Uang Di Bawah Bantal
Malam itu, setelah seharian penuh dengan pekerjaan serabutan dan membantu Ayah, tubuhku terasa sangat lelah. Aku berbaring di kasur, mencoba memejamkan mata, tapi pikiranku terus berputar. Aku memikirkan atap rumah kami yang masih bocor, dan wajah Ayah yang lelah saat memperbaikinya. Aku tahu, uang yang kusimpan di celengan kaleng masih belum cukup untuk membiayai perbaikan. Ada rasa putus asa yang menyelinap. Aku sudah bekerja keras, tapi rasanya semua itu tidak pernah cukup.
Cklak!
Tiba-tiba, pintu kamarku terbuka. Ibu masuk, dengan senyum tipis di wajahnya. Ia duduk di pinggir kasur, dan mengusap kepalaku. Tangannya terasa kasar, tapi hangat. "Ryan," bisiknya pelan, "Ibu ingin menunjukkan sesuatu."
Ia mengambil sebuah kotak kecil dari bawah bantalnya. Kotak itu terlihat sudah tua, dengan sedikit karat di beberapa sudutnya.
Aku menatapnya bingung. Ibu membuka kotak itu, dan di dalamnya terdapat beberapa lembar uang yang terlipat rapi. Uang itu terlihat kusut dan usang, seolah-olah sudah lama disimpan.
"Ini," katanya, lalu ia mengambil uang itu dan memberikannya padaku, "Ini tabungan Ibu."
Aku menatapnya, tidak mengerti. "Tabungan apa, Bu?" tanyaku.
"Setiap kali Ibu mencuci pakaian tetangga, Ibu selalu menyisihkan sedikit uang. Bukan untuk membeli makanan, atau baju. Tapi untukmu, Nak. Untuk masa depanmu."
Jantungku terasa berhenti. Ibu mengumpulkan uang ini dari keringatnya sendiri. Dari setiap pakaian yang ia cuci, gosokan yang ia berikan. Ia melakukan itu diam-diam, tanpa pernah memberitahuku.
"Ambil, Nak," kata Ibu lagi, suaranya bergetar, "Gunakan ini untuk perbaikan atap. Ibu tidak mau Ayah sakit karena kedinginan lagi."
Air mataku tumpah. Aku menggeleng, "Tidak, Bu. Ini uang Ibu. Uang ini lebih berharga dari apa pun. Ibu yang harus menyimpannya."
"Tidak, Nak," kata Ibu dengan tegas, "Uang ini adalah milikmu. Ini adalah hasil dari doa Ibu. Ini adalah bukti bahwa Ibu percaya padamu. Ibu tidak butuh apa-apa, Nak. Ibu hanya butuh melihatmu berhasil."
Aku memeluk Ibu erat-erat. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Tenggorokanku tercekat. Pengorbanan mereka terasa begitu besar, begitu tulus. Aku tahu, Ayah dan Ibu tidak hanya memberiku hidup. Mereka memberiku segalanya. Mereka memberiku harapan, cinta, dan dukungan yang tak terhingga.
Malam itu, di bawah cahaya lampu 5 watt, aku memegang uang itu. Uang itu terasa berat di tanganku. Itu bukan hanya uang. Itu adalah cinta. Itu adalah pengorbanan. Itu adalah harapan.
Aku tidak bisa tidur malam itu. Pikiranku terus memutar kembali setiap kenangan. Ibu yang mencuci pakaian hingga larut malam. Ayah yang pulang dengan wajah lelah. Mereka tidak pernah mengeluh. Mereka selalu tersenyum. Dan semua itu, mereka lakukan untukku.
Keesokan harinya, aku mengambil uang dari Ibu, ditambah dengan uang dari celengan kalengku. Aku pergi ke toko bahan bangunan dan membeli semua yang kami butuhkan untuk memperbaiki atap.
Dengan bantuan Ayah, kami memperbaiki atap rumah kami. Kami bekerja sama, Ayah memotong kayu, dan tugasku memaku. Setiap paku yang kutancapkan, aku membayangkan itu adalah paku yang menancapkan impian kami.
Ketika kami selesai, atap rumah kami terlihat baru. Tidak ada lagi celah, tidak ada lagi kebocoran. Ibu melihatnya, dan ia tersenyum. Senyum itu adalah senyum paling tulus yang pernah kulihat.
Malam itu, saat hujan turun, kami duduk di ruang tamu. Suara air hujan tidak lagi mengganggu. Aku tidak lagi melihat tetesan air yang menetes dari atap. Aku melihat kehangatan. Aku melihat kebahagiaan.
Aku tahu, uang yang diberikan Ibu adalah uang yang paling berharga dalam hidupku. Itu adalah uang yang dibayar dengan cinta, dan pengorbanan. Dan itu, adalah kekayaan yang tidak akan pernah bisa diukur dengan apa pun. Aku tidak lagi merasa miskin. Aku merasa menjadi orang paling kaya di dunia. Karena aku memiliki Ayah dan Ibu. Mereka adalah harta karunku yang paling berharga.
