14. Lost In Tokyo
Tokyo sebagai ibu kota negara Jepang yang terkenal dengan kemajuan pembangunan dan kesibukannya memiliki daya tarik yang besar bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang datang ke Jepang, baik sebagai pelancong, pekerja ataupun karyasiswa sepertiku. Sejak diterima pada program linkage Indonesia-Jepang dan mulai mempelajari Jepang, Tokyo menjadi salah satu kota tujuan yang wajib untuk kukunjungi.
Beberapa tempat di Tokyo yang sudah masuk list tujuan antara lain Imperial Palace, Tokyo Tower, Odaiba, Disney land/sea, Akihabara dan masih banyak lagi. Pada awal masa liburan musim dingin, aku bersama Irrin dan Nita berkesempatan mengunjungi Tokyo dengan penawaran menarik dari Yudha, salah seorang teman yang studi dan tinggalnya di sana. Yudha mengajak kami untuk melihat objek wisata terkenal yang menggambarkan kemegahan dan keasrian istana kekaisaran Jepang, yaitu Tokyo Imperial Palace.
Tokyo Imperial Palace merupakan kompleks istana kediaman kaisar Jepang. Pada sisi timur istana terdapat sebuah taman yang cantik khas Jepang yang dibuka untuk masyarakat umum dan gratis, kecuali hari Senin dan Jumat. Sementara untuk areal bangunan dan taman lain yang menjadi kediaman utama keluarga kaisar tidak dibuka untuk umum. Namun, ada agenda rutin dua tahunan sekali areal inti Tokyo Imperial Palace ini dibuka untuk umum, yaitu setiap tanggal 23 Desember dan 2 Januari. Segala lapisan masyarakat dari berbagai status sosial baik tua, muda maupun anak-anak, bisa memasuki areal istana kekaisaran. Bahkan, warga negara asing pun diperbolehkan masuk. Pada hari itu masyarakat bisa melihat keluarga kaisar memberi salam dari atas balkon.
Mendapat informasi dari teman-teman yang studi di Tokyo, Yudha dan Asra, kami pun merencanakan niat berangkat. Kapan lagi bisa melihat kaisar langsung di istananya? Mumpung sedang di Jepang! Tanggal 2 Januari menjadi pilihan kami untuk berkunjung. Aku dan dua temanku, Irrin dan Nita berangkat menggunakan sleeper bus dari stasiun Kyoto menuju stasiun Tokyo. Dari sana kami di jemput Yudha dan Asra menuju apato-nya. Menginap di sana satu malam, lalu esok harinya berangkat bersama-sama ke istana.
“Besok kita berangkat pagi-pagi sekali agar sampai di sana belum teralu ramai. Menurut informasi, antrenya panjang.” Yudha mengingatkan kami.
“Siaaap… setelah subuh kita langsung siap-siap berangkat,” aku menyetujui.
Esok paginya jam 7 pagi kami berangkat dari apato dengan kereta menuju stasiun Gyotuku. Setelah berjalan kaki sekitar 20 menit, kami sampai di stasiun kereta. Kami membeli one day ticket subway Metro Line. Dengan tiket ini kami bebas menggunakan kereta jalur subway, metroline ke mana saja selama satu hari itu sampai malam. Setelah dua kali berganti kereta maka sampailah kami di stasiun Otemachi yang terdekat dengan istana. Dari stasiun ini kami berjalan kaki sekitar 10 menit sampai di lokasi istana di Chiyoda.
Tampak dari kejauhan ternyata lokasi sudah ramai. Akhirnya kami masuk ke dalam antrean panjang memasuki gerbang istana. Antrean membentuk barisan rapi beberapa banjar menuju halaman luas untuk pemeriksaan. Di dalam ternyata sudah ada beberapa baris yang sudah diperiksa dan menunggu komando. Di sini kami menunggu lama, sempat foto-foto selfi. Seorang teman tampak membawa beberapa bendera kecil dari bahan plastik. Beruntung aku mendapat satu.
