Ryan Si Pemulung

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Pagi Sebelum Subuh

Pagi sebelum subuh adalah waktu paling sunyi di gang kami. Lampu jalan sudah padam, dan hanya beberapa rumah yang masih menyalakan lampu redup. Di saat orang-orang lain masih terlelap dalam mimpi, aku sudah terjaga. Suara Adzan dari mushola kecil di ujung gang adalah alarm pribadiku. Aku tidak pernah merasa keberatan.

Bagiku, pagi buta ini adalah waktu emas yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Rutinitasku dimulai dengan mengerjakan soal-soal matematika. Ibu Lia benar, matematika adalah pondasi.

Aku tidak hanya menghafal rumus, tapi berusaha memahami konsepnya. Seringkali, aku harus mengulangi soal yang sama berkali-kali sampai aku benar-benar mengerti. Lampu 5 watt di kamarku menjadi satu-satunya sumber cahaya, menerangi buku-buku yang teronggok di meja reyotku.

Setelah matematika, aku beralih ke fisika. Konsep-konsepnya terasa lebih abstrak, tapi aku mencoba menghubungkannya dengan dunia nyata. Aku membayangkan gaya gravitasi saat Ayah mengangkat gerobak, hukum Newton saat aku mendorongnya, dan konsep energi kinetik saat roda gerobak meluncur. Ilmu terasa lebih hidup, tidak lagi hanya sekadar tulisan di buku.

Tentu saja, tubuhku seringkali memberontak. Mata terasa berat, dan kantuk seringkali menyerang. Kadang, aku tidur di meja belajar, terbangun saat kepalaku membentur buku. Ibu seringkali masuk ke kamar, menyelimutiku, lalu tersenyum. "Kau pasti lelah sekali, Nak," bisiknya. Aku hanya tersenyum. Lelah ini adalah investasi. Investasi untuk masa depan.

Setelah semua buku pelajaran ditutup, aku beralih ke proyek lomba sainsku. Ide turbin air dari bahan daur ulang terasa semakin menantang. Aku butuh baling-baling, generator, dan beberapa komponen lain. Aku tidak punya uang untuk membelinya.

Maka, aku harus mencarinya dari tempat sampah. Pekerjaanku sebagai pemulung kini memiliki tujuan baru. Aku tidak lagi hanya mencari botol, dan kardus. Aku mencari kaleng bekas untuk baling-baling, kabel-kabel tua untuk rangkaian listrik, dan botol plastik untuk menampung air. Ayah sering melihatku dengan tatapan heran. "Nak, kenapa kau mengumpulkan barang-barang aneh seperti ini?" tanyanya.

Aku menjelaskan ideku. Ayah tersenyum. "Ayah akan bantu," katanya. Dan sejak itu, setiap kali kami memulung, Ayah akan ikut mencarikan barang-barang yang kubutuhkan. Kami menjadi sebuah tim yang solid, tidak hanya dalam mencari rezeki, tapi juga dalam mewujudkan mimpi.

Suatu hari, aku menemukan sebuah motor mainan yang sudah rusak di tumpukan sampah. Aku mempretelinya, dan menemukan sebuah motor kecil di dalamnya. "Ini dia!" seruku kegirangan. Aku tahu, motor ini bisa kujadikan generator kecil untuk proyekku.
Proyek itu memakan waktu berminggu-minggu.

Aku menghabiskan setiap malam untuk merangkai, mengukur, dan mencoba. Seringkali, aku gagal. Turbinnya tidak berputar, lampunya tidak menyala. Rasa putus asa seringkali datang. Tapi setiap kali aku merasa ingin menyerah, aku selalu ingat pada wajah Ayah dan Ibu, dan pada buku jalan menuju puncak. Kisah-kisah di dalamnya selalu mengingatkanku bahwa kegagalan adalah bagian dari proses. Bahwa tidak ada keberhasilan tanpa kegagalan.

Aku kembali mencoba lagi, dan lagi.. Dengan bantuan Ayah, kami membuat sebuah prototipe kecil. Di suatu malam, saat kami mencobanya, baling-balingnya mulai berputar, dan lampu kecil dari motor mainan itu menyala. Cahayanya redup, tapi bagiku, itu adalah cahaya paling terang yang pernah kulihat. Ayah dan Ibu yang ikut melihat, bertepuk tangan. Senyum bangga terpancar di wajah mereka.

Aku tahu, ini hanya sebuah langkah kecil. Tapi langkah ini adalah bukti bahwa kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil. Lampu 5 watt di kamarku tidak lagi terasa redup. Di balik cahaya itu, ada sebuah harapan yang semakin membesar. Sebuah harapan yang siap untuk menerangi dunia.

****

Seminggu kemudian, proyekku selesai. Aku menatanya dengan rapi di dalam sebuah kardus bekas. Ayah bahkan membantuku membuat miniatur selokan dari kardus dan air. Aku tidak sabar untuk menunjukkan hasil kerjaku.

Pada hari H, aku membawa proyekku ke sekolah. Aku melihat teman-teman lain membawa proyek mereka. Ada yang membuat roket air, ada yang membuat robot sederhana. Proyek-proyek mereka terlihat canggih. Aku merasa sedikit minder. Proyekku, yang terbuat dari sampah terasa begitu sederhana.
"Jangan malu, Nak," bisik Ibu Lia, "Ide itu yang paling penting, bukan seberapa canggih barangnya."

Aku mengangguk. Aku menempatkan prototipeku di atas meja. Lalu, Riko dan gengnya datang. Mereka melihat proyekku dan tertawa. "Wah, Ryan! Ini apa? Mesin pembersih sampah?" ejek Riko, "Atau ini mesin pembantu pemulung?"
"Ini turbin air," jawabku dengan tenang, lanjutku, "Dibuat dari bahan-bahan daur ulang."

Riko dan teman-temannya tertawa lebih keras, "Hahaha! Mana bisa dari sampah menghasilkan listrik?" Riko menertawakanku, seolah aku adalah seorang badut sirkus.

Aku tidak membalas. Aku hanya menatapnya, lalu aku mengambil sebuah botol air mineral. Aku menuangkan air ke dalam miniatur selokan, dan air itu mulai mengalir. Baling-baling turbin berputar perlahan, dan lampu kecil dari motor mainan itu mulai menyala. Redup, tapi nyata. Cahayanya menerangi wajahku.

Tawa Riko terhenti. Begitu juga teman-temannya. Mereka terdiam, menatap lampu yang menyala itu. Mereka tidak bisa membantah. Di depan mata mereka, sampah bisa menghasilkan cahaya. Aku tidak perlu berkata apa-apa. Proyekku telah berbicara. Dan itu adalah kebenaran yang tidak bisa mereka sangkal.

Aku tahu, ini bukan akhir dari segalanya. Masih ada tantangan lain yang harus kuhadapi. Tapi, aku tahu telah memenangkan pertarungan. Bukan dengan kata-kata, dan emosi. Tapi dengan kerja keras, kegigihan, dan keyakinan bahwa mimpi itu tidak mengenal kasta. Mimpi itu hanya mengenal satu hal, yaitu sebuah perjuangan.

Other Stories
Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Devil's Bait

Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

My 24

Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...

Pahlawan Revolusi

tes upload cerita jgn di publish ...

Gadis Loak & Dua Pelita

SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...

Download Titik & Koma