Erase

Reads
136
Votes
0
Parts
3
Vote
Report
Penulis Lia Soeparno

2. Jenny

\"Saya tidak mengerti, mengapa Jenny tidak pernah mau menemui Mama lagi. Selalu saja ada hal yang dijadikan alasan,\" papar Arif dengan wajah muram.
\"Kalau boleh saya tahu, sebelum kalian menikah, apakah Jenny sudah enggan menemui Ibu Anda?\"
\"Kebetulan Jenny sebelumnya bekerja di luar negri. Kami hubungan jarak jauh. Jenny dan Mama awalnya hanya bertatap muka via Skype. Bertemu langsung dua hari menjelang pernikahan,\" jawab Arif, ada rona kebimbangan dalam wajahnya. \"Maaf, tapi apakah pertanyaan tadi relevan dengan konflik yang kami hadapi? Ini kan tentang sikap Jenny yang aneh kalau kami membicarakan tentang hamil, atau soal anak.\"
\"Ya, bisa saja ada korelasinya. Kita cari tahu bersama-sama.\"
Arif manggut-manggut, sejujurnya dia belum sepenuhnya mengerti dengan apa yang telah terjadi. Bulan madu baru saja usai, seharusnya masa awal pernikahan masih terasa indah. Entah apa penyebabnya, sikap Jenny menjadi berubah. Datang berkonsultasi seperti ini pun bukan kehendaknya. Kalau saja Tasya, kakaknya tidak memaksa, dan Mama seratus persen mendukung rencana Tasya ini.
\"Ini semua demi kebaikan dan kebahagian pernikahan kalian sendiri,\" Arif tidak ingin berdebat panjang dengan Mama, walaupun harus disuguhi wajah cemberut Jenny. Syukurlah akhirnya Jenny bersedia ikut menjalani sesi konsultasi ini.
***
Wanita itu terlihat sangat anggun dalam balutan baju batik panjang tanpa lengan. Bentuk tubuh semampai dengan rambut hitam legam yang dibiarkan lurus panjang terurai,cocok bila menjadi seorang model atau artis. Dia menyunggingkan senyum manis saat memperkenalkan dirinya. Jenny. Wanita yang baru dinikahi Arif selama tiga bulan. Bulan madu usai, datanglah petaka. Itu yang dijabarkan Arif pada sesi awal tadi.
\"Sebenarnya, saya tidak tahu mengapa harus berkonsultasi seperti ini. Seperti membesar-besarkan masalah, kan?\" kata Jenny membuka percakapan, gesture tubuhnya sangat kaku, terlihat sekali dia tidak nyaman dengan pertemuan ini.
Devi tersenyum, \"Rileks saja, saya tidak akan melakukan apapun padamu. Kita hanya ngobrol santai saja, sebagai sesama perempuan.\"
\"Oke,\" Jenny memperbaiki tubuhnya, melepaskan tangan yang semula bersedekap, tak lagi menutup diri dengan erat.
\"Duduklah yang nyaman, Jenny. Boleh kan saya memanggil nama saja?\"
\"Silakan, Mbak.\"
Agus masuk membawakan teh hangat, jeda sesaat dipergunakan Devi melihat berkasnya, dan sekilas melempar pandangan ke arah Jenny.
\"Teh hangat bisa membantumu lebih nyaman. Silakan diminum,\" kata Devi.
Jenny mematuhi, menyeruput sedikit sekedar membasahi bibir tipisnya, memenuhi etika basa-basi.
\"Jadi, menurut Arif, kamu ada masalah dengan Ibunya, benarkah?\"
\"Ah, tidak, Mbak. Tidak seperti itu yang sebenarnya.\"
\"Jadi?\"
\"Err, eh, begini... hm, maksud saya...\" sikap Jenny kembali rikuh dengan pertanyaan Devi tadi.
\"Bila ini membantumu kembali nyaman, saya beritahukan, semua percakapan kita ini off the record, saya tidak akan membaginya dengan siapapun, termasuk Arif. Kamu bisa percaya saya menyimpan rahasiamu,\" kata Devi dengan cepat agar Jenny kembali nyaman dengan situasi canggung seperti di awal tadi.
