Namaku May

Reads
1.9K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Ayaka Prayitno

11. Bermain Salju Di Nagano

Musim dingin sudah mulai tiba. Suhu udara di sekitar tempat tinggalku turun sangat drastis. Siang hari suhu udara berada di bawah 3oC. Saat dini hari malah bisa minus. Aku harus semakin merapatkan dan menambah tebal pakaian yang melekat di badan. Saat ke kampus bersepeda, aku menutupi hidung dengan sapu tangan untuk mengurangi udara dingin masuk ke dalam hidung yang bisa membuatku susah bernapas. Untungnya, ada kerudung yang menutupi bagian atas kepalaku dan sangat membantu melindungi dari dingin, terutama melindungi kedua telingaku. Teman-teman yang tidak berkurudung akan menggunakan penutup telinga dari bahan wol yang dipasang seperti headset melingkari bagian atas kepala.
Di dalam kamar apato, AC yang bisa berfungsi ganda sebagai pendingin sekaligus pemanas ruangan mulai di setting hot. Karpet berpemanas listrik mulai diaktifkan pemanasnya. Tidak cukup itu saja, lampu pemanas khusus warisan dari kakak kelas diletakkan di dekat meja untuk lebih menghangatkan saat duduk bersila mengerjakan tugas di dalam kamar apato. Saking dinginnya aku sampai tidak menyadari kalau sebagian badanku, terutama kulit bagian paha dan tangan timbul ruam-ruam merah akibat panas dari lampu pemanas yang terlalu dekat.
Bibir harus selalu diberi pelembab agar tidak pecah-pecah. Badan pun harus dilumasi lotion khusus agar tidak menjadi keriput, terutama telapak tangan yang sering terbuka dan terpapar dingin langsung. Bila tidak akan terlihat sangat buruk, seperti tergores silet dan rasanya pedih.
Di kampus, air di kolam air mancur taman kampus sudah membeku membentuk lapisan es. Beberapa mahasiswa undergraduate nampak iseng melempari permukaan es di kolam itu dengan sesuatu yang berat, sehingga lapisan es pecah menjadi bongkahan-bongkahan es setebal 5 cm. Namun, tak lama bongkahan es itu merapat dan menyatu kembali oleh dinginnya udara. Salju sudah mulai turun saat malam hari, namun sangat tipis dan segera mencair apabila terkena sinar matahari pagi.
Di bagian wilayah utara Jepang, salju sudah turun cukup tebal terutama di daerah pegunungan. Teman-teman Demakers yang ada di Tokyo memberikan informasi kalau mahasiswa Indonesia yang ada di Tokyo telah berencana mengadakan perjalanan ke Nagano Prefecture untuk skiing. Aku bersama Irrin dan Nita diajak untuk bermain salju bersama. Tidak membuang kesempatan, kami bertiga ikut mendaftar, dibantu Yudha yang ada di Tokyo. Kami yang sudah berencana pulang ke Indonesia di puncak musim dingin untuk mengambil jatah liburan, dengan senang hati menggunakan kesempatan itu sebelum pulang ke tanah air. Kalau menunggu salju turun di Kyoto, maka kami tidak akan bisa pulang ke Indonesia.
Sekitar minggu kedua bulan Januari, kami berangkat keTokyo menggunakan sleeper bus dari Kyoto bersama Nita. Irrin menyusul dengan kereta cepat Shinkansen karena masih ada tugas di kampus. Rombongan berangkat dari stasiun Tokyo menuju Nagano Prefecture sekitar jam 8 pagi. Tujuan tempat ski adalah Hakuba.
Teman-teman di Tokyo sudah mengatur semua jadwal, bus menuju Hakuba, penginapan dan perlengkapan untuk bermain ski di sana. Kami berangkat dengan menggunakan sebuah bus.
Sampai di lokasi langsung menuju peralatan ski yang sudah dipesan oleh panitia yang mengatur keperluan rombongan untuk bermain salju, yaitu alat bermain ski lengkap dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku larut bersama mereka, bermain salju dan berlatih meluncur di salju. Di tempat ini ada tempat khusus berlatih meluncur yang medannya dibuat menurun. Ternyata tidak mudah untuk meluncur dari ketinggian sambil menyeimbangkan berat badan agar tidak jatuh. Setiap kali terjatuh, lalu bangun dan mencoba lagi.
Saat petang menjelang, kami kembali ke penginapan untuk beristirahat. Kami menginap satu malam di sebuah penginapan cukup besar dengan beberapa kamar dan diilengkapi ruang makan yang bisa berfungsi sekaligus ruang pertemuan. Makan malam di rungan ini telah dipersiapkan dengan jamuan yang dihidangkan khusus seperti dalam party dan diawali dengan acara sambutan dari pemimpin rombongan dan dilanjutkan dengan perkenalan semua yang hadir dalam acara skiing itu.
Malam itu aku menginap di salah satu kamar dari dua kamar yang disediakan khusus untuk wanita. Udara sangat dingin menusuk. Aku masih menggigil meskipun sudah memakai kaos kaki dan jaket tebal serta tidur berdesakan di atas tatami kamar dengan beberapa teman wanita.
Esok harinya kami punya waktu setengah hari lagi untuk kembali berseluncur dan berguling di atas salju putih yang dingin. Ada seorang instruktur yang membantu kami bagaimana teknik bermain ski, terutama bagaimana mengatur bukaan papan ski di kaki.
Lelah berseluncur, bersama teman kami bermain lempar-lemparan dengan kepalan salju putih yang segera hancur saat mengenai badan. Kami berkejar-kejaran di atas salju sambil tertawa ria. Seorang teman wanita berkreasi membuat snowman dan memakaikannya syal dan kacamata. Snowman ini langsung menjadi sasaran kami untuk berfoto ria. Demikianlah, seharian itu kami menjadi seperti anak-anak lagi. Sekejap lupa akan suami dan anak-anak di rumah. Maaf yaa Sayang.
Siang hari mendekati waktu salat zuhur, kami beristirahat. Melaksanakan salat dan menikmati makan siang yang telah disiapkan oleh panitia. Setelah itu kami berkemas dan bersiap untuk kembali ke Tokyo. Selesai berkemas aku dan para fotografer jadi-jadian lainnya masih punya waktu untuk berburu objek foto di sekitar lokasi ski Hakuba sampai bus datang menjemput.
***

Other Stories
Perpustakaan Berdarah

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Nestapa

Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...

Dari 0 Hingga 0

Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...

Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya

Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...

Download Titik & Koma