10. Persahabatan Indonesia
Tinggal di Jepang menjadi lebih berwarna setelah kenal dan bergabung dalam Perkumpulan Pelajar Indonesia (PPI) wilayah Kyoto-Shiga. Kami mempunyai milling list khusus sebagai sarana komunikasi dan berbagi informasi. Sebagai warga sementara dengan masa tinggal hanya satu tahun, cukup banyak yang kupelajari dan kudapat dari teman-teman dalam organisasi ini. Berbagai kegiatan menjalin kebersamaan seperti pengajian rutin, perayaan hari besar agama, perayaan musiman, refreshing bersama, dan beberapa event khusus bisa kuikuti melalui organisasi ini.
Beberapa kegiatan yang kuikuti bersama teman-teman PPI antara lain adalah, pagelaran seni Malam Indonesia, Perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha bersama, Hanami dan hunting foto, dan Hanabi.
Malam Indonesia
Malam Indonesia merupakan gelaran rutin yang dilaksanakan oleh PPI Kyoto-Shiga setiap dua tahun sekali. Kegiatan ini selain untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Jepang, sekaligus menjadi ajang penggalangan dana untuk berbagai kegiatan sosial. Oleh karenanya, yang diundang datang ke acara ini adalah warga negara Jepang yang merupakan pejabat di lingkungan pemerintahan Kyoto-Shiga, dosen, mahasiswa, dan masyarakat lain yang berkenan datang. Tema yang diusung Malam Indonesia kala itu adalah “From Indonesia with Love”.
Melalui sebuah pertemuan yang dipimpin oleh ketua PPI yang saat itu dijabat oleh Mas Suherman Hamzah, dibantu para tokoh dan sesepuh PPI, disusunlah acara untuk pelaksanaan kegiatan itu dengan jenis pertunjukan dan siapa-siapa penampilnya. Hal ini disesuaikan dengan minat serta kemampuan anggota PPI yang bersedia untuk tampil ikut ambil bagian dalam kegiatan itu. Setelah itu mulailah dilakukan latihan bersama.
Kami berlatih setiap minggu sekali di Kyoto. Di kesempatan itu kami saling mengenal satu sama lain dengan teman-teman Indonesia anggota PPI yang tinggal di wilayah Kyoto dan sekitarnya. Banyak dari mereka adalah orang-orang hebat, dan aku merasa bangga bisa mengenal mereka. Aku banyak belajar dari cara mereka bersikap. Betapa mereka yang sejatinya adalah orang-orang pintar dan hebat, beberapa sudah bergelar doktor, namun tetap rendah hati dan ramah, tidak terlihat kesombongan dalam gaya bicara dan cara bersikap. Seperti padi yang semakin jadi semakin menunduk ke bawah.
Beruntung warga PPI Kyoto-Shiga memiliki seorang pembina sekaligus pelatih yang berperan besar pada sukses terselenggaranya Malam Indonesia. Seorang wanita berjiwa seni tinggi dan berkarakter kuat yang sudah lama tinggal di Kyoto untuk menempuh pendidikan, Kak Wina. Juga beberapa pentolan lain di PPI seperti Mba Nino, Mba Heni, Mas Iqbal, Mas Dedy dan masih banyak lagi yang berperan aktif dalam pelaksanaan latihan.
Kebetulan waktu itu perkuliahan belum terlalu sibuk sehingga aku bisa meluangkan waktu untuk berlatih guna bisa ikut berpartisipasi dalam pagelaran itu. Buatku pribadi, adalah suatu kebanggan tersendiri bisa tampil mewarnai kegiatan yang diselenggarakan oleh PPI Kyoto. Aku mendapatkan dua peran dalam acara ini, yaitu bergabung dalam vocal group PPI Kyoto dan membawakan tarian tradisional.
Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu dari beberapa daerah di Indonesia, lagu perjuangan dan lagu nasional. Sementara tarian yang dibawakan adalah sebuah tarian tradisional dari daerah Nusa Tenggara Barat, berjudul Peronda Mimpi. Tarian ini menceritakan beberapa pemuda yang sedang bertugas ronda malam, malah tertidur di pos ronda. Dalam tidur, beberapa dari mereka bermimpi bertemu bidadari-bidadari cantik yang mengajaknya bercanda dan menari. Di tengah asyiknya mereka, tiba-tiba saja bidadari-bidadari itu berubah menjadi hantu yang menyeramkan. Mereka pun terbangun dan kabur.
Penampilan dari teman-teman lain yang mengisi acara Malam Indonesia kala itu adalah Tari Saman dari Aceh, sebuah tari dari Sumatera Barat, tari dengan gerakan seperti pencak silat dari Jawa Barat dan Tari Sajojo dari Papua. Selain itu, ada penampilan musik angklung dan peragaan busana tradisional dari beberapa daerah di Indonesia. Semua tampil maksimal malam itu dan memukau penonton yang datang, meskipun kebanyakan dari kami cuma artis dadakan saja.
Alhamdulillah dengan persiapan sekitar satu bulan, pergelaran Malam Indonesia kala itu sukses terlaksana. Ada rasa puas dan bangga menyelinap. Foto-foto dan video yang beredar di sosial media antara kami kala itu membuktikan kalau kami bisa tampil keren apabila didasari kesungguhan niat dan latihan yang serius.
***
Idul Fitri dan Idul Adha di Jepang
Selama tiga belas bulan hitungan masa tinggal di Jepang merasakan 3 kali lebaran. Dua kali Idul Fitri dan satu kali Idul Adha. Idul Fitri yang pertama merupakan saat terberat, karena merupakan pertama kalinya merayakan lebaran jauh dari keluarga. Lebaran ini diwarnai dengan isak tangis saat menelepon keluarga di tanah air. Perayaan Lebaran yang jatuh di akhir September ini dilaksanakan di sebuah gedung yang biasa digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat muslim dari luar Jepang yang ada di wilayah Kyoto, yaitu Kyoto Moslem Association (KMA).
Kala itu di sekitar wilayah Kyoto belum ada masjid satu pun. Masjid terdekat dari Kyoto adalah masjid yang ada di Kobe yang merupakan masjid pertama di Jepang. Jarak dari Kyoto ke Kobe cukup jauh. Estimasi waktu tempuh sekitar 2,5 jam dengan berganti kereta minimal 3 kali, plus jalan kaki beberapa menit dari stasiun terdekat. Kalau dari apato-ku di Kasayama bisa memakan waktu 3 jam.
Peserta salat bersama terdiri dari gabungan warga negara Indonesia dan warga muslim lain yang tinggal di sekitar Kyoto, seperti Malaysia, Myanmar, Bangladesh, Pakistan, dan beberapa negara Asia Timur seperti Arab dan Mesir.
Masih dalam suasana Lebaran, PPI Kyoto Shiga juga menggelar acara Halal Bi Halal bagi warga PPI. Hidangan makanan dan minuman disediakan secara bersama-sama oleh anggota PPI. Sebagian adalah sumbangan makanan dan minuman dari siapa saja yang datang ke acara itu. Pada acara itu sekaligus mengundang beberapa warga Jepang, teman-teman sekolah dan Ikatan Persahabatan Indonesia-Jepang untuk makan dan menikmati hidangan bersama.
Lebaran yang kedua adalah Idul Adha atau Lebaran Haji. Aku melaksanakannya di kampus Ritsumeikan BKC bersama teman-teman satu kampus. Peserta salat terdiri dari mahasiswa warga negara muslim yaitu Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Bangladesh. Hanya ada sekitar 30 orang saja. Tempat salatnya adalah sebuah ruangan yang disediakan di gedung International Office dan biasa dipergunakan untuk salat jumat oleh mahasiswa laki-laki.
