6. My First Autumn
Masa perkuliahanku dimulai di akhir Sepetember, di mana suhu udara mulai turun, tidak lagi panas tapi belum terlalu dingin. Jaket dengan kehangatan sedang masih bisa digunakan. Udara terasa sejuk dan sangat nyaman untuk berjalan-jalan dengan sepeda. Di sepanjang jalan lingkungan kampus mulai dari pintu masuk gerbang utama hingga menuju parkiran sepeda, pepohonan yang tumbuh di kanan kiri jalan mulai terlihat berubah warna. Sebagian mulai menguning, sebagian lagi tampak kemerahan. Ini tanda musim gugur sudah dimulai. Autumn sudah datang! Aki ga arimasu!
Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan pertamaku menyaksikan dan merasakan langsung suasana autumn. Suasana yang membuatku bersemangat untuk pergi ke kampus. Karena kampus dikelilingi taman yang luas dengan aneka pepohonan tertata apik. Kumanjakan mataku setiap hari dengan menatap warna-warni keindahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa ini. Subhanallah!
Orang Jepang memang paling bisa menghargai setiap musim dari 4 musim yang ada di negara itu. Selalu ada cara untuk menikmati dan merayakannya. Apakah itu dengan mengadakan festival budaya atau dengan sajian khas makanannya. Salah satunya adalah musim gugur yang dimulai sekitar pertengahan September dan akan berakhir ketika memasuki awal Desember. Ketika musim gugur tiba, masyarakat Jepang berbondong-bondong mendatangi spot-spot untuk menikmati kouyou atau momiji, istilahnya momijigari. Di Jepang, musim gugur merupakan musim populer kedua setelah musim semi yang terkenal dengan bunga sakuranya.
Kyoto dan sekitarnya merupakan tempat yang terkenal untuk menikmati musim gugur di Jepang. Selain karena bentang alamnya yang indah dan kotanya yang cantik, Kyoto masih menyimpan rapi gambaran tradisi lama bangsa Jepang. Kota ini juga terkenal dengan sebutan “kota seribu temple.” Pada taman-taman di lingkungan temple itulah banyak pohon maple. Oleh karenanya, saat musim gugur, kota ini menjadi tujuan banyak wisatawan, baik dari dalam maupun dari luar Jepang.
Adalah pohon maple. Memasuki musim gugur, daun-daunnya mulai berubah dari yang semula berwarna hijau tua perlahan berubah menjadi kekuningan, selanjutnya berubah menjadi oranye lalu merah. Orang Jepang menyebutnya kouyou atau momiji. Cantiik dan membuat suasana begitu romantis. Pohon ini tumbuh dengan baik di dataran yang tinggi di mana suhu udara lebih dingin. Oleh karenanya, tidak di semua tempat bisa ditemui tanaman ini. Ada spot-spot tertentu untuk melihat keindahannya, seperti taman dan temple atau kuil.
Perubahan warna daun maple itu mewarnai gunung-gunung, taman dan hutan. Beberapa rute perjalanan dengan kereta api seringkali menyajikan pemandangan yang indah dari gunung yang tampak berwarna warni pada jendela kaca. Bagai lukisan berwarna pada satu bidang datar dengan background hijau tua.
Momiji terlihat indah dengan gradasi merah atau merah menyala pada siang hari. Meskipun demikian, pada petang hari pun keindahan momiji tetap dapat dinikmati dengan pencahayaan lampu yang dipasang di bawah pohon. Daun-daun momiji terlihat sangat indah bercahaya. Sungguh atraktif!
Pada satu sisi jalanan kampus menuju ke arah East Wing ada tiga pohon maple yang tumbuh berderet. Pohon ini jenis yang daunnya lebar dan tidak menjari. Pada sisi lain dekat ruang perkuliahan dan di belakang gedung East Wing, tumbuh pohon maple Jepang yang daunnya menjari dan lebih kecil ukurannya. Setiap hari kuperhatikan perubahan warnanya yang kian memerah. Semakin cantik.
Aku dan beberapa teman terbius kecantikan momiji dan larut dalam keromantisan autumn. Pesona momiji sungguh memikat. Tak ingin keindahan itu hilang, aku dan beberapa teman pun membeli sebuah kamera digital. Sebagai pemula, kala itu aku memilih kamera DSLR Nixon D 5000, atas rekomendasi teman yang sudah lebih tahu dunia fotografi. Setiap hari kubawa kamera itu menemani ranselku di dalam keranjang sepeda. Kampus menjadi lokasi pertamaku untuk belajar memotret.
Sejak itu, di setiap ada waktu senggang aku dan teman-teman mulai mengunjungi beberapa spot menarik yang terkenal untuk berburu foto momiji. Kami berangkat dengan bersepeda, naik bus kota ataupun dengan kombinasi sepeda dan kereta yang dilanjutkan dengan berjalan kaki. Beberapa tempat yang sempat dikunjungi kebanyakan berupa temple atau kuil.
