5. Sekolah Favorite Ku
Gelap malam menemani kota Bekasi. Malam tanpa bintang, langit begitu kelam. Tapi, tetap indah. Menerawang ke alam gelap, mata tambah terbelalak.
Keramaian di rumah menyerukan desa tempat tinggal Faiz dan keluarganya. Faiz berada di dalam kamar, sendirian. Adik, sudah tertidur gasik ditemani ibu. Ayah masih sibuk mengetik, merampungkan laporan pajak bulanan beberapa perusahaan.
“Kak, belum tidur?” sembari masih mengetik merampungkan beberapa ketik kata.
“Belum bisa tidur, Yah.”
Faiz terus mencoba memejamkan mata dan memposisikan tubuh agar tertidur. Liburan sekolah kali ini, sibuk dengan menunggu sesuatu. Menunggu berangkat masuk ke SDIT, sekolah pilihan Faiz dan ayahnya.
Satu minggu lagi untuk berangkat ke sekolah. Seperti liburan tahun lalu, mbah kakung dan mbah putri sedang berlibur di Bekasi. Mereka meluangkan waktu untuk ketemu dengan dua cucu mereka. Mbah selalu tanya keadaan mereka berdua tiap minggu.
“Mbah, sotonya dimakan, keburu dingin.”
Faiz mengambilkan dua mangkok soto dari meja makan.
“Kamu, dah Kak?” tanya mbah putri sembari mengambilkan satu mangkok untuk mbah kakung.
“Dah, Mbah.”
Mbah kakung dan mbah putri menikmati soto hasil kreasi ibunya Faiz. Mangkok kecil berisi sambal, dihidangkan ibu Faiz.
“Nikmatnya pakai sambal, Kak!” ledek mbah putri.
“Aku ikutan, ah...!” Faiz langsung mengambil dua sendok makan sambal pedas.
Mbah putri dan Faiz sangat menikmati. Berdua kelihatan asyik dengan sambalnya. Masakan ibu Faiz selalu bervariasi. Ibu Faiz pandai memasak. Anak-anak tidak pernah bosan dengan masakan ibu mereka. Mbah putri juga terkadang dapat resep dari ibu Faiz. Menantu hebat.
Masih satu minggu serasa empat minggu. Rangkaian bayangan bersekolah di SDIT beredar di kepala Faiz. Bayangan indah dan menarik, yang selalu Faiz gambarkan di otaknya.
“Asyik, ya Bu! Bisa bersekolah di SDIT Bekasi!” senyum terbentuk di muka Faiz.
“Ya, Nak! Tambah ilmu dan teman!” jawab ibu.
Awan putih menghiasi kota Bekasi. Pancaran panas matahari cukup tinggi. Ibu Faiz mencoba menormalkan dengan menyalakan AC yang ada di ruang TV. Suhu tertunjuk di termometer 35oC. Faiz tiduran di ruang TV. Mbah putri dan mbah kakung sedang beristirahat di kamar tamu.
“Menunggu ayah, jam dinding terasa lambat jalanya,” gumam Faiz sembari tiduran santai di lantai ruang TV.
“Ayo, Kak! Tidur dulu seperti adik, ayah dah biasa pulang habis maghrib,” ajak ibu.
“Iya, Bu.”
Faiz berusaha memejamkan kedua bola matanya. Tak lama ibu memeriksa keadaan Faiz.
“Alhamdulillah, dah tertidur,” ujar ibu.
Mbah kakung dan mbah putri sudah mendahului beristirahat di kamar Ella, adik Faiz.
Sunyi udara di dalam rumah Faiz. Yang bersuara hanyalah benda-benda menggelantung di atap rumah. Ibu mulai mempersiapkan alat menyetrika.
“Mumpung semua sedang istirahat,” kata ibu.
Ibu mengambil setumpuk pakaian yang belum disetrika dari tempatnya. Lumayan agak banyak pakaiannya. Dengan dorongan ingin rapi, ibu mulai menyetrika baju-baju.
“Satu lagi, selesai.”
Dari balik pintu kamar Ella, mbah putri berkomentar.
“Maaf, tidak membantu menyetrika baju.”
“Mpun rampung niki,” ibu menenangkan mbah putri.
Ibu melanjutkan merapikan baju-baju yang sudah disetrika.
Hari minggu terakhir di libur sekolah telah datang. Dari subuh, mbah putri sudah mengemasi semua barang bawaan.
“Alhamdulillah, sudah masuk semua ke dalam tas besar. Tinggal baju yang dikenakan.”
“Sip lah, ba’da ashat kita berangkat,” ngendika mbah kakung sembari menutup buku agama yang tadi dibaca.
Minggu pagi di iringi butiran gerimis, tak mematahkan Faiz untuk bangun gasik. Ibu, selalu mengingatkan untuk sholat subuh dahulu.
“Ayo, Nak, sudah sholat subuh?”
“Dah, Bu.”
Faiz sedang bermain lego di kamarnya. Ayah mendekati buah hatinya.
“Gasik sekali kereta legonya, mau bepergian ya?”
“Iya, Yah! Biar gasik sampai ke tempat tujuan.”
Ayah tersenyum lebar mendengar pernyataan anaknya. Pernyataan Faiz tepat sekali. Dalam segala hal selalu seperti itu. Cerdas salah satu sifat yang dimiliki oleh Faiz. Kecerdasan sudah tampak dari ucapan Faiz setiap saat.
“Nak, nanti sore Ayah mau agen bis mengantar mbah,” ayah masih di dekat Faiz mengamati terus tingkah lakunya.
“Asyik! Aku ikut, Yah!” sorak Faiz senang.
Ella, adik Faiz sudah bangun. Mengetahui ayah dan kakak Faiz sedang berdialog, Ella berjalan pelan-pelan menuju arah ayah dan Faiz.
“Ayo, Adik! Pelan-pelan aja!” Ayah mengawasi langkah adik.
Ella berhenti melangkah. Memandangi wajah ayah dan kakak sambil tersenyum. Sibuk dengan tersenyum mekar, akhirnya di saat mengambil satu langkah lagi tergiur kakinya.
“Hi..hi...Yah! Sakit!” teriak Ella dengan tangisan masih tinggi.
Rengekan Ella mengagetkan ibu dan mbah. Cepat-cepat mereka mencari Ella.
“Kenapa, Ella?”
”Ga apa-apa, tadi latihan jalan, tapi jatuh,” ayah menjelaskan pada mbah.
Rengekan tangisan Ella masih keluar. Ayah dengan sabar mengolesi bengkak di kaki Ella.
“Tunggu beberapa menit, ya sayang?” sambil mengecup pipi Ella.
“Makacih, Yah,” jawab Ella dengan bahasa cedalnya.
“Ya, putriku.”
Mbah putri dan ibu hanya melihat apa yang dilakukan oleh ayah. Membuat perasaan dua hati yang masih belia menjadi aman. Mereka berdua tersenyum senang. Ayah menggendong putrinya dengan dekapan kasih sayang.
“Ayah hebat! Ayah unggulan! Aku makin sayang dengan Ayah,” celutuk Faiz sambil berlari kecil menghampiri ayah.
“Iya, Ayah juga sayang kalian!” ayah merangkul mereke berdua dengan tulus.
Tetes air mata tersusun di sudut mata ibu.
“Terimakasih, ya Rabb! Kau berikan keluarga sempurna!”
Petang mulai datang, awan hitam terbentuk menghitam di atas bumi Bekasi. Mbah kakung dan mbah putri sedang menuju ke agen bus, diantar oleh semua. Lantunan hafalan Faiz terus mengiringi perjalanan mereka menuju agen bus Jatiasih.
“Alhamdulillah, cucuku yang saleh, semoga Allah selalu bimbing menuju keridhoanNya, amin!” ucap Mbah Kakung seketika.
“Mudah-mudahan, Mbah! Amin,” doa ibu selalu menyertai.
Alam dan seisinya ikut mengamini doa tersebut. Mereka semua ikut mengamini juga.
Wajah Faiz kelihatan ceria dan cerah. Hati ibu Faiz menjadi tenteram, mendengar Faiz melantunkan hafalan surat Al-Bayyinah.
