13. Sepedaku Hilang
Pagi itu aku tergesa-gesa menuju kampus. Saking asyik skype-an dengan anak-anakku membuatku sedikit terlambat berangkat dari jadwal yang sudah kubuat. Hari itu ada kuliah jam 9 pagi. Keluar dari apato, langsung kukayuh sepedaku secepat mungkin agar bisa segera sampai di kampus. Aku sangat tidak suka kondisi seperti ini. Tapi aku tidak mau terlambat.
Sesampai di parkiran sepeda kampus yang lokasinya ada di sebelah East Wing, tempat di bagian depan sudah penuh. Beberapa sepeda malah disandarkan di sisi sebelah luar besi pagar pembatas lapangan parkir. Ya sudah aku ikutan parkir di situ juga. Darurat, karena buru-buru. Semoga security tidak marah. Paling-paling nanti dirapikan dan dipindahkan ke dalam lokasi parkiran yang kosong.
Aku segera berjalan kencang setengah berlari menuju ruang kuliah. Alhamdulillah belum terlambat meski napasku terengah-engah seperti mau putus. Selesai kuliah, aku langsung menuju ruangan lab meneruskan pekerjaan dan tugas menyusun bahan tesis.
Sampai petang hari aku masih asyik di hadapan laptopku. Pekerjaan yang tengah asyik kalau ditinggalkan bisa jadi lupa.
Sekitar jam setengah delapan malam Nita mengajakku pulang, karena hari gelap seperti mau hujan. Aku yang masih tanggung kerja mempersilakannya untuk pulang duluan.
Jam 8 malam saat aku bersiap hendak berjalan pulang, dan merapikan kursi dudukku, tiba-tiba hujan turun deras. Terdengar jelas dari balik jendela kaca labku. Aku mengurungkan niat dan menaruh kembali tas ransel ke atas meja kerjaku. Menunggu hujan reda kubuka lagi laptop. Lumayaan... bisa menambah sedikit progres penyusunan tesisku.
Sekitar jam 9 hujan mulai reda, suaranya tak lagi terdengar keras. Aku segera menyimpan kembali laptop ke dalam ransel dan bergegas keluar untuk pulang. Seperti biasa aku memilih menggunakan lift untuk turun dari ruanganku yang ada di lantai 3. Sesampai di bawah ternyata di luar masih hujan rintik. Aku berdiri sebentar di depan pintu keluar. Kulihat beberapa orang berjalan cepat menuju parkiran sepeda. Sepertinya gerimis masih lama berhentinya. Lebih baik aku nekat menerobos hujan daripada nanti kemalaman jalanan pulang tambah sepi.
Setengah berlari aku menembus gerimis hujan menuju parkiran sepeda. Sampai di dekat parkiran aku baru ingat kalau tadi pagi sudah memarkir sepeda di tempat yang salah. Segera menuju ke tempat aku memarkir sepeda tadi pagi.
Deg! Sepeda tidak ada lagi di tempatnya. Tak ada satu pun sepeda yang terparkir di tempat aku pagi tadi menaruhnya. Padahal tadi ada beberapa sepeda yang juga parkir di luar area. “Di mana sepedaku? Mungkinkah dipindahkan oleh security yang menjaga parkiran sepeda”, pikirku. Kalau benar dipindahkan oleh security ke dalam area parkir, dari mana aku akan mulai mencarinya? Tak ada petunjuk yang bisa membantuku untuk mencarinya di antara ratusan sepeda yang terparkir.
Lapangan parkir sepeda itu sangat luas kira-kira seperti lapangan bola kaki yang terbagi dalam blok-blok, dari A sampai L. Pada setiap blok penempatan sepada berhadapan satu sama lain. Biasanya aku meletakkan sepedaku di Blok A, B, atau C yang merupakan blok terdekat dengan gedung East Wing, gedung tempat labku berada. Apalagi jenis sepedaku merupakan sepeda kebanyakan. Jadi, semua sama bentuk dan warnanya. Aku hanya mengenali keranjang depan untuk menaruh barang berwarna hitam. Kebanyakan yang lain berwarna putih. Perlahan aku berjalan di blok terdekat dengan tempat aku meletakkan sepeda siang hari tadi mencari sepeda berkeranjang hitam di antara deretan sepeda yang terparkir. Untung aku punya senter kecil yang selalu ada dalam ranselku. Setiap menemukan sepeda berkeranjang hitam segera kudekati dan kulihat dengan detail, ternyata bukan. Terus kucari sepeda berkeranjang hitam di parkiran itu.
