Pulang
Tahun-tahun berlalu dengan cepat. Aku tenggelam dalam dunia arsitektur, dari teori hingga praktik. Setiap harinya, aku bekerja keras, tidak hanya untuk diriku sendiri, tetapi juga untuk Ayah dan Ibu. Kemenangan demi kemenangan kuraih. Nilai terbaik di setiap semester, penghargaan untuk maket-maket inovatif yang kubuat dari bahan daur ulang hingga akhirnya, aku lulus dengan predikat terbaik.
Pada hari wisuda, aku tidak bisa menahan air mataku. Aku melihat Ayah dan Ibu duduk di kursi penonton. Pakaian mereka sederhana, tapi wajah mereka berseri-seri. Aku melihat mereka melambai, dan aku tahu, semua perjuangan ini adalah untuk mereka. Aku berjalan ke atas panggung, menerima ijazahku, dan berterima kasih pada semua orang yang membantuku, termasuk Ibu Lia dan Eka yang juga datang.
Setelah wisuda, aku tidak langsung bekerja. Aku ingin pulang. Aku ingin kembali ke gang sempit tempatku berasal. Aku ingin menunjukkan pada Ayah dan Ibu bahwa aku sudah menepati janjiku. Aku ingin kembali ke jendela usangku.
Ayah dan Ibu menyambutku di depan pintu. Mereka tidak berkata apa-apa. Mereka hanya memelukku erat-erat. Di dalam pelukan itu, aku tahu. Aku tidak hanya membawa gelar sarjana. Aku membawa kebahagiaan.
Aku masuk ke dalam rumah. Semuanya masih sama. Meja belajar reyot, lampu 5 watt yang redup, dan jendela usang yang selalu menemaniku. Aku duduk di meja belajar, menatap jendela itu. Aku tidak lagi melihat kemiskinan. Aku melihat sebuah kanvas, di mana aku akan melukis sebuah rumah. Rumah untuk Ayah dan Ibu.
Malam harinya, kami duduk di ruang tamu. Aku menceritakan semua pengalamanku di kota besar. Ayah dan Ibu mendengarkan dengan seksama, mata mereka berbinar-binar. Aku mengeluarkan sebuah amplop. Di dalamnya, ada uang. Uang itu bukan dari gajiku. Itu adalah uang yang kukumpulkan dari pekerjaan serabutan, hasil lomba, dan setiap pekerjaan yang kulakukan selama ini. Aku menyisihkannya, sedikit demi sedikit.
"Ini," kataku, "Ini uang untuk membangun rumah kita."
Ayah dan Ibu terdiam. Mereka menatap uang itu, lalu menatapku. Ibu menangis. Ayah tersenyum. "Kau sudah menjadi orang sukses, Nak," kata Ayah.
Aku menggeleng pelan, "Aku belum sukses, Yah. Aku akan sukses, jika aku sudah membuat Ayah dan Ibu bahagia."
Aku mulai merancang rumah baru kami. Rumah yang terbuat dari bahan-bahan daur ulang. Dinding dari botol plastik, atap dari seng bekas. Aku ingin membangun sebuah rumah yang tidak hanya kokoh, tetapi juga bermakna. Aku ingin rumah itu menjadi simbol dari perjuangan kami. Simbol bahwa dari hal yang dianggap tidak berguna, bisa tercipta sesuatu yang indah.
Dengan bantuan Ayah, kami mulai membangun. Aku memimpin, Ayah membantu. Kami adalah sebuah tim, seperti dulu. Kali ini, kami tidak hanya memperbaiki atap. Kami membangun sebuah impian.
Tentu saja, ada yang datang dan melihat. Riko, anak yang kini sudah bekerja di perusahaan ayahnya datang. Ia melihat kami bekerja, dan ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya melihat, lalu pergi. Tapi aku tahu, ia melihat sesuatu yang lebih dari sekadar bangunan. Ia melihat arti perjuangan.
Setelah beberapa bulan, rumah itu selesai. Rumah itu kecil, tapi indah. Dindingnya berwarna-warni dari botol-botol plastik yang berbeda, dan atapnya mengkilat dari seng-seng bekas yang sudah dibersihkan. Rumah itu adalah sebuah karya seni.
Pada hari pertama kami menempati rumah baru, kami duduk di ruang tamu. Aku menatap Ayah dan Ibu. Mata mereka dipenuhi kebahagiaan. Ibu menyentuh dinding, lalu tersenyum. "Nak," bisiknya, "Ini adalah rumah terindah di dunia."
Aku tahu, itu benar. Rumah ini bukan hanya sebuah bangunan. Rumah ini adalah simbol dari cinta, perjuangan, dan harapan. Aku menatap jendela. Itu bukan jendela usangku. Itu adalah jendela baru. Dan dari jendela itu, aku melihat dunia yang menanti.
Dunia yang akan kubangun, satu per satu, dengan tanganku sendiri. Aku tahu, ini bukanlah akhir dari segalanya. Ini hanyalah permulaan. Aku memiliki Ayah, Ibu, dan sebuah rumah yang kami bangun bersama. Itu sudah lebih dari cukup.
Other Stories
Hellend (noni Belanda)
Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
Padang Kuyang
Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...