Beberapa kuil yang sempat dikunjungi di sekitar Kyoto antara lain Kiyomizudera, Tofukuji, Ginkakuji, Kinkakuji, dan beberapa tempat lain di seputaran Kyoto. Tempat-tempat wisata itu bisa dicapai dengan menggunakan Kyoto City Bus yang tiketnya bisa dibeli di dekat stasiun Kyoto. Lebih ekonomis menggunakan one day ticket. Tiket terusan itu bisa digunakan untuk naik Kyoto city bus ke berbagai rute untuk mengunjungi banyak tempat dalam satu hari. Biasanya saat membeli tiket akan diberi peta lokasi objek wisata di Kyoto lengkap dengan gambar objek dan nomor bus yang melewati rute menuju lokasi objek wisata tersebut. Temple yang umumnya berlokasi pada dataran yang agak tinggi menjadi tempat yang baik untuk pertumbuhan pohon maple. Dan pada waktu musim gugur tiba, tempat-tempat itu menjadi daftar kunjungan wisatawan untuk melihat momiji.
Kiyomizudera adalah salah satu kuil paling terkenal yang berlokasi di sebelah timur Kota Kyoto. Kuil yang menjadi warisan budaya dunia dengan bangunan megah yang dikelilingi taman ini terlihat sangat cantik bila musim gugur tiba. Aksesnya sangat mudah ditempuh dengan menggunakan Kyoto city bus dari stasiun Kyoto, kemudian dilanjutkan dengan berjalan mendaki ke arah kuil. Sepanjang jalan mendaki, di sisi kanan dan kirinya berjajar toko-toko yang menjual aneka souvenir dan jajanan untuk oleh-oleh khas Kyoto.
Kinkakuji atau Kuil Emas sangat terkenal di Jepang. Bangunan berlantai 3 ini pada dua lantai bagian atasnya dilapisi dengan kertas emas seluruhnya, sehingga tampak kuning berkilau bila siang hari oleh pancaran cahaya matahari. Bayangannya yang jatuh pada danau di dekatnya dipadu dengan merahnya momiji yang tumbuh di taman di sekitarnya menghasilkan pemandangan yang sangat indah dan menjadi incaran para pemburu foto. Untuk menuju tempat ini kami menggunakan Kyoto city bus.
Seiring berjalannya waktu, suhu udara terus merambat turun. Jika biasanya masih di atas 100C, di awal November suhu udara turun drastis mencapai 7 - 80C. Pakaian harus lebih rapat, jaket harus lebih tebal dan pemanas ruangan mulai diaktifkan, terutama malam hari saat berada di apato. Pohon-pohon mulai mengatur strategi untuk bertahan hidup dengan mengurangi penggunaan energi dan harus rela melepaskan daun-daunnya gugur.
Daun merah kuning yang cantik di pepohonan akhirnya mulai gugur menghambur ke tanah. Tiga batang pohon maple favorit yang tumbuh berjajar di sebelah kiri jalanan kampus menuju parkiran sepeda, tempatku berfoto ria beberapa hari lalu, kini tak lagi rimbun. Sebagian daunnya telah terserak di bawah. Ada yang langsung jatuh di atas rumput, ada yang tertahan di atas tanaman perdu yang memagari sisi belakangnya.
Aku terpana saat melewati deretan tiga pohon maple itu, lalu menghentikan sepedaku di dekat pohon kedua yang paling besar dan kemarin terlihat paling cantik tajuknya. Kuamati keindahan yang akhirnya harus terenggut dalam sekejap. Sesaat angin bertiup lembut namun menusuk, menggoyangkan dahan pohon di depanku itu dan meruntuhkan lagi daun-daunnya. Kuamati daun yang melayang gontai seolah enggan turun. Ada rasa tercabik, pilu menyaksikannya. Namun, akhirnya aku sadar, inilah kehendak Sang Pencipta yang telah mengatur kehidupan ini. Tidak ada satu helai pun daun yang jatuh ke bumi yang tak diketahui-Nya.
Aku segera beranjak mengayuh lagi sepedaku menuju tempat parkiran sepeda di dekat East Wing, gedung tempat labku berada. Sebentar lagi kuliah English Presentasion akan dimulai, aku harus meletakkan dulu sebagian perbekalan isi ranselku di meja kerjaku, lalu turun lagi menuju gedung ruang perkuliahan yang jaraknya lumayan jauh. Ada pelajaran berharga yang kudapat dari perjalanan ke kampus hari ini, bahwa tidak ada yang abadi dalam kehidupan ini. Semuanya akan sirna pada waktunya.
Demikianlah, daun-daun maple terus gugur. Tumpukan daun itu menutupi permukaan tanah sekeliling tempatnya tumbuh lalu membentuk permadani merah atau kuning yang indah dan eksotis. Kondisi ini sekali lagi masih bisa dinikmati terutama oleh para pemburu foto. Mereka bisa menampilkan objek orang duduk atau rebah di atas permadani daun yang cantik.
Sekali lagi orang Jepang membuktikan jika mereka sangat menghargai setiap bentuk perubahan yang terjadi pada setiap musim yang berganti. Mereka menghargai perubahan di kala autumn menerpa pepohonan maple, mulai dari saat daun mulai memerah, sampai helai-helai itu jatuh ke tanah. Mereka membiarkan daun-daun itu terserak untuk beberapa lama di bawah pohonnya. Petugas kebersihan tidak akan menyapunya, hingga warna indah daun itu perlahan memudar menjadi hitam dan kering barulah dibersihkan.
***
Other Stories
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...
Kk
jjj ...
Sonata Laut
Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...