Arsitek Dari Gang Sempit
Rumah baru kami menjadi buah bibir di seluruh gang. Tetangga datang untuk melihat, dan mereka kagum. Tidak ada yang menyangka, dari botol-botol plastik bekas dan seng-seng lapuk, bisa tercipta sebuah rumah yang begitu indah dan unik. Bagi mereka, rumah itu adalah bukti nyata bahwa mimpi bisa diwujudkan, bahkan dari hal-hal yang paling sederhana.
Aku mulai membuka biro arsitektur kecil-kecilan di rumah. Awalnya, hanya tetangga yang datang, meminta bantuanku untuk mendesain rumah atau sekadar memperbaiki atap. Aku tidak pernah meminta bayaran besar. Aku hanya menerima seikhlasnya. Setiap proyek yang aku kerjakan selalu menganggapnya sebagai sebuah tantangan. Aku ingin membuktikan, arsitektur bukan hanya untuk orang kaya. Arsitektur adalah untuk semua orang.
Suatu hari, seorang pengusaha properti terkenal datang ke rumah kami. Ia mendengar kabar tentangku dan rumahku. Ia terkejut melihat rumah kami yang sederhana, namun matanya memancarkan rasa kagum saat melihat detail-detail yang kubuat. "Saya ingin kamu merancang sebuah perumahan," katanya, "Perumahan ramah lingkungan dengan harga terjangkau."
Jantungku berdebar kencang. Ini adalah kesempatan emas. Aku tidak menyia-nyiakannya. Aku menghabiskan malam-malamku dengan menggambar sketsa, membuat maket, dan memikirkan setiap detailnya. Aku ingin perumahan itu menjadi tempat tinggal yang nyaman, aman, dan indah.
Tentu saja, Ayah dan Ibu selalu mendukungku. Mereka menyiapkan kopi dan makanan kecil saat aku lembur. Ayah sering duduk di sampingku, melihat sketsa-sketsaku, dan tersenyum bangga, "Anak Ayah, kau benar-benar menjadi arsitek hebat," bisiknya. Ibu hanya berdoa, dan aku tahu, doa itu adalah kekuatan terbesarku.
Aku presentasi di hadapan pengusaha itu. Aku menunjukkan maket yang terbuat dari kardus bekas, dan aku menjelaskan ide-ideku tentang rumah dari bahan daur ulang. Ia mendengarkan dengan seksama, dan di akhir presentasi, ia berdiri dan bertepuk tangan. "Kamu luar biasa, Ryan," katanya, "Kamu adalah arsitek yang kami cari."
Aku mendapatkan kontrak besar. Aku mendapatkan uang yang tidak pernah kubayangkan. Aku memeluk Ayah dan Ibu, dan kami menangis haru bersama. Uang itu bukan hanya untukku. Uang itu adalah untuk kami.
Aku mulai merekrut beberapa orang dari gang kami untuk membantuku. Aku memberikan mereka pekerjaan, dan mengajarkan mereka tentang arsitektur. Aku tidak ingin menjadi sukses sendirian. Aku ingin menjadi sukses bersama-sama.
Aku mulai membangun perumahan itu. Aku mengawasi setiap detailnya, dari fondasi hingga atap. Aku memastikan setiap rumah yang kubangun, tidak hanya kokoh, tetapi juga bermakna. Aku ingin perumahan itu menjadi simbol harapan. Simbol bahwa dari gang sempit, bisa terlahir sebuah impian.
Suatu hari, Riko datang ke lokasi pembangunan. Ia melihat kami bekerja, dan ia hanya diam. Aku tahu, ia tidak lagi melihatku sebagai musuhnya. Ia melihatku sebagai seorang yang berhasil mewujudkan mimpinya.
Setelah perumahan itu selesai, aku mengundang Ayah dan Ibu ke sana. Aku menunjukkan setiap detailnya, dari taman yang indah hingga rumah-rumah yang kokoh. Aku melihat wajah mereka yang dipenuhi kebanggaan. "Nak," kata Ayah, "Kau telah mengubah hidup kami."
Aku menggeleng. "Ayah dan Ibu yang mengubah hidupku," kataku, "Kalianlah yang mengajari aku cara berjuang."
Aku tahu, ini bukanlah akhir dari segalanya. Ini hanyalah permulaan. Aku memiliki Ayah, Ibu, dan sebuah biro arsitektur. Aku memiliki impian yang tidak akan pernah pudar.
Malam itu, saat aku duduk di ruang kerjaku, aku menatap jendela. Itu bukan jendela usangku. Itu adalah jendela dari ruang kerjaku. Dan dari jendela itu, aku melihat perumahan yang kubangun. Aku melihat setiap rumah yang kokoh, setiap jendela yang bersih, dan setiap pintu yang terbuka.
Aku bukan hanya arsitek dari sebuah kota. Aku adalah arsitek dari sebuah gang sempit. Dan aku tahu, dari gang sempit itu, akan lahir impian-impian lain yang akan mengubah dunia.
****
Waktu terus berjalan dengan begitu cepat. Namaku, Ryan, mulai dikenal luas di dunia arsitektur. Bukan karena aku lulusan dari universitas bergengsi, melainkan karena ide-ideku yang unik dan berani. Ide tentang arsitektur yang ramah lingkungan dan terjangkau. Proyek perumahan pertamaku menjadi sukses besar dan mendapatkan banyak pujian dari para ahli. Itu membuka banyak pintu dan kesempatan lain.
Aku mendapatkan undangan untuk menjadi pembicara di berbagai seminar, berbagi kisahku. Di setiap kesempatan, aku selalu memulai cerita dengan menyebutkan siapa diriku, "Saya, Ryan, seorang arsitek. Dan saya adalah anak seorang pemulung."
Aku tidak pernah malu. Justru, aku sangat bangga.
Aku menceritakan tentang Ayahku yang mengajari arti martabat, Ibuku yang memberiku kekuatan dari doa, dan Ibu Lia, guru yang menjadi mentorku. Aku juga menceritakan tentang jendela usang di kamarku yang mengajarkan untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Suatu hari, saat aku sedang memberikan presentasi, aku melihat Riko duduk di barisan paling belakang. Ia menatapku, dan tersenyum. Senyum itu bukan lagi senyum canggung atau sombong. Itu adalah senyum bangga. Aku tahu, ia telah memahami apa yang ingin kukatakan. Ia melihat bukan lagi hanya kesuksesan, tapi juga perjuanganku.
Aku terus bekerja. Aku membangun sekolah ramah lingkungan dari bahan daur ulang, merancang perpustakaan umum di sebuah kawasan kumuh, dan membantu banyak orang untuk memiliki rumah yang layak. Setiap proyek yang aku kerjakan, aku selalu mengingat dari mana aku berasal. Aku tidak pernah melupakan akar ku.
Aku tidak lagi hanya membangun bangunan. Aku membangun harapan, mengubah pandangan, dan menginspirasi orang lain. Aku menjadi arsitek yang Ayah dan Ibu banggakan. Aku menjadi contoh bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki semangat yang kuat.
Pintu yang dulu hanya bisa kulihat, kini terbuka lebar. Aku bisa masuk dan keluar dengan bebas. Tapi, aku tahu tidak akan pernah melupakan gang sempit tempatku berasal. Gang itu adalah rumahku yang pertama. Dan di sana, di balik jendela usang, ada sebuah kisah yang tidak akan pernah kulupakan. Kisah tentang seorang anak pemulung yang bermimpi, berjuang, dan akhirnya, menjadi arsitek.
Other Stories
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...
The Fault
Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...