7. Sensei And My Lab Friends
Aku bertemu sensei pertama kali setelah tiba di Jepang pada acara sambutan penerimaan mahasiswa baru di kampus. Nakajima sensei tersenyum ramah sama seperti saat beliau datang ke Yogya untuk interview. Senyum yang membuat kedua matanya terlihat bagai segaris lukisan. Wajahnya yang bulat oval dengan ukiran halus dan tatapan teduh menggambarkan kebijaksanaan pada diri lelaki usia di atas lima puluhan itu.
Di acara itu aku dipertemukan sensei Nakajima dengan teman satu bimbingan yang akan sama-sama belajar satu lab. Mereka adalah Supatra, mahasiswa program doctoral dari Thailand dan Assad, mahasiswa S2 tahun kedua, sama sepertiku, berasal dari Bangladesh. Kelar acara penyambutan di dalam ruangan, kami diajak berkeliling dalam rangka pengenalan areal kampus, gedung perkuliahan, labo serta sarana dan fasilitas yang terdapat di kampus.
Acara penyambutan untukku juga dilakukan di lab, yang mana teman Jepang menyebutnya labo. Sebuah ruangan besar tempat beraktivitasnya seluruh anggota lab. Acara penyambutanku dibarengkan dengan perpisahan untuk Yuni, mahasiswa bimbingan sensei tahun lalu yang sudah lulus dan siap kembali ke tanah air. Yuni bukan berasal dari kampus yang sama saat di Indonesia, melainkan dari perguruan tinggi negeri di Bandung, sehingga kami belum pernah bertemu atau berkomunikasi. Maka tak ada kesan terhadapnya sampai dia kembali ke tanah air.
Masa perkuliahan berjalan. Aku mulai memasuki lab Water Management di Lantai 3 East Wing tempat di mana aku menghabiskan waktu selama di kampus. Dalam ruangan itu aku diberi fasilitas sebuah meja kerja lengkap dengan kursinya. Di meja itu aku nantinya akan menggarap tugas akhirku selama belajar.
Nakajima sensei mempunyai mahasiswa bimbingan sebanyak 25 orang, terdiri dari 3 orang program doctoral, 14 orang mahasiswa program graduated (S2), dan 8 orang mahasiswa undergraduate (S1). Ruangan Water Management berisi 22 orang, namun hanya 14 orang yang memiliki meja kerja sendiri. Sebanyak 8 orang mahasiswa undergraduated menggunakan satu meja besar dan 5 buah computer PC dengan dua printer secara bersama-sama. Mahasiswa doctoral mempunyai ruangan tersendiri yang terpisah dengan fasilitas ruangan yang lebih baik.
Dari 25 orang mahasiswa bimbingannya, sebanyak 19 orang berkewarganegaraan Jepang asli. Enam orang sisanya adalah 3 orang warga negara Bangladesh, 1 orang warga negara Vietnam, 1 orang warga negara Thailand, dan 1 orang warga negara Indonesia, yaitu aku.
Satu per satu teman-teman labku bisa kukenali. Mereka semua pada dasarnya baik dan bersedia menolong apabila diminta. Sebagian dari mereka karena penguasaan bahasa Inggrisnya kurang baik, menjadi sukar untuk diajak komunikasi. Ada seorang wanita mahasiswa S2 yang wajahnya tampak ramah dan aku ingin bisa berteman lebih dekat. Namun, ternyata dia sangat pemalu, mungkin karena Eigo-nya terbatas. Sementara penguasaan Nihongo-ku juga buruk. Seringkali saat aku bertanya sesuatu kepadanya, dia malah meminta teman yang duduk di sebelahnya untuk menjawab pertanyaanku sambil cengar-cengir.
Aku lebih dekat dengan teman-teman foreign students, terutama dengan Supatra asal Thailand dan Hasan asal Bangladesh. Aku dan Su sering makan bersama ke kantin.
Setiap pembimbing memiliki jadwal seminar yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa bimbingan sebagai sarana untuk mengetahui rencana atau minat penelitian bagi mahasiswa undergraduated, dan sejauh mana progres penyusunan tesis bagi mahasiswa graduated. Istilahnya zemi. Zemi ini masuk dalam penilaian yang besarnya 4 SKS.
