2. Hati Yang Lain
Sudah sebulan ini papa tidak menemani Jasmine ke makam mama lagi. Tanpa terasa hampir tiga tahun Jasmine merasakan sunyi hatinya.
Sebentar lagi dia harus mempersiapkan ujian agar bisa lulus dari kelas 9. Jasmine akan meneruskan Sekolah Menengah Atas favorit di kotanya.
“Mah aku akan berusaha belajar sekuat tenaga, aku akan masuk sekolah tempat dulu mama belajar juga,” Jasmine berbicara di perkuburan mamanya, tangannya sibuk mencabuti rumput liar yang mulai tumbuh.
Minggu keempat dari bulan April ini, Jasmine baru bisa mengunjungi makam mamanya setelah putus asa menunggu papa mau menyempatkan dirinya bersama melakukan rutinitas ke makam mama.
Jasmine tidak bisa berharap banyak lagi, papa sibuk tidak hanya di hari Senin sampai Sabtu. Jasmine harus mulai belajar di hari Minggu pun hanya ditemani Mbok Sri.
Mbok Sri bisa paham dirinya karena sudah ikut sebelum mama meninggal. Papa juga memercayakan penjagaan sepenuhnya pada dirinya.
***
Suatu hari di hari Minggu yang cerah...
Papa datang bersama seorang wanita yang menurut pandangan Jasmine tante itu terlalu menor dalam dandanan.
Sangat berbeda dengan mamanya yang berdandan natural dan sederhana, bahkan bisa dibilang sangat simple.
“Jasmine, kemari Nak...”
Papa memanggil dirinya yang ketahuan mengintip di balik gorden penghubung ruang tamu dan keluarga.
Jasmine meletakkan novel NH Dini yang tengah dibacanya.
“Jasmine ini Tante Gabby... ini teman Papa waktu zaman sekolah dulu, teman mamamu juga... ayo kasih salam!”
“Jasmine, Tante...” Jasmine mengulurkan tangan kanannya.
“Wah sudah besar ya. Kata papa kamu, Jasmine mau ujian masuk SMU ya? Semangat ya, harus masuk sekolah favorit tempat kita dulu sekolah,” Tante Gabby memuji dirinya dan memberi aura semangat.
“Iya Tante,” dan jujur Jasmine tidak mau berlama-lama mematung basa-basi di depan Tante Gabby dan papa.
Entah kenapa hatinya merasa tidak nyaman saja, apalagi ini pertama kali Jasmine melihat papanya tertawa riang setelah setengah tahun mama tiada.
Ada rasa kesal menyelimuti hatinya, walau tahu kalau mereka sahabat dari remaja juga sekaligus sahabat mamanya, Jasmine merasa ketenangan dan kesunyian hatinya ada yang mengusik.
“Semoga ini perasaanku saja kalau Papa ada apa-apa dengan Tante Gabby...” laras hati Jasmine, mendadak berdebar.
Hatinya ingin segera kembali ke ruang tamu dan menyelesaikan novel Pertemuan Dua Hati karya penulis favoritnya.
Jasmine suka dengan tulisan-tulisan NH Dini. Entahlah mungkin Jasmine merasa ada kesamaan dirinya dengan NH Dini yang ditinggal wafat ayahnya saat duduk di bangku Sekolah Menegah Pertama.
Hal yang tidak berbeda dengan dirinya yang ditinggal mamanya, Jasmine membaca biografi NH Dini yang ulet sejak ayahnya wafat.
NH Dini juga suka melamun setelah kepergian ayahnya, tetapi dalam diamnya dia terus berusaha melakukan aktivitas yang produktif
Bakatnya menulis fiksi semakin terasah di sekolah menengah. Waktu itu, ia sudah mengisi majalah dinding sekolah dengan sajak dan cerita pendek. Dini menulis sajak dan prosa berirama dan membacakannya sendiri di RRI Semarang ketika usianya 15 tahun. Sejak itu ia rajin mengirim sajak-sajak ke siaran nasional di Radio Republik Indonesia Semarang dalam acara Tunas Mekar.
Diam-diam profil NH Dini menjadi motivasi Jasmine untuk mengembangkan hobby menulis diary menjadi sebuah karya yang diam-diam dikirimnya ke media.
Setelah mama pergi tidak ada lagi teman bicara, hanya kepada diary-nya Jasmine bisa bercerita bebas seperti dia bercerita lepas pada almarhum mamanya.
Tidak heran beberapa novel NH Dini sudah mulai dibaca Jasmine jelang masuk Sekolah Menengah Atas, bahkan novel kisah cinta tokoh Sri, dalam novel Dalam Sebuah Kapal yang jatuh cinta dengan nahkoda kapal bernama Michel yang merupakan kisah perselingkuhan diam-diam membuatnya belajar dewasa akan dunia orang tua.
Atau novel Namaku Hiroko yang jelas memaparkan perselingkuhan Hiroko dengan Yoshida yang semakin seius tanpa menghiraukan nilai-nilai agama, moral, dan persahabatan Hiroko dengan Natsuko karena mereka menjalin hubungan layaknya suami-istri, bahkan sebagai wujud cintanya, Yoshida membelikan rumah untuk Hiroko. Kendati menyandang predikat perempuan simpanan, Hiroko tidak peduli karena mereka saling mencinta, saling membutuhkan.
Untuk itu Jasmine bisa meraba bahwa apa yang sepertinya dilihat antara papa dan Tante Gabby pasti bukan hal yang membingungkan untuk dimengerti.
Jasmine bisa merasakan ada hati yang lain setelah mamanya tiada hadir dalam hati papanya.
Tentu saja hati itu akan memaksa masuk ke dalam dirinya, suka dan tidak suka akan membelenggu bersama sisa hidupnya.
Jasmine menggigil sesaat akan hadirnya mama tiri dalam hidupnya. Sejujurnya kalau boleh memilih, lebih baik dia merasa sunyi hatinya karena cukup mencoretkan dalam diary-nya dia merasa tenang dan bisa melanjutkan kehidupannya.
Sementara kehadiran Tante Gabby dengan menjadi pengganti mamanya, sepertinya Jasmine harus banyak berkompromi.
Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Tea Love
Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...