Namaku May

Reads
1.9K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Ayaka Prayitno

12. Berahaits Yamamoto

Awal musim semi, perkuliahan semester kedua dimulai. Aku baru saja kembali dari tanah air mengambil jatah liburan musim dingin selama dua bulan sambil melengkapi data-data untuk tesisku sebagaimana diminta sensei. Aku dan Nita datang lebih awal di saat teman-teman lain masih memperpanjang liburan hingga dua minggu lagi di kampung halaman. Selain karena aku hanya diberi waktu oleh sensei selama 8 minggu, juga karena aku harus mencari apato baru untuk tempat tinggal satu semester lagi.
Pihak kampus yang mengurus tempat tinggal kami selama studi melalui International Office memanggil kami dan menginformasikan bahwa masa tinggal kami di apato hanya sampai akhir bulan Agustus saja. Hal ini dikarenakan adik kelas akan segera datang menggantikan kami di pertengahan September. Maka selama satu bulan sampai menunggu wisuda tanggal 23 September, kami tidak punya tempat tinggal. Saran mereka agar kami kembali ke tanah air selama menunggu wisuda tidak bisa kami terima, kecuali mereka mau menanggung tiket pesawat pulang pergi.
Kebetulan sekali angkatan kami yang ketiban apes. Waktu pertama datang kami harus menunggu di dormitory kampus dulu sampai kakak kelas keluar dari apato dan baru bisa masuk apato di awal Oktober. Kemudian kami juga harus dikalahkan untuk keluar di akhir Agustus karena apato akan ditempati oleh adik kelas. Hadeeeh… Nasib! Akhirnya angkatan kami sebanyak 9 orang bersepakat untuk keluar dari apato pada akhir Maret. Artinya, kami hanya tinggal satu semester saja di apato yang dicarikan pihak kampus. Apa boleh buat, lebih baik kami mencari apato baru hingga kami bisa tinggal sampai akhir September.
Sekembalinya dari tanah air pada minggu ketiga Maret, aku dan Nita langsung berkemas untuk bersiap pindah sambil mencari apato baru. Saat itu udara sudah mulai menghangat, tidak sedingin saat akan pulang ke Indonesia akhir Januari lalu. Pun demikian aku masih sempat menikmati salju yang masih turun di suatu malam, meski sangat tipis dan langsung mencair saat menyentuh tangan. Ternyata itu salju terakhir yang dapat kunikmati. Musim segera berganti memasuki awal musim semi, maka tak harus disesali apa yang seharusnya pergi, karena esok pagi kuntum-kuntum sakura sudah menanti saatnya mekar. Keceriaan akan segera datang seiring datangnya sinar mentari yang menghangatkan suasana. Di areal kampus, di taman, di pinggir jalan, kuntum-kuntum pink kemerahan mulai menghiasi dahan dan ranting pohon yang semula terlihat gersang seolah mati. Musim sakura segera tiba. Cerry blossom will coming soon!
Kami harus segera menemukan tempat tinggal baru, sehingga bisa punya banyak waktu untuk berkeliling sekitar kampus melihat si cantik sakura mekar. Dalam perjalanan kembali dari Indonesia, kami satu pesawat dengan Icak, mahasiswa S1 beasiswa Monbukagakusho. Kami naik kereta bersama dari Kansai Airport menuju Minami Kusatsu. Bahkan menyewa satu taksi bersama. Dalam perjalanan itu kami sempat bertanya tentang apato-nya. Menurutnya masih ada satu kamar yang kosong. Kami langsung tertarik, apalagi setelah mendengar biaya sewanya murah. Maka aku dan Nita menyempatkan untuk turun dari taksi sebentar saat Icak sampai lebih duluan untuk melihat apato-nya. Hanya mengecek sebentar aku dan Nita segera kembali ke taksi karena merasa tempat itu tidak cocok buat kami perempuan. Fasilitas di dalamnya terbatas. Mungkin memang dipersiapkan untuk tempat tinggal cowok yang tidak perlu repot masak-masak atau mencuci pakaian.