Pemeriksaan dilakukan ketat pada setiap orang. Setelah selesai diperiksa kami masih harus menunggu barisan di belakang selesai diperiksa, maka tetap diam dalam barisan. Setelah semua selesai pemeriksaan, baris demi baris dikomando untuk bergerak, berjalan menuju suatu tempat. Barisan sangat panjang ini akan tampak mengular bila dilihat dari atas.
Perjalanan kami disuguhi pemandangan indah dengan pepohonan rimbun dan bangunan megah. Aku dan teman-teman mengarahkan kamera ke beberapa spot yang menarik. Tak lama kemudian terlihat sebuah jembatan artistik yang membentang di atas sebuah sungai yang bening airnya. Jembatan Nijubashi. Suasananya sangat asri. Banyaknya pengunjung yang mengarahkan kameranya pada keindahan jembatan yang menghias taman itu telah membuat perjalanan menjadi tersendat.
Akhirnya kami sampai juga di sebuah tempat di depan sebuah bangunan berlantai dua yang halamannya luas. Namun demikian posisi kami ada di barisan belakang ratusan orang dari barisan yang sudah sampai terlebih dulu. Semua berdiri berdesakan menunggu. Aku dan bebarapa teman pun hanya bisa menunggu.
Tak berapa lama, muncullah sang Kaisar bersama beberapa orang anggota keluarganya, berdiri berjajar di teras lantai dua dengan Kaisar berada di tengah. Semua orang bergerak berusaha maju mendekat, sambil mengangkat kamera masing-masing. Kilatan lampu blitz berkelap kelip. Riuh saat sang Kaisar melambaikan tangannya menyapa semua orang yang ada di bawahnya. Semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing untuk bisa melihat langsung Kaisar dengan matanya atau setidaknya menangkapnya dengan kamera.
Aku dengan kamera andalanku berusaha mengambil foto mereka yang di atas. Namun, karena jarak yang terlalu jauh, kuangkat kamera dengan dua tanganku tinggi-tinggi melewati atas kepala orang-orang di depanku agar bisa mendapat gambar sang Kaisar. Beberapa kali jepret akhirnya dapat juga meski tampak kecil. Tak apalah bisa di-zoom nanti. Sebagian besar gambar tertutup tangan orang-orang di sebelah depan yang juga menggangkat kamera sepertiku. Ketika aku menoleh kanan kiri, aku menyadari teman-temanku sudah tidak ada lagi di dekatku. Mereka mencari posisi masing-masing, mungkin berhasil maju ke depan atau malah terdesak ke belakang. “Ya sudah tak apalah nanti bisa ketemu saat keluar”, bisik hatiku.
Terdengar Kaisar menyampaikan sambutannya yang langsung disambut riuh suara orang di bawah. Aku tidak mendengar jelas apa yang diucapkan Kaisar, ditambah tidak mengerti bahasanya. Sesekali orang-orang membalas sambutan dengan riuh bersemangat meneriakkan “Banjai! Banjai!” sambil mengangkat tangan kanannya yang terkepal.
Tak lama acara pun selesai, Kaisar dan rombongannya meninggalkan podium tempat mereka berdiri dan menghilang ke dalam ruangan. Rombongan manusiapun diarahkan bergerak meninggalkan lokasi itu berjalan menuju pintu keluar. Barisan sudah tidak rapi seperti saat berangkat. Semua sepertinya berebut ingin keluar terlebih dulu, berdesakan. Aku masih terpisah dari kawan-kawanku, kami tercerai.
Maka kuikuti saja arus manusia yang bergerak di depanku, mencari jalan keluar. Setapak demi setapak melangkah maju keluar dari halaman itu, menuju pintu gerbang keluar. Kunikmati saja perjalanan memutar yang cukup jauh sambil tengok kanan kiri melihat situasi. Ternyata tidak melewati jalan yang sama seperti saat berangkat tadi. Dan tak lagi bisa jeprat-jepret, karena arus manusia yang bergerak cepat tak teratur mendesakku dari belakang.
