Ryan Si Pemulung

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Ujian Pertama

Semester pertama di universitas terasa bagai badai yang tak kunjung usai. Setiap hari adalah tantangan baru. Aku harus beradaptasi dengan materi kuliah yang jauh lebih sulit, bersaing dengan mahasiswa yang memiliki latar belakang pendidikan dan ekonomi jauh lebih baik, dan terus menepis keraguan yang terkadang muncul di benakku.

Meskipun nilai maketku mendapatkan pujian, tidak serta-merta membuat jalanku mulus. Ada beberapa mata kuliah yang benar-benar menguras tenagaku, terutama yang berkaitan dengan matematika dan fisika tingkat lanjut. Aku menghabiskan malam-malamku di perpustakaan, membaca buku hingga larut malam. Jendela kamar asramaku, yang dulunya terasa begitu cerah, kini terasa seperti dinding kaca yang memisahkanku dari dunia luar. Dunia yang kutinggalkan, dan dunia yang belum sepenuhnya bisa kuraih.

Suatu hari, saat sedang mengerjakan tugas di perpustakaan, aku melihat Riko. Ia ternyata kuliah di universitas yang sama denganku, di fakultas bisnis. Ia melihatku, dan aku bisa melihat sedikit rasa canggung di matanya. Ia tidak lagi mengejek, tapi ia juga tidak menyapa. Kami hanya saling mengangguk, lalu kembali ke urusan masing-masing.

Perubahan ini terasa aneh. Ia tidak lagi menjadi musuh, tapi juga belum menjadi teman.
Aku merindukan Ayah, Ibu, dan Eka. Telepon dari rumah selalu menjadi penyemangat terbesarku. Aku menceritakan semua kesulitanku, dan mereka selalu mendengarkan dengan sabar. "Jangan menyerah, Nak," kata Ayah, "Perjuanganmu adalah kebanggaan kami." Ibu hanya berdoa, dan aku tahu, doa itu adalah kekuatan terbesarku.

Ujian akhir semester tiba. Aku merasa sangat cemas. Aku sudah belajar sekeras mungkin, tapi aku tidak tahu apakah itu cukup. Aku teringat pada ujian di sekolah dulu, dan merasakan ketegangan yang sama. Di malam sebelum ujian, aku tidak bisa tidur. Aku duduk di depan jendela, menatap kota yang berkelip. Aku merasa sendirian.

Namun, aku teringat pada sapu tangan yang diberikan Ibu. Aku mengambilnya dari laci, dan memegangnya erat-erat. Aroma sabun yang menenangkan, dan kehangatannya, membuatku merasa seperti Ibu ada di sampingku. Aku teringat pada kata-kata Ayah, "Badai ini tidak bisa menghancurkan kita."
Aku menarik napas panjang, lalu mengambil buku-buku yang kubawa dari rumah. Aku membaca kembali buku jalan menuju puncak. Kisah-kisah di dalamnya terasa lebih relevan dari sebelumnya. Kisah tentang kegagalan, tentang putus asa, dan bangkit kembali. Aku sadar, perjuanganku adalah bagian dari cerita itu. Aku tidak boleh menyerah.

Aku mulai belajar lagi. Kali ini, bukan karena terpaksa, tapi karena keyakinan. Aku yakin, aku bisa melewati ini. Aku yakin, aku bisa membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku layak.

Hari ujian pertama, aku masuk ke kelas dengan kepala tegak. Aku tidak lagi merasa takut. Aku tahu, aku sudah melakukan yang terbaik. Aku mengerjakan soal-soal dengan tenang, dan yakin dengan setiap jawaban yang kutulis.

Setelah ujian selesai, aku merasa lega. Apapun hasilnya, aku tahu, aku sudah berusaha sekuat tenaga. Dan itu sudah lebih dari cukup. Beberapa minggu kemudian, hasil ujian diumumkan. Aku melihat daftar nilai di papan pengumuman.

Tanganku bergetar saat aku mencari namaku. Aku menemukan namaku di deretan atas. Aku mendapatkan nilai A di semua mata kuliah. Jantungku berdebar kencang. Aku berhasil. Aku berhasil membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bisa bersaing dengan mereka.

Aku menelepon Ayah dan Ibu. Mereka menangis haru saat aku memberitahu mereka. "Nak, Ibu tahu. Ibu tahu kamu pasti berhasil," kata Ibu.