Lain hari kami dibantu Handy, seorang teman satu kampus asal Indonesia penerima beasiswa Monbukagakusho yang mengusai bahasa Jepang dengan bagus, aku dan Nita mendatangi sebuah kantor agen apato tak jauh dari stasiun Minami Kusatsu. Di kantor ini kami mendapat informasi dan pilihan beberapa apato di sekitar kampus Ritsumeikan yang dikelolanya. Namun, saat mengetahui biaya sewa per bulannya, kami surut. Terlalu mahal buat kami. Maka kami pun pamit keluar tanpa berminat untuk mengecek satu apato pun. Kami berterima kasih atas informasi yang diberikan dan mengatakan untuk mempertimbangkannya terlebih dahulu. Di Jepang, apato dipasarkan melalui agen. Agen inilah yang membantu mencarikan calon penghuni apato sampai beres urusan administrasi dan pembayarannya, termasuk key deposit. Agen ini juga yang akan memfasilitasi dengan pemilik apabila kita punya permintaan tertentu.
Tiga orang teman wanita kami dari apato Shimizu sudah pindah dan tinggal bersama di daerah Minami Kusatsu. Aku dan Nita mengunjungi mereka. Ternyata di apato itu tak ada lagi kamar yang kosong. Maka kami pun pulang sambil terus berharap besok akan mendapat apato baru yang cocok. Dua orang jagoan kami, Daus dan Yadi tinggal bersama di daerah Seta. Kami mendatangi apato mereka. Di apato itu masih ada satu kamar kosong, tapi tempatnya terlalu jauh dari kampus. Rasanya tidak sanggup mengayuh sepeda sejauh itu setiap hari. Lagi pula kami perlu dua kamar untuk kami berempat mantan penghuni apato Bell Palazo. Yadi kemudian menyarankan kami untuk mendatangi kantor agen apato-nya, barangkali ada apato lain yang cocok.
Ada cerita lucu saat mencari apato di kantor agen itu. Kala itu Yadi mengantar kami ke kantor agen apato-nya, tapi karena dia ada keperluan lain maka kami ditinggalkan berdua saja di depan kantor. Aku dan Nita segera memarkir sepeda di depan sebuah bangunan seperti toko yang tidak terlalu luas ruangannya. Begitu masuk ke dalam, kami langsung disambut ramah oleh seorang bapak yang umurnya kutebak sudah di atas lima puluh tahun. Bapak itu tidak bisa berbahasa Inggris dengan aktif.
Si bapak dengan ramah menanyai maksud kedatangan kami dalam bahasa Jepang. Kami menceritakannya dalam bahasa Inggris bahwa kami mencari apato di sekitar kampus Ritsumeikan. Bapak itu mengerti lalu mengambil sebuah album kumpulan apato, membuka halaman demi halaman dan menunjukkan beberapa gambar apato dan menerangkannya dalam bahasa Jepang. Kebetulan aku masih bisa menangkap apa yang disampaikannya. Lalu kujawab dengan bahasa Jepang bercampur Inggris. Kadang si bapak tidak mengerti dengan perkataan kami atau sebaliknya. Bila sudah begitu, si bapak segera menyibukkan diri dengan monitor yang ada di hadapannya, lalu menunjukkan layar monitornya kepada kami. Ternyata sejak kami datang si bapak langsung membuka aplikasi untuk menerjemahkan kata-kata yang kurang dimengertinya dari bahasa Inggris ke Jepang. Lucuu… ingin tertawa bila ingat kala itu. Di dalam hati aku salut dengan si bapak yang telah berusaha melayani kami dengan sepenuh hati.
Di dalam album itu aku melihat sebuah apato yang sepertinya kukenali, kalau tidak salah itu bangunan yang sering kulihat saat berangkat ke kampus dari apato Bell Palazo. Lalu aku melihat alamatnya, ternyata memang benar lokasi bagunan ada di Kasayama. Maka kami minta untuk mengecek apato itu dan satu apato lain. Kami diantar si bapak menggunakan sebuah mobil kendaraan roda empat fasilitas kantor agen tersebut. Apato yang pertama dilihat adalah apato yang letaknya lebih dekat dengan kantor agen itu di daerah Seta. Sewanya murah dan ada tiga ruang di dalamnya yang bisa difungsikan sebagai kamar. Tetapi benar-benar kosong unfurnished. Belum lagi dinding dalam terlihat kusam dan halaman luar tidak terawat. Melihat kondisi dalam dan luar apato itu aku merasa kurang sreg. Nita pun berpendapat demikian.