Aku terus berkeliling hingga blok terakhir, tetapi tetap tidak bisa menemukan sepedaku. Tak kuhiraukan banyak orang yang silih berganti datang mengambil sepedanya masing-masing lalu pergi. Beberapa teman Jepang yang kenal dan berpapasan jalan sempat menyapa dan menanyaiku. Tetapi mereka juga tidak bisa membantu. Mereka harus bergegas mengayuh sepedanya ke stasiun mengejar kereta untuk pulang.
Hari semakin malam, gerimis juga belum berhenti. Penasaran dan tidak yakin, aku memutuskan untuk mengulangi mencari lagi dari awal. Aku kembali berkeliling kalau saja ada sepeda yang terlewat saat pencarian pertama tadi. Kerudung dan bagian luar jaketku sudah basah kuyup oleh air dari gerimis yang sejak tadi tak kunjung reda. Baru setengah putaran tiba-tiba lampu parkiran mati. Kulihat jam tangan sudah jam 10 malam. Aduh bagaimana ini? Aku tambah kesulitan untuk menemukan sepedaku.
Sampai di ujung blok terakhir, aku kembali kecewa. Sepedaku memang tidak ada di sini. Siapa yang mengambilnya? Apakah mungkin ada yang mau mengambil sepeda bututku? Lagipula sepeda itu terkunci rodanya, pasti tidak bisa dinaiki. Atau mungkin pak security marah dan memberiku pelajaran dengan menyembunyikan sepedaku? Tak ada yang bisa memberi jawaban atas semua pertanyaanku.
Akhirnya aku menyerah. Terus, aku harus pulang pakai apa dong? Sudah hampir jam sebelas malam. Tak ada lagi bus, karena bus terakhir yang lewat Kasayama berangkat dari kampus jam 21.04 malam. Lengkap sudah penderitaanku. Artinya, aku harus pulang jalan kaki ke apato. Waduuh... gimana ini? Aku ragu untuk berangkat, tapi kulihat kampus sudah sangat sepi. Aku tidak bisa berpikir lama lagi. Aku harus bergerak! Maka di tengah malam gerimis aku harus berjalan sendirian menapaki jalanan yang biasanya kutempuh dengan waktu 15 menit dengan sepeda. Kalau berjalan kaki bisa lebih dari 30 menit.
Jalan yang harus kulewati bukannya tempat ramai banyak pemukiman, melainkan 60 persennya mulai dari kampus ke arah apato adalah jalanan sepi melewati jalan layang susun, pabrik, dan hutan pinus. Kalau kuturuti kata hati pasti aku jadi surut. Tekatku bulat… aku harus bisa sampai apato, berganti pakaian dan menghangatkan diri di kamar.
Bismillahirahmannirrahim. Doa permohonan selamat kupanjatkan. Sepanjang jalan mulutku tak henti komat kamit membaca ayat kursi. Kala itu aku pasrah hanya kepada Allah SWT penjagaku. Hanya kepada-Nya aku mintakan penjagaan atas diriku. Agar aku selamat tanpa halangan sampai di apato-ku, Berahaits Yamamoto.
Keluar dari areal kampus Ritsumeikan aku harus menyeberang jalan raya secara diagonal ke arah kanan. Jalur jalan untuk pesepeda dan pejalan kaki ada di sisi jalan sebelah kanan, berdampingan dengan jalan raya kendaraan bermotor roda dua dan roda empat.
