Kota Yang Menyilaukan
Aku tiba di kota besar, sebuah tempat yang jauh lebih megah dari yang kulihat dari balik jendela kamarku. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, menembus awan. Lampu-lampu kota berkelip seperti bintang yang tumpah ke bumi. Suara klakson mobil, hiruk pikuk orang-orang, semua terasa asing dan menyesakkan. Aku merasa begitu kecil dan sendirian di tengah keramaian ini.
Aku mencari alamat asrama yang tertera di surat beasiswa. Setelah berjam-jam berjalan, aku akhirnya tiba. Gedung asrama itu sangat besar dan modern, dengan pintu kaca yang otomatis terbuka. Aku merasa ragu-ragu.
Aku menatap diriku di pantulan kaca, seragam sekolahku yang usang, tas lusuh Ayah di punggungku, dan sepatu kebesaran yang diberikan oleh tetangga. Aku merasa tidak pantas berada di tempat ini.
Namun, aku teringat wajah Ayah dan Ibu. Aku ingat janji yang telah kubuat pada mereka. Aku menarik napas dalam, lalu melangkah masuk.
Di dalam, aku disambut oleh seorang petugas. "Selamat datang di Universitas Arsitektur," katanya ramah, "Kamu pasti Ryan mahasiswa penerima beasiswa penuh." Aku mengangguk. Petugas itu mengantarkanku ke kamar. Kamar itu kecil, tapi bersih. Ada satu tempat tidur, satu meja belajar, dan satu jendela besar. Jendela itu tidak usang. Jendela itu bersih, dan pemandangannya adalah kota yang menyilaukan.
Aku duduk di meja belajar, mengeluarkan buku-buku dan menatanya rapi. Buku jalan menuju puncak yang usang, buku arsitektur dari Ibu Lia, dan buku baru dari Riko. Semuanya memiliki tempatnya sendiri. Aku menatap jendela. Pemandangan kota yang sibuk terasa begitu nyata. Itu adalah dunia yang ingin kubangun.
Hari-hari pertama di universitas terasa sangat berat. Mahasiswa lain terlihat jauh lebih pintar dan canggih dariku. Mereka berbicara tentang hal-hal yang tidak kumengerti, dan mereka memiliki gadget-gadget modern yang tidak pernah kulihat. Aku merasa seperti orang asing.
Suatu hari, saat kelas arsitektur, dosen memberikan tugas. Kami harus membuat maket bangunan dari bahan-bahan yang kami beli sendiri. Aku tahu, aku tidak punya uang untuk membeli bahan-bahan mahal. Aku merasa putus asa.
Namun, aku teringat pada Ayah dan pekerjaannya. Aku teringat pada proyek turbin airku yang terbuat dari sampah. Aku tahu, tidak harus membeli bahan-bahan mahal. Aku bisa membuatnya sendiri.
Aku mulai berkeliling kota, mencari bahan-bahan daur ulang. Aku mencari kardus bekas dari minimarket, botol plastik dari tempat sampah, dan kawat-kawat bekas dari tukang rongsokan. Aku bekerja diam-diam, saat malam tiba, orang-orang lain sudah tidur.
Tentu saja, ada yang melihatku. Mahasiswa lain menatapku dengan aneh. Mereka berbisik-bisik, "Lihat itu, dia mau buat maket dari sampah."
Bisikan itu tidak lagi mempengaruhiku. Aku tahu, mereka tidak mengerti. Mereka tidak tahu apa artinya berjuang dari nol. Mereka tidak tahu bahwa dari hal yang dianggap sampah oleh mereka bisa tercipta sesuatu yang bernilai.
Aku menghabiskan berminggu-minggu untuk mengerjakan maketku. Aku membuat sebuah maket rumah yang ramah lingkungan dengan dinding dari botol plastik, dan atap dari seng bekas. Itu adalah maket yang paling unik dan paling sederhana di kelas.