Si bapak bisa melihat raut muka kami yang belum pas, maka kami pun diantar melihat apato pilihan kedua, yang menurut si bapak sewanya cukup mahal, tetapi bagus dan jaraknya dekat dengan kampus. Kami segera masuk ke dalam mobil si bapak dan berangkat lagi menuju apato lain yang ternyata jaraknya cukup jauh karena perjalanan terasa lama. Dalam hati aku sempat ragu, apa betul ini jalan menuju apato yang kulihat itu. Ternyata betul!
“Ah iyaa... betul yang ini, Nit!” aku bersorak tak sengaja begitu tiba di depan pintu gerbang masuk sebuah apato. Aku menoleh ke sisi kiri dan benar saja Bell Palazo terlihat berada di arah samping kiri belakang apato itu. Di pintu gerbang sempat kulihat tulisan cukup besar dalam huruf katakana dan kanji “Berahaits Yamamoto”. Aku langsung jatuh cinta melihat performa bangunan dari luar dan lokasi sekitarnya. “Abaikan harganya yang mahal! Ini sangat bagus dan dekat dari kampus!” kata hatiku membujuk.
Setelah si bapak membuka pintu apato di lantai bawah, kamar nomor 1. Kami segera masuk dan memeriksa ruang-ruang yang ada. Ternyata ruang dalamnya luas sekali dengan penataan dan pewarnaan yang bagus. Lantai ruangan dilapisi karpet motif palet kayu cokelat tua. Ada dua kamar tidur yang dibatasi dengan dua buah pintu geser dan tidak bisa dikunci, sedang sisi lain ke arah luar dilengkapi sebuah pintu geser dari kaca tebal menuju ke teras yang dilengkapi pengunci. Lantai kamar dilapisi tatami yang masih bagus dan rapi. Tiap kamar dilengkapi dengan lemari besar dengan dua pintu geser. Lemari itu menyatu dengan dinding tembok sepanjang satu sisi kamar. Besar sekali. Bisa untuk menyimpan futon atau kasur, bantal dan selimut.
Di depan dua kamar itu ada ruang yang luas memanjang bisa untuk ruang tamu atau aktivitas bersama lainnya. Dinding ruangan ini pada dua sisinya merupakan pintu geser yang bisa dikunci terbuat dari bahan kaca tebal sehingga cahaya matahari bisa masuk. Pada setengah sisi depan ruang itu ada dapur yang dipisahkan dengan sebuah bufet panjang lengkap dengan laci untuk menyimpan peralatan memasak. Pada sisi lainnya adalah ruangan panjang terdiri dari 3 kamar, yaitu kamar cuci pakaian, kamar mandi dan toilet. Cozy sekali.
Kami berdua langsung cocok. Ya! Kami mau yang ini! Dan karena bisa untuk berdua, maka biaya sewa 70.000 yen per bulan menjadi tidak terasa mahal. Masih lebih murah dibandingkan dengan sewa apato sebelumnya. Dasar emak-emak aku tetap berusaha menawar kepada si bapak agar deposit key-nya jangan terlalu mahal. Aku ingat kata-kata Hendy kalau uang jaminan yang dibayar saat awal masuk apato itu kadang bisa ditawar.
“Tolong deposit key diturunkan separohnya saja, jadi 50.000 yen,” rayuku kepada si bapak. Si bapak tersenyum lalu berpikir sebentar. Dia kemudian permisi untuk menghubungi pemilik apato. Kudengar pembicaraannya dengan seseorang dalam bahasa Jepang yang cepat sehingga sebagian tidak kumengerti. Aku terus memperhatikan mimik muka si bapak sambil berharap permintaan kami bisa disetujui oleh pemilik apato.
“OK! Bisa!” kata si bapak tersenyum setelah menutup teleponnya dan menghampiri kami yang menunggu. Si bapak kemudian berjalan memasuki kamar seperti hendak menunjukkan sesuatu kepada kami.
