Ryan Si Pemulung

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Rezeki Yang Tak Terduga

Proyek turbin airku, meski sederhana, berhasil mencuri perhatian. Tidak hanya para juri, tetapi juga siswa dan guru. Lampu kecil yang menyala dari baling-baling buatan tangan itu menjadi simbol nyata bahwa dari hal yang dianggap tidak berguna, bisa tercipta sesuatu yang bernilai. Riko dan teman-temannya tidak lagi menertawakanku. Mereka hanya bisa diam, menatap kagum.

Mereka melihatku bukan lagi sebagai anak pemulung, tapi sebagai seorang yang memiliki ide dan mampu mewujudkannya.
Setelah lomba, Ibu Lia memanggilku ke ruangannya. "Ryan," katanya sambil tersenyum, "Proyekmu mendapatkan juara pertama. Para juri sangat terkesan dengan kreativitasmu. Mereka bilang, ide itu otentik dan aplikatif."

Jantungku berdebar kencang. Juara pertama. Aku tidak pernah membayangkan hal itu. Aku hanya ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bisa. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya bisa mengangguk, mataku berkaca-kaca. Ibu Lia menyerahkan sebuah amplop, "Ini hadiahnya. Ibu berharap, ini bisa membantumu."

Aku membuka amplop itu. Isinya bukan uang tunai, melainkan voucher buku dan sebuah sertifikat. Aku merasa sedikit kecewa. Aku berharap ada uang yang bisa kusimpan di celengan kalengku. Namun, kekecewaan itu segera sirna saat Ibu Lia menjelaskan, "Uang tunai akan habis, Ryan. Tapi, ilmu akan menemanimu selamanya. Gunakan voucher ini untuk membeli buku-buku yang kamu butuhkan."

Aku mengerti. Ibu Lia ingin aku berinvestasi pada diriku sendiri. Malam itu, aku menceritakan semuanya pada Ayah dan Ibu. Mereka sangat bangga. Ibu bahkan membuatkan nasi goreng spesial untuk merayakan kemenanganku, "Tuh kan, Nak. Ibu sudah bilang, Tuhan tidak akan pernah tidur. Kerja kerasmu ada hasilnya."

Keesokan harinya, Ayah dan aku pergi ke toko buku. Rasanya seperti mimpi. Aku tidak pernah bisa membeli buku baru. Selama ini, aku hanya bisa meminjam dari perpustakaan atau menemukan buku bekas. Aku memegang voucher itu erat-erat, seolah-olah itu adalah tiket emas ke dunia yang selama ini hanya bisa kulihat.

Di toko buku, mataku terpana. Buku-buku dengan sampul yang mengkilat dengan tulisan yang jelas, dan kertas yang wangi. Aku menghabiskan waktu berjam-jam di bagian arsitektur. Aku tidak hanya melihat-lihat, tetapi juga membaca sinopsisnya, membandingkan isinya, dan memilih buku yang paling relevan dengan mimpiku.

Akhirnya, aku memutuskan untuk membeli dua buku: satu tentang sejarah arsitektur, dan satu lagi tentang teknik dasar menggambar. Itu adalah pembelian yang paling berharga dalam hidupku.

Aku memeluk buku-buku itu erat-erat, seolah-olah mereka adalah harta karun yang paling berharga.
Ayah tersenyum melihatku. "Sekarang, kamu sudah punya alat perang yang lengkap," katanya.
Aku mengangguk. "Terima kasih, Yah," kataku.

Selain buku, aku juga mulai mendapatkan uang dari pekerjaan serabutan yang tak terduga. Setelah proyekku menang lomba, beberapa tetangga meminta bantuanku untuk memperbaiki barang-barang elektronik mereka yang rusak. Aku tidak pernah meminta bayaran, tapi mereka sering memberiku uang seadanya. Aku mengumpulkan setiap koin itu di celengan kalengku.

Suatu hari, seorang tetangga datang kepadaku, "Ryan, bisakah kau membantu memperbaiki motor saya? Mesinnya sering mati." Aku setuju. Aku tidak tahu apa-apa tentang mesin motor, tapi aku punya rasa ingin tahu dan keberanian untuk mencoba.

Aku membaca buku-buku lama yang kubeli dari loak bertanya pada beberapa tukang bengkel, dan akhirnya, setelah berjam-jam bekerja, motor itu hidup kembali. Tetangga itu sangat senang. Ia memberiku uang yang cukup banyak, dan aku memasukkannya ke dalam celenganku.