Nakajima sensei terkenal sensei yang paling hobi mengadakan zemi. Ada dua zemi sekaligus yang harus kuikuti setiap minggunya. Yang pertama zemi lab, dan yang kedua zemi grup. Selain itu, masih ada lagi zemi-zemi lain yang tidak terjadwal, dan akan diberitahukan beberapa hari sebelum pelaksanaan.
Zemi lab diadakan setiap seminggu sekali. Pada setiap zemi ini telah ditunjuk satu orang mahasiswa yang bertugas untuk mengisi zemi dengan menyampaikan paparan yang berkaitan dengan penelitiannya. Petugas ini sudah dijadwal secara bergantian oleh sensei dan diketahui seluruh anggota lab. Bahan zemi diambil dari jurnal-jurnal Elsevier yang dapat di-download dari kamputer lab. Alhamdulillah Ritsumeikan berlangganan jurnal ini, sehingga membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas penyusunan tugas akhir.
Satu hal yang unik, zemi ini disampaikan dalam bahasa Jepang oleh mahasiswa graduated dan undergraduated berkebangsaan Jepang. Untuk keperluan zemi, yang bertugas mengisi zemi harus menyalin ulang jurnal dalam bahasa Inggris itu ke dalam bahasa Jepang. Kemudian membacakannya saat zemi. Khusus bagi foreign students seperti aku dan 5 orang teman lain tetap diberi jurnal aslinya dalam bahasa Inggris. Akibatnya kami yang foreign students sering berkumpul duduk berdekatan saat zemi agar lebih mudah mengerti.
Pelaksanaan zemi ini dibuat dengan menyusun meja panjang sedemikian rupa sehingga membentuk ruang kosong empat persegi panjang di tengahnya. Peserta zemi duduk mengelilingi meja tersebut sehingga kami saling berhadapan satu sama lain layaknya rapat meja bundar. Tapi yang ini kotak. Biasanya sensei akan duduk di center dan petugas zemi duduk pada seberang hadapan sensei. Kami para foreigner biasanya akan memilih duduk di dekat sensei sehingga lebih mudah bila ingin bertanya berkaitan dengan apa yang disampaikan oleh petugas zemi.
Selain zemi lab, masih ada zemi grup. Sensei telah membagi mahasiswanya ke dalam 3 grup berdasarkan minat penelitiannya. Aku masuk ke dalam grup Biwako bersama 6 orang teman berkewarganegaraan Jepang. Grup Biwako ini fokus mempelajari kualitas lingkungan perairan dengan sarana pembelajaran menggunakan sampel Danau Biwa. Dalam grup ini pun setiap seminggu sekali diadakan zemi. Zemi ini lebih kepada pertemuan pembahasan progres dari masing-masing anggota grup. Setiap anggota akan ditanya apa yang sudah dikerjakan seminggu ini dan apa pula kendalanya.
Zemi ini juga digunakan untuk ajang sharing informasi dan saling membantu apabila teman dalam satu grup mengalami kesulitan dalam progresnya. Namun, tentu saja bahasa pengantarnya adalah bahasa Jepang, dan sensei harus mengulanginya dalam bahasa Inggris agar aku bisa mengerti. Sensei berperan sebagai translater sekaligus pembimbing agar anggota grup bisa memahami semua.
Zemi yang terakhir adalah zemi tak terjadwal yang bisa dilakukan kapan saja saat diminta sensei berkaitan dengan progres tesis ataupun ada hal lain. Aku sendiri selama studi diminta untuk melakukan zemi semacam ini sebanyak 3 kali. Pertama saat pertama masuk ke dalam lab, sebagai pengenalan kepada seluruh anggota lab, tentang penelitian yang sedang kita lakukan. Ini wajib bagi mahasiswa graduated ataupun doctoral yang baru masuk lab. Kedua kalinya saat aku hendak pulang ke Indonesia pada liburan musim dingin. Sensei memberiku izin pulang, tetapi aku harus melakukan sesuatu untuk meningkatkan kualitas penelitianku. Sensei memintaku untuk mempresentasikan aksi-aksi apa yang akan aku kerjakan selama berada di Indonesia.