Tak terasa mereka sudah sampai di ages bus. Ayah segera keluar dari mobil menuju taller bus.
“Mba, karcis bus patas untuk dua orang ke Purbalingga, jadi berapa?”
Petugas karcis menghitung dulu sebentar.
“Jadi Rp 250.000, Pak.”
“Oke!” Ayah Faiz membayar dua karcis.
“Makasih, Mba!” sembari menarik langkah menuju mobil.
Gemiris mulai turun dari langit. Mbah kakung dan mbah putri bersiap-siap keluar dari mobil.
“Sehat semua, ya! Mbah pamit,” sembari mencium kening dua cucu mereka.
“Makasih, Mbah!” Ibu mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan mbah.
“Mbah, ini karcisnya,” ayah Faiz menyerahkan dua karcis ke mbah putri.
“Terimakasih, ya.”
Ayah Faiz tersenyum penuh syukur, mendengar kata terimakasih dari kedua orang tuanya. Allah sudah memberikan orang tua yang begitu baik, mengutamakan anak-anak di pendidikan maupun keseharian.
Supir bus mulai menyalakan mesin. Semua penumpang satu persatu naik ke dalam bus. Kondektur memeriksa penumpang dari tempat duduk depan hingga ke belakang. Semua penumpang sudah naik.
“Siap berangkat, Bos!” konduktur memberikan aba-aba kepada supir.
Ayah Faiz bersama keluarga menunggu bus mulai berjalan.
“Bus mbah sudah berangkat! Mbah selamat jalan...” teriak Faiz.
Ayah menunggu sampai bayangan sampai tak terlihat.
“Yuk, kita pulang...” ajak ayah sembari mengon-kan mesin.
Ibu berpindah duduknya di bagian sopir bersama Ella. Faiz tetap di bagian tengah.
“Tolong, berhenti sebentar di depan roti, Yah! Ibu mau beli roti tawar,” pinta ibu.
Ibu turun dari mobil sambil menggendong si bontot Ella. Faiz tetap duduk di dalam mobil menemani ayah.
“Kak, ayo kita hafalan lagi!”
Spontan Faiz melantunkan surah At-takwir. Ayah hanya mengamati bacaan Faiz dengan Alqur’an kecil yang selalu ada di mobil. Ayah menikmati hafalan Faiz, walau ada beberapa kesalahan di beberapa ayat.
“Subhanallah....!” puji ayah.
“Makasih, Yah,” ucap Faiz sambil tersenyum.
Tak berapa lama tampak ibu bersama Ella, berjalan mendekat mobil. Tangan Ella penuh dengan beberapa makanan. Si adik kecil selalu ingat kakaknya apabila berbelanja seperti tadi.
“Kak!” adik meyodorkan beberapa jajan ke Faiz.
“Aduh, adik selalu ingat Kakak, makasih!”
Sembari asyik berdua menikmati jajan, ayah mencoba surah At-Takwir. Baru lima ayat, ayah lupa.
“Ayah bangga denganmu, Nak. Ternyata menghafal Al-Qur’an tidaklah mudah.”
“Ayah harus mencoba lagi! Tidak boleh patah semangat!” nasehat ibu.
Ayah dan ibu asyik dengan ngobrolnya, hingga tak terasa sudah sampai di depan rumah.
Malam kelihatan semakin larut. Penghuni-penghuni bumi sudah beranjak ke alam mimpi. Mereka asyik dengan cerita mimpi masing-masing. Waktu subuh sebentar lagi datang. Ayah ibu sudah bangun dari awal. Ibu gasik mempersiapkan menu hari ini.
“Aku harus memilih bekal yang enak tuk Faiz.”
Hari ini adalah hari pertama Faiz masuk sekolah di SDIT Bekasi. Ayah dan Faiz sudah siap-siap mau berangkat. Mereke keluar dari rumah pukul lima lebih tiga puluh menit.