Di arah depan jalan agak lebar dan kerumunan orang yang berjalan mulai terurai agak berjarak. Aku sibuk tolah toleh mencari teman-temanku. Satu dua kulihat mereka lalu bergabung menunggu yang lain. Sebelum sampai pintu keluar kami melihat taman dengan air mancur indah. Kami memutuskan menunggu rombongan di sana sambil beristirahat dan foto-foto. Aku duduk di bangunan pinggiran air mancur bersama teman-teman lain, kebanyakan perempuan. Kuusap wajahku yang terasa lengket dengan tisu. Penuh minyak plus debu. Kukeluarkan air mineral dari tas ransel, kuteguk untuk menghilangkan dahaga. Areal istana yang ternyata sangat luas untuk diputari dan penuh sesaknya manusia membuat badan ini terasa sangat lelah.
Lama aku menunggu temanku, Yudha dan Asra sambil sesekali menghubungi telepon selular Asra, tetapi suara tidak jelas karena ada noise ramainya suara di-background-nya. Akhirnya, kami berkumpul juga di taman air mancur. Selesai acara, teman-teman dari Tokyo ternyata ada acara lain dengan dosennya. Kedua teman perempuan satu kampus di Kyoto berencana berbelanja ke Uniqlo yang terlihat tak jauh dari stasiun Otemachi. Maka kami pun berpisah. Kebetulan ada seorang teman kuliah suami dulu, Teh Mela, yang juga sedang studi di Tokyo Daigaku. Aku mencoba menghubunginya dan kami janji ketemuan mumpung sama-sama di Tokyo. Posisi teman saat itu kebetulan sedang ada di Ueno park, menemani teman Indonesianya jalan-jalan. Kami pun janjian ketemu di taman itu jam 2 siang.
Dengan berbekal one day ticket subway Tokyo Metro Line, kuberanikan diri berjalan sendiri menuju Ueno Park. Tak terlalu susah berjalan di Jepang dengan kereta, karena petunjuknya ada. Di setiap stasiun di atas mesin penjualan tiket kereta, selalu ada peta rute perjalanan kereta yang melalui stasiun itu lengkap dengan nama kota dan ongkosnya dalam yen. Peta itu dibuat untuk semua perusahaan kereta yang melewati termasuk perpotongan jalur antara satu perusahaan kereta dengan perusahaan kereta lain, Bahkan, di dalam gerbong kereta subway, di atas pintu keluar, ada gambar peta jalur yang dilalui kereta tersebut.
Sampai juga aku di stasiun Ueno, setelah melewati beberapa stasiun. Aku berjalan pelan di dalam stasiun mencari peta untuk melihat posisi lokasi taman Ueno ada di sebelah mana. Jangan sampai salah mengambil pintu keluar stasiun. Tak terlalu jauh berjalan kaki akhirnya aku sampai juga. Setelah masuk segera kukeluarkan telepon selular untuk menghubungi Teh Mela. Ternyata bateraiku sudah hampir habis tinggal segaris saja.
“Halo Teh… aku sudah sampai di Ueno Park, Teteh di mana?” Tuuut… tuuut. Aku menyapa Teh Mela, tetapi ada suara tanda bateraiku habis.
“Ooh... sudah sampai yaa, posisi di mana sekarang? Tunggu sebentar yaa!”
“Aku sudah di dalam Teh, masih di dekat pintu masuk. Ok, aku tunggu ya Teh... tapi bateraiku sudah mau habis Teh... mungkin nanti akan putus sendiri.”
“Iya, sebentar saya…” tut tut tut... suara Teh Mela terputus. Baterai teleponku habis. Aku tak dapat lagi menangkap pesannya.