Pada hari pengumpulan, maket-maket lain terlihat canggih. Ada yang terbuat dari kayu mahal, ada yang terbuat dari besi. Maketku, yang terbuat dari sampah terlihat sangat berbeda.
Namun, dosenku melihatnya. Ia mendekat, memperhatikan setiap detailnya. Ia menyentuh dinding botol plastik, dan mengamati atap seng. Ia tidak menunjukkan rasa jijik atau meremehkan. Ia hanya tersenyum.
"Ide yang sangat brilian, Ryan," katanya, "Ini adalah arsitektur masa depan. Arsitektur yang tidak hanya membangun, tetapi juga menyelamatkan bumi."
Kata-kata itu bagaikan siraman air sejuk di tengah gurun. Aku merasa semua kerja kerasku terbayar lunas.
Aku tidak lagi merasa kecil. Aku merasa bangga. Bangga pada diriku, Ayah dan Ibu, dan pekerjaanku sebagai anak pemulung.
Aku tahu, ini hanya sebuah langkah kecil. Tapi langkah ini adalah bukti bahwa aku bisa. Bukti bahwa perjuangan kami tidak akan sia-sia. Jendela kamarku tidak lagi menyilaukan. Jendela itu kini terasa seperti cermin, yang memantulkan bayangan diriku yang kuat, gigih, dan siap menghadapi dunia.
****
Nilai maketku menjadi yang tertinggi di kelas, dan aku mendapatkan banyak pujian dari dosen dan teman-teman. Beberapa dari mereka, yang tadinya menertawakanku, kini mulai bertanya tentang ide-ideku. Aku dengan senang hati menjelaskan. Aku tidak lagi merasa malu dengan pekerjaanku sebagai pemulung. Justru, aku merasa bangga. Pekerjaan itu telah memberiku wawasan dan ide-ide yang tidak bisa didapatkan dari buku mana pun.
Di tengah kesibukanku, aku tidak pernah lupa menelepon Ayah dan Ibu. Mereka selalu menunggu kabarku dengan cemas. Aku menceritakan semua yang terjadi: tentang maketku, tentang nilai-nilaiku, dan tentang teman-teman baruku. Mereka mendengarkan dengan penuh kebahagiaan.
"Ibu selalu tahu, Nak," kata Ibu dengan suara bergetar, "Doa Ibu selalu menyertaimu."
Suatu hari, aku mendapatkan kiriman dari rumah. Sebuah paket kecil. Aku membukanya, dan di dalamnya, ada sebuah sapu tangan yang dilipat rapi. Aroma sabun cuci yang khas, aroma yang selalu kurindukan. Ada sebuah surat kecil yang ditulis tangan oleh Ibu, "Nak, jaga kesehatanmu. Ibu selalu mendoakanmu. Sapu tangan ini, Ibu buat dari sisa-sisa kain yang Ibu temukan. Semoga bisa menghapus keringatmu."
Air mataku menetes. Ibu, ia tidak pernah berhenti berkorban. Sapu tangan itu, yang terbuat dari sisa-sisa kain, adalah hadiah terindah yang pernah kuterima. Itu adalah simbol cinta, pengorbanan, dan dukungan yang tak pernah pudar.
Di kampus, aku tidak lagi merasa sendirian. Aku memiliki teman-teman baru yang menghargaiku. Aku memiliki dosen yang percaya padaku. Aku memiliki sebuah mimpi yang kini terasa semakin nyata.
Suatu malam, aku duduk di depan jendela kamarku. Aku menatap pemandangan kota yang menyala. Dulu, aku hanya melihatnya dari balik jendela usang di kamarku. Kini, aku berada di dalamnya. Aku adalah bagian dari dunia itu. Aku tidak lagi hanya melihat. Aku akan membangunnya.
Aku tahu, jalan ini masih panjang. Akan ada banyak rintangan yang harus kuhadapi. Tapi aku tidak takut. Karena aku tahu di belakangku, ada Ayah yang gigih, Ibu yang penuh doa, dan sebuah sapu tangan kecil yang selalu mengingatkanku tentang dari mana aku berasal. Dan di depan sana, ada sebuah masa depan yang menunggu untuk kubangun, satu per satu dengan tanganku sendiri.