Ayah kelihatan ceria mengantar si bungsu ke SDIT Bekasi. Begitu juga Faiz. Dengan wajah riang menatapi semua pemandangan yang dilewati. Sambil selalu mendendangkan hafalan juz 30, Faiz bersemangat empat lima. SDIT YAPIDH, Yayasan Perguruan Islam Darul Hikmah, terletak di desa Jatiluhur, kecamatan Jatiasih kabupaten Bekasi.
Sudah dapat satu hafalan surat At-Tin, ayah mengajak ngobrol Faiz.
“Wah..., dah siap mau sekolah, Kak?”
“Insya Allah, siap, Yah!” jawab Faiz dengan lantang.
“Ayah nanti langsung berangkat ke kantor. Ibu yang menjemput nanti siang,” ayah memberi penjelasan ke Faiz dengan panjang lebar.
“Iya, Yah.”
“Kalau pingin ke belakang, bilang aja sama ustadzah, ya!”
Faiz mengangguk-angguk saat dinasehati ayah. Hati ayah menjadi plong, setelah mengungkapkan ke Faiz.
“Alhamdulillah, dah nyampai!”
Ayah dan Faiz keluar dari mobil. Mereka menuju kantor satpam.
“Pak, kelas 1A di sebelah mana?”
“Kelas 1A di deretan depan, Pak. Itu yang ada tulisannya “Selamat Datang Siswa Baru”,” tunjuk pak saptam.
“Oke, terimakasih, Pak!”
“Sama-sama, Pak!”
Ayah dan Faiz melanjutkan langkahnya menuju kelas 1A. Gegap gembita hati Faiz, saat kaki mulai menapaki kelas 1A. Pandangan matanya mengarah ke seluruh bagian kelas. Kelas yang sangat berbeda dengan di TK.
“Kamu duduk di sini aja, ya.”
Ayah memilih bangku depan.
Faiz menganggukan kepala, tanda setuju. Ayah meletakkan tas Faiz di bangku meja.
“Ibu yang menjemput. Kalau ada apa-apa tanya aja sama ustazdah, ya,” bujuk ayah.
“Yah, dah siang. Ayah berangkat aja!”
Ayah tersenyum, mendengar kalimat tersebut.
“Oke, Nak! Ayah berangkat, ya,” sambil mencium kening Faiz.
“Hati-hati, Yah!” Faiz mengulurkan tanggannya untuk bersalaman dengan ayah.
Ayah melangkah keluar dari kelas menuju area parkiran. Dengan rasa lega, ayah masuk ke dalam mobil.
“Semoga Faiz bisa beradaptasi cepat dengan teman-teman.”
Siang berbunga-bunga mewarnai kota bekasi. Seperti itu juga suasana di SDIT YAPIDH Bekasi. Perkenalan dari teman-teman kelas 1A. Membuat suasana kelas 1A hiruk pikuk. Ustadhah Istinganah, adalah guru kelas di kelas 1A.
“Ayo, berkenalan semuanya!”
Anak-anak semua melakukan aktivitas mencari teman. Ada yang bergerak menuju arah depan, arah belakang dan arah samping. Mereka saling ta’aruf satu sama lain.
“Alhamdulillah, sudah kenal semua. Silahkan, duduk kembali!” ustadzah Istinganah semakin semangat.
Mendekati bel terakhir, ustazah memimpin doa.
“Mari kita berdoa kepada Allah SWT, agar selalu dilimpahi pertolongNya, amin!”
Semua anak teratur keluar kelas. Mereka bersalaman dulu dengan ustazah.
Ibu sudah agak lama menunggu. Faiz masih sibuk mencari sang Ibu, tengak-tengok ke kanan dan kiri.
“Kakak!” sapa ibu sambil mengendong adik.
“Ibu, adik ga pa pa ikut menjemput Kakak?” Faiz langsung bersalaman dengan ibu.
“Ga pa pa! Ayo, kita jalan!”
Faiz segera memposisikan diri membonceng di belakang ibu. Dengan ramah, ibu mengendarai sepeda motor.
Other Stories
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
Gm.
menakutkan. ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Flower From Heaven
Setelah lulus SMA, Sekar Arum tidak melanjutkan kuliah seperti dua saudara kembarnya, Dyah ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...