****
Setelah perbaikan atap, ada aura baru di dalam rumah kami. Setiap kali aku memandang langit-langit, aku tidak lagi melihat kelemahan. Aku melihat kekuatan. Aku melihat kerja sama, dan ada cinta.
Aku kembali ke rutinitas sekolah, tapi dengan semangat yang lebih besar. Aku tahu, setiap pelajaran yang kupelajari, buku yang kubaca, adalah bagian dari janji yang kubuat pada Ayah dan Ibu. Janji untuk memberikan mereka kehidupan yang lebih baik.
Di sekolah, aku semakin fokus. Aku mulai bergabung dengan klub sains, tempat aku bisa menguji ide-ideku. Aku membuat prototipe kecil dari turbin air yang lebih canggih, menggunakan bahan-bahan yang lebih baik. Teman-teman di klub sangat terkesan. Mereka melihatku bukan sebagai anak yang miskin, tetapi sebagai seorang yang punya ide-ide brilian.
Suatu hari, seorang teman sekelas bernama Eka menghampiriku. Ia adalah anak yang cerdas dan pendiam, dan aku jarang berbicara dengannya. "Ryan," katanya, "Saya melihat proyek-proyekmu. Kamu hebat. Boleh saya bantu?"
Aku terkejut. Eka adalah salah satu siswa terbaik di kelas, dan ia ingin membantuku, "Kenapa?" tanyaku.
"Karena saya percaya, ide-idemu bisa mengubah dunia," jawabnya dengan tulus, "Kamu tidak hanya membuat proyek, kamu membuat harapan."
Aku tersenyum. Aku tidak pernah menyangka, di tengah semua cemoohan, ada seseorang yang melihatku dengan tulus. Sejak itu, Eka menjadi teman baikku. Ia sering membantuku dalam pelajaran yang sulit, dan aku membantunya dengan ide-ide kreatif. Kami adalah tim yang sempurna.
Kehidupanku berubah total. Jendela usang di kamarku tidak lagi menjadi simbol batasan. Jendela itu kini menjadi saksi bisu dari semua yang telah kulalui.
Di balik jendela itu, aku tidak lagi melihat dunia yang tidak bisa kuraih. Aku melihat dunia yang menunggu untuk kubangun, satu per satu, dengan tanganku sendiri. Aku tahu, perjalanan masih panjang. Tapi aku tidak takut. Aku memiliki cinta Ayah, doa Ibu, dan seorang teman yang percaya padaku. Itu sudah lebih dari cukup.
Cklak!
Tiba-tiba, pintu kamarku terbuka. Ibu masuk, dengan senyum tipis di wajahnya. Ia duduk di pinggir kasur, dan mengusap kepalaku. Tangannya terasa kasar, tapi hangat. "Ryan," bisiknya pelan, "Ibu ingin menunjukkan sesuatu."
Ia mengambil sebuah kotak kecil dari bawah bantalnya. Kotak itu terlihat sudah tua, dengan sedikit karat di beberapa sudutnya.
Aku menatapnya bingung. Ibu membuka kotak itu, dan di dalamnya terdapat beberapa lembar uang yang terlipat rapi. Uang itu terlihat kusut dan usang, seolah-olah sudah lama disimpan.
"Ini," katanya, lalu ia mengambil uang itu dan memberikannya padaku, "Ini tabungan Ibu."
Aku menatapnya, tidak mengerti. "Tabungan apa, Bu?" tanyaku.
"Setiap kali Ibu mencuci pakaian tetangga, Ibu selalu menyisihkan sedikit uang. Bukan untuk membeli makanan, atau baju. Tapi untukmu, Nak. Untuk masa depanmu."
Jantungku terasa berhenti. Ibu mengumpulkan uang ini dari keringatnya sendiri. Dari setiap pakaian yang ia cuci, gosokan yang ia berikan. Ia melakukan itu diam-diam, tanpa pernah memberitahuku.
"Ambil, Nak," kata Ibu lagi, suaranya bergetar, "Gunakan ini untuk perbaikan atap. Ibu tidak mau Ayah sakit karena kedinginan lagi."
Air mataku tumpah. Aku menggeleng, "Tidak, Bu. Ini uang Ibu. Uang ini lebih berharga dari apa pun. Ibu yang harus menyimpannya."
"Tidak, Nak," kata Ibu dengan tegas, "Uang ini adalah milikmu. Ini adalah hasil dari doa Ibu. Ini adalah bukti bahwa Ibu percaya padamu. Ibu tidak butuh apa-apa, Nak. Ibu hanya butuh melihatmu berhasil."