Aku mencari alamat asrama yang tertera di surat beasiswa. Setelah berjam-jam berjalan, aku akhirnya tiba. Gedung asrama itu sangat besar dan modern, dengan pintu kaca yang otomatis terbuka. Aku merasa ragu-ragu.
Aku menatap diriku di pantulan kaca, seragam sekolahku yang usang, tas lusuh Ayah di punggungku, dan sepatu kebesaran yang diberikan oleh tetangga. Aku merasa tidak pantas berada di tempat ini.
Namun, aku teringat wajah Ayah dan Ibu. Aku ingat janji yang telah kubuat pada mereka. Aku menarik napas dalam, lalu melangkah masuk.
Di dalam, aku disambut oleh seorang petugas. "Selamat datang di Universitas Arsitektur," katanya ramah, "Kamu pasti Ryan mahasiswa penerima beasiswa penuh." Aku mengangguk. Petugas itu mengantarkanku ke kamar. Kamar itu kecil, tapi bersih. Ada satu tempat tidur, satu meja belajar, dan satu jendela besar. Jendela itu tidak usang. Jendela itu bersih, dan pemandangannya adalah kota yang menyilaukan.
Aku duduk di meja belajar, mengeluarkan buku-buku dan menatanya rapi. Buku jalan menuju puncak yang usang, buku arsitektur dari Ibu Lia, dan buku baru dari Riko. Semuanya memiliki tempatnya sendiri. Aku menatap jendela. Pemandangan kota yang sibuk terasa begitu nyata. Itu adalah dunia yang ingin kubangun.
Hari-hari pertama di universitas terasa sangat berat. Mahasiswa lain terlihat jauh lebih pintar dan canggih dariku. Mereka berbicara tentang hal-hal yang tidak kumengerti, dan mereka memiliki gadget-gadget modern yang tidak pernah kulihat. Aku merasa seperti orang asing.
Suatu hari, saat kelas arsitektur, dosen memberikan tugas. Kami harus membuat maket bangunan dari bahan-bahan yang kami beli sendiri. Aku tahu, aku tidak punya uang untuk membeli bahan-bahan mahal. Aku merasa putus asa.
Namun, aku teringat pada Ayah dan pekerjaannya. Aku teringat pada proyek turbin airku yang terbuat dari sampah. Aku tahu, tidak harus membeli bahan-bahan mahal. Aku bisa membuatnya sendiri.
Aku mulai berkeliling kota, mencari bahan-bahan daur ulang. Aku mencari kardus bekas dari minimarket, botol plastik dari tempat sampah, dan kawat-kawat bekas dari tukang rongsokan. Aku bekerja diam-diam, saat malam tiba, orang-orang lain sudah tidur.
Tentu saja, ada yang melihatku. Mahasiswa lain menatapku dengan aneh. Mereka berbisik-bisik, "Lihat itu, dia mau buat maket dari sampah."
Bisikan itu tidak lagi mempengaruhiku. Aku tahu, mereka tidak mengerti. Mereka tidak tahu apa artinya berjuang dari nol. Mereka tidak tahu bahwa dari hal yang dianggap sampah oleh mereka bisa tercipta sesuatu yang bernilai.
Aku menghabiskan berminggu-minggu untuk mengerjakan maketku. Aku membuat sebuah maket rumah yang ramah lingkungan dengan dinding dari botol plastik, dan atap dari seng bekas. Itu adalah maket yang paling unik dan paling sederhana di kelas.
Pada hari pengumpulan, maket-maket lain terlihat canggih. Ada yang terbuat dari kayu mahal, ada yang terbuat dari besi. Maketku, yang terbuat dari sampah terlihat sangat berbeda.
Namun, dosenku melihatnya. Ia mendekat, memperhatikan setiap detailnya. Ia menyentuh dinding botol plastik, dan mengamati atap seng. Ia tidak menunjukkan rasa jijik atau meremehkan. Ia hanya tersenyum.
