Namaku May

Reads
1.9K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Ayaka Prayitno

5. Epoch

Memasuki dormitory Epoch, artinya bermalam pertama kali di Jepang. Bangunan Epoch tidak terlalu tinggi, hanya ada tiga lantai. Kami mendapat kamar di lantai 2. Kuhafalkan nomor kamarku, jangan sampai salah masuk karena jumlah kamarnya banyak dan pintu kamar bila dilihat dari lorong, seperti sama semua. Aroma ruangan tercium semerbak wangi. Aroma yang mengesankan dan kelak mengingatkanku selalu pada Epoch. Kamarnya sangat besar tetapi terlihat kosong. Hanya terdapat dua tempat tidur bertingkat, satu meja besar dan beberapa kursi, bisa untuk belajar bersama. Tidak ada fasilitas kamar mandi atau toilet di dalam kamar. Untuk keperluan mandi atau membersihkan diri, di lantai yang sama disediakan sebuah kamar mandi umum terpisah untuk putri dan putra.
Suasana lorong yang panjang menuju kamar menurutku agak seram saat malam hari. Mungkin karena pencahayaan yang kurang terang. Perasaan ini ternyata bukan hanya milikku. Teman-teman lain pun merasakan hal yang sama. Apalagi ada cerita dari para cowok tentang adanya hantu di dormitory itu. Kamipun akhirnya selalu berjalan bersama bila ingin keluar kamar saat malam hari.
Malam pertama di dormitory itu kuhabiskan dengan istirahat. Jam 10 malam aku sudah berangkat tidur di saat dua orang teman sekamarku masih asyik dengan laptopnya masing-masing. Betapa terkejutnya aku saat terbangun jam 1 malam, ternyata seorang temanku masih belum tidur dan asyik menonton film yang baru saja di-download-nya. Teman satu ini memang penggemar film Korea. Dia sangat exciting dengan kemampuan wifi di dalam kamar yang kecepatannya sangat tinggi sehingga tidak disia-siakannya untuk men-download film dengan cepat dan gratis.
Di dalam kamar ini aku mulai belajar mengenal sifat kedua teman satu kampus dari Yogya yang memang berasal dari Kota Gudeg itu. Keduanya baik dan siap bekerja sama saling membantu. Gaya berpakaian mereka sederhana dan tidak berlebihan. Cara bicara mereka tidak asal ceplas ceplos. Pemikiran kami sering seide. Maka kloplah kami bertiga. Dari segi usia, mereka lebih muda beberapa tahun di bawahku. Namun soal otak, dan penguasaan bahasa Inggris membuatku minder. Seorang dari mereka malah memiliki wawasan yang luas tentang Jepang. Jauh sebelum berangkat, dia sudah mencari informasi banyak tentang Jepang, terutama budayanya. Belum lagi ditambah penguasaan bahasa Jepangnya yang lumayan baik, jauh di atas kami yang hanya mendapatkan pembekalan Nihongo selama tiga bulan di kampus.
Bertiga kami mulai mempelajari situasi sekitar kampus mumpung perkuliahan belum dimulai. Berangkat bersama sekadar mencari makan dan melihat suasananya. Belanja kebutuhan harian ke Seiyu suppa di dekat Minam Kusatsu eki. Supermarket ini menjadi tempat belanja yang sering kami kunjungi karena isinya lengkap dan harganya terjangkau. Selama masa tinggal di Epoch, banyak cerita yang kami alami sebagai pendatang baru yang masih lugu alias ndeso plus innocent hehe. Baik di dalam Epoch sendiri maupun saat berjalan-jalan di luar lingkungan kampus.
Suatu hari kami memberanikan diri keluar menggunakan bus dari kampus menuju Aeon Mall, sebuah mal besar yang cukup jauh dari kampus. Kedua temanku telah memutuskan untuk membeli sepeda baru dan menyerahkan hak warisan sepeda dari kakak kelas kepadaku nanti apabila seniorku itu sudah selesai urusannya di Jepang. Mereka membeli sepeda lipat dengan diameter roda ukuran 16 cm di sebuah toko di lantai dasar mal itu. Sepeda baru langsung dilengkapi dengan surat agar bisa dibawa dengan menaikinya langsung. Aku harus naik bus sendiri. Tujuan kami bukan ke Epoch, melainkan menuju apato Shimizu, tempat kakak kelas tinggal. Kakak kelas mengajak kami datang ke undangan perpisahan salah satu teman satu apato-nya yang akan lebih dulu kembali ke tanah air.