Aku memeluk Ibu erat-erat. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Tenggorokanku tercekat. Pengorbanan mereka terasa begitu besar, begitu tulus. Aku tahu, Ayah dan Ibu tidak hanya memberiku hidup. Mereka memberiku segalanya. Mereka memberiku harapan, cinta, dan dukungan yang tak terhingga.
Malam itu, di bawah cahaya lampu 5 watt, aku memegang uang itu. Uang itu terasa berat di tanganku. Itu bukan hanya uang. Itu adalah cinta. Itu adalah pengorbanan. Itu adalah harapan.
Aku tidak bisa tidur malam itu. Pikiranku terus memutar kembali setiap kenangan. Ibu yang mencuci pakaian hingga larut malam. Ayah yang pulang dengan wajah lelah. Mereka tidak pernah mengeluh. Mereka selalu tersenyum. Dan semua itu, mereka lakukan untukku.
Keesokan harinya, aku mengambil uang dari Ibu, ditambah dengan uang dari celengan kalengku. Aku pergi ke toko bahan bangunan dan membeli semua yang kami butuhkan untuk memperbaiki atap.
Dengan bantuan Ayah, kami memperbaiki atap rumah kami. Kami bekerja sama, Ayah memotong kayu, dan tugasku memaku. Setiap paku yang kutancapkan, aku membayangkan itu adalah paku yang menancapkan impian kami.
Ketika kami selesai, atap rumah kami terlihat baru. Tidak ada lagi celah, tidak ada lagi kebocoran. Ibu melihatnya, dan ia tersenyum. Senyum itu adalah senyum paling tulus yang pernah kulihat.
Malam itu, saat hujan turun, kami duduk di ruang tamu. Suara air hujan tidak lagi mengganggu. Aku tidak lagi melihat tetesan air yang menetes dari atap. Aku melihat kehangatan. Aku melihat kebahagiaan.
Aku tahu, uang yang diberikan Ibu adalah uang yang paling berharga dalam hidupku. Itu adalah uang yang dibayar dengan cinta, dan pengorbanan. Dan itu, adalah kekayaan yang tidak akan pernah bisa diukur dengan apa pun. Aku tidak lagi merasa miskin. Aku merasa menjadi orang paling kaya di dunia. Karena aku memiliki Ayah dan Ibu. Mereka adalah harta karunku yang paling berharga.
****
Setelah perbaikan atap, ada aura baru di dalam rumah kami. Setiap kali aku memandang langit-langit, aku tidak lagi melihat kelemahan. Aku melihat kekuatan. Aku melihat kerja sama, dan ada cinta.
Aku kembali ke rutinitas sekolah, tapi dengan semangat yang lebih besar. Aku tahu, setiap pelajaran yang kupelajari, buku yang kubaca, adalah bagian dari janji yang kubuat pada Ayah dan Ibu. Janji untuk memberikan mereka kehidupan yang lebih baik.
Di sekolah, aku semakin fokus. Aku mulai bergabung dengan klub sains, tempat aku bisa menguji ide-ideku. Aku membuat prototipe kecil dari turbin air yang lebih canggih, menggunakan bahan-bahan yang lebih baik. Teman-teman di klub sangat terkesan. Mereka melihatku bukan sebagai anak yang miskin, tetapi sebagai seorang yang punya ide-ide brilian.
Suatu hari, seorang teman sekelas bernama Eka menghampiriku. Ia adalah anak yang cerdas dan pendiam, dan aku jarang berbicara dengannya. "Ryan," katanya, "Saya melihat proyek-proyekmu. Kamu hebat. Boleh saya bantu?"
Aku terkejut. Eka adalah salah satu siswa terbaik di kelas, dan ia ingin membantuku, "Kenapa?" tanyaku.
"Karena saya percaya, ide-idemu bisa mengubah dunia," jawabnya dengan tulus, "Kamu tidak hanya membuat proyek, kamu membuat harapan."
Aku tersenyum. Aku tidak pernah menyangka, di tengah semua cemoohan, ada seseorang yang melihatku dengan tulus. Sejak itu, Eka menjadi teman baikku. Ia sering membantuku dalam pelajaran yang sulit, dan aku membantunya dengan ide-ide kreatif. Kami adalah tim yang sempurna.
Kehidupanku berubah total. Jendela usang di kamarku tidak lagi menjadi simbol batasan. Jendela itu kini menjadi saksi bisu dari semua yang telah kulalui.
Di balik jendela itu, aku tidak lagi melihat dunia yang tidak bisa kuraih. Aku melihat dunia yang menunggu untuk kubangun, satu per satu, dengan tanganku sendiri. Aku tahu, perjalanan masih panjang. Tapi aku tidak takut. Aku memiliki cinta Ayah, doa Ibu, dan seorang teman yang percaya padaku. Itu sudah lebih dari cukup.
Other Stories
Reuni
Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...