Aku diam sesaat lalu mencari tempat duduk. Kukira maksudku sudah cukup jelas. Maka kutunggu saja di tempat itu. Lama kutunggu, sampai satu jam lebih berlalu, tetapi belum muncul juga yang kutunggu. Aku mulai gelisah, tidak mungkin selama itu bila akan datang. Akhirnya kuambil kesimpulan si Teteh tidak menemuiku. Kesal dan penat aku bangkit dan memutuskan untuk berjalan memasuki taman. Menghibur diri dengan melihat-lihat apa yang ada di dalam taman itu. Masih saja rasa sesal hinggap, seandainya saja kutahu dia tak akan datang tentu aku sudah selesai berkeliling melihat isi taman.
Kubeli sebuah ubi panggang berukuran besar dari sebuah gerobak penjual makanan yang berderet di dalam areal taman, lalu mencari bangku taman yang kosong untuk duduk. Kupecah ubi menjadi dua bongkahan dengan tanganku agar uap panasnya keluar dan segera bisa dimakan. Rasanya manis seperti ubi madu cilembu. Kutelan perlahan bongkahan-bongkahan ubi yang masih mengepul sedikit uapnya hingga perut terasa hangat. Nyaman sekali ketika udara taman sore itu mulai dingin menusuk.
Aku kembali berjalan mengikuti jalan utama taman terus masuk ke dalam. Beberapa pohon tampak tinggal batang, dahan dan rantingnya saja. Tak ada satu daun pun tersisa. Mereka tampak seperti pohon hantu menyeramkan. Aku terus berjalan sendiri dan berusaha menikmati apa yang kutemui. Sesekali langkahku harus berhenti sesaat bila bertemu dengan sebuah keluarga yang berjalan melintas membawa anak-anak kecil. Suara tawa dan celoteh lucu mereka mengingatkan aku pada anak-anakku di rumah. Sedang apa mereka di rumah yaa? Semoga mereka semua ada dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.
Dari kejauhan tampak olehku hiasan warna-warni menarik perhatian banyak orang yang lalu-lalang. Beberapa orang terlihat tengah mengamatinya dari dekat. Aku pun menuju ke tempat itu. Ternyata yang berwarna-warni itu adalah kertas origami berbentuk burung yang disusun pada sebuah tali panjang. Beberapa tali panjang penuh dengan origami itu diikat menjadi satu dan digantung menjuntai. Ada pula origami burung yang disusun dalam bingkai kaca membentuk karya seni yang cantik. Dari keterangan yang ada, rupanya hiasan di tempat itu dimaksudkan untuk mengenang perjuangan seorang anak penderita kanker yang berusaha tetap semangat bertahan dari penyakitnya. Hari-harinya di rumah sakit digunakannya untuk membuat origami berbentuk burung. Bentuk yang menurut warga Jepang melambangkan sebuah doa dan harapan untuk keberhasilan suatu usaha.
Aku berjalan lagi. Entah sudah berapa jauh aku masuk, menyusuri cabang-cabang jalan hingga sampai ke kebun bunga. Di taman ini aku bisa menyaksikan bunga cantik berukuran besar yang ditanam dengan peneduh menggunakan jerami yang disusun dan diikat di tengah lalu dimekarkan membentuk seperti caping setengah lingkaran. Konon bunga ini sangat tidak tahan terhadap cahaya matahari sehingga perlu diberi peneduh untuk setiap tanaman bunga. Kebun ini menjadi menarik oleh banyaknya caping jerami yang memenuhi tanaman bunga.
