4. Maylinda
May melirik jam di pergelangan tangan kanannya. Masih sembilan puluh menit lagi menuju pukul sepuluh pagi, kelas pertama hari ini. Jalan raya Kaliurang masih terasa lengang, May mengemudikan Suzuki Katana dengan kecepatan 60 km/jam, sambil bersenandung kecil mengikuti irama frekuensi radio kesayangannya.
Wuuuzzz!
Honda Civic kuning dengan garis hitam di tengah, melesat dengan kecepatan tinggi melewati May dari arah kanan.
“Heeyy, nantang nih!” pekik May riang.Antara kaget dan senang, adrenalinnya terpacu. Suasana pagi hari itu menjadi lebih bersemangat.
Dengan cekatan May menginjak pedal kopling, mengganti tuas persneling, menginjak gas menaikkan kecepatan menuju angka hampir 100 km/jam. Terus melaju, berusaha menyusul si Bumble Bee tadi.
“Sedikit lagi,” gumam May dengan seringai di wajahnya.Terus menambah kecepatan laju mobil, kini posisi May berada di sisi kanan Bumble Bee. May membunyikan klakson panjang, mengirim pesan menerima tantangan. Pengemudi Bumble Bee melihat ke arah May, tertawa tanpa suara.
Bumble Bee dan May saling berebut posisi, bunyi klakson memecahkan kesunyian pagi. Jalan lebar ini seolah milik berdua, pengemudi lainnya bergerak menepi, segan dengan kehadiran mereka.
Tepat di kilometer 14, May yang berada di urutan belakang mengurangi tekanan kaki pada pedal gas. Bumble Bee memutar setir ke arah kiri, May mengikuti, memasuki area boulevard lebar. Gerbang Kampus. Sekitar 100 meter melaju lurus beriringan, berbelok ke arah kanan jalan melingkar, Bumble Bee bergerak perlahan lalu berhenti di depan pintu gedung kecil yang terletak di ujung tikungan menanjak.
May menghentikan mobilnya di sisi kiri jalan melingkar, memutar tuas pembuka kaca, “Pak Fajaaarr, besok lagi, ya!”
Lelaki pengemudi Bumble Bee menoleh ke arah May, melambaikan tangannya berlari kecil masuk ke dalam gedung.
***
“Berikutnya, Maylinda!”
May diam bergeming, tangannya memutar pensil mekanik dengan dua jari. Tidak mendengar panggilan Mas Hendra, asisten dosen kelas studio perancangan.
“May, giliran kamu tuh!” Sinta menepuk lengan May, mengembalikan May dari dunia khayalnya.
Beranjak dari kursi dengan membawa beberapa berkas gambar cetak dan flash disk berisi file yang akan ditampilkan pada layar infocus, May melangkah maju ke podium. Memaparkan proposal proyek, tugas semester ganjil yang akan diajukannya.
Penjelasan singkat rencana proyek dengan lancar dijabarkan dalam waktu sepuluh menit. Sesekali mengusap keringat yang mengalir di dahi, May menegakkan badan.
Saatnya pembantaian, desis May dalam hati.
Satu persatu pertanyaan dijawab May. Bantahan, sanggahan, juga serangan dari asisten yang terkenal sok berwibawa melebihi dosen. Waktu tiga puluh menit terasa seperti setahun. Dering alarm menyelamatkan May, waktunya habis. May merapikan amunisi perangnya, di sampingnya berdiri dengan sikap jumawa, Mas Hendra mencari mangsa baru melalui lembar daftar hadir.
May berjalan letih menuju kursinya tadi, deret tiga di sisi kanan. Menaruh sembarang berkas presentasi di meja kayu hadapannya.
“May!”
May menoleh ke belakang, Pak Fajar menjentikkan jarinya meminta May datang. May bergerak menghampiri laki-laki yang berada di ujung ruangan itu, berdiri tegak dengan papan dada berisi kolom-kolom penilaian.
“Iya, Pak?” jantung May berdetak agak kencang. Tinggi May tak sampai sebahu Pak Fajar, May harus mendongak ketika berbicara dengan dosen muda berkulit putih itu.Beberapa pasang mata melirik ke arah May, penuh selidik, ingin tahu mengapa May dipanggil.
“Putar, hadap ke depan!” Pak Fajar memberi perintah dengan suara tegas berwibawa.
“Kenapa, Pak? Ada yang salah dengan proposal saya tadi?”
“Saya tunjukkan kesalahan kamu, sekarang kamu menghadap ke depan.”
Mengikuti arahan Pak Fajar, May memutar badannya walau merasa sedikit aneh. May berdiri persis di depan Pak Fajar, tiba-tiba merasakan tangan Pak Fajar menyentuh kerah kemejanya di bagian belakang. May kaget, hendak memutar badan.
“Diam sebentar!” Pak Fajar kembali memerintah.
“Eerrr....” May bergumam tidak jelas, sedikit menunduk, wajahnya merona panas. Lebih banyak lagi mata menatap ke arahnya, beberapa saling bisik.
“Gadis manis kok bajunya nggak rapi sih!”suara Pak Fajar lembut perlahan.
“Mulai kapan Bapak anggap saya gadis?”
“Sejak kamu memakai lipstik. Sudah, duduk lagi sana!”
Oh God, we’re talkin’ or we’re racin’, you’re still amazing. Debar jantung May melebihi saat presentasi tadi.
***
Other Stories
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Dentistry Melody
Stella hanya ingin mewujudkan mimpinya menjadi dokter gigi, bermain biola, dan bersama Ron ...
2r
Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...