Pada presentasi kedua ini aku dibantai oleh teman-teman foreigner yang tampak kritis. Teman program doctoral berkebangsaan Vietnam meminta agar aku mengambil sampel air dari Indonesia, maksudnya sampel air Sungai Komering yang jadi fokus penelitianku. Dataku yang berupa persepsi masyarakat terhadap kualitas lingkungan perairan dianggap tidak cukup kuat, sehingga aku perlu melakukan pengukuran kualitas air langsung. Hal senada disampaikan pula oleh teman-teman dari Bangladesh, terutama Hasan. Aku hanya bisa bertahan dan mohon petunjuk sensei yang tampak tenang mengawasi kami adu pendapat.
Esok harinya aku mendatangi sensei di ruangannya dan dengan halus memohon agar aku tidak disuruh membawa sampel air. Jika aku melakukan pengukuran kualitas air di lab, maka penelitianku menjadi sangat teknis. Hal ini tidak sesuai dengan domain UGM yang lebih ke arah sosial masyarakat. Efeknya aku akan kesulitan saat kembali ke tanah air dan menghadapi dosen penguji di Indonesia. Bisa-bisa aku harus merombak tesis-ku. Apa jawab sensei? Setelah berpikir dan mengajukan beberapa pertanyaan kepadaku mengenai lokasi penelitian, beliau mengabulkan permohonanku tapi dengan syarat aku harus menambahkan data tentang kondisi sanitasi di sekitar lokasi penelitianku. Okelah Bos! Aku terima dengan senang hati dan sangat berterima kasih kepada sensei.
Ketiga kalinya adalah sekembalinya aku dari Indonesia. Aku diminta mempresentasikan data tambahan apa yang kuperoleh selama dua bulan di Indonesia dan bagaimana atau metode apa yang akan kugunakan untuk mengolahnya.
***
Biwako Grup
Sesuai dengan tema penelitian yang sedang kukerjakan, aku dikelompokkan ke dalam Biwako grup. Grup ini beranggotakan 6 orang mahasiswa graduated tahun kedua dan tahun pertama. Mereka adalah aku, Imanari San, Yuta Tanaka, Yohei Hagiwara, Masahiro Nishino dan Katsunori Takagi. Selama belajar bersama, aku lebih mudah berkomunikasi dengan Tanaka San karena orangnya terbuka dan penguasan eigo-nya bagus.
Orang Jepang ternyata sangat menghargai senioritas. Mahasiswa undergraduated hormat dengan mahasiswa graduated karena dianggap secara ilmu sudah lebih tinggi. Penghormatan ini tertangkap mataku saat berada di ruangan lab. Seorang teman yang duduk di posisi belakang sebelah kananku, yang meja kerjanya membelakangiku, didatangi oleh seseorang, sepertinya juniornya. Sang junior sepertinya menanyakan sesuatu yang kemudian dijawab oleh senior dengan intonasi yang tegas tanpa beranjak dari kursi duduknya. Sementara sang junior berdiri sedikit membungkuk dengan kedua tangan terkatup di depan sambil berkata, \"Haik... haik... haik...\" hingga aku penasaran dan menolehnya.
Masih berkaitan dengan senioritas, ada pengalaman menyebalkan sekaligus menggelikan bersama teman satu grup. Ketika itu aku diminta sensei untuk belajar mengukur kualitas air di laboratorium teknis bersama Takagi San dan Imanari San, di Biwako grup. Takagi adalah mahasiswa graduated tahun pertama dan masih sangat muda, mahasiswa undegraduated yang langsung nyambung graduated. Tetapi karena posisinya dianggap lebih ahli dalam kegiatan pengukuran kualitas air dibandingkan denganku yang baru menjadi bimbingan sensei, maka dia pun berlaku layaknya sang senior.
