Namaku May

Reads
1.9K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Ayaka Prayitno

8. Sepedaku Andalanku

Sepeda merupakan kendaraan yang sangat umum dijumpai di Jepang. Seolah sudah menjadi budaya. Meskipun teknologi dan sarana transportasi sudah sangat maju, namun sepeda tetap menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari warga Jepang. Hampir di semua rumah warga Jepang terdapat sepeda. Seringkali satu orang memiliki satu sepeda. Hal ini dikarenakan sepeda merupakan salah satu sarana transportasi yang mudah, cepat, dan murah. Bersepeda membantu menjaga tubuh tetap sehat dan bugar. Sepeda juga merupakan sarana transportasi ramah lingkungan. Dengan menggunakan sepeda, berarti telah ikut serta dalam upaya mengurangi pencemaran udara.
Bersepeda di Jepang tidak mengenal batas usia, gender, ataupun status sosial. Mulai dari anak-anak sampai orang tua naik sepeda. Laki-laki maupun perempuan melakukan berbagai aktivitas keseharian dengan bantuan transportasi sepeda. Orang miskin ataupun orang kaya sama-sama naik sepeda. Aparat penegak hukum seperti polisi dan security menggunakan sepeda dalam menjalankan tugasnya. Sudah lazim apabila di jalanan terlihat orang berpakaian rapi dengan jas dan dasi serta sepatu berkilap tersemir lewat naik sepeda.
Bagi para mahasiswa seperti aku dan pendatang dari luar Jepang, bersepeda sangat membantu sekali, terutama dalam penghematan anggaran dan biaya hidup sehari-hari. Ini berhubungan dengan tarif bus di Jepang yang terbilang mahal, meskipun sarana transportasi ini cukup tersedia dan tepat waktu. Selain itu, dengan bersepeda memudahkan kita untuk menjangkau tempat-tempat yang tidak dilalui jalur bus. Kita bisa menjelajah sudut-sudut kota yang cantik dengan menggunakan sepeda. Belum lagi mendapat bonus badan sehat dan menjadi ramping. So, ke kampus, ke stasiun, berbelanja, dan rekreasi, aku lebih sering naik sepeda.
Bersepeda di Jepang memang sangat menyenangkan. Udara yang sejuk membuat badan tidak berkeringat biarpun mengayuh sepeda hingga jarak yang cukup jauh. Udara normalnya antara 15oC sangat sejuk dan segar untuk bersepeda. Bersepeda terasa agak berat ketika memasuki musim panas. Suhu udara di musim ini bisa mencapai 40oC. Namun demikian mungkin karena kelembabannya rendah sehingga badan tidak terlalu payah.
Bahkan, di kalangan mahasiswa ada komunitas goweser. Saat ada waktu senggang, biasanya di hari Minggu, diisi dengan gowes sepeda untuk refreshing. Sesekali komunitas itu mengadakan trip ke tempat wisata sambil membawa bento untuk dimakan bersama-sama. Asyik sekali. Sayangnya aku tidak punya kesempatan untuk ikut acara seperti itu.
Untuk keamanan dan kenyamanan pengguna sepeda, pemerintah Jepang telah menyiapkan infrastruktur pendukung dengan membuat jalur khusus sepeda di sisi jalan umum. Lebarnya kurang lebih satu meter. Antara jalur ini dan jalan umum untuk kendaraan bermotor diberi pembatas garis putih lurus tidak terputus. Adakalanya jalur sepeda bersinggungan langsung dengan jalur pejalan kaki di trotoar. Namun, tetap diberi garis pembatas dengan warna khusus. Benar benar kota yang ramah sepeda.
Fasilitas-fasilitas pelayanan umum biasanya menyediakan tempat khusus untuk memarkir sepeda secara gratis. Seperti rumah sakit, kantor pemerintahan, tempat ibadah dan taman. Setiap orang bisa meninggalkan sepeda di tempat parkir dengan aman cukup dengan menguncinya. Prasarana pendidikan seperti kampus-kampus perguruan tinggi dan sekolah juga menyediakan tempat parkir gratis. Biasanya berupa lapangan luas yang bisa menampung banyak sepeda. Lapangan yang luas itu disekat memanjang dengan pagar-pagar besi bulat yang berfungsi untuk membagi lapangan ke dalam blok-blok. Pagar besi itu yang akan menuntun pesepeda meletakkan sepedanya dengan rapi karena pagar besi itu juga berfungsi sebagai penahan roda depan sepeda. Parkiran luas seperti ini umumnya dijumpai di areal kampus perguruan tinggi.
