Ryan Si Pemulung

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Kebenaran Dari Ayah

Malam itu, setelah seharian penuh dengan emosi, aku merasa lelah. Bukan hanya lelah fisik karena membantu Ayah memulung, tapi juga lelah batin karena ucapan Riko. Aku berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar yang kusam. Air mata yang kutahan sejak siang akhirnya mengalir, membasahi pipi. Aku merasa begitu kecil, begitu tidak berdaya, "Apakah Ayah benar? Apakah perjuanganku ini akan sia-sia? Apakah aku hanya bermimpi terlalu tinggi?"


Cklak!


Suara pintu kamar terbuka, dan Ayah masuk. Ia duduk di sampingku sambil mengusap kepalaku dengan tangan yang kapalan. "Kenapa, Nak?" tanyanya lembut. Ayah tidak perlu bertanya lebih banyak, ia tahu. Ia selalu tahu apa yang kurasakan, meskipun aku tidak pernah mengatakannya. Aku duduk, menyeka air mataku, dan menceritakan semua yang terjadi di sekolah. Tentang Riko, ejekannya, dan rasa sakit yang kurasakan.

Ayah mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia tidak menyela, ia tidak menghakimi. Ia hanya duduk diam, membiarkanku mengeluarkan semua yang ada di hatiku.

Setelah aku selesai, ia mengambil napas panjang. "Anakku," katanya, suaranya pelan dan menenangkan, "Mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu apa-apa tentang hidup kita."

"Mereka bilang, memulung itu pekerjaan rendahan, Yah," kataku, suaraku bergetar.

Ayah tersenyum. Senyum yang penuh dengan kehangatan dan kebijaksanaan, "Mereka bilang begitu karena mereka tidak tahu, Nak. Mereka tidak tahu bahwa memulung adalah pekerjaan mulia. Kami membersihkan bumi ini dari sampah. Kami mengurangi polusi, membantu alam. Apa yang mereka lakukan? Mereka hanya membuang, dan membuang. Siapa yang lebih mulia?"

Kata-kata Ayah bagaikan air sejuk yang membasahi hatiku yang kering. Ia benar. Kami adalah bagian dari solusi, bukan masalah. Ayah melanjutkan, "Martabat, Nak, itu tidak bisa diukur dari seberapa banyak uang di dompetmu, atau seberapa bagus pakaianmu. Martabat itu ada di dalam hatimu. Ayah mungkin miskin harta, tapi martabat Ayah jauh lebih kaya dari mereka. Ayah mencari rezeki dengan keringat dan kejujuran. Ayah tidak mencuri, Ayah tidak meminta-minta."

Aku menatap Ayah. Wajahnya yang keriput, tangannya yang kasar, semuanya adalah bukti dari perjuangan yang tak kenal lelah. Ayah tidak pernah mengeluh. Ayah selalu pulang dengan senyum, meskipun ia tahu uang yang ia dapatkan tidak seberapa.
"Terkadang," lanjut Ayah, "Orang-orang merendahkan orang lain karena mereka tidak bisa menerima kekurangan mereka sendiri. Mereka mencemooh pekerjaan Ayah karena mereka takut pekerjaan mereka suatu hari nanti juga akan dianggap rendah. Tapi, kamu tidak boleh seperti itu. Kamu harus bangga, Nak. Bangga pada dirimu sendiri, bangga pada Ayah, bangga pada Ibu. Karena kita adalah pejuang."

Aku merasa malu pada diriku sendiri. Selama ini, aku hanya melihat jendela usang itu sebagai sebuah batasan. Aku hanya melihat kemiskinan sebagai sebuah aib. Tapi Ayah, ia melihatnya sebagai sebuah kekuatan. Ia melihatnya sebagai sebuah tantangan.

"Jadi," kata Ayah, "saat mereka memanggilmu dengan sebutan anak pemulung, jawablah di dalam hatimu, "Ya, aku adalah anak pemulung. Dan aku bangga. Karena Ayahku adalah orang yang paling berani, jujur, dan mulia yang pernah kutahu.'"
Ayah berdiri, memijat bahuku sekali lagi, lalu keluar dari kamar. Aku berbaring kembali, membiarkan kata-kata Ayah meresap ke dalam jiwaku.

Air mataku masih mengalir, tapi kali ini bukan karena rasa sakit, melainkan karena rasa haru. Aku memiliki orang tua yang luar biasa. Orang tua yang tidak hanya memberiku hidup, tapi juga memberiku martabat.