Selama perjalanan itu hanya ada satu sepeda seorang mahasiswa Jepang yang melewatiku. Aku berjalan cepat-cepat semampuku. Sesekali kuperhatikan sekelilingku. Bila saja ada orang lain yang mendekat dan mencurigakan, aku akan keluar dari jalur sepeda dan masuk ke jalan raya di sebelah kiri jalan sepeda. Sesekali masih ada mobil lewat. Jalan raya di sebelah kiri jalur sepeda itu merupakan dua jalur terpisah yang berbeda arah. Aku tak berpikir ada hantu. Bila aku merasa takut, aku tanamkan dalam pikiranku bahwa di Jepang tidak ada hantu! Hantu itu cuma ada di Indonesia saja.
Setelah melewati depan pabrik yang cukup luas, ada pertigaan jalan dan jalan ke apato-ku berbelok ke kanan. Aku terus berjalan di sisi kanan jalan. Biasanya kalau naik sepeda, sampai di belokan pertigaan lampu merah itu aku menyeberang dan melanjutkan jalan ke sebelah kiri. Tapi di seberang jalan itu ada hutan pinus. Memang jalan yang berbatasan langsung dengan hutan pinus itu tidak terlalu panjang, tapi sudah pasti lebih seram bila malam datang dan hari gelap.
Aku dikejutkan oleh bunyi suara dari arah hutan yang gelap. Dag dug! Jantungku berdetak lebih kencang. Suara apa ituu? Aaah… pasti itu suara burung malam. Hanya burung malam! Pikiranku kukondisikan sedemikian sehingga aku tak lagi merasa takut.
Dan alhamdulillah aku bersorak girang saat sudah dekat jalan terowongan yang terletak di ujung permukiman. Artinya, aku akan segera tiba di lingkungan permukiman. Lebih aman. Terowongan menurun itu cukup panjang, tapi saat malam sangat terang oleh cahaya lampu yang terpasang di bagian atas terowongan. Biasanya saat bersepeda, terowongan ini adalah tempat meluncur yang paling asyik. Tidak perlu diontel, sepeda sudah meluncur jauh sampai depan sebuah supermarket.
Hujan mulai reda... hanya menyisakan sunyi dan jalanan basah. Aku mulai bisa sedikit melambatkan jalanku setelah sampai di lingkungan permukiman. Betisku sudah terasa sakit. Supermarket di sebelah kiri jalan tempat biasa aku membeli beras dan sembako lainnya sudah tutup. Aku terus berjalan dan berjalan hingga akhirnya terlihat kombini Family Mart. Aah... leganyaa. Kombini itu memang buka 24 jam. Di dalamnya masih ada satu - dua orang yang berbelanja. Apato-ku berada tidak jauh di arah belakang kombini itu. Aku segera berbelok ke arah kiri dan melewati jalan mendaki, lalu sampailah di apato.
Alhamdulillahirabbil alamin. Betapa bersyukurnya aku sudah tiba dengan selamat. Aku membuka pintu apato dengan kunci yang kubawa. Nita, teman satu apato-ku rupanya belum tidur. Dia langsung keluar dari kamarnya menyambutku.
“Mbaa... kok tumben sampe malem banget baru pulang? Bajumu basah kuyup... sudah terang toh di luar?\" dia mencecarku dengan beberapa pertanyaan. Tidak tahu apa yang telah terjadi denganku.
“Belum tidur toh, Nit? Aku pulang jalan kaki,” kutatap Nita sebentar, melepas sepatu dan kaos kaki, lalu berjalan masuk ke dalam ruang tengah.
“Lhaa... sudah malam kok jalan kaki, bareng siapa, Mba?\" tanya Nita.
“Ceritanya panjang Nit... aku ganti pakaian dulu yaa... Nanti tak ceritain,\" jawabku cepat sambil masuk kamar, melepas jaket dan kerudungku yang basah.
“Oh iyaa… Hooh... ntar masuk angin, Mba.”
Aku segera ke kamar mandi membersihkan diri. Tidak berani mandi. Dingin. Lalu mengambil air wudu untuk salat isya. Aku ingin sekali segera bersujud syukur kepada Allah. Betapa aku sudah dilindungi dan dijaga hingga ada dalam keadaan sehat selamat tak ada halangan apapun dalam perjalanan pulang mulai dari kampus sampai ke apato. Lama aku terdiam seusai salat. Betapa Allah sangat menyayangiku. Seandainya Allah Yang Maha Pelindung tidak menjagaku, mungkin saja hal buruk bisa terjadi padaku. Naudzubillah mindzalik.