Selain gratis, beberapa fasilitas umum di Jepang juga menyediakan tempat untuk memarkir sepeda berbayar. Biasanya di sekitar stasiun kereta api, pelataran supermarket, dan rumah makan atau toko penjual makanan. Pembayaran bisa menggunakan uang atau juga menggunakan kartu uang yang bisa isi ulang. Cara pembayarannya pun ada yang manual ada yang menggunakan mesin.
Pembayaran cara manual menggunakan tenaga manusia yang bertugas memungut uang parkir di depan pintu keluar yang dilalui pesepeda yang membawa sepedanya keluar dari areal parkir. Tarif parkir jenis ini biasanya dihitung harian. Biasanya ada di sekitar stasiun kereta api. Kala itu per hari parkir dikenai biaya 200 yen per hari. Untuk parkir lebih dari satu hari, penambahan hari parkir dikenai biaya 100 yen per hari.
Pembayaran menggunakan mesin parkir bisa dengan langsung memasukkan coin ke dalam box mesin parkir. Mesin itu terhubung langsung dengan alat parkir yang berfungsi menahan dan mengunci roda depan sepeda. Mesin ini akan mencatat berapa lama sepeda diparkir dan besarnya biaya yang harus dibayarkan. Angka itu akan muncul dengan mengaktifkan box mesin parkir dan memasukkan nomor parkir di mana sepeda diparkirkan. Setelah biaya dibayarkan, maka otomatis pengunci sepeda akan terbuka dan sepeda bisa diambil. Parkir jenis ini biasanya dihitung per jam. Kala itu untuk dua jam pertama dikenai biaya 200 yen. Penambahan jam berikutnya dikenai biaya 100 yen per jam.
Bersepeda di Jepang tidak bisa sembarangan, ada aturannya. Aturan yang memuat tentang tata cara bersepeda sehingga aman bagi pesepeda dan tidak mengganggu pengguna jalan lain. Aturan bersepeda ini biasanya diajarkan kepada murid-murid baru di sekolah. Kadang juga disosialisasikan untuk umum. Untuk kepentingan sosialisasi itu, ada semacam brosur bergambar tentang petunjuk dan tata cara bersepeda yang baik, meliputi hal-hal yang harus dilakukan atau sebaliknya dilarang saat bersepeda. Untuk menjaga aturan ini ada polisi sepeda. Polisi ini berjaga di beberapa titik yang sering dilalui pengendara sepeda. Pak polisi ini siap memberikan surat tilang kepada pesepeda yang melanggar aturan.
Pelanggaran yang sering dilakukan antara lain, sepeda tidak memenuhi syarat minimal, tidak memiliki nomor registrasi dan surat tanda kepemilikan sepeda, melanggar lalu lintas jalan, memegang payung saat bersepeda, memakai earphohe/headset sambil bersepeda, atau membonceng orang lain.
Sepeda harus memenuhi persyaratan minimal yaitu harus ada lampu depan dan kunci untuk pengaman sepeda. Lampu bisa berupa lampu bawaan sepeda yang menggunakan tenaga dari kayuhan sepeda. Bisa juga lampu senter yang dipasangkan di stang. Yang penting bisa berfungsi sebagai alat penerangan saat malam hari sehingga bisa menjadi tanda bagi pengendara lain.
Untuk bisa dipakai, sepeda harus memiliki nomor registrasi atau peneng dan surat tanda kepemilikan sepeda. Nomor itu bisa didapatkan di kampus. Kala itu hanya dengan membayar 500 yen aku sudah bisa mendapatkan tanda kepemilikan sepeda dan nomor registrasinya. Tentunya setelah terlebih dahulu melengkapi persyaratan untuk bisa mendapatkan nomor registrasi, yaitu mengisi blangko data identitas diri pemilik sepeda. Data itu meliputi nama, nama jurusan/program studi, alamat tempat tinggal dan nomor telepon. Data ini sangat bermanfaat apabila suatu saat sepeda kita hilang. Karena pihak yang berwenang bisa langsung mendapatkan informasi siapa pemilik sepeda dengan menggunakan nomor registrasi tersebut.
