3. Hati Sang Penyelamat
Apa yang ditakutkan Jasmine menjadi kenyataan.
Dua bulan dari perkenalannya dengan Tante Gabby, sepulang dari sekolah SMU Merdeka yang merupakan sekolah favorit menerimanya, Jasmine melihat papa tengah makan siang bersamanya.
Ada seorang cowok yang rasanya Jasmine tidak asing, cowok yang menghukum sekaligus menolongnya di hari pertama Ospek. Gara-gara dia Jasmine mampir ke mall selain membeli novel NH Dini berjudul Keberangkatan, Jasmine juga sekalian membeli pita untuk seminggu keperluan Ospek agar tidak kena tegur Kak Tetra lagi.
Cowok yang untuk pertama kali membuat hatinya berdebar-debar saat dia memberi sapu tangannya.
Bahkan sapu tangannya tersimpan rapi bersama diary-nya.
Tidak dapat disangkal, hatinya sangat berdebar saat Tetra menatap matanya, berbeda dengan kesan pertama memanggilnya dengan sebutan Si Kucir Tiga.
Hubungan mereka empat bulan ini pun telah berubah, tidak sekedar adik dan kakak kelas, tetapi sepasang kekasih.
Setelah Tetra menyatakan cinta padanya, semua berubah. Jasmine tidak perlu berbincang hanya dengan diary-nya, tetapi dengan Tetra yang selalu mendengarkan dengan senyumnya yang hangat.
Tetra juga bagai pelindung setelah papanya tidak bisa diharap banyak menemaninya.
Papa sudah mempunyai dunia lain, dunia yang bisa Jasmine lihat dan rasakan dengan membaca novel-novel yang semakin banyak digemari dari berbagai pengarang.
“Apa hubungannya Tante Gabby dengan Tetra ..?” hatinya berkecamuk tidak jelas dan debarannya tengah mengetuk-ngetuk hatinya.
Tiga orang yang dilihatnya sekarang tampak berbahagia...
***
Empat Bulan Lalu_ Hari Pertama Ospek
“Hai cewek kucir tiga… sini!”
Jasmine takut-takut mendekat pada Kak Tetra, kakak Ospek yang terkenal paling galak.
“Eh kamu kenapa pakai pitanya salah? Sudah dikasih tahu kan kalau hari pertama pakai merah, putih dan kuning! Kenapa kamu memakai pink? Mentang-mentang pink warna favorit! Kamu siapa, Jasmine ya? Seenaknya merubah peraturan!”
Seumur-umur baru kali ini Jasmine dibentak-bentak orang.
“Maaf Kak, semalam sudah cari pita kuning tapi nggak dapat, sudah habis semua. Dan kebetulan yang aku punya merah muda ini,” jawab Jasmine takut-takut.
“Yaelahhhhh!! Emang kamu nggak siapin dari siang? Sepertinya kamu tuh anak manja banget! Kakak nggak mau tahu alasan nggak rasional anak manja seperti kamu! Sekarang juga cabutin tuh rumput yang ada di depan kelas 10 B!” tiba-tiba Lupi, kakak kelas cewek yang gosipnya naksir Kak Tetra sudah ikutan nyamber saat Tetra sedang memarahi Jasmine.
Dalam hati Tetra kesal juga dengan Lupi yang ikutan ngomelin cewek imut yang sepertinya menggigil ketakutan.
Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, Tetra tahu kalau dia membela adik kelas yang tengah diospeknya akan berakibat fatal.
“Ya sudah Jasmine, ikuti hukuman Kak Lupi, cukup lima belas menit saja. Dan besok baca peraturan baca pitanya ya! Jangan diulang lagi!”
Tetra langsung meninggalkan Jasmine dan tetap mengacuhkan Lupi yang memandangnya dengan wajah yang sulit diartikan.
Hampir lima belas Jasmine mencabuti rumput di depan kelas 10 B, Jasmine mengusap keringatnya yang mengucur.
Tiba-tiba sebuah sapu tangan tersodor di wajahnya.
“Sudah lebih dari lima belas menit! Istirahat ya, dan usap keringatmu...” Tetra mengulurkan sapu tangan dan membantu Jasmine berdiri.
Dari jauh Lupi tampak kesal dan menghentak-hentak kakinya. Sudah setahun ini dia menyukai Tetra, sampai-sampai Lupi jabani menjadi pengurus OSIS dan aktif agar bisa dekat dengan wakil Ketua Osis yang banyak disukai cewek-cewek di SMU Merdeka itu.
Tapi sepertinya Tetra belum menemukan yang pas, termasuk Lupi yang tidak sedikit cowok-cowok sebenarnya menaksirnya karena Lupi juga cantik.
“Jasmine! Sialan kamu! Kenapa Tetra bisa suka gadis kecil pucat seperti dia? Apanya yang menarik?”
