Ryan Si Pemulung

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Dukungan Dari Ibu

Kemenangan di ujian akhir semester terasa seperti mimpi. Peringkat ketiga di seluruh sekolah. Sebuah pencapaian yang tadinya hanya bisa kulihat dari balik jendela kamarku. Namun, kebahagiaan itu tidak membuatku lengah. Aku tahu, ini hanya sebuah langkah kecil dari perjalanan panjang. Malam itu, setelah kami merayakan dengan nasi goreng spesial, aku kembali ke kamar.


Cklak!


Ibu masuk membawakanku secangkir teh hangat. Ia duduk di pinggir kasur, menatapku dengan tatapan yang penuh kasih.

"Nak," bisiknya lembut, "Ibu tidak bisa memberimu uang banyak, tidak bisa membelikanmu pakaian bagus seperti teman-temanmu. Ibu hanya bisa memberimu doa."

Aku menatapnya. Wajahnya yang keriput karena usia dan kerja keras, tangannya yang kasar karena setiap hari mencuci pakaian orang, adalah bukti nyata dari pengorbanan yang tak terhitung jumlahnya. Ibu tidak pernah mengeluh. Ia selalu tersenyum, meskipun aku tahu ia lelah.

"Doa Ibu," lanjutnya, "adalah kekuatan terbesarmu. Itu adalah bahan bakar yang membuatmu terus melangkah. Ketika kamu merasa lelah, ingatlah bahwa Ibu selalu mendoakanmu. Ketika kamu merasa putus asa, ingatlah bahwa Ibu selalu ada di belakangmu."

Air mataku menetes. Aku tidak tahu harus berkata apa. Selama ini, aku hanya fokus pada Ayah, pada kerja kerasnya, pada kata-kata bijaknya. Aku lupa, ada Ibu yang juga berjuang, dengan caranya sendiri.

Dengan doa, dengan kasih sayang, dengan dukungan yang tak terlihat.
"Ibu tahu, Ryan," kata Ibu lagi, "Jalanmu tidak akan mudah. Tapi Ibu percaya, kamu akan berhasil. Karena kamu punya hati yang baik, dan semangat yang kuat."

Aku memeluk Ibu erat-erat. Pelukan itu terasa begitu hangat, begitu menenangkan. Semua rasa lelah, semua rasa sakit, semua keraguan yang masih tersisa, seolah sirna dalam pelukannya. Aku sadar, Ayah memberiku kekuatan dari luar, dengan kata-kata dan perbuatannya. Tapi Ibu, ia memberiku kekuatan dari dalam, dengan doa dan cintanya.

Malam itu, aku tidak hanya tidur dengan nyenyak, tapi juga dengan hati yang damai. Aku tahu, aku tidak pernah sendirian. Aku memiliki dua pilar yang kuat, dua pahlawan yang tidak terlihat. Ayah dan Ibu. Mereka adalah alasan mengapa aku berjuang. Mereka adalah alasan mengapa aku bisa berdiri tegak.

Keesokan harinya, aku kembali ke rutinitas. Pagi buta, aku sudah terbangun. Malam harinya, aku menghabiskan waktu dengan buku-buku. Tetapi kali ini, ada yang berbeda. Di setiap halaman yang kubaca, rumus yang kupecahkan, aku bisa merasakan doa Ibu. Di setiap sketsa yang kugambar, aku bisa merasakan ada cinta Ayah.

Aku tahu, dukungan tak terlihat itu, jauh lebih berharga dari uang. Itu adalah kekuatan sejati yang akan membawaku lebih tinggi, lebih jauh, dari apa yang bisa kubayangkan.

****

Setelah percakapan dengan Ibu, aku merasa memiliki tujuan yang lebih besar dari sekadar impian pribadi. Aku tidak hanya berjuang untuk diriku sendiri, tetapi juga untuk membalas kebaikan dan pengorbanan mereka.

Setiap malam, saat aku merasa lelah dan kantuk menyerang, aku memandangi wajah Ibu yang sedang terlelap. Aku membayangkan suatu hari nanti akan membangun sebuah rumah yang layak untuknya, sebuah rumah di mana ia tidak perlu lagi mencuci pakaian orang lain.

Motivasi baru itu membuatku semakin giat. Aku mulai mencari pekerjaan tambahan. Bukan hanya membantu Ayah memulung, tetapi juga pekerjaan lain yang bisa kulakukan di sela-sela waktu. Aku menjadi tukang cuci motor di gang, membantu tetangga mengangkat galon air, atau membantu ibu-ibu di warung. Setiap koin yang kudapatkan, kusimpan di celengan kaleng. Jumlahnya tidak seberapa, tetapi rasanya sangat berarti.

Suatu hari, aku mendapati Ayah sedang memperbaiki atap rumah yang bocor. Ia sendirian, dan aku bisa melihat betapa lelahnya ia. Aku mendekat, lalu mengambil alih palu dari tangannya. "Biar aku saja, Yah," kataku. Ayah menolak, "Ini berat, Nak."

Tapi aku bersikeras. Aku ingin membuktikan padanya bahwa aku juga bisa membantu. Dengan susah payah, aku membetulkan atap yang lapuk. Ketika selesai, tanganku lecet, tapi hatiku bangga. Ayah menatapku, matanya berkaca-kaca.
"Kau benar-benar sudah dewasa, Nak," bisiknya.
Aku tersenyum. "Ini semua berkat Ayah dan Ibu," kataku, "Kalianlah yang mengajari aku cara berjuang."

Dukungan orang tua adalah anugerah terbesar dalam hidupku. Mereka tidak pernah memaksaku, mereka tidak pernah menuntutku.

Mereka hanya memberikan cinta dan doa, dan itu sudah lebih dari cukup. Jendela usang di kamarku tidak lagi menjadi batasan. Jendela itu kini menjadi sebuah layar yang menampilkan kisah perjuangan Ayah dan Ibu, dan perjuangan diriku sendiri. Kisah yang akan selalu menjadi sumber kekuatanku.

Other Stories
Kala Kisah Menjadi Cahaya

seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...

Mewarnai Bawah Laut

ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...

Di Bawah Atap Rumah Singgah

Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Download Titik & Koma