Dari Aeon mall kami janjian bertemu kembali di dekat stasiun bus Minami Kusatsu untuk selanjutnya mencari Apato yang beralamat di Kasayama itu. Dari situ aku terpaksa berjalan kaki karena menurut informasi yang kudapat, Kasayama tidak jauh lagi. Dan kamipun bertiga berangkat. Mereka bersepeda santai sedang aku berjalan kaki. Cukup jauh berjalan dan lelah, tak ada tanda menemukan jalan Kasayama. Ternyata... kami tersesat. Maka mulailah kami bertanya pada orang yang ditemui. Sampai bertemu dua orang anak muda sepertinya anak kuliahan tengah menuntun sepeda dari parkiran sebuah bank yang bisa kutanyai. Ternyata satu dari mereka mahasiawa undergraduated di Ristsumeikan juga. Alhamdulillah dia baik dan mau membantu.
Setelah berdiskusi sebentar dan membuka gadget mencari jalan Kasayama, keduanya menawarkan diri untuk mengantar. Mungkin setelah melihat kami masih bingung dan tidak juga mengerti dengan petunjuk yang sudah disampaikannya. “Waah... ternyata pemuda Jepang baik-baik dan suka menolong,” bisik hati kami. Baiklah terima kasih sebelumnya. Seorang dari mereka bahkan berani memboncengku dengan sepedanya. “Waah… ini sangat langkaa… dibonceng sepeda di Jepang... pasti seru, seperti di film-film romantis,” pikiran isengku muncul sambil tersenyum. Lalu kutanya dia untuk meyakinkan lagi, apakah benar tidak apa-apa memboncengku. Dan aku pun segera melompat duduk diboncengan.
Demi menolong kami, dia mendapatkan dua kerugian sekaligus hari itu. Kerugian yang pertama, dia melanggar aturan bersepeda untuk tidak membonceng orang lain. Kerugian yang kedua, dia merelakan tenaganya terkuras untuk memboncengku dengan berat standar emak-emak. Padahal medan yang dilalui tidak datar, ada beberapa tanjakan dan turunan. Saat melalui jalan turun aku bisa bersorak tertawa seperti anak kecil dibawa meluncur turun, tetapi di saat jalan menanjak aku berusaha menahan napas dan membuang berat bebanku. Kasihan pada pemuda Jepang yang tulus itu.
Ternyata sampai di lokasi yang ditunjukkan oleh kedua pemuda tadi, kami tidak mendapati apato Shimizu. Bahkan, kami tidak mendapati kombini di sekitar tempat itu sebagaimana petunjuk kakak kelas. Mereka mulai bingung, lalu bertanya kepada seorang bapak-bapak yang melintas berjalan kaki di tempat itu. Mereka berbicara dalam Nihongo. Lalu si bapak mengangkat tangan menunjuk ke satu arah, lalu si pemuda berkata, “Haik... Wakarimashita. Arigatou gozaimashita.” Ooh, ternyata kami sudah tiba di tempat yang salah. Memang benar itu Kasayama, tapi sisi yang berbeda. Kemudian kami pun menuju tempat lain yang arahnya berputar balik. Sekali lagi pemuda itu memboncengku. Dan aku sudah tidak bisa menikmati lagi selama perjalanan, karena kasihan kepadanya. Tetapi dia tampak tegar dan tetap semangat. Kali ini aku berharap cepat sampai dan tidak lagi salah. Semoga.
Benarlah, akhirnya aku mengenali jalan dekat apato kakak kelas yang sebelumnya pernah ditunjukkan Shimizu San saat pertama tiba seminggu lalu. Alhamdulillah kami sampai juga di depan apato yang dimaksud meskipun terlambat setengah jam dan sempat diomeli kakak kelas.
Aku berterima kasih sekali kepada mereka. Terutama pemuda yang sudah memboncengku. Semoga Tuhan membalas kebaikan budimu.
Cerita kamar mandi. Ada satu hal mengherankan dan mengejutkan yang kualami di Epoch, yaitu kebiasaan mandinya. Pertama, penggunaan kamar mandi dibatasi waktunya. Kamar mandi hanya dibuka untuk mandi pagi antara jam 7 - 10 siang, dan sore jam 5 - 9 malam. Di luar jam itu ditutup dan dikunci oleh petugas. Pernah suatu saat aku terlambat mandi sampai siang karena terlalu asyik dengan laptopku. Kedua teman sekamarku sudah berangkat lebih dulu ke kampus karena ada acara dengan sensei dan teman satu labnya. Terburu-buru ke kamar mandi sambil membawa peralatan mandi, tetapi setelah sampai di sana aku bingung kenapa pintu kamar mandi terkunci. Sebenarnya ada informasinya terpasang di pintu kamar mandi, tetapi aku tidak memahami tulisan kanji. Akhirnya terpaksa kembali ke kamar dan tidak mandi hari itu.