\"Terima kasih, Mbak. Terus terang, saya bukan tipe orang yang suka mengumbar cerita pribadi.Apalagi ini berhubungan dengan suami dan keluarganya.\"
\"Bagus, Jenny. Memang seperti itulah yang seharusnya dalam setiap hubungan rumah tangga. Tapi kamu pun harus bisa membedakan, kita bicara seperti ini bukan bertujuan untuk gosip dan membuka aib. Kita mencari solusi untuk masalah yang telah disampaikan Arif dan keluarganya,\" Devi menarik napas panjang, membiarkan Jenny memberi reaksi atas pernyataannya tadi.
\"Saya yakinkan sekali lagi, atas nama profesionalisme, kamu bisa percaya pada saya. Demi masa depan pernikahan kamu dan Arif. Kamu bersedia menjawab pertanyaan saya tadi?\"
Jenny mengangguk lemah, kepalanya sedikit tertunduk, menarik napas panjang untuk menguatkan hatinya.
\"Saya benar-benar tidak tahu penyebabnya, awal bertemu Mama mertua tidak ada yang saya cemaskan. Biasa saja. Tidak menakutkan. Tapi setelah kami pulang dari Jepang, setiap kali mau bertemu Mama mertua, jantung saya berdebar-debar, saya tidak bisa mengontrolnya,\" isak Jenny, bulir air mata sudah menetes sejak kata pertamanya tadi.Devi menyodorkan kotak tissue padanya.
\"Selain berdebar-debar, apa ada reaksi lainnya yang kamu rasakan?\" tanya Devi lagi.
Jenny terdiam, dahinya berkerut, mengingat-ingat kejadian beberapa hari lalu. Pertengkaran pertama dengan Arif pasca pernikahan.
***
Kedua gadis kecil itu saling berpelukan, isak tangis mereka sangat menyayat hati dari apa pun yang pernah didengar orang. Tak ada yang bisa menenangkan keduanya. Bahkan sang Papi sekalipun. Di depan mereka, tubuh Mami yang bersimbah darah dibopong menuju mobil. Muka Mami lebih pucat dari kapas, kelopak matanya hampir terpejam. Tangan yang sebelumnya memegang erat bagian bawah perut buncitnya, terkulai lemah. Darah terus mengalir dari sela-sela kaki Mami, meninggalkan jejak di sepanjang jalan dari kamar menuju mobil.
Jenny dan kakaknya, Leona, kembali menangis hebat di ruang tunggu khusus keluarga pasien ICU, wajah keduanya dibasahi air mata, dan AC ruangan tak mampu menahan keringat dingin yang keluar dari tubuh mereka.Gemetar, menggigil di antara isak tangis, namun mata mereka memandang benci sang Papi, yang tidak mampu menolong Mami dan calon adik laki-laki yang mereka nantikan.
Mata polos mereka merekam setiap peristiwa menyakitkan yang terjadi pada ibu mereka. Setiap hari, Oma pasti memerintahkan Mami melakukan pekerjaan ini dan itu.Ada saja pekerjaan yang harus segera diselesaikan tanpa istirahat. Anehnya, Mami tidak pernah mengeluh, senyum selalu terlihat di wajah penuh kasihnya. Saat malam tiba, Jenny dan Leona selalu berdoa, berjanji pada Tuhan akan menjadi anak yang baik. Mereka tidak ingin membebani ibu mereka yang telah lelah seharian bekerja. Keduanya menepati janji pada Tuhan.Setiap pagi, Leona membantu menyiapkan sarapan.Sementara Jenny merapikan kamar sebelum mereka berangkat ke sekolah.
Jenny dan Leona bahkan tak ingin membebani ibu mereka dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh yang sering terlintas di benak lugu mereka. Mengapa Oma selalu bicara kasar bila Mami bergerak sedikit lambat saat membersihkan rumah yang luasnya hampir sebesar sekolah mereka? Mengapa Mami tetap harus berkutat dengan pekerjaan rumah meski Oma juga memiliki beberapa pembantu rumah tangga? Mengapa Mami terlihat tak pernah sakit atau setidaknya mengeluh sakit, padahal perutnya semakin lama semakin buncit? Mengapa Papi tidak membawa mereka pindah ke rumah mereka sendiri, mengapa harus tinggal di rumah Oma? Mengapa Oma menyebut Mami sebagai menantu durhaka, menantu yang tidak berguna dan menantu yang tidak diharapkan? Dan seribu ‘mengapa’ selalu datang pada Jenny dan Leona, walau tak pernah terlontar dari bibir mungil mereka.
Kegaduhan di ruang tunggu keluarga ICU terjadi saat Nenek Dahlia tiba. Nenek Dahlia adalah ibu kandung Mami yang tinggal di Medan. Saat tiba, Nenek Dahlia langsung menyerang Papi.Memukul, menendang dan menampar. Kalau saja Kakek Mustafa tidak menghalangi, mungkin Papi ikut dirawat di ICU bersama Mami. Papi diam saja, duduk menjauh di ujung ruangan, menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Mungkin menangis. Jenny dan Leona bahkan tidak mengerti, haruskah mereka bersedih bersama Papi? Apakah ini balasan yang harus diterima Papi karena membiarkan Mami menjadi korban perlakuan buruk Oma di rumah? Kedua gadis kecil itu kembali menjerit dan menangis dalam dekapan Nenek Dahlia, saat dokter dan perawat menyatakan tidak mampu menolong ibu mereka.
Kegaduhan kembali terjadi saat Nenek Dahlia dan Oma bertengkar hebat. Nenek Dahlia tidak sudi membawa jenazah Mami ke rumah Oma, beliau ingin langsung memakamkan Mami dari rumah duka di rumah sakit ini. Sementara itu, Oma telah menyiapkan acara duka di rumah mewahnya. Sudah banyak tamu yang hadir memberikan ucapan bela sungkawa. Karangan bunga berukuran besar berjajar dari mulai pintu pagar hingga teras depan pintu. Semua yang datang mengenakan setelan hitam termahal yang mereka miliki. Menyalami Oma, berbicara dengan intonasi pelan, sekilas melirik ke arah peti mati yang masih kosong. Oma menyiapkan segalanya dengan baik sesuai lingkungan sosialnya. Tapi bagi Nenek Dahlia, semua itu tidak lagi dibutuhkan Mami. Mami juga tidak menginginkan diberi kemewahan di saat mati. Percuma.
Jenny dan Leona bersyukur saat Papi tidak menghalangi Nenek Dahlia membawa mereka pergi, meskipun Oma dan Nenek Dahlia kembali bertengkar hebat. Maka, tanpa diperintah, keduanya sigap mengemas pakaian, buku dan sedikit barang yang mereka miliki. Pergi meninggalkan Papi. Jenny dan Leona tidak pernah bertemu Papi lagi, keduanya hanya mengangguk acuh saat Nenek Dahlia memberi surat yang mengabarkan Papi telah menikah lagi. Bagi mereka, Papi telah menjadi orang lain. Pergi jauh dari kehidupan keduanya.
Jenny dan Leona tumbuh menjadi gadis pintar dengan prestasi cemerlang di bawah asuhan Nenek Dahlia. Keduanya mendapat predikat pelajar teladan di sekolah. Nenek Dahlia membanggakan mereka pada kerabat dan sahabatnya. Betapa tidak, keduanya cantik, pintar dan anak-anak yang santun. Saat kuliah, Jenny dan Leona mendapatkan beasiswa penuh dari luar negeri. Jenny memilih program studi World Heritage di BTU, Jerman.SedangkanLeona menjadi staf Oceanology Officer di UN Head Quarter, New York, setelah menamatkan kuliahnya di Delft Universiteit, Belanda. Hanya ada satu perbedaan di antara kedua gadis itu, Leona memutuskan tidak akan pernah menikah sesaat setelah pemakaman ibu mereka, dan itulah yang terjadi hingga saat ini.