Kekesalan Lupi berbuntut panjang. Lupi beberapa kali mengerjain Jasmine agar ketakutan dengan teror-teror kecil yang dilakukannya.
Sayangnya setiap kejahatan dia lakukan, Tetra selalu ada di samping Jasmine dan melindunginya.
Entah dari mana Tetra tahu kalau dia akan membuat Jasmine ketakutan dan celaka.
Hari Senin lalu selepas upacara bendera, Lupi sudah menyuruh Tonton memasukkan ular di laci Jasmine.
Jasmine histeris luar biasa saat melihat ular melingkar di lacinya selepas upacara yang panas dan akan menaruh topi di laci.
Untung ular gemuk melingkar tidak sempat mematuknya dan Jasmine yang melihat kelebatannya langsung lari, bersamaan Tetra yang habis bertugas menjadi pemimpin upacara yang sengaja lewat kelas Jasmine karena rindu memegangi dan memeluknya sesaat.
Saat Jasmine dipeluk, teman-teman cowok yang lain tengah mencoba memasukkan ular ke dalam karung dengan dibantu Pak Dharma, petugas penunggu sekolah yang dekat dengan Tetra.
“Terima kasih Pak Dharma...” Tetra mengacungkan jempol di balik punggung Jasmine yang terisak.
“Sudah... sudah aman Jas... ini pasti kerjaan orang yang tidak suka ke kamu. Hmmm sudahlah... nanti pulang sekolah aku antar ya...” Tetra membimbing Jasmine ke tempat duduknya.
***
Di lain waktu Lupi jelas-jelas melabraknya, “Jasmine! Gara-gara kamu, Tetra tidak mau bersahabat dengan aku lagi! Dasar cewek gatel! Sok diam! Sok acuh! Muna kamu!”
Jasmine menangis di kamar sendirian, mendekap foto mamanya dan diary-nya, “Mama, kalau mama ada pasti aku tidak perlu sesedih ini ketika aku juga merasakan jatuh cinta dan menyukai seorang cowok yang selalu melindungi aku, tetapi ada yang berusaha membuat aku hancur... mama aku merindukanmu.”
Selalu tangis yang tersisa saat Jasmine harus berangkat ke sekolah. Papa tidak akan pernah tahu apapun tentang dirinya.
Aksi Lupi siang ini adalah menyuruh orang untuk menyerempet sepeda Jasmine sepulang sekolah.
Saat yang kritis beberapa motor berkecepatan tinggi akan menabrak sepedanya, ternyata tidak disangka ada sepeda yang lebih kencang menyalip sepeda Jasmine dan dengan sekuat tenaga menendang motor yang memepet Jasmine dan fatal, motor dan orang suruhan Lupi terguling.
“Sudah... sudah Tra, kasihan orangnya sudah babak belur!” Jasmine mencegah Tetra yang menghajar seorang laki-laki dengan ganas.
***
“Jasmine... maafkan aku ya...” Tetra menatap gadis yang rambutnya tampak mulai panjang dari kecepakannya.
“Hmmm maaf untuk apa Kak? Sebaliknya Kakak selalu melindungi aku. Aku yang seharusnya berterima kasih,” Jasmine tidak berani menatap balik mata tajam Tetra.
Tiba-tiba Tetra menggenggam tangannya, dan mencabut bunga liar yang tumbuh di atas rerumputan tepi danau lalu menyelipkan di telinganya.
“Kamu cantik dengan bunga liar ini... Jasmine aku menyukai kamu sejak kejadian kucir tiga salah pita...”
Jasmine semakin salah tingkah, tiba-tiba Tetra mencium punggung tangannya.
Dan segala ketakutan yang mendera tiba-tiba lenyap, hatinya menjerit, “Mama… ternyata begini indahnya jatuh cinta, mama hatiku berdebar... dan ternyata jatuh cinta begini rasanya... mama aku kangen bercerita denganmu ...”
Tetra kaget pernyataan cintanya ternyata membuat Jasmine melelehkan air mata.
“Jas maaf... maaf kalau kamu tidak suka! Aku tidak memaksa... kita bisa berteman saja! Tapi kamu jangan nangis ya! “
“Kak Tetra! Aku nangis karena aku bahagia... aku juga suka Kak Tetra sejak Kakak memberiku sapu tangan. Bahkan Kakak berulang kali menolong aku dari seseorang yang ingin aku celaka! Aku... aku... juga sayang Kakak.”
Tetra memeluk Jasmine dan senja itu menjadi saksi cinta mereka.
Jasmine mengukir senyum dalam tidurnya, hati sang penyelamat hadir membunuh hati sunyinya.
Other Stories
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Namaku May
Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...
Rembulan Di Mata Syua
Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...