Aku mulai menyadari bahwa rezeki bisa datang dari mana saja. Dari ide yang sederhana, keahlian yang baru kupelajari, dan ketulusan hati untuk membantu orang lain. Celenganku mulai terisi.

Setiap koin yang masuk, aku tidak lagi melihatnya sebagai uang, melainkan sebagai langkah-langkah kecil menuju mimpiku.
Malam harinya, aku duduk di depan jendela usangku. Aku tidak lagi merasa kecil. Aku merasa kuat. Aku merasa berdaya.

Aku melihat dunia di luar sana, dan aku akan menjadi bagian dari dunia itu. Aku akan membangunnya, satu per satu. Dengan tanganku sendiri.

Rezeki yang tak terduga itu bukanlah uang yang datang tiba-tiba. Rezeki yang tak terduga itu adalah ilmu, keahlian, dan semangat yang terus membara. Dan itu, adalah kekayaan yang tidak bisa dibeli dengan uang, melainkan harus diperjuangkan.

****

Semakin banyak uang yang masuk ke celenganku, semakin besar pula rasa tanggung jawabku. Aku tahu uang ini bukan hanya milikku, melainkan hasil dari kerja keras bersama Ayah dan Ibu. Suatu malam, aku mengambil celengan itu dan menunjukkannya pada mereka. "Ayah, Ibu," kataku, "Ini uang yang aku kumpulkan. Ayo kita perbaiki atap rumah kita. Aku tidak mau kalian kehujanan lagi."

Ayah dan Ibu terdiam. Mereka menatap celengan kaleng itu, lalu menatapku. Ibu mengusap rambutku, matanya berkaca-kaca. "Nak, ini tabunganmu. Untuk sekolahmu," katanya.
"Tidak, Bu. Ini juga untuk kalian," kataku, "Mimpiku tidak akan berarti kalau kalian tidak bahagia."
Ayah tersenyum, "Kau sudah dewasa, Nak. Kau sudah mengerti arti dari perjuangan." Ia mengambil celengan itu, dan dengan suara bergetar, ia berkata, "Terima kasih, Nak. Tapi kita simpan dulu. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Uang ini akan kita gunakan saat kita benar-benar membutuhkannya."

Aku tidak membalas. Aku tahu Ayah benar. Aku harus tetap berhemat. Aku tahu, di balik senyum mereka, ada kekhawatiran. Kekhawatiran akan masa depan yang tidak pasti. Aku bertekad akan membuat masa depan itu menjadi pasti.

Aku kembali ke rutinitas harian, pagi buta belajar, siang membantu Ayah, sore dan malam mengerjakan proyek-proyek kecil dari tetangga. Aku menjadi orang yang sibuk, tapi kelelahan itu terasa menyenangkan. Karena setiap tetes keringat yang keluar, aku tahu, itu adalah investasi untuk masa depan.

Suatu hari, Riko menghampiriku saat aku sedang membersihkan motornya. "Ryan," katanya. Aku terkejut.

"Saya butuh bantuan kamu," katanya pelan, "Motor saya rusak lagi. Ayah saya bilang, kamu hebat. Kamu bisa memperbaikinya." Aku tidak tahu harus berkata apa. Riko, yang tadinya mencemoohku, kini meminta bantuanku. Aku hanya mengangguk, lalu mengambil kunci pas.

Aku memperbaiki motornya. Riko duduk di sampingku, diam. Tidak ada tawa, dan sebuah ejekan. Ia hanya memperhatikan. Setelah motornya selesai, Riko memberiku uang. "Ini, ambil," katanya. Aku menggeleng. "Tidak usah, Riko. Ini gratis," kataku, "Kita kan teman."

Wajah Riko berubah. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya membalikkan badan, dan pergi. Tapi aku tahu, ada sesuatu yang berubah di antara kami. Perubahan yang tidak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan. Aku tidak lagi membenci Riko. Aku merasa kasihan. Ia punya segalanya, tapi tidak punya arti. Ia tidak tahu bagaimana rasanya berjuang, bagaimana rasanya mencapai sesuatu dengan keringat sendiri. Dan itu, adalah kekayaan yang tidak dapat ia beli.

Other Stories
Titik Nol

Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Testing

testing ...

Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya

Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...

Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Download Titik & Koma