***
\"Kami bertemu saat sama-sama menjadi pelajar asing di Berlin, Mbak. Berbeda kampus, tapi sering bertemu di acara kedutaan atau di komunitas pelajar Indonesia. Saat itu kami hanya berteman biasa saja, justru saat Arif sudah kembali ke tanah air dan bekerja, Arif menelepon untuk mengajak saya menjalin hubungan serius,\" kata Jenny memulai cerita awal perkenalan dengan suaminya.
\"Setelah selesai kuliah, saya langsung bekerja di Berlin, atas rekomendasi salah satu Lecturer saya. Setelah tiga tahun bekerja, saya dan Arif memutuskan menikah, dan itu berarti saya harus mundur dari pekerjaan saya dan kembali ke Indonesia.\"
\"Apakah kamu melakukan semuanya dengan terpaksa? Resign, kembali pulang ke Indonesia, dan menikah?\"
\"Tidak, Mbak. Awal saya menjalin hubungan dengan Arif saya sudah tahu prinsip-prinsip hidupnya. Dia tidak pernah melarang saya bergaul, beraktivitas sosial, bekerja di manapun. Dia juga mengatakan bahwa hubungan kami serius, bukan sekedar pacaran yang mengisi waktu luang. Arif menginginkan pernikahan, dan jujur saja, sebelumnya tidak pernah terlintas di benak saya kalau suatu saat saya akan menikah. Tapi Arif sangat gigih menyakinkan konsep pernikahan sebagai bentuk hubungan yang sehat dan bahagia. Saya luluh dengan kesabaran Arif menghadapi saya.\"
Jenny kemudian diam dan menarik napas panjang, matanya menerawang ke langit-langit ruang kerja, Devi menunggu kesiapan Jenny melanjutkan ceritanya dengan sabar.
\"Pernikahan berarti tidak tinggal berjauhan kan, Mbak? Saya ikhlas melepas pekerjaan saya. Nenek Dahlia pun sangat gembira melihat saya pulang, menikah dan menetap di Indonesia, memudahkan kami untuk lebih sering bertemu. Nenek Dahlia sudah terlalu tua untuk melakukan perjalanan jauh, kesehatannya menurun beberapa tahun terakhir ini, beliau menderita arthritis.\"
\"Bagaimana hubunganmu dengan Ibu mertua, Mamanya Arif?\"
Wajah Jenny kembali kaku dengan pertanyaan yang diulang Devi, seolah dihadapkan kembali dengan bayangan masa lalunya. Kilasan peristiwa saat ibunya yang dalam keadaan hamil tua harus tetap bekerja dan menuruti semua perintah Oma, yang notabene adalah mertua Mami. Tanpa sadar, Jenny bergidik, tubuhnya gemetar, rona wajahnya sedikit memudar. Pening dan sedikit mual mendadak menghampiri lagi. Dia memejamkan kedua kelopak mata dengan sangat kuat. Saat membuka, air mata kembali membanjiri pipinya. Devi membiarkan tangis Jenny pecah, menguras semua emosi yang terpendam di dalam hati, hingga yang tersisa hanya lirihan pelan, dan sisa air mata yang masih menetes.
\"Ma-maaf, Mbak. Saya emosi lagi,\" kata Jenny saat tangisnya mereda.
\"Tidak apa-apa, take your time, Jenny. Lepaskan semua emosi yang masih mengganjal di hatimu. Biarkan keluar semuanya, dan jadilah Jenny yang baru setelah itu.\"
***

Other Stories
Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

My Love

Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Dear Zalina

Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...

Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Download Titik & Koma