Selain nomor register, biasanya sepeda ditempeli stiker kampus di mana mahasiswa belajar. Beberapa apato juga memiliki stiker khusus untuk dipasang pada sepeda. Stiker-stiker itu umumnya dipasang pada tutup roda belakang sepeda. Dengan demikian apabila sepeda itu hilang atau ditinggalkan di sembarang tempat, akan mudah diketahui di mana kampusnya dan di mana alamat tinggal si pemilik sepeda.
Pelanggaran lalu lintas bagi pesepeda yang paling sering dilakukan adalah menggunakan jalur pejalan kaki/pedestrian. Hal ini bisa menimbulkan kecelakaan dengan korban pejalan kaki. Meskipun di tempat-tempat tertentu yang bertanda khusus, dibolehkan menggunakan sepeda di trotoar namun tidak dengan kecepatan tinggi.
Memegang payung sambil bersepeda sering dilakukan saat musim hujan turun. Terutama oleh para mahasiswa dan pekerja usia muda. Meskipun payung yang digunakan adalah payung transparan dan tidak menghalangi pandangan pesepeda. Namun, demi alasan keselamatan bersepeda, hal itu tetap dilarang.
Memakai earphohe/headset sambil bersepeda sudah menjadi ciri mahasiswa saat berangkat ke kampus ataupun pulang kembali ke tempat tinggalnya. Namun, kebiasaan ini pun dilarang karena konsentrasi pesepeda menjadi terganggu dan tidak tanggap dengan situasi jalan yang dilaluinya sehingga berpotensi menimbulkan kecalakaan.
Membonceng orang lain saat bersepeda di Jepang itu dilarang, meskipun beberapa sepeda dilengkapi dengan tempat duduk boncengan di belakang. Pengecualian berlaku bila yang dibonceng adalah anak-anak usia di bawah 14 tahun.
***
Di jalan-jalan sekitar wilayah Kyoto-Shiga banyak ditemui pengendara sepeda lalu lalang. Mahasiswa ke kampus naik sepeda. Pelajar setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas ke sekolah naik sepeda. Ibu-ibu berbelanja ke supermarket atau sekadar mengajak anak-anaknya jalan-jalan ke luar rumah naik sepeda. Commuters baik itu pekerja ataupun mahasiswa pulang pergi dari dan ke stasiun kereta api naik sepeda. Bahkan, sebagian orang menuju tempat rekreasi menggunakan sepeda.
Di lingkungan kampusku, Ritsumeikan Biwako Kusatsu Campus yang berada di pinggiran wilayah Shiga, hampir semua mahasiswanya menggunakan sepeda. Bila dihitung, persentasenya bisa mencapai 80%. Sisanya menggunakan bus atau kendaraan bermotor berupa sepeda motor atau mobil. Pengguna kendaraan bermotor bisa dikatakan sangat sedikit.
Lokasi kampus yang jauh dari areal pemukiman penduduk dengan kelerengan sedikit lebih tinggi dari daerah sekitarnya memang sangat mendukung untuk ditempuh menggunakan sepeda. Jalur sepeda tersedia di sisi sebelah kanan dan kiri jalan raya menuju kampus. Pemandangan sepanjang jalan menuju kampus dari arah tempat tinggalku di Kasayama sangat menyenangkan di waktu pagi dan sore hari, namun menyeramkan di waktu malam. Pasalnya jalur ini melewati terowongan jalan, hutan pinus, areal pabrik, sisi belakang kawasan perumahan elite dan jalan layang bersusun.
Pada tepi sebelah kiri jalur sepeda menuju kampus yang berbatasan dengan jalan by pass di sebelah bawah, diberi pagar besi untuk pembatas. Pada pagar ini merambat tanaman liar yang membuatnya tampak seperti tembok hijau panjang yang cantik dihiasi bunga-bunga kecil berwarna kuning. Di bawahnya tumbuh bermacam rumput liar yang sebagian besar belum pernah kutemui. Ada rumput dengan bunga berbentuk seperti kemoceng, mungil lucu berwarna kuning emas. Bunga itu sering kupetik dan kubawa dalam keranjang sepedaku.
