Agum Lail Akbar

Reads
148
Votes
0
Parts
3
Vote
Report
Penulis Desi Eka Tama

2. Ikhlas Ketika Menurut Orang Lain Ujian, Bagi Kami Adalah Keberkahan

Saat saya SMA, kebetulan di lingkungan sekolah saya ada anak yang sering menjadi bahan bully-an. Anak itu adalah anak penjaga kantin, dan tak lain anak itu adalah anak down sindrom. Rasanya hati ini tak kuasa membayangkan bagaimana kelak dewasa adik saya nanti, akankah seperti dia? Diejek, diperlakukan tidak baik, dan selalu jadi bahan sorotan orang-orang untuk tidak ingin melihat karena takut anaknya nanti akan seperti itu.
Setiap kali saya melihat anak itu berjalan di hadapan saya, saya meneteskan air mata. Seolah saya merasa yang berjalan di hadapan saya itu kelak adalah adik saya sendiri. Menangis, yah apalagi, rasanya menerima takdir Tuhan saat itu begitu sulit. Belum lagi harus melihat orang tua saya yang harus bolak balik ke rumah sakit untuk mengecek perkembangan kesehatan adik saya. Karena ternyata betul, adik saya mengalami kelainan jantung, seperti apa yang saat itu dijelaskan dokter kepada saya dan orang tua saya. Rumah sakit sudah seperti rumah kedua mungkin, karena apalagi kalau bukan menginap di sana. Melihat ibu dan bapak rasanya saya ikut merasakan sakit, tetapi saya harus tetap sekolah saat itu. Seketika hati ini hancur lagi, saat dokter berkata bahwa Agum hanya diprediksi bisa bertahan hidup sampai usia 4 tahun, karena biasanya anak down sindrom ini memang tak berumur panjang, akibat banyak komplikasi penyakit yang nanti akan timbul.
Seperti petir di siang bolong mendengar dokter mengatakan seperti itu, sampai-sampai ibu saya pun takut untuk ke rumah sakit, karena takut dokter mendiagsona hal lain lagi. Rasanya tak percaya biasanya saya mendengar kata-kata vonis dokter hanya di acara TV, tapi hari ini vonis itu diberikan untuk adik saya sendiri.
Beruntungnya saya memiliki ibu yang sangat luar biasa, dengan segenap hati dia mengatakan, \"Mati itu memang pasti, tapi hanya Allah yang bisa memastikan\". Saat itu juga saya berjanji dalam hati, saya akan membahagiakan Agum sampai nanti saya mati. Atau siapapun yang lebih dulu mati, saya akan membahagiakannya. Perlahan saya mulai menerima pemberian Allah yang sangat luar biasa ini. Banyak orang yang kasihan dengan kami dan sering berkata, “Sabar ya Bu, ini ujian\".
Saya mengganguk, tapi tidak dalam hati. Karena hati saya berkata Agum ini bukan ujian, tetapi keberkahan Allah yang tidak ada bandingan. Mereka berkata seperti itu karena mereka melihat kesedihan lebih banyak daripada kebahagiaan, tentunya mereka salah. Kami memang sedih, kami sedih karena sakit yang Agum derita hingga ia harus akrab dengan jarum suntik, harus akrab dengan infus, harus akrab dengan kabel-kabel pendeteksi jantung dan harus akrab dengan obat. Kami sedih dengan sakit bawaan Agum, bukan sedih karena kelahiran Agum. Kelahiran Agum membuat saya pun sadar, sudah bukan waktunya saya masih bermanja-manja, saya sudah perlu menata hidup, membantu bapak, ibu dan kakak untuk bersama membesarkan Agum. Sudah cukup saya dimanja, sudah cukup saya merepotkan mereka. Ketika hati ini ikhlas menerima, maka Allah bukakan pintu-pintu solusi, hal apa yang harus saya lakukan. Saya mencintai Agum sejak hari ini, esok, dan seterusnya sampai mungkin suatu hari raga ini sudah tidak bisa lagi memeluknya, saya akan selalu mencintainya.
Lulus sekolah SMA, kemudian bisa kuliah adalah hal yang sangat saya mimpikan. Tetapi apa daya, biaya rumah sakit yang harus dikeluarkan bapak tidak sedikit. Bapak hanya pegawai negeri biasa, dan ibu hanya ibu rumah tangga. Tekad saya membantu meringankan beban mereka bulat sudah, saya akan kuliah tapi jika saya mampu, bukan jika orang tua saya mampu. Selepas lulus saya langsung melamar pekerjaan. Belum pula ijazah diterima, saya sudah bekerja. Lagi-lagi hal baik datang dalam hidup saya, karena ada tetangga yang membantu saya untuk bisa bekerja meskipun hanya sebagai seorang pramuniaga di sebuah swalayan pada saat itu. Memang jika ada niat baik, pasti Allah beri jalan kebaikan. Saya masuk bekerja dengan begitu mudahnya dan juga ini semua karena berkat doa dan ridho orang tua saya. Setelah bekerja, mulailah Allah buka jalan untuk meraih mimpi saya, bisa kuliah tanpa merepotkan orang tua, biar bapak pada saat itu fokus saja dulu dengan kondisi Agum dan saya fokus mengejar mimpi. Tentu saja mimpi ini bukan hanya untuk diri saya sendiri. Kelak suatu hari saya ingin jadi orang yang berhasil, bergelar sarjana, berilmu. Karena menurut pemahaman saya, Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu, dan dengan derajat yang tinggi saya akan tinggikan juga derajat adik saya. Dengan orang lain menghargai saya, maka tidak akan ada yang berani merendahkan adik saya. Tekad saya saat itu, dan lagi-lagi Allah melancarkan usaha saya meraih mimpi dengan izin dari perusahaan tempat saya bekerja untuk bisa selalu masuk malam, karena pagi harus kuliah. Saya kuliah pagi sampai siang, siang sampai malam saya bekerja dan tak lain Agum-lah motivasi saya melakukan segalanya. Saya mencintai Agum dan cinta yang membuat lelah saya berubah menjadi berkah. Dan Agum-lah sesungguhnya keberkahan terbesar dalam hidup saya.

Other Stories
Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Mozarella Bukan Cinderella

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...

Sebelum Ya

Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...

Suara Dari Langit

Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...

Dream Analyst

Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...

Download Titik & Koma