Usai salat aku menepati janji bercerita ke Nita yang masih menungguku di depan laptopnya. Sepertinya dia sedang santai, nonton acara televisi Indonesia dari MivoTV. Tak cukup sekali Nita melontarkan kata heran dan takjub mendengar ceritaku.
“Ya Allah! Koe kok yo kendhel banget sih, Mba?\" Nita menanggapi dengan bahasa Jawa medok khas Yogya, yang artinya Kamu kok berani banget sih Mba.
“Lha ya mau gimana lagi... masa mau tidur di kampus? Dhewean sampe pagi malah tambah serem toh. Mending kuberanikan pulang. Sampai di apato aku bisa istirahat ada futon empuk yang membuatku bisa tidur dengan nyenyak dan mimpi indah.”
“Apa ngga takut ada apa-apa di jalan, wong gelap tur gerimis jee?” Nita bertanya sedikit bergumam seolah bicara pada dirinya sendiri.
“Pikiranku kujauhkan dari rasa takut, Nit. Aku set bahwa di Jepang tidak ada yang namanya hantu. Aku percayakan sepenuhnya kepada Allah untuk menjagaku. Sepanjang jalan aku terus membaca ayat kursi. Alhamdulillah... aku sampai juga di apato.”
“Ya udah Mba... istirahatlah. Besok aku temani mencari sepedamu di kampus.”
Aku pun kembali ke kamarku yang hanya dibatasi dua lembar dinding geser dengan kamar Nita. Dinding itu terbuat dari papan partikel yang ditutup dengan wallpaper berhias ornamen khas Jepang.
Badanku sepertinya agak kurang sehat karena hujan gerimis semalam, hidungku mulai mampet. Seusai subuhan tadi pagi aku kembali ke tempat tidur, menarik selimut lalu tidur lagi. Toh hari ini tidak ada kuliah pagi, aku bisa santai dulu.
Jam delapan pagi aku dikejutkan oleh suara dering telepon apple-ku. Sebuah nomor yang tak kukenali dan sepertinya bukan nomor telepon genggam, Softbank, Docomo atau AU. Sepertinya nomor telepon kantor atau rumah. Sambil berpikir siapa yang menelepon, kuterima telepon itu.
“Moshi-moshi... Eka San desu ka?\" suara seorang bapak-bapak yang dari logatnya asli orang Jepang menyapaku.
“Haik... Eka San desu,\" sku menjawab mengiyakan.
“Eka San, anoo jitensha no kagi arimasuka?\" si bapak menanyakan apakah aku punya kunci pengaman sepeda.
“Haik, arimasu. Wait, you ask about my becycle key? Do you know where is my becycle?”
Tak ada jawaban dari si bapak. Mungkin dia tidak menguasai bahasa Inggris. Dalam bahasa Jepang, dia memintaku untuk segera datang ke security office East Wing.
\"Siapa Mba yang nelepon? Sepedamu sudah ketemu apa?” Nita ingin tahu setelah mendengar percakapanku dengan seseorang di telepon.
“Sepedaku ada di kampus Nit. Aku ditunggu di Security Office East Wing. Tapi kok disuruh bawa kunci? Aku tak mandi dulu yaa...” aku menjawab pertanyaan Nita sambil berjalan menuju ke kamar mandi.
Sepanjang jalan ke kampus aku sudah mengumpulkan amarah yang siap untuk kuluapkan pada orang yang sudah mengambil sepedaku. Karena dia sudah membuatku sengsara malam tadi. Aku berangkat dengan bus yang menuju kampus. Sampai di kampus aku tidak segera menuju East Wing melainkan langsung menuju ruanganku untuk menaruh tas ransel berisi laptop di meja. Aku kemudian menuju ruang doctoral. Mencari Syafik San. Dia seorang mahasiswa post doctoral asal Bangladesh yang sudah lama tinggal di Jepang, Nihon go-nya sudah bagus. Aku perlu bantuannya sebagai translater dengan orang yang meneleponku tadi.