Pernah suatu sore menjelang magrib dalam perjalanan pulang dari kampus, aku berhenti sejenak di dekat jalan layang bersusun. Aku mendengar suara seekor anak burung di atas rerumputan sebelah kananku. Sepertinya seekor anak burung yang sedang belajar terbang. Kupasang standar penyangga sepeda, lalu perlahan kudekati anak burung itu. Dengan tenang kuulurkan tangan dan kuraih burung itu dengan genggamanku. Aku tidak tahu jenis apa, besarnya seukuran burung kutilang. Kusapa ia lalu kuletakkan di atas sadel sepedaku. Kebetulan jalanan sepi tak ada orang lain lewat. Bisa-bisa nanti mereka menyangkaku tidak waras bicara dengan hewan. Tak berapa lama ia mengepakkan sayapnya terbang menjauh menuju tanaman perdu. Sepertinya ia mendekati induknya yang bersuara sama dan sedari tadi hanya melompat-lompat di atas perdu itu. Aku tersenyum puas lalu melanjutkan perjalanan pulang. Beberapa hari berikutnya setiap kali lewat jalan itu aku berhenti sejenak atau sekadar menolehkan kepala mencarinya, tapi burung itu sudah tidak ada lagi.
Kegiatan bersepeda buatku bukan tanpa kendala. Aku perlu banyak penyesuaian karena sudah lama sekali tidak melakukannya. Terakhir kali bersepeda ketika aku masih remaja. Dulu ibu sering memintaku untuk membelikan keperluan dapur di warung yang letaknya cukup jauh dari rumah. Kala itu aku masih senang naik sepeda berkeliling kampung melewati sawah dan bukit sekadar main bersama teman-teman masa kecilku. Setelah mengenal kendaraan bermotor roda dua, aku enggan untuk naik sepeda lagi. Lagi pula di sekitar tempat tinggalku yang naik sepeda umumnya anak-anak. Kalaupun ada orang dewasa yang naik sepeda hanya sedikit. Mereka biasanya bapak tani yang hendak berangkat ke sawah, atau bibi penjual sayur keliling. Kebanyakan meraka memang hanya memiliki sepeda untuk sarana transportasinya.
Aku mendapat sepeda warisan dari kakak tingkatku yang juga berasal dari UGM, Mba Dayu. Entah siapa pemilik pertama sepeda itu. Kelak aku juga akan mewariskannya kepada adik tingkat setelah menyelesaikan tugas belajarku. Sepeda putih buatan Jepang yang umum ditemui di lingkungan kampus itu dilengkapi dengan sebuah keranjang berwarna hitam terpasang di depan untuk meletakkan barang bawaan, tidak ada boncengan. Sepeda itu juga dilengkapi pengatur kecepatan kayuhan yang sangat membantu untuk berjalan di berbagai medan, apakah itu di jalan datar, jalan mendaki, atau saat menuruni bukit.
Minggu pertama menggunakan sepeda untuk ke kampus membuat betis dan pahaku terasa kencang dan pegal-pegal. Telapak tangan terasa tebal kapalan. Awal bersepeda terasa berat sekali. Apalagi sebagian jalan yang dilalui menuju kampus ada tanjakan panjang. Aku terpaksa turun dan berjalan menuntun sepedaku. Sementara mereka anak-anak Jepang itu terus memacu sepedanya sambil berdiri. Sesampai di kampus napas terengah-engah. Tapi senangnya badan tidak berkeringat, atau langsung kering yaa.
Setelah satu bulan lebih aku bersepeda barulah terbiasa dan menjadi ringan. Aku sudah bisa mengatur irama kayuhan pada pedal sepedaku sehingga tidak membuat napas terengah-engah. Ketika melewati tanjakan panjang arah ke kampus tak lagi harus turun menuntun sepeda. Saat hendak menuju stasiun Minami Kusatsu aku tidak lagi harus berhenti sejenak untuk istirahat. Aku mulai bisa menikmati bersepeda dan bisa menghitung waktu tempuhnya sehingga bisa memutuskan kapan saatnya aku harus berangkat bila hendak bepergian dengan sepeda.
Akhirnya sepeda benar-benar menjadi andalanku dan teman setia yang siap membawaku ke mana saja. Dengan sepeda aku bisa berkeliling sekitar wilayah Minami Kusatsu, Kusatsu, Seta sampai ke Otsu.
***

Other Stories
Jika Nanti

Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...

Hantu Kos Receh

Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...

Nyanyian Hati Seruni

Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...

Kesempurnaan Cintamu

Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...

Download Titik & Koma