk kamar juga cukup luas dan tempat tidur bersih. Setiap tamu selesai selalu Bapak ganti seprainya. Harga juga gak mahal-mahal kaya hotel bintang lima. Keamanan terjamin!” Pak Sastro mempromosikan wisma dan menunya.
Melihat wajah Pak Sastro yang kebapakan, sopan dan bersahabat sedikit membuat Jasmine merasa tenang. Untungnya hari Senen besok tidak ada mata kuliah.
***
Setelah membayar administrasi, Jasmin dan Raka memasuki kamar yang memang sesuai promosi Pak Sastro.
Wisma yang terletak dekat Grojogan Sewu tampak asri, dingin menyelimuti dan kabut malam turun membuat suasana sendu.
“Jas… kamu pakai kaos aku saja ya, dan celana HW selutut nih. Untung aku selalu sedia 2-3 kaos di mobil.”
Raka meletakkan celana selutut dan kaos gombrang berwana putih bergambar pria mendaki gunung.
“Hmmm Mas Raka sendiri? Kaosnya basah lho,” Jasmine bertanya balik, kalau dia pakai baju kering yang disiapkan di mobil terus Raka sendiri bagaimana? Sementara kaos dia juga terlihat lembab karena dari tadi naik turun mobil di antara hujan dan kabut.
“Ada satu lagi kok, ya udah kamu mandi dulu deh... aku pesenin nasi goreng ya?”
“Eee tungguin aku dong... aku takut sendirian, apalagi sunyi gini,” Sebenarnya Jasmine tidak mau semanja ini, tapi asli suasana yang sunyi buat dia agak merinding.
“Ya udah kamu mandi habis itu aku juga, baru kita pesan makanan ya,” Raka maklum pasti Jasmine merasa tidak nyaman.
***
Aroma nasi goreng dan mie rebus ala Jawa datang dan menebarkan aroma yang segar.
Nah ini baru makan normal!” Jasmine berteriak senang.
“Emang tadi nggak normal ya makan sate kelinci?” Raka memasukkan nasi goreng ke mulutnya.
“Iya, karena selama aku makan sate kelinci tetap kebayang kelinci yang lucu dengan mata berbinar tiba-tiba dibantai dengan sadis,” Jasmine memakan mie rebus ala Jawa dengan lahap seperti kelaparan.
“Kamu kelaparan ya Jas? Jangan-jangan kamu buang ya tadi nasi ama sate kelincinya?” Raka menatap curiga, karena porsi makan mereka tadi banyak dan agak curiga pas Raka ke toilet makanan di piring Jasmine sudah bersih.
Yang ditanya penuh curiga cuma berani senyum-senyum malu, tapi hanya mengakui dalam hati kalau memang tadi sepertiganya dia kasih kucing yang kelaparan saat Raka ke toilet.
“Daripada aku muntah dan dibuang menjadi sia-sia lebih baik aku kasih ke kucing liar,” hati Jasmine mengakuinya.
***
Malam merambat, hujan di luar turun dengan sangat deras disertai guntur dan kilat yang mengerikan.
Tiba-tiba semua gelap gulita.
”Mas Raka!”
Jasmine yang tengah duduk di pinggir tempat tidur sembari melihat luar dari kaca jendela menjerit karena kilatan tajam dan seperti melihat bayangan mengejutkan.
“Mas Rakaa!” kali ini Jasmine menjerit.
“Iya tenang-tenang Jas, aku juga melihat bayangan itu!” tanpa sadar Raka sudah memeluk Jasmine. Dalam dekapan Raka, Jasmine merasa aman. Degup jantungnya semakin kencang berpacu. Bau sabun dan sampo dari tubuh Raka tercium memenuhi rongga dadanya.
Sesaat hatinya berharap Mas Raka mengerti degup hatinya.
Raka tersekat, gadis yang dipeluknya mengingatkan Lita yang sangat disayangi sebelum memilih Riki.
“Jasmine...” Jasmine bisa merasakan debar jantung Raka yang gemuruh dan nada memanggilnya yang bergetar.
Tanpa perhitungan Jasmine mendongakkan wajah dan rambutnya menyentuh dagu Raka.
Begitu cepat sebuah kecupan hangat menyentuh bibirnya, mungkin saja akan lebih dan lebih kalau tidak ada ketokan pintu.
Tok... tok... “Mas, Mbak... ini lampu teplok-nya,” suara Pak Sastro di balik pintu.
Mengagetkan Raka dan Jasmine yang saling menjauhkan tubuh mereka satu sama lain.
“Iya Pak Sastro, saya sedang jalan, gelap sekali soalnya...”
***
Teplok sedikit memberikan cahaya dan kehangatan, sementara hujan dan kilat masih saja menyambar-nyambar.
Mereka berdua terdiam, apa yang baru saja mereka lakukan… berciuman di tengah hujan badai.
Jasmine memeluk kedua tangannya dan menyembunyikan bibirnya di balik lututnya. Mungkin kalau lampu tiba-tiba menyala, Raka akan melihat wajahnya yang terbakar malu.
Sementara Raka duduk menyilangkan kakinya, mukanya ditutup dengan kedua tangannya.
“Jas maaf tadi... tadi... aku...” Raka tidak meneruskan kalimatnya, tiba-tiba guntur bergelegar mengagetkan.
Jasmine semakin erat memeluk lututnya. Raka menghampiri dan memeluknya.
“Jas... sepertinya aku jatuh cinta padamu...”
Jasmine mengikuti jujur hatinya, kalau Raka memang sudah menyentuh hatinya.
“Tidur ya Sayang, aku di sofa...”
Raka mencium kening Jasmine dan berdua terlelap hingga pagi menjelang. Entah jam berapa listrik kembali menyala, yang jelas lampu teplok pun telah mati kehabisan minyak tanah.
***
Suasana pagi Tawangmangu sangat indah dan eksotik. Udara dingin khas pegunungan dan kabut dari puncak gunung yang menyelimuti memberikan aura keindahan tersendiri.
Raka dan Jasmine tidak mau menyia-nyiakan moment pagi yang sejuk setelah semalaman hujan deras mengguyur.
Berjalan-jalan sambil menikmati indahnya areal persawahan, melihat aktivitas penduduk di pagi hari. Sawah-sawah yang ditanami sawi, wortel, lobak, strawberry, dan aneka hasil bumi lainnya membentang di mana-mana.
Sesaat kepenatan kuliah terobati.
Tampak dari kejauhan pasar dengan transaksi berbagai sayur dan buah-buah segar. Tawangmangu juga populer dengan produksi sayur dan buah-buahan segar.
Tidak lepas Raka selalu menggenggam tangan Jasmine.
Jelang siang mobil Raka sudah bisa dipakai lagi, sepanjang pulang Jasmine tertidur. Raka membiarkan Jasmine meringkuk dengan jaket yang Raka rapatkan ke tubuh Jasmine.
Apa yang terjadi semalam menyisakan desiran hatinya. Dan saat menatap Jasmine rasa sayang, kasihan menjadi satu. Membuat hatinya yang beku karena ditinggalkan Lita seakan meleleh.
Raka berharap hati Jasmine juga meleleh seperti hatinya dan mulai menghangat dengan kedekatan sekarang.
Other Stories
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
Penulis Misterius
Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...
Jjjjjj
ghjjjj ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Jam Dinding
Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...
Cinta Di Balik Rasa
memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...