Keluar dari kebun bunga kakiku sudah terasa pegal dan capek. Aku memutuskan mencari tempat istirahat sambil berjalan berbalik arah menuju pintu keluar. Di sebuah tempat agak sepi aku melihat ada bangku taman yang kosong. Maka segera kuhampiri tempat itu. Kuletakkan ransel gendonganku lalu duduk, meluruskan kaki dan perlahan kuurut kedua betisku. Tapi betapa kagetnya aku ketika tiba-tiba ada suara keras berkelebat di atas kepala, Aaak… Aaak… Aaak! Tak berapa lama sekumpulan burung gagak hampir bersamaan turun di atas tanah tak jauh dari arah depanku. Banyaknya… kuhitung semuanya ada sembilan ekor. Sepertinya ada sesuatu yang dituju di tempat itu. Ternyata mereka berjalan mendekati tumpukan sampah bungkus makanan. Sepertinya tadi ada beberapa orang makan dan meninggalkan sisanya di tempat itu. Burung-burung gagak itu mengais sisa makanan.
Kuamati dari jauh burung-burung hitam yang asyik mematuk kotak styrofoam dan sesekali berebut dengan lainnya. Sebenarnya aku merasa takut. Meski bukan kali pertama kulihat sekumpulan gagak sejak tinggal di Jepang, tapi tetap saja ada rasa takut dengan jenis burung satu itu. Mungkin karena di tempat asalku, burung gagak sudah jarang ditemui. Kalaupun ada sering dikaitkan dengan sesuatu yang berbau mistis atau pertanda buruk. Perlahan aku bangun ketika kuperhatikan ada seekor gagak berjalan menuju ke arahku. Apakah mungkin dia bisa membaca pikiranku, atau setidaknya menangkap sinyal ketakutanku? Aku segera berjalan cepat menjauhi kerumunan burung-burung itu, tanpa menoleh lagi ke belakang.
Aku terus berjalan hingga ke bangunan Tokyo Metropolitan Art Museum. Di halaman bangunan lingkungan museum yang berlantai aspal cukup luas, berkerumun orang banyak. Aku mendekat. Ternyata ada pertunjukan musik semacam gendang oleh sekelompok seniman berpakaian hitam-hitam dengan ikat pinggang dan gelang tangan dari kain berwarna merah. Pemain wanita memakai ikat rambut pita kain berwarna merah, sedang pemain pria memakai kain berwarna merah untuk ikat kepala.
Kunikmati suara gendang yang ditabuh berirama oleh sekitar 10 orang sambil berlenggak-lenggok mengikuti irama musik. Seorang dari mereka memainkan alat musik petik semacam harpa yang direbahkan. Satu orang lagi melakukan atraksi dengan berjoget di atas gendang besar yang disusun. Sorak dan tepuk tangan penonton pun riuh memberi applause. Aku pun turut memberi tepukan. Pertunjukan yang menarik!
Cukup lama langkahku terhenti untuk menikmati musik tradisional yang langka itu. Hingga kulihat jam di tanganku, jarum jam menunjukkan sudah 15 menit lewat dari 4 sore. Aku pun bergegas mencari jalan keluar menuju pintu yang terdekat dengan stasiun Ueno. Alhamdulillah banyak sudah yang bisa kulihat di taman ini.
Aku segera melangkah cepat ke pintu keluar taman yang ternyata bukan jalan yang sama dengan saat masuk yang mana berlokasi tepat di depan stasiun. Namun, itu pintu sebelah kiri sehingga pintu stasiun terlihat lumayan jauh di seberang. Aku menatap keramaian di seberang depan jalan. “Sepertinya ada pasar di situ, mampir sebentar ah masih ada cukup waktu sampai jam 5,” bisik hatiku. Penasaran, aku pun menyeberang dan masuk ke dalam barisan toko yang menjual bermacam produk, termasuk pakaian, sepatu dan tas. Lumayan bagus dan murah. “Tapi kan gak mungkin bawa-bawa barang banyak, sudahlah tidak usah belanja.” sebelah hatiku memprotesnya. Aku terus masuk ke dalam pasar, hingga akhirnya aku tergoda juga di subuah toko tas. Pilih-pilih akhirnya terbeli juga. Yaah… dasar emak-emak, jadi bawa tentengan deh, akhirnya kerepotan sendiri.