Perayaan dilakukan dengan sederhana. Panitia menyiapkan minuman, makanan dan buah-buahan yang dibeli dari supermarket. Kami para mahasiswi membuat makanan hidangan ala kadarnya. Ada nasi kuning dari Bangladesh, serta nasi goreng dan bakwan ala Indonesia. Meskipun sangat sederhana dan tanpa penyembelihan hewan kurban, kami bahagia bisa melaksanakan kewajiban tahunan kami sebagai umat muslim.
Lebaran ketiga adalah Lebaran Idul Fitri. Kali ini aku bersama teman-teman dari Kyoto melaksanakannya di masjid Kobe. Berangkat pagi berdelapan dengan membawa nasi kotak sumbangan dari PPI Kyoto-Shiga.Sudah menjadi kebiasaan untuk menyediakan nasi kotak saat perayaan hari besar. Biasanya tiap PPI diberi jatah membawa sekian kotak. Sisanya siapapun yang ingin bersedekah bisa melebihkan sesuai kemampuan dan keikhlasan masing-masing.
Usai salat, kami bertemu teman-teman satu kampus saat di Yogya yang berkampus di Kobe, Rhoma, dan Mba Rima. Senangnya... tak lupa berfoto ria bersama. Pulang dari masjid, kami satu rombongan yang berangkat dari Kyoto, yaitu aku, Mba Nino dan keluarga, Endah, Nita, Irrin, serta Novri sang pujangga, sudah merencanakan untuk mengunjungi sebuah taman bunga gantung di wilayah Kobe.
Sungguh mengesankan. Taman itu merupakan bangunan besar yang tertutup sehingga suhu udara bisa diatur tetap sejuk dan sesuai untuk pertumbuhan tanaman jenis bunga gantung. Bermacam jenis bunga gantung berwarna warni, baik berupa daun saja maupun yang menghasilkan bunga cantik, ditanam dalam pot gantung yang dikaitkan pada bagian atas ruangan. Penataan dibuat sedemikian rupa sehingga posisi bunga-bunga gantung itu ada di atas kepala pengunjung yang datang. Terlihat sangat asri.
Beberapa jenis tanaman bunga bukan termasuk bunga gantung juga masih bisa ditemukan di tempat ini. Terutama jenis begonia dan beberapa familinya yang berbunga besar yang lembar kelopaknya seperti kerupuk zaman dulu yang renyah berwarna warni. Beberapa jenis anggrek cantik juga dikoleksi di taman ini.
***
Hanami dan Hunting Foto
Hanami adalah tamasya menikmati bunga sakura yang sedang mekar dengan duduk bersantai di bawah pohon bunga sakura. Biasanya sambil menggelar tikar/terpal dan membawa bekal makanan dan minuman sendiri. Namun, tidak juga tidak mengapa karena banyak penjual makanan dan minuman di areal taman. Bahkan, di beberapa taman, ada penjual yang sudah menyediakan tempat untuk duduk lesehan berikut meja untuk menyajikan makanan dan minuman di bawah pohon sakura.
Setiap tahun ketika musim semi dan bunga sakura bermekaran, masyarakat Jepang merayakannya dengan mengunjungi spot-spot untuk menikmati cantiknya bunga sakura. Pilihan tempat yang bisa dikunjungi adalah taman dan temple. Pohon-pohon sakura sering ditanam berjajar di sepanjang pinggiran jalan atau sungai kecil yang di sisi kanan dan kirinya berbatas dengan jalan. Pengunjung yang datang bisa mendekati pohon untuk mengamati sakura dari dekat atau mengambil gambarnya. Bunga sakura bisa juga ditemui menghias taman di luar pagar sebuah perusahaan atau pabrik, yang menghadap ke arah jalan raya. Sehingga pejalan kaki atau pesepeda bisa mampir menikmati keindahannya.