"Ide yang sangat brilian, Ryan," katanya, "Ini adalah arsitektur masa depan. Arsitektur yang tidak hanya membangun, tetapi juga menyelamatkan bumi."
Kata-kata itu bagaikan siraman air sejuk di tengah gurun. Aku merasa semua kerja kerasku terbayar lunas.
Aku tidak lagi merasa kecil. Aku merasa bangga. Bangga pada diriku, Ayah dan Ibu, dan pekerjaanku sebagai anak pemulung.
Aku tahu, ini hanya sebuah langkah kecil. Tapi langkah ini adalah bukti bahwa aku bisa. Bukti bahwa perjuangan kami tidak akan sia-sia. Jendela kamarku tidak lagi menyilaukan. Jendela itu kini terasa seperti cermin, yang memantulkan bayangan diriku yang kuat, gigih, dan siap menghadapi dunia.
****
Nilai maketku menjadi yang tertinggi di kelas, dan aku mendapatkan banyak pujian dari dosen dan teman-teman. Beberapa dari mereka, yang tadinya menertawakanku, kini mulai bertanya tentang ide-ideku. Aku dengan senang hati menjelaskan. Aku tidak lagi merasa malu dengan pekerjaanku sebagai pemulung. Justru, aku merasa bangga. Pekerjaan itu telah memberiku wawasan dan ide-ide yang tidak bisa didapatkan dari buku mana pun.
Di tengah kesibukanku, aku tidak pernah lupa menelepon Ayah dan Ibu. Mereka selalu menunggu kabarku dengan cemas. Aku menceritakan semua yang terjadi: tentang maketku, tentang nilai-nilaiku, dan tentang teman-teman baruku. Mereka mendengarkan dengan penuh kebahagiaan.
"Ibu selalu tahu, Nak," kata Ibu dengan suara bergetar, "Doa Ibu selalu menyertaimu."
Suatu hari, aku mendapatkan kiriman dari rumah. Sebuah paket kecil. Aku membukanya, dan di dalamnya, ada sebuah sapu tangan yang dilipat rapi. Aroma sabun cuci yang khas, aroma yang selalu kurindukan. Ada sebuah surat kecil yang ditulis tangan oleh Ibu, "Nak, jaga kesehatanmu. Ibu selalu mendoakanmu. Sapu tangan ini, Ibu buat dari sisa-sisa kain yang Ibu temukan. Semoga bisa menghapus keringatmu."
Air mataku menetes. Ibu, ia tidak pernah berhenti berkorban. Sapu tangan itu, yang terbuat dari sisa-sisa kain, adalah hadiah terindah yang pernah kuterima. Itu adalah simbol cinta, pengorbanan, dan dukungan yang tak pernah pudar.
Di kampus, aku tidak lagi merasa sendirian. Aku memiliki teman-teman baru yang menghargaiku. Aku memiliki dosen yang percaya padaku. Aku memiliki sebuah mimpi yang kini terasa semakin nyata.
Suatu malam, aku duduk di depan jendela kamarku. Aku menatap pemandangan kota yang menyala. Dulu, aku hanya melihatnya dari balik jendela usang di kamarku. Kini, aku berada di dalamnya. Aku adalah bagian dari dunia itu. Aku tidak lagi hanya melihat. Aku akan membangunnya.
Aku tahu, jalan ini masih panjang. Akan ada banyak rintangan yang harus kuhadapi. Tapi aku tidak takut. Karena aku tahu di belakangku, ada Ayah yang gigih, Ibu yang penuh doa, dan sebuah sapu tangan kecil yang selalu mengingatkanku tentang dari mana aku berasal. Dan di depan sana, ada sebuah masa depan yang menunggu untuk kubangun, satu per satu dengan tanganku sendiri.
Other Stories
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Dari Luka Menjadi Cahaya
Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...
Katamu Aku Cantik
Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...
Melepasmu Untuk Sementara
Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...