Kaku tanpa ekspresi dan senyum sebagaimana sifatnya dalam keseharian, Takagi San menyuruhku melakukan ini dan itu. Aku dimintanya untuk melakukan tahapan pengukuran kualitas air. Mulai dari mengambil preparat di dalam lemari penyimpanan sampel air danau, lalu mengukur kualitas airnya dengan alat ukur. Okelah ngga apa-apa, aku pernah juga melakukannya dulu.
Tak kuduga ternyata aku diharuskan pula belajar memindahkan sampel air danau menggunakan pipet ukur. \"Waduuuh ngga asyik ini...\" pikirku gelisah. Aku sudah mulai ragu untuk melakukannya. Kenapa tidak pake pipet atau alat sedot lain saja. Dan kesalnya, dia tetap memaksaku untuk menggunakan pipet panjang bertanda tera dari bahan kaca itu. Maka akhirnya kukerjakan juga. Dengan perlahan kusedot ujung pipa panjang yang ujung lainnya kumasukkan ke dalam botol berisi sampel air danau. Ternyata masih sama seperti dulu saat aku melakukannya di Bogor, tidak mudah. Air cuma berhasil naik sampai setengah pipa panjang itu. Kucoba lagi dengan sedikit menambah daya sedot dari mulutku. Dan sruut… air danau naik ke pipa tanpa bisa kucegah masuk ke dalam mulutku. Wueeeek… aku langsung berlari ke tempat pembuangan air memuntahkan sisa air yang tertahan di mulutku sambil menenteng pipa itu. Asyeem… aku terminum sampel air Danau Biwa yang sudah tersimpan entah berapa lama. Setelah dilihatnya aku tidak berhasil barulah dicarikan pipet pump untuk tambahan bantuan menyedotnya. Aku dikerjain nih sama itu anak.
***
Party oh Party
Orang Jepang terkenal suka pesta. Selama satu tahun lebih aku tinggal, setidaknya ada 4 kali party yang pernah kuikuti. Ini karena di sebagian party aku berhalangan tidak bisa ikut. Party-party itu kadang diadakan di lokasi kampus sebagai bentuk penyambutan, welcome party atau perpisahan farewell party. Kadang juga diadakan di restoran-restoran di luar kampus untuk party yang lebih spesifik dan kalangan terbatas.
Suatu hari Nishino San, teman satu grup Biwako menghampiriku dan menyampaikan bahwa anggota lab Nakajima sensei akan mengadakan party di sebuah restoran. Aku ditanyai apakah bisa hadir. Kalau bisa, langsung dimintai iuran untuk biaya makan minum di party. Demi kebersamaan aku memutuskan untuk ikut. Lagi pula aku ingin tahu seperti apa sih party mereka kalau di luar kampus. Pasti lebih seru. Maka aku mengiyakan dan Nishino San mencatat namaku dalam daftar. Berapa iurannya saudara-saudara? Satu orang harus membayar 2.300 Yen. Wow... aku takjub sesaat. Angka yang sangat besar menurutku. Makanannya apa saja ya? Nishino San seperti tahu keterkejutanku, lalu dia mengatakan kalau aku tidak harus bayar sekarang, masih bisa besok. Baiklah aku akan bayar besok.
Kami ketemuan langsung di restoran tempat mengadakan party pada waktu yang telah ditentukan. Aku datang naik sepeda, mengenakan jaket karena udara dingin setelah turun hujan sore hari. Sampai di dalam sudah ramai yang datang. Sensei menyambutku dan membantu membukakan jaket lalu meminta seorang teman lelaki menggantungnya. Tempat duduk sudah diatur dengan cara diundi. Nomor undian kuambil dari Nishino San ketika memasuki restoran. Setelah kubuka, ternyata aku satu meja dengan sensei dan 4 orang teman nihon lainnya. Asyik bisa bertanya banyak ke sensei, tapi jadi tidak bisa bebas bercanda seperti meja-meja lain. Tampak Supatra yang duduk bersama teman-teman menghadapi beberapa meja yang disatukan sehingga membentang panjang, melambaikan tangan mengajakku pindah ke dekat mereka. Aku hanya senyum dan memberi tanda OK, sungkan beranjak dari dekat sensei.
Satu demi satu hidangan makanan keluar. Aku bingung, kenapa yang keluar lauk dan sayur duluan. Beberapa tempura dan salad sayur. Mana nasinya. Setiap kali makanan datang, langsung saja diserbu dan habis. Terakhir kali datang isi sup. Lalu kami panaskan nabe. Kami mulai mengambil satu-satu isi sup yang isinya antara lain tofu, kerang, jamur, dan sayuran. Ketika sup tinggal kuahnya saja, nasi baru datang. Lho… nasinya ketinggalan. Tiba-tiba seorang teman wanita mengambil tempat nasi dan menuangkan isinya ke dalam wadah sup yang masih dipanasi dan tinggal kuah saja itu lalu menutupnya. Haah... aku terperangah. Apa ngga jadi bubur ya itu nasi? Beberapa saat setelah mendidih, tutup panci dibuka dan mereka mulai mengambil nasi lembek berair, kalau tidak bisa dikatakan bubur nasi. Aku sudah sudah bisa membayangkan seperti apa rasanya dan tidak berminat lagi untuk mencicipinya, apalagi perut sudah penuh oleh makanan yang datang sebelumnya.
Sampai kelar party dan kembali ke apato aku masih terkesan dengan cara makan nasi tadi. Cara makan yang aneh menurutku yang baru pertama mengalaminya. Tetapi setelah dipikir-pikir, itu cara yang bagus untuk membatasi konsumsi karbohidrat. Kita tidak akan lagi makan nasi atau kalaupun makan, porsinya sedikit. Ini cocok buat yang ingin diet dan merampingkan tubuh seperti kita, ya ngga?
***
Takoyaki Party
Takoyaki. Siapa sih yang tidak kenal makanan Jepang yang satu ini? Sejak pertama mencicipinya aku sudah langsung jatuh hati. Makanan berbentuk bulat seperti bola pingpong ini memberi sensasi yang berbeda saat ditelan bulat-bulat dalam keadaan panas. Apalagi di udara yang dingin. Uapnya yang panas keluar dari mulut dan suara hoah hoah menahan panas tampak atraktif. Teman-teman Jepang suka makan dengan cara seperti itu. “Oishii sho!” Enaaak, kata mereka.
Melihat ketertarikanku dengan takoyaki, membuat seorang teman satu lab menawarkan kepadaku untuk membuat Takoyaki Party di lab. Waaah... asyik banget. Pasti seru ini! Aku langsung menyambutnya dengan gembira. Kami pun patungan mengumpulkan uang untuk membeli bahan-bahannya. Semua bahan dan alat memasak diurus dan disediakan oleh teman-teman Jepang di lab.
Maka jadilah kami membuat Takoyaki Party pada suatu siang di lab. Adalah Mu Hayashi, seorang undergraduate program, yang ternyata mempunyai hobi masak-memasak. Sepertinya dia paham betul cara membuat makanan camilan ini. Dikeluarkannya semua bahan dan perlengkapan untuk membuat takoyaki ke atas meja besar tempat biasanya undergraduate berkumpul. Dia membawa dua buah cetakan takoyaki listrik. Bahan-bahannya adalah tepung takoyaki, telur, potongan tako (kaki gurita yang sudah direbus), irisan daun bawang, dan rice crispy. Ada pula pelengkap penyajian berupa saos takoyaki, mayonaise dan katsuobushi (serutan ikan cakalang) untuk topping-nya.
Kuperhatikan caranya menyiapkan adonan tepung dan telur. Aku, Hasan dan Hagiwara San ikut membantu memecahkan telur yang jumlahnya terbilang banyak, sekitar satu setengah kilogram, ke dalam wadah baskom besar, Hayashi kun kemudian memasukkan beberapa bungkus tepung khusus untuk membuat takoyaki, menambahkan air mineral, kemudian mengaduknya menjadi sebuah adonan. Hasyashi kun mengangkat adonan dengan sendok pengaduk lalu menuangkannya kembali untuk melihat apakah adonan sudah menyatu dan kekentalannya pas.
“Its. Ok,” katanya.
“Ready?” tanyaku tak sabar ingin melihatnya mencetak menjadi bola-bola.