“Deposit key bisa diturunkan, tetapi tatami ini tidak diganti. Wallpaper pelapis pintu geser pembatas kamar dan pintu lemari tidak diganti, dinding kamar juga tidak dicat lagi. Hanya dibersihkan saja,” si bapak menjelaskan sambil menunjuk bagian-bagian ruangan yang dimaksudnya.
Aku menoleh ke arah Nita, “Kata bapak, Bisa Nit, tapi tatami ngga diganti, wallpaper pintu geser tidak diganti dan dinding kamar ngga dicat lagi. Gimana, ngga apa-apa yaa?”
“Iya ngga apa-apalah, kelihatannya masih bersih kok. Udah aku mau,” jawab Nita cepat seperti takut penawaran itu segera habis waktu dan tidak jadi dapat apato itu.
“Ok. Tidak apa-apa, kami setuju! Deal!\" kataku kepada si bapak sambil tersenyum puas. Kami segera keluar, si bapak mengunci kembali pintu kamar dari luar. Lalu kami menuju ke mobilnya untuk kembali ke kantor agen si bapak. Hari itu juga kami menyelesaikan administrasi di kantor, membayar sewa satu bulan dan deposit key untuk apato serta biaya administrasi untuk kantor agen itu. Proses selesai dan kami langsung membawa pulang kunci kamar apato itu. Senangnya hati kala itu. Perjalanan pulang ke Kasayama dengan sepeda tidak terasa lelah karena hati merasa puas.
Alhamdulillah, akhirnya kami mendapatkan tempat tinggal yang cocok, bagus, dekat kampus dan masih terjangkau sewanya. Segera saja kami mulai memindahkan barang-barang dari apato Bell Palazzo yang berada tidak jauh di belakang, tak sabar ingin segera menempatinya. Aku dan Nita bolak-balik mengangkut sedikit demi sedikit barang-barang pribadi masing-masing dengan sepeda. Malam itu kami memutuskan untuk mulai menginap. Meskipun belum semua barang kelar dipindahkan dan ruangan belum tertata rapi.
Malam itu aku bisa tidur nyenyak, tanpa ada rasa aneh, merinding atau rasa tak nyaman. Entah atau karena karena terlalu capek seharian mengangkut barang lalu membenahi dan menatanya sampai malam sehingga kami langsung tertidur pulas.
Berahaits Yamamoto ada di tempat yang tinggi sehingga meskipun dari lantai satu, kami bisa melihat suasana jalanan di depan apato saat pagi dan sore hari. Apato yang berlantai empat ini hanya dilengkapi tangga manual. Maka pekerjaan naik turun tangga dari lantai satu ke lantai empat bisa menjadi sarana untuk olahraga buatku saat pagi hari usai salat subuh sambil refreshing menyaksikan keindahan warna langit pagi menjelang matahari terbit.
Kedua teman sesama penghuni Bell Palazo yang masih berada di tanah air sudah dikabari kalau mereka sudah kami pesankan sebuah kamar nomor 4 di lantai satu juga yang kebetulan kosong. Letaknya berada di ujung dari bangunan yang berlawanan dengan posisi kamar kami di ujung kanan. Kondisi ruangan di dalam kamar itu sama persis seperti kamar kami hanya saja berlawanan arah penataannya. Mereka senang dan berterima kasih.
Pindahan akhirnya kelar juga. Tetapi masih ada PR buat kami untuk menyiapkan peralatan tidur dan meja belajar, perabot dapur dan peralatan mencuci pakaian, karena apato itu unfurnished. Untuk menutup pintu kaca di ruang tamu saat malam hari aku dan Nita sepakat membeli masing-masing dua helai gorden di Seiyu. Untuk keperluan memasak, kami patungan membeli sebuah kompor gas dari toko recycle di Seta. Asto, teman satu kampus penerima beasiswa Monbukagakusho, yang membantu membawakan kompor itu dengan sepedanya yang memiliki fasilitas boncengan.
