Prolog
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota bagai permadani hidup.
Jakarta memang tidak akan pernah tidur, siang hari kemacetan dan kesibukan menjadi aktivitas tetapnya. Dan malam hari tidak sepenuhnya beristirahat, sebagian hidup membunuh malam dalam gemerlap dunia.
Meskipun ada juga hati-hati yang mungkin berteduh dan memanjatkan doa-doa di masjid menjalankan itikaf.
Jasmine sudah merasakan keduanya saat bersama teman-teman gaulnya melewati malam yang dicintai pemuja kehidupan malam.
Tetapi di lain waktu Jasmine harus ikut menangis semalaman hingga azan subuh di masjid Pondok Kelapa Sunda saat hatinya ingin berpulang dalam hakikatnya ketenangan merapal doa-doa, bersujud dan bersimpuh mengakui segala dosa kepada Sang Khaliq. Menangisi perjalanan hidupnya yang hampir dua puluh tujuh tahun terlewati.
Jasmine menyesap kopinya yang tersisa setengah di mug Hello Kitty kesayangannya, sudah pukul 01.15 dini hari asrama putri Anira di kawasan Setia Budi masih setengah hidup.
Sebagian teman-teman di lantai tiga sudah terlelap tidur, tetapi kamar paling ujung masih gelap, menandakan Tiar masih bekerja.
Demikian juga kamar Nada yang berhadapan persis dengan kamarnya pun masih gelap.
Dua sahabatnya itu memang berprofesi sebagai pekerja malam. Tiar kerap sebagai Sales Promotion Girl sebuah label rokok dan Nada sebagai penyanyi sebuah pub.
Teman-teman lainnya bekerja di siang hari dan kantoran, bersyukur dirinya sudah empat tahun jadi warga Jakarta bekerja pada perusahaan consumer health sebagai salah satu devisi administrasi.
Jasmine bersyukur sedikit demi sedikit kariernya juga mengikuti kinerjanya yang ulet.
Setelah empat tahun merangkak dari seorang staf biasa menjadi asisten manajer administrasi, dan Jasmine merasa kalau Allah masih bersamanya, melindunginya mengingat di awal dia di Jakarta bisa saja terjebak dengan pergaulan yang baru.
***
“Aku juga rindu, Papa...” tadi Jasmine mengucapkan kalimat ini saat menutup telepon dari papanya. Jasmine bisa merasakan papany apun merindukannya.
Sudah hampir tujuh tahun dari prahara yang menimpanya membuat mereka tidak bertemu.
Jasmine memang sengaja menghilangkan jejak keberadaannya setelah wisuda dan diterima bekerja di Perusahaan Consumer Health Organic Food di bilangan Sudirman.
Hampir tujuh tahun menghilang menutup hubungannya dengan keluarga di kampung, dengan papa, mama tiri, dan Tetra saudara tirinya setelah papa pertama kali memutuskan untuk menganggap dirinya seperti anak terbuang.
Tapi sekarang hatinya kembali resah, apalagi papa memohon dia pulang, tadi papa mengabarkan kondisi badannya yang kurang sehat.
***
Pagi mulai merambat, tapi bagi Jasmine memejamkan mata untuk sekedar melepas lelah dari hari Senin sampai Sabtu berkutat di kantor ternyata tidak bisa.
Telepon papa tadi pukul 23.00 pas dirinya sampai ke kostan setelah menghabiskan Sabtu seharian penuh di kantor untuk menuntaskan laporan tutup bulan, membuat raganya yang lelah tidak bisa beristirahat.
“Papa minta maaf, Jas! Papa harusnya sadar kalau mama tirimu memang seseorang yang salah menjadi pengganti mamamu. Papa tidak bisa salahkan keputusan kamu meninggalkan kami, terlebih atas sikap Papa waktu lalu yang terlalu percaya dengan Mama Gabby.”
Jasmine menggigit bibirnya, hanya bisa berdialog dengan hatinya, “Papa maafkan Jasmine, berat sekali Jasmine mau mengatakan hal yang sejujurnya dulu tentang perilaku Mama Gabby.”
Tidak hanya papa yang berkelebatan dalam pikirannya, “Gimana yah kabar Tetra? Sudakah dia menikah? Kenapa aku tidak berani bertanya pada Papa?”
Dan tiba-tiba udara dingin menusuk dari teralis jendela yang terbuka lebar di depan kamarnya dekat tangga.
“Jasmine pulanglah demi Papa, banyak yang harus kita luruskan dan perbaiki. Hanya kamu satu-satunya milik Papa sekarang. Pulanglah Nak, Papa sangat kangen denganmu?” Suara papa menghadirkan tangis yang sudah tak bisa terbendung lagi.
“Sudah bertahun-tahun Jasmine, kamu tidak pulang. Mungkin saja ini saatnya kamu harus berani menghadapi sebuah kebenaran yang selama ini kamu simpan sendiri dalam hatimu yang sunyi, dan bahkan sekarang yang ada tinggal sepotong hati yang beku?“
Hujan dini hari ini hadir persis saat dia memutuskan menjauhi saudara tirinya beberapa tahun lalu, Cause there\'ll be no sunlight ... If I lose you, baby ... There\'ll be no clear skies ... If I lose you, baby ... Just like the clouds ... My eyes will do the same, if you walk away ... Everyday it\'ll rain, rain, ra-a-a-ain ... Oh, don\'t you say (don\'t you say) goodbye (goodbye) ... Don\'t you say (don\'t you say) goodbye (goodbye) ... I\'ll pick up these broken pieces \'til I\'m bleeding ... If that\'ll make it right ... (It Will Rain_Bruno Mars)
Other Stories
Sweet Haunt
Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Susur
Kepergian Mamat mencari ayahnya, tanpa sengaja melibatkan dua berandal kampung. Petualanga ...