Kedua, cara mandi bersama dalam satu ruangan besar. Kamar mandi yang cukup luas dan memiliki 3 pancuran itu memang tertutup, dan hanya diperuntukkan bagi perempuan. Tetapi karena tidak terbiasa aku merasa risih dan harus menunggu lama sampai yang lain selesai baru bisa mandi. Betapa aku terganggu dengan pengguna kamar mandi lain entah warga negara mana yang dengan santainya bertelanjang lalu lalang di hadapan kami. Hal ini dikarenakan handuk dan pakaian harus diletakkan di dalam keranjang terpisah dan disusun dalam rak di dekat pintu masuk.
Tempat mandi dan tempat penyimpanan pakaian merupakan dua ruang terpisah namun pada satu sisi saling terhubung dengan pintu lebar tanpa penutup. Pada bagian kamar yang berfungsi untuk mandi terdapat fasilitas 6 set sarana mandi yang terdiri dari keran pancuran beserta bak penampung airnya dilengkapi bangku duduk bulat dari plastik serta gayung mandi. Tiga berada di sisi sebelah kanan dan tiga lainnya di sisi sebelah kiri. Tidak ada sekat sama sekali. Maka orang yang akan mandi menuju ke keran pancuran atau sebaliknya selesai mandi akan mengambil handuk mondar mandir dalam keadaan nude. Walaah... ngga tega rasanya. Aku nekat membungkus diri dengan handuk, memilih tempat mandi yang di pinggir, lalu duduk melepas handuk dan mandi secepatnya. Handuk kuletakkan di atas keran air dekat tempatku duduk mandi, sehingga mudah kuraih bila kelar mandi.
Cerita mencuci pakaian. Cuaca yang sejuk dan kering membuat badan tidak berkeringat sehingga pakaian tidak mudah kotor atau bau. Tapi rasanya tidak nyaman kalau harus menggunakan pakaian yang sama lebih dari satu hari. Maka mencuci pakaian tetap menjadi agenda pasti seminggu sekali.
Ada sebuah ruangan di lantai tempat kamar berada yang merupakan ruangan untuk mencuci dan mengeringkan pakaian. Semua selesai menggunakan mesin sehingga tidak perlu membilas atau menjemur. Tiap kali mencuci atau mengeringkan pakaian kita harus mengeluarkan coin 100 yen. Ada dua mesin pencuci dan satu mesin pengering. Oleh karena itu, kami harus bisa memilih waktu yang tepat untuk bisa mencuci dengan santai tanpa merasa diburu-buru. Sebaiknya tidak pas hari libur, karena akan banyak yang menggunakan mesin cuci, dan kita harus antre menunggu lama atau merasa tidak nyaman ditunggui orang.
Cerita dapur umum. Pada tiap lantai dormitory di mana ada kamar-kamar tamu, dilengkapi sebuah dapur umum. Di dapur umum itu disediakan kompor dengan dua sumbu dipergunakan untuk memasak air panas dan memasak makanan instan, seperti mie atau noodle. Tetapi kami nekat menggunakannya untuk memasak lauk dan sayur ala Indonesia, demi alasan mendapat makanan halal dan tentu saja penghematan biaya. Ini memang dua hal yang sangat penting dan perlu digarisbawahi. Sebisa mungkin kami berhati-hati dalam memilih makanan yang akan kami konsumsi.
Sebagai pendatang baru di Ritsumeikan, kami belum mengenal banyak lingkungan kampus dan tempat makannya yang menjual makanan halal. Siang hari saat kantin kampus buka, kami bisa makan di Shokudo. Kerepotan saat malam hari kami lapar. Berbekal sebuah rice cooker warisan dari kakak kelas. Kami memutuskan untuk memasak makanan sendiri. Bahan makanan berupa telur, ikan dan sayuran kami beli di supermarket. Kemudian kami memasaknya di dapur umum. Tentu saja masakan Indonesia dengan bumbu rempah yang spicy. Aroma tumisan dan gorengan ikan menyebar ke mana-mana, terutama sepanjang lorong yang juga menuju lokasi kamar. Kami berusaha mengurangi aroma itu menyebar dengan menutup pintu dