Ryan Si Pemulung

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Ryan si pemulung
Ryan Si Pemulung
Penulis Moycha Zia

Jendela Yang Terbuka


Kisahku sebagai arsitek dari gang sempit menyebar luas. Tidak hanya di kota, tapi juga ke seluruh negeri. Aku sering diundang untuk menjadi pembicara, berbagi kisahku di berbagai seminar dan konferensi. Di setiap kesempatan, aku selalu mengawali cerita dengan bangga, "Saya Ryan, seorang arsitek. Dan saya adalah anak seorang pemulung."

Aku tidak pernah merasa malu, sebaliknya, aku menjadikan itu sebagai identitasku. Itu adalah pengingat tentang dari mana aku berasal dan berjuang. Ayah dan Ibu selalu hadir dalam setiap presentasiku, duduk di barisan paling depan dengan senyum bangga. Mereka tidak lagi mengenakan pakaian lusuh. Aku memastikan mereka memakai pakaian terbaik yang kubelikan dari keringatku sendiri. Namun, di mata mereka, aku tahu, kebahagiaan mereka bukanlah dari pakaian mahal, melainkan dari kenyataan bahwa anak mereka telah berhasil.

Biro arsitekturku berkembang pesat. Aku tidak lagi hanya mengerjakan proyek kecil di gang. Aku merancang gedung-gedung besar, merenovasi kawasan kumuh menjadi tempat tinggal yang layak, dan menciptakan ruang publik yang ramah lingkungan. Aku terus berinovasi menggunakan bahan-bahan daur ulang dan teknologi modern untuk menciptakan bangunan yang tidak hanya indah, tapi juga berkelanjutan.

Suatu hari, Riko datang menemuiku di kantor. Ia kini bekerja di perusahaan ayahnya, sebuah perusahaan properti besar. "Ryan," katanya, "Ayahku ingin bertemu denganmu. Ia ingin kamu menjadi arsitek untuk proyek terbesarnya."

Jantungku berdebar kencang. Ini adalah kesempatan besar. Aku menerima tawarannya. Kami berdiskusi, dan menjelaskan ide-ideku. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia tidak lagi melihatku sebagai musuhnya, melainkan sebagai seorang profesional yang ia hormati.

"Kamu telah menginspirasiku, Ryan," katanya, "Dulu, aku hanya tahu bagaimana menghabiskan uang. Tapi kamu mengajari aku bagaimana cara berjuang. Kamu adalah arsitek yang jauh lebih hebat dari siapapun yang pernah kutahu."

Aku tersenyum. Aku tidak membalas. Aku hanya tahu, kata-katanya adalah sebuah pengakuan tulus. Aku tahu tidak hanya membangun bangunan, tapi aku juga membangun jembatan. Jembatan antara masa laluku dan masa depanku. Jembatan antara orang-orang yang meremehkanku, dan orang-orang yang kini menghormatiku.

Proyek itu menjadi mahakaryaku. Aku merancang sebuah kompleks perumahan ramah lingkungan, dengan taman-taman yang indah dan fasilitas-fasilitas umum. Aku memastikan setiap rumah yang kubangun, tidak hanya kokoh, tetapi juga memiliki cerita. Cerita tentang perjuangan, harapan, dan cinta.

Pada acara peresmian, aku mengundang Ayah dan Ibu. Aku juga mengundang Ibu Lia dan Eka. Mereka semua datang. Mereka semua melihat hasil dari perjuangan kami. Riko juga datang, dan ia tersenyum bangga padaku.

Aku berdiri di panggung, memegang mikrofon. "Saya tidak akan berdiri di sini hari ini," kataku, suaraku bergetar, "Jika bukan karena mereka." Aku menunjuk Ayah dan Ibu yang duduk di barisan depan, "Mereka adalah pahlawan saya. Mereka mengajari saya tentang martabat dan kerja keras." Aku menunjuk Ibu Lia, "Beliau adalah guru saya yang mengajari tentang ilmu." Aku menunjuk Eka, "Dia adalah teman saya yang mengajari tentang persahabatan." Dan aku menunjuk Riko, "Dan dia yang mengajari tentang ketulusan."

Aku menatap jendela di salah satu bangunan yang baru kubangun. Jendela itu bersih, besar, dan memantulkan langit biru yang cerah. Jendela itu tidak usang. Tetapi, aku tahu jendela itu tidak akan pernah bisa menggantikan jendela usang di kamarku. Jendela usang itu adalah saksi bisu dari mimpiku, dari air mataku, dan dari setiap langkah yang kuambil.

Jendela itu kini tidak lagi terasa seperti batasan. Jendela itu kini terasa seperti sebuah gerbang. Sebuah gerbang yang membawaku dari gang sempit, ke dunia yang luas. Aku tidak lagi merasa takut. Aku tahu, di depan sana, ada banyak lagi mimpi yang menungguku. Dan aku, Rian, siap untuk mewujudkannya.


****

Setelah acara peresmian selesai, aku mengajak Ayah, Ibu, Ibu Lia, Eka, dan Riko makan malam bersama. Kami duduk di sebuah restoran mewah, yang dulu hanya bisa kulihat dari luar. Suasana canggung yang dulu menyelimuti kami, kini digantikan oleh tawa dan cerita. Kami berbicara tentang masa lalu, badai, perjuangan, dan bagaimana semua itu membawa kami ke titik ini.

"Dulu, aku tidak pernah mengerti mengapa kamu begitu gigih, Ryan," kata Riko, "Aku pikir, hidup itu hanya tentang uang. Tapi kamu menunjukkan padaku bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berharga dari uang. Semangat. Martabat. Mimpi."

Aku tersenyum. "Kamu juga mengajariku, Riko," kataku, "Kamu mengajari aku tentang bagaimana menghadapi cemoohan. Dan kamu juga mengajari tentang bagaimana sebuah ketulusan bisa mengubah segalanya."

Malam itu adalah malam yang tak terlupakan. Aku melihat semua orang yang penting dalam hidupku berkumpul di satu meja. Ayah dan Ibu yang memberiku fondasi. Ibu Lia dan Eka yang memberiku dukungan. Dan Riko yang memberiku pelajaran berharga.

Aku tahu, aku sudah mencapai puncak. Bukan puncak dalam artian karier, tetapi puncak dari sebuah perjuangan. Aku telah menepati janji pada diriku sendiri, dan pada orang-orang yang kucintai. Aku telah membuktikan, bahwa kemiskinan bukanlah akhir dari segalanya. Bahwa keterbatasan hanyalah sebuah tantangan.

Aku kembali ke rumah. Rumah yang baru kami bangun, dengan dinding dari botol-botol plastik dan atap dari seng-seng bekas. Aku naik ke kamar, dan membuka jendela. Angin sejuk masuk, membawa aroma kota, aroma bunga, dan aroma harapan. Aku menatap langit.

Langit yang sama yang dulu kulihat dari balik jendela usangku. Langit yang sama yang menjadi saksi bisu dari setiap tetes air mata, keringat, dan doa.
Aku mengambil buku jalan.menuju puncak. Aku tidak lagi membacanya. Aku hanya memegangnya. Kisah-kisah di dalamnya kini sudah menjadi bagian dari diriku. Aku tidak lagi hanya membaca cerita tentang orang lain. Aku telah menciptakan ceritaku sendiri.

Aku tahu, aku tidak lagi hanya bermimpi. Aku kini hidup di dalam mimpiku. Dan di depan sana, ada banyak lagi impian yang menungguku. Impian untuk membangun sekolah, rumah sakit, dan perpustakaan di setiap gang sempit. Impian untuk membantu setiap anak di sana untuk bermimpi, dan berjuang.
Aku, Ryan, seorang arsitek dari gang sempit telah menemukan jalan.

Dan aku tahu, ini bukan akhir dari segalanya. Ini adalah permulaan dari sebuah cerita baru. Cerita tentang bagaimana cinta, harapan, dan kerja keras dapat mengubah dunia satu per satu dengan sebuah jendela yang terbuka.

Jangan biarkan suara orang lain memadamkan semangatmu. Mereka tidak melihat, apa yang kau lihat di dalam dirimu. Mereka hanya melihat masa lalu, sementara kau sedang melukis masa depan.

_TAMAT_

Other Stories
Saat Cinta Itu Hadir

Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...

The Labsky

Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Mobil Kodok, Mobil Monyet

Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...

After Meet You

Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...

Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

Download Titik & Koma