Aku bersama Syafik San menuju post security East Wing. Di luar ruangan security itu aku mendapati sepedaku dan sebuah sepeda baru dirantai menjadi satu menggunakan rantai besi berukuran besar dan digembok. \"Lhoo... pekerjaan siapa ini? Kurang ajar sekali. Pantaslah aku semalaman tidak menemukannya di parkiran sepeda,\" pikirku kesal.
Aku berusaha menahan amarahku. Kami masuk ke dalam ruang security. Di dalam aku melihat seorang anak muda, sepertinya anak S1 duduk lesu di hadapan seorang security.
Waah ini rupanya biang keroknya... Awas kamu yaa... kusemprot kau nanti. Aku langsung tahu kalau anak itu pasti pemilik sepeda baru yang dirantai bersama sepedaku.
Setelah masuk, Syafik menyampaikan beberapa kalimat dalam Nihon go, yang intinya menyatakan bahwa temanku ini (sambil menunjuk ke arahku) telah kehilangan sepeda tadi malam, dan sekarang ingin mengambilnya,si bapak security itu kembali menanyakan kunci kepadaku. Aku segera mengeluarkan dan menyerahkan anak kunci pembuka kunci pengaman sepedaku yang berfungsi menahan roda tidak berputar. Bapak itu tidak segara mengambil kunciku, malah menanyakan kunci yang lain. Kunci yang mana lagi? Aku bingung dan melirik Syafik San agar membantuku. Bapak itu kembali bicara dalam bahasa Jepang tapi cepat... sehingga susah kutangkap maksudnya. Yang ditanyanya tetap kunci.
Akhirnya si bapak mengajak kami semua keluar menuju lokasi dua sepeda terantai itu berada. Sambil terus bicara tentang kunci. Dia menunjuk pada gembok rantai besar pengikat sepeda. Bapak itu cerita bahwa tadi malam pemilik sepeda baru itu melapor ke security bahwa sepedanya telah dirantai dan digembok dengan sepeda lain. Demi keamanan, mereka berdua akhirnya menggotong kedua sepeda itu dan membawanya ke ruang security East Wing. Ooh ini toh masalahnya. Rupanya si bapak mengira aku punya kunci pembuka untuk gombok besar itu. Dan si borokokok kecil itu mengira aku pelakunya! Walaah... apa ada tampang kriminal yaa. Jangan mentang-mentang bawa sepeda baru terus bisa mencurigai pemilik sepeda butut sebagai pelakunya.
Kujelaskan pada Syafik San bahwa aku tidak punya kuncinya. Lalu Syafik San menyampaikannya dalam Nihon go. Bapak itu akhirnya mengerti. Kemudian dia minta izin untuk memotong gembok yang mengunci rantai besar itu. Oh iyaa... tentu sajaa… silakan. Dia segera masuk ke dalam ruangannya dan kembali dengan membawa gunting pemotong besi berukuran besar. Sekali lagi dia minta izin untuk memotong gembok. Aku kembali mengiyakan. Lalu gembok pun dipotong. Rantai besar itu terbuka dan sepedaku bebas. Kasus selesai dan kami bisa pergi membawa sepeda masing-masing. Aku berterima kasih kepada Syafik San yang langsung kembali menuju ruangan kerjanya.
Tunggu dulu, aku belum jadi memarahi si borokokok kecil itu. Sedari tadi diam dan wajahnya terlihat kesal kepadaku mulai dari pertama bertemu di dalam ruang security. Lho harusnya kan aku yang wajib memarahinya. Aku mendekatinya saat bersama-sama menuntun sepeda menuju parkiran. Kubilang padanya, kalau aku kesal sekali. Tadi malam aku terpaksa harus pulang jalan kaki di bawah hujan gerimis. Gara-gara sepedaku dipindahkannya ke East Wing. Tapi dia tidak menjawabku... sepertinya dia kurang paham bahasa Inggris. Huh... dimarahin malah ngga tahu, capee deh!
***
Other Stories
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Separuh Dzarrah
Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...