“Yes! Ready?” jawabnya cepat.
Hayashi kun segera menyalakan kedua cetakan takoyaki listrik berukuran sedang yang memiliki 18 buah lubang pencetak bola-bola takoyaki. Setelah cetakan panas, adonan dituangkan ke atasnya sampai seluruh lubang tertutup tak terlihat. Lalu dengan cepat dimasukkan potongan tako ke dalam tiap lubang. Bagian atasnya ditaburi dengan irisan daun bawang dan rice crispy. Dengan cepat menggunakan sebuah tusuk sate, Hayashi kun memisah-misahkan bagian adonan yang meleber dan memasukkannya ke dalam lubang. Selesai itu, segera mengungkit isi lobang dan memiringkannya ke kiri, kemudian dibalik ke kanan. Sudah hampir terbentuk bulatan. Terakhir dia membalikkan sisi atas ke bawah. Nampaklah bola-bola bulat itu. Beberapa saat kemudian diceknya apakah sisi bawah sudah masak. Bola-bola itu diputar-putar posisinya di dalam lubang pencetak agar hasil bulatannya rapi.
Setelah matang, bola-bola itu dipindahkan ke dalam piring saji. Tahap berikutnya menghiasi bagian atas bola-bola takoyaki dengan saos dan mayonaise lalu ditaburi katsuobushi. Dan taraaa… takoyaki siap di santap. Very-very Yummy!! Oishiii…! Sebentar saja 36 buah takoyaki cetakan pertama itu habis diserbu. Teman-teman lain dalam ruangan lab yang sejak tadi tidak ikut sibuk memasak pun segera datang bergabung menikmati. Ketika kami asyik makan takoyaki, Hayashi kun tetap sibuk melanjutkan pekerjaannya mencetak takoyaki. Kawaii sho! Kasiaaan.
Setengah kenyang, aku bangkit dari dudukku membantunya sambil belajar mencetak bola-bola takoyaki. Ternyata tidak semudah yang terlihat. Tadi Hayashi kun tampak mudah sekali menggunakan tusuk sate untuk membolak-balikkan adonan setengah jadi di dalam lubang cetakan. Ternyata susah. Hasilnya... takoyaki pertama buatanku belum sempurna bulatannya, masih benjol-benjol dan tepinya tidak rapi. Supatra yang datang belakangan dari ruang doctoral di sebelah juga ikut mencoba mencetak. Hasan dan beberapa teman lain juga ikut mencoba. Hasilnya, tak jauh beda denganku, belum berhasil. Suasana menjadi seru penuh canda tawa kami, saling menertawai hasil buatan takoyaki yang benjol dan terbuka atasnya. Tapi tetap ludes disikat juga oleh bagian eksekusi makan.
Tak lupa kami menyiapkan satu piring kecil untuk sensei dan seorang teman mengantarkan ke ruangnya. Beliau yang tidak tahu kegiatan kami sebelumnya malah akhirnya keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri kami yang masih ramai mengelilingi meja besar. Sensei hanya tersenyum melihat keseruan dan keakraban kami, mahasiswa bimbingannya. Menyenangkan sekali! What a memorable day!
Di akhir masa studiku, Hagiwara San, teman satu kelompok di Biwako Grup menghadiahiku sebuah cetakan takoyaki listrik untuk kubawa pulang ke Indonesia. Waah terima kasih banyak, Yohei! Kamu baik sekali. Aku masih ingat saat perkenalan dulu, Hagiwara San yang selalu tersenyum ramah itu lebih senang dipanggil dengan nama depannya saja.
Demikian sekelumit dinamika kehidupan bersama sensei dan teman-teman labku, banyak suka meskipun ada pula dukanya. Mereka semua telah memberiku banyak ilmu dan wawasan selama aku bergaul bersama mereka. Aku tak akan lupa saat-saat tergabung dalam Lab Water Management itu dan berharap masih punya kesempatan untuk bisa ke sana lagi, di East Wing Ristumeikan University Biwako Kusatsu Campus.
***
Other Stories
Gm.
menakutkan. ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )
(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...