Kemenangan ini terasa berbeda dari kemenangan-kemenangan sebelumnya. Ini adalah kemenangan yang aku dapatkan di tanah asing, tanpa dukungan fisik dari orang-orang terkasih. Ini adalah bukti bahwa semangat dan keyakinan, bisa mengalahkan segala rintangan.

Aku kembali ke kamar. Aku menatap jendela. Pemandangan kota di luar terasa lebih indah dari sebelumnya. Aku tidak lagi melihatnya sebagai sesuatu yang asing. Aku melihatnya sebagai rumah baruku. Rumah di mana aku akan membangun masa depanku. Dan aku tidak lagi sendirian. Aku membawa Ayah, Ibu, Eka, dan semua perjuanganku bersamaku. Mereka adalah kekuatanku.


****

Setelah ujian selesai, aku memutuskan untuk tidak langsung pulang. Aku ingin menghabiskan liburan semester dengan bekerja dan mengumpulkan pengalaman. Aku mencari pekerjaan paruh waktu di sebuah toko buku, dan aku mulai membuat maket pesanan dari teman-teman di kampus. Aku tidak lagi takut kotor, atau malu. Aku bekerja dengan bangga.

Suatu hari, saat aku sedang menata buku di toko, seorang pelanggan datang. Ia adalah seorang arsitek terkenal yang karyanya seringkali kupelajari di kampus. Aku sangat gugup, tapi aku memberanikan diri untuk menyapanya.

"Selamat sore, Pak," kataku, "Ada yang bisa saya bantu?"
Ia menatapku, lalu tersenyum, "Kamu mahasiswa di Universitas Arsitektur, ya?" tanyanya. Aku mengangguk, "Saya melihat maketmu di pameran semester lalu. Ide turbin air dari bahan daur ulang itu sangat brilian. Saya ingin menawarkanmu magang di kantor saya."

Jantungku terasa berhenti, "Magang? Di kantornya? Aku tidak bisa berkata-kata. Ini adalah mimpi yang tak pernah kubayangkan akan menjadi kenyataan."

Aku menelepon Ayah dan Ibu malam itu. Mereka sangat senang. "Nak, Tuhan mengirimkan rezeki lagi untukmu," kata Ibu.

Magang itu membuka mataku pada dunia arsitektur yang sesungguhnya. Aku belajar bagaimana sebuah ide diubah menjadi sebuah bangunan. Aku belajar bagaimana mengukur, merancang, dan berkomunikasi dengan klien. Aku bekerja keras, siang dan malam. Aku tidak pernah mengeluh. Aku tahu, setiap tetes keringat adalah investasi untuk masa depan.

Ayah mengirimiku sapu tangan lain. Kali ini, ia menyertakan sebuah surat, "Nak, Ayah bangga padamu. Teruslah berjuang. Kau akan menjadi arsitek hebat."

Aku tahu, sapu tangan itu bukan hanya sebuah kain. Itu adalah simbol dari harapan. Harapan yang Ayah dan Ibu tanamkan dalam diriku.
Di akhir magang, arsitek itu memanggilku. "Ryan," katanya, "Kamu adalah salah satu mahasiswa terbaik yang pernah bekerja di kantor saya. Setelah kamu lulus, saya ingin kamu bergabung dengan tim saya."

Aku tersenyum. Aku tidak bisa menahan air mataku. Semua perjuanganku, semua pengorbananku, air mata Ayah dan Ibu tidak sia-sia.

Aku tahu, ini bukanlah akhir dari segalanya. Ini hanyalah permulaan. Aku memiliki Ayah, Ibu, Eka, dan kini, seorang mentor yang percaya padaku. Aku tidak lagi sendirian. Aku memiliki tim yang akan membantuku membangun masa depan.

Aku kembali ke kamar asrama. Aku menatap jendela. Pemandangan kota di luar terlihat lebih indah dari sebelumnya. Aku tidak lagi melihatnya sebagai sesuatu yang tidak bisa kuraih. Aku melihatnya sebagai kanvas. Kanvas di mana aku akan menciptakan sebuah karya. Karya yang tidak hanya indah, tetapi juga bermakna.

Other Stories
Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...

Pintu Dunia Lain

Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...

Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Kuntilanak Gaul

Rasa cemburu membuat Lydia benci kepada Reisha. Dia tidak bisa terima saat Edward, cowok y ...

Dengan Ini Saya Terima Nikahnya

Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...

Download Titik & Koma