Untuk kenyamanan tinggal, kami masih kurang dua fasilitas lagi yang urgen sifatnya, yaitu mesin cuci dan kulkas. Sementara aku dan Nita mencuci dengan manual. Untungnya cahaya matahari sudah mulai mulai menerangi saat siang, sehingga pakaian kami bisa kering. Untuk sementara kami membeli bahan makanan dalam jumlah cukup untuk dimasak sampai dua hari ke depan, atau membeli bahan makanan yang tidak memerlukan lemari pendingin untuk menyimpannya.
Masalah kami yang lain adalah tidak dilengkapinya apato dengan jaringan internet. Padahal jaringan internet buat kami sangatlah penting, bagaikan udara yang membuat nyawa kami tetap hidup. Sudah menjadi sebuah kebiasaan setiap pagi mulai pukul 8 - 10 waktu Jepang atau jam 6 - 7 Waktu Indonesia Bagian Barat, aku menyempatkan diri untuk menyapa suami dan anak-anakku yang sedang bersiap untuk berangkat ke sekolah dengan menggunakan aplikasi video call Skype. Aku senang bisa melihat mereka pamit melambaikan tangan dan kiss goodbye di layar monitor. Maka Semenjak tinggal di Berahaits Yamamoto, aku dan Nita menjadi rajin berangkat ke kampus dari pagi hanya untuk bisa tetap ngenet.
Awal April perkuliahan semester dua dimulai. Aku kembali pada rutinitas ke kampus, kuliah dan zemi. Dua teman asal Indonesia pun sudah datang dan menempati kamar nomor 4. Suatu hari saat berada di lab, aku menyampaikan masalahku kepada teman satu labku, Wachin yang asli kelahiran Kasayama, dan bertanya di mana aku bisa mendapatkan kulkas dan mesin cuci dengan harga murah. Tak disangka, dia malah menawari untuk meminjamkan barang-barang milik kakaknya yang saat ini sedang belajar di Amerika dan menitipkan perabotnya di rumah orang tuanya.
Dengan senang hati aku menerima bantuannya, mulai dari kulkas, microwave, kipas angin, penyedot debu, dan mesin cuci ditawarkannya kepadaku. Kebetulan rumah Wachin tidak jauh dari apato baruku, jadi dengan mengerahkan teman-teman Indonesia pasti cepat selesai mengangkutnya. Ternyata Wachin malah mengantarkannya dengan menggunakan mobilnya sendiri. Alhamdulillah, Wachin sangat baik. Aku tak akan lupa akan jasa baiknya. Kelak saat kelar studi, aku menyerahkan kembali barang-barang itu kepada Wachin. Dibantu banyak teman-teman Indonesia, barang-barang itu diangkut semacam lori dengan satu orang menarik dari depan dan yang lain mendorong dari belakang.
Berkaitan dengan jaringan internet, suatu hari Nita yang tengah membuka laptopnya menemukan ada wifi terkunci dengan sinyal cukup kuat, ada di sekitar kamar apato kami. Dia memberitahuku penuh semangat.
“Mba… ada wifi deket sini lho! Punya siapa yaa?\" Nita memberitahuku.
“Manaa…?” Aku menghampiri Nita di kamarnya. “Oh, iyaa… kalo dari namanya, ini punya orang Vietnam.”
“Ho oh... kuat sinyalnya. Kayanya ini di deket kamar kita Mba,” Nita menambahkan.
“Oooh… jangan-jangan wifi-nya cowok yang kulihat kemarin di parkiran sepeda Nit! Aku kemarin lihat dua orang cowok berwajah Asia masuk ke parkiran. Masih kecil sepertinya anak undergraduate. Sepertinya dia tinggal di lantai atas. Besok kita cari yuk!\"
“Untuk apa Mba… mau minta bagi wifi-nya?” Nita mencoba menebak maksudku.
“Ya iyalaah… besok kita temui mereka. Nanti kita bantu bayar separoh dari iuran bulanannya. Kurasa dia mau!” aku bersemangat mendapatkan harapan bisa ngenet di apato.
“Apa iya mau mereka Mba?” Nita masih ragu dengan rencanaku.
“Kita coba dulu… Barangkali rezeki kita, mereka berbaik hati mau berbagi. Kalau ngga mau yaa sudah… yang penting kita sudah usaha!” aku meyakinkan Nita.
Dari saat itu aku dan Nita selalu mengawasi jalanan masuk ke apato. Siap-siap menghadang mereka kalau mereka pulang dari kampus. Dan akhirnya kami menghadangnya saat hendak menaiki tangga. Kami tanyai apakah mereka dari Vietnam dan pemilik wifi yang kami temukan. Ternyata benar. Singkat kata, mereka mau berbagi dengan kami dan memberi tahu kunci untuk membuka akses wifinya. Alhamdulillah.
Lengkap sudah apa yang aku butuhkan untuk tinggal nyaman di apato baruku. Perabot rumah tangga lengkap, jaringan internet pun ada. Fabi ayyii aalaa irobbikuma tukadzibaan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? Syukurku atas segala kemudahan yang telah Allah SWT berikan kepadaku dalam menempati apato ini.
Di depan apato ada pohon sakura yang tumbuh tepat di pojok kamarku. Setiap hari kupandangi kuntum-kuntum bunga yang terus mekar perlahan. Aku bisa dengan mudah memotretnya dari dekat dengan membuka pintu kamar yang menuju teras. Suatu hari aku mendapati tangkai-tangkai
bunga itu tertunduk dan bunganya seolah bergerombol terkumpul menjadi satu. Lucuu… seperti anjing pudel. Rupanya semalam turun hujan dan tetes-tetes air masih tertinggal membasahi kelopak-kelopak bunga yang membuatnya menjadi berat.
Di teras samping apato yang berpagar tembok batu setinggi kepala ini, aku meletakkan dua buah pot dari bahan plastik berwarna hijau dan merah bata. Pot, media tanam, dan benihnya semua kubeli di Seiyu supaa. Kutanami kedua pot itu dengan dua macam benih sayuran. Setiap hari aku mengamati, menyiram, dan merawatnya sebagai hiburan. Rasanya puas melihat tanaman sayur yang berwarna hijau itu tumbuh subur.
Di samping kanan apato ada kebun anggur kepunyaan pemilik apato. Aku mengamati perkembangan buah anggur berwarna hijau yang tumbuh membesar dari hari ke hari. Sangat menggoda, tetapi aku hanya bisa melihat dan memotretnya saja tanpa berani menyentuhnya.
Di depan pagar apato sisi sebelah kiri ada sebuah taman, namanya Taman Sakura yang tertulis dalam huruf katakana “Sakura Park”. Di taman yang tidak terlalu luas itu tumbuh beberapa pohon sakura dengan bunga berwarna pink dan putih. Taman itu dilengkapi tempat bermain anak-anak, sehingga saat sore atau pagi hari saat hari libur, taman itu terlihat ramai oleh anak-anak yang tengah bermain ditemani ibunya. Kadang-kadang seorang ibu mengajak main anak balitanya sambil menyuapi makanan.
Bangunan berlantai empat yang megah dan anggun ini dihiasi tanaman berdaun hijau yang berfungsi sebagai pagar pembatas antara bangunan dan halaman apato yang berlantai aspal. Tanaman pagar yang terlihat hijau ini ternyata berbunga indah saat musim panas tiba. Bunga berbentuk terompet berwarna pink-ungu dan putih dengan ukuran cukup besar yang mekar semarak mampu merubah penampilan tanaman pagar yang semula hijau tua menjadi pink-ungu dan putih di bagian atasnya, sangat cantik.
Berahaits Yamamoto adalah tempat tinggal terbaikku yang sangat mengesankan selama tinggal di Jepang. Meskipun hanya enam bulan saja tinggal di apato itu, aku merasa sangat nyaman di dalamnya seperti di rumah sendiri. Ketika meninggalkannya untuk kembali ke tanah air, aku menolehnya sesaat lalu berbisik akan datang lagi suatu hari nanti. Insya Allah.
***

Other Stories
Pintu Dunia Lain

Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...

Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Gm.

menakutkan. ...

Boneka Sempurna

Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...

Awan Favorit Mamah

Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...

People Like Us

Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...

Download Titik & Koma