Sampai di stasiun aku mengamati peta di tanganku dan terbaca sebuah temple yang cukup terkenal, namanya ada di ujung stasiun jalur metroline itu, hanya satu atau dua stasiun saja dari Ueno. Maka seketika aku mengubah arah, membalikkan badan dan naik kereta ke arah yang berlawanan. Tujuanku ke Asakusa! Sekalian deh mumpung deket. Di situ ada Sensoji temple atau kuil Sensoji. Dari stasiun Asakusa aku berjalan kaki menuju kuil yang terkenal sebagai kuil tertua di Tokyo itu. Sepanjang jalan menuju kuil yang dikenal dengan Nakamise street, berjajar toko penjual souvenir dan aneka oleh-oleh di kiri dan kanan jalan. Aku sempat mampir membeli beberapa buah gantungan kunci lalu melanjutkan lagi perjalanan.
Hari sudah gelap saat aku sampai di ujung jalan dan melihat bangunan megah kuil berwarna merah. Kulihat pengunjung masih ramai keluar masuk gerbang, maka akupun turut masuk. Lampu-lampu dan lentera dalam lingkungan kuil sudah dinyalakan. Pendaran cahaya lentera yang menerangi bangunan kuil membuatnya terlihat cantik dan magis. Aku berjalan pelan mengamati sebentar keadaan kuil. Betapa megah dan kokoh bangunan kuil yang dibangun di zaman Edo itu telah menunjukkan kejayaan Jepang di masanya.
Aku harus puas hanya sebentar berada di dalam kuil. Hari semakin gelap, aku harus segera pulang ke apato temanku di Gyotoku. Mereka mungkin mengkhawatirkanku. Aku segera keluar dari kuil dan kembali menuju stasiun Asakusa. Kupercepat langkah lalu naik kereta berbalik arah menuju stasiun Otemachi. Namun, tiba-tiba mataku melihat nama stasiun Ginja di peta yang kubawa ada dalam jalur kereta yang kunaiki. Aku tergelitik penasaran ingin tahu seperti apa daerah Ginja. Lalu kuputuskan turun di stasiun Ginja. Di tempat ini terkenal dengan sebagai tempat perbelanjaan berkelas dengan toko Takashimaya. Aku hanya singgah sebentar di stasiun Ginja. Mengamati sekeliling sendiri merasa tidak nyaman di tempat itu. Maka tidak sempat keluar dari stasiun, aku segera naik kereta yang datang berikutnya. Setelah duduk dalam kereta aku mengintip lagi peta yang kubawa, lalu kuputuskan menuju Shibuya. Kepalang jalan, sekalian sajalah mbolang, pikirku saat itu.
Shibuya adalah sebuah tempat yang terkenal akan keramaian orang saat menyeberang di perempatan jalan dari stasiun Shibuya menuju ke kawasan pertokoan dan pemukiman di belakangnya dan sebaliknya dari kawasan pertokoan dan pemukiman menuju stasiun Shibuya. Perempatan jalan itu tak jauh dari stasiun. Aku menunggu dan mengamati dari sebuah taman di luar stasiun. Mengawasi orang yang menyemut lalu lalang saat lampu merah dan kendaraan berhenti. Ratusan manusia bergerak berlawanan arah dari empat penjuru arah di perempatan jalan itu. Sangat ramai. Namun, kemudian kembali sepi seiring lampu hijau menyala dan mobil bisa kembali lewat dari keempat arah. Demikian terus tak ada putusnya, selalu ramai.
Tak lupa aku selfie dengan background keramaian orang ketika tengah menyeberang jalan. Kebetulan aku melihat ada empat orang pemuda berbahasa Indonesia dengan dialek Minang sedang foto-foto di dekatku. Kuhampiri dan kusapa mereka yang ternyata adalah Kenshusei, semacam pekerja magang asal Indonesia dari Sumatera Barat. Maka kumanfaatkan kesempatan dengan meminta bantuan salah satunya untuk mengambilkan gambarku. Yes! Ada bukti aku sampai di sini.
Di taman itu juga ada sebuah patung anjing Hachiko. Patung seekor anjing yang dibuat untuk melambangkan kesetiaan seekor anjing kepada majikannya. Anjing itu selalu menunggu majikannya pulang kerja di stasiun Shibuya, hingga sang majikan sakit dan meninggal dunia. Si anjing tetap menunggu di stasiun sampai akhirnya ia juga mati.
Sudah jam sembilan malam kurang lima belas menit. Aku segera kembali menuju stasiun untuk pulang ke stasiun Gyotoku. Ada beberapa stasiun kulewati dan harus berganti jalur dari Ginja line ke Todai line. Alhamdulilah perjalananku lancar dan aku tiba di stasiun Gyotoku setengah sepuluh malam. Puas rasanya memanfaatkan one day ticket yang telah membawaku keliling sendirian hari itu. Aku berjalan kaki sekitar 30 menit menuju apato temanku. Dan benar sesampai di sana sudah lewat jam 10 malam. Teman-temanku sudah berkumpul menungguku pulang dengan khawatir. Ketika aku membunyikan bel yang ada di pintu kamar apato, Irrin yang membukakan pintu.
“Eh, Mba... syukurlah sudah pulang,” katanya datar setelah melihatku ada di balik pintu. Dia memang paling bisa menutupi suasana hatinya.
“Eeh, masih inget pulang toh... kirain nginep di mana…” Yudha, pemilik kamar menyambutku dengan pertanyaan yang sebenarnya tak enak kudengar. Tetapi aku tahu, itu luapan marah karena dia mengkhawatirkan diriku. Maka tidak kutanggapi, aku langsung membuka sepatu dan masuk ke dalam apato. Sementara tiga orang lainnya yang ada di dalam kamar itu hanya diam memandangiku yang langsung ambil tempat dan duduk dekat pintu. Mereka sepertinya juga ingin marah. Aku merasa seperti pesakitan yang siap dihakimi.
“Mbak May ke mana sajaa... kok teleponnya ngga aktif? Kami sudah coba menghubungi dari sore tadi. Untung belum dilaporin hilang ke Koban... Heheheh.\" Asra yang usil akhirnya buka mulut. Sambil bercanda mencairkan suasana.
“Sengaja dimatiin teleponnya kali Sra, orang lagi asyik.. .ya ngga mau diganggu,” Yudha nyeletuk kesal. Teman yang satu ini masih saja marah, omongannya bikin emosi. Tapi aku meredamnya. Memang aku yang salah pulang sudah malam tanpa kabar.
“Aduuh sorry Sra… HP-ku dari siang tadi tuh habis baterai. Aku lupa nge-carge kemarin. Jadinya aku ngga bisa hubungi kalian. Maaf sekali,\" aku mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Merasa tidak enak telah membuat teman-temanku cemas.
“Kami khawatir Mba, kirain Mba’e marah karena kami tinggal ke Uniqlo tadi,” seorang teman perempuan ikut bicara setelah suasana agak tenang.
“Ngga lah... kan tadi aku sudah bilang kalo mau ketemuan sama teman di Ueno, aku benar-benar ngga sengaja... HP-ku habis baterai,” aku menngulangi lagi pembelaanku karena memang itulah yang sebenarnya.
Dan malam itu aku segera tertidur lelap karena lelah yang amat sangat. Tak seorang pun dari teman-teman baikku itu tahu kalau malam itu aku sudah berkelana sendirian menyusuri sebagian wilayah utara Tokyo. I got lost in Tokyo that night.
***
Other Stories
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...
Reuni
Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...