Malam itu, aku tidur dengan nyenyak. Di dalam mimpiku, aku tidak lagi melihat Riko dan teman-temannya. Aku melihat Ayah dan Ibu, berdiri di depan sebuah bangunan megah yang kubangun dengan tanganku sendiri. Mereka tersenyum bangga, dan aku, di samping mereka, memeluk buku jalan menuju puncak erat-erat. Aku tahu, buku itu bukan hanya sekadar buku. Itu adalah janji. Janji yang akan kutepati.

Keesokan harinya, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Aku mengambil gerobak Ayah membawanya ke depan rumah. Ayah keluar dan terkejut melihatku. "Nak, kenapa kau yang membawa gerobak?" tanyanya.
Aku tersenyum. "Hari ini, kita akan membersihkan lebih banyak sampah, Yah," kataku, "Kita akan menunjukkan pada dunia bahwa kita adalah pejuang."

Ayah menatapku dengan matanya berkaca-kaca. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya memelukku erat-erat. Dan di dalam pelukan itu, aku tahu. Aku tidak hanya memiliki mimpi, tapi aku juga memiliki kebenaran. Kebenaran yang akan membawaku lebih tinggi dari siapa pun.

****

Sejak percakapan malam itu, hubunganku dengan Ayah semakin erat. Kami tidak hanya sekadar Ayah dan anak yang bekerja sama, kami adalah mitra. Kami berbicara banyak hal saat memilah sampah.

Ayah sering menceritakan pengalamannya, bagaimana ia harus menghadapi panas terik atau hujan deras. Ia tidak pernah mengeluh, dan aku belajar darinya tentang ketahanan dan ketabahan.

Suatu sore, saat kami sedang memilah-milah sampah di dekat sebuah restoran, Ayah melihat sepasang sepatu sekolah yang masih layak pakai. "Lihat, Nak," katanya, "ini rezeki kita." Ia mengambil sepatu itu,lalu membersihkannya, dan memberikannya padaku. Sepatu itu ukurannya sedikit kebesaran, tapi setidaknya lebih baik daripada sepatuku yang bolong.

Aku memakainya ke sekolah esok harinya, dan meskipun ukurannya tidak pas, rasanya seperti memakai sepatu termahal di dunia. Itu adalah sepatu yang dibeli dengan keringat Ayah, dan itu jauh lebih berharga daripada apa pun.

Perlahan, sikapku di sekolah juga berubah. Aku tidak lagi merasa malu dengan seragam yang lusuh atau sepatu yang kebesaran. Aku berjalan dengan kepala tegak. Aku tahu siapa diriku. Aku tidak lagi peduli dengan bisikan atau cemoohan Riko. Mereka hanya melihat luarku, tapi mereka tidak bisa melihat kekayaan di dalam diriku. Kekayaan berupa semangat, tekad, dan martabat yang Ayah ajarkan.

Suatu hari, saat Riko sedang mengejekku, aku hanya menatapnya, lalu tersenyum. Senyum itu bukan senyum mengejek, melainkan senyum yang tulus. Senyum yang menunjukkan bahwa kata-katanya tidak lagi mempengaruhiku. Riko terdiam, terlihat bingung dengan reaksiku. Ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi saat orang yang ia bully tidak menunjukkan rasa sakit.

Aku tidak lagi berusaha untuk membuktikan apa pun pada mereka. Aku hanya fokus pada mimpiku. Aku menghabiskan jam istirahat di perpustakaan, mengumpulkan informasi tentang arsitek terkenal, bangunan-bangunan yang ikonik, dan cara-cara untuk membangun model. Aku mulai berani bertanya pada Ibu Lia tentang hal-hal yang tidak kumengerti. Ia dengan sabar menjelaskan, dan kadang memberiku buku-buku lain yang relevan.

Jendela usang di kamarku kini menjadi sebuah simbol. Bukan lagi simbol kemiskinan, tapi simbol perjuangan dan harapan.
Di balik jendela itu, aku tidak lagi melihat dunia yang tidak bisa kugapai.

Aku melihat sebuah tantangan, sebuah medan perang. Dan aku siap bertarung. Aku tahu, ini bukan perjalanan yang mudah, tapi dengan dukungan Ayah dan Ibu, dan kebenaran yang kutemukan, aku yakin akan berhasil.

Other Stories
Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

Saat Cinta Itu Hadir

Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...

Youtube In Love

Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...

Tersesat

Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...

Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya

Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...

Download Titik & Koma