Umur bunga sakura yang mekar hanya bertahan satu minggu saja, lalu satu per satu mahkota bunga yang mungil itu melayang gugur jatuh ke bumi. Namun, karena waktu mekarnya bunga sakura tidak sama antara satu tempat dengan tempat lain, maka kita bisa menikmati musim sakura sampai lebih dari satu bulan mulai dari awal April sampai dengan pertengahan Mei.
Mekarnya bunga sakura bergantian dan bergeser mulai dari bagian selatan Jepang menuju ke arah utara sesuai pergerakan naiknya suhu akibat pergeseran matahari. Jadwal mekarnya bunga sakura di beberapa tempat di Jepang dapat dilihat di web-nya pemerintah yang mengurusi pariwisata. Jadwal itu memiliki ketepatan yang cukup tinggi. Dengan menggunakan petunjuk itu wisatawan tidak akan kecele datang ke suatu tempat yang bunga sakuranya belum mekar atau malah sudah gugur.
Yang menarik dari kegiatan hanami ini, beberapa orang wanita tampak mengenakan pakaian adat Jepang berupa kimono atau yukata lengkap dengan aksesorinya. Mereka sebagian adalah warga negara Jepang asli. Namun demikian banyak warga asing yang ikut berdandan serupa di tempat penyewaan khusus pakaian adat Jepang itu. Mereka sering kali diminta menjadi objek foto menarik bagi para pemburu foto saat hanami.
Pengalaman tamasya bersama warga PPI Kyoto-Shiga adalah hanami di sebuah taman yang terkenal dengan pohon sakura tertuanya, yaitu Maruyama Koen atau Taman Maruyama. Kami mengadakan pertemuan keakraban dengan menggelar terpal dan duduk di bawah pohon sakura. Untuk makanannya, panitia sudah menyiapkan nasi kotak. Acara hanami ini dilanjutkan dengan hunting foto untuk kemudian dilombakan di kalangan warga PPI Kyoto-Shiga. Perjalanan hunting foto dimulai siang hari dari Taman Maruyama hingga malam hari sampai ke daerah Gion yang terkenal sebagai tempat untuk berburu foto geisha dan maiko.
Kegiatan memotret bunga sakura saat malam hari dengan kamera DSLR terasa berat. Saat di mana pohon sakura justru terlihat lebih fantastis dengan lampu-lampu yang dipasang di sekitar pohon untuk meneranginya. Pencahayaan yang kurang saat hari gelap menyebabkan kamera memerlukan waktu lama untuk menangkap sebuah gambar dengan utuh. Apabila pengambilan terlalu cepat atau tergoyang sedikit, maka hasilnya akan ada bagian gambar yang hilang sehingga terlihat seperti ada penampakan pada hasil foto. Oleh karenanya, perlu penahan kamera atau bantuan tripot agar kamera bisa stabil.
Dengan berbekal kamera Nixon D 5000 yang kubeli saat musim gugur lalu, banyak foto yang bisa kuambil selama kegiatan itu. Namun, karena belum mengusasi teknik pemotretan dengan baik, tak satu pun foto yang bisa ditampilkan untuk lomba. Terutama setelah melihat hasil jepretan teman-teman PPI ternyata bagus-bagus sekali. Maka kuputuskan untuk menyimpan saja foto-fotoku sebagai kenangan. Setidaknya dengan mengikuti acara itu bisa menjadi sebuah sarana pembelajaran di samping tujuan utamanya mendapatkan suasana gembira tamasya. Mengasyikan.
***
Hanabi
Hanabi adalah sebutan untuk pesta pertunjukan kembang api. Hanabi hanya ada di musim panas saja. Berbekal informasi dari teman di milling list PPI Kyoto-Shiga, aku dan teman-teman menyaksikan hanabi yang diadakan di Biwako atau Danau Biwa di wilayah Otsu shi, hanya dua stasiun dari Minami Kusatsu dengan menggunakan Japan Railway (JR). Dari stasiun Otsu harus naik kereta lagi ke stasiun Zeze dengan Keihan line. Sebenarnya ada jalur lain menuju lokasi festival kembang api di tepi danau Biwa, namun stasiun terdekat adalah stasiun Zeze.
Berangkat malam hari sesudah salat magrib, ternyata sesampai di stasiun Otsu pengunjung sudah sangat ramai. Kereta menuju Zeze padat penumpang yang berdiri berjejal. Turun di stasiun Zeze masih harus berjalan kaki sekitar 15 menit untuk bisa mencapai tepi danau guna bisa mendapatkan lokasi yang pas untuk melihat kembang api dengan jelas.
Sampai di pinggiran danau ternyata tempat sudah penuh dengan penonton yang sudah datang lebih dulu. Sepertinya mereka dari sore hari sudah datang dan menempati gelaran tikar/terpal di pinggir danau yang disewakan. Sepanjang tepi danau yang digelari tikar itu sudah dipenuhi masyarakat yang ingin menonton. Boro-boro bisa berkumpul dengan teman-teman. Semua orang tampak sibuk mencari tempat masing-masing. Aku pun harus puas dengan berdiri di belakang gelaran tikar itu. Mendekati acara dimulai peluncuran kembang api, aku memilih duduk dengan beralaskan sepatuku karena kaki sudah terasa pegal akibat berdiri lama setelah sebelumnya berjalan cukup jauh.
Malam terus merambat dan setelah satu jam menunggu, tepat pukul 19.30 malam pesta kembang api pun dimulai. Selama satu jam aku menikmati pertunjukan kembang api non stop dengan jumlah kembang api yang diluncurkan menurut informasi dari web penyelenggara sekitar 10.000 kembang api. Tepuk tangan dan sorak meriah penonton menyaksikan pertunjukan awal kembang api yang dipadu dengan air mancur bercahaya (illuminated water fountain) yang menari diiringi irama musik. Sungguh menakjubkan.
Bunga-bunga api raksasa bermunculan di langit malam di atas Danau Biwa. Pemandangan luar biasa yang belum pernah aku saksikan sebelumnya. Dulu saat tinggal di rumah salah satu tanteku di kawasan Tanjung Priok, Jakarta, pernah menyaksikan kembang api di udara yang diluncurkan dari kawasan Ancol. Tetapi kala itu tidak sebesar dan semeriah ini. Aku sibuk dengan kameraku, mencoba mengabadikan setiap lompatan bunga api berukuran besar dan warna-warni ke udara. “Sugooii.” Kalimat yang berkali-kali diucapkan oleh penonoton, terutama ibu-ibu. Sepertinya mereka sangat takjub dengan kecantikan bunga api besar yang muncul dengan berbagai bentuk dan berwarna-warni sangat cantik.
Saat acara selesai, serentak pengunjung beranjak pergi meninggalkan tepi danau menuju stasiun terdekat. Dan bisa dibayangkan betapa crowded-nya jalanan menuju stasiun. Berjalan tidak bisa cepat karena jalanan penuh dengan manusia. Stasiun Zeze segera penuh dengan calon penumpang, sementara kereta tak bisa melayani penumpang yang sangat banyak. Akhirnya harus menunggu cukup lama untuk mendapat giliran naik.Di dalam kereta pun orang berjejalan masuk.
Malam itu aku pulang dengan badan sangat lelah dan mata mengantuk. Turun dari kereta di Minami Kusatsu, rasanya tak kuat lagi untuk mengayuh sepeda sekitar 30 menit menuju apato di Kasayama. Perlahan aku dan ketiga teman satu apartemen memaksakan diri mengayuh sepeda pulang ke apato. Sesampai di apato sudah hampir jam 11 malam. Aku membersihkan muka dan badan seperlunya, lalu mengambil wudu untuk salat isya. Setelah itu langsung tidur cepat. Malam yang melelahkan sekali. Namun, puas hati sudah dapat menyaksikan langsung acara tahunan yang sangat luar biasa.
***
Other Stories
Dear Zalina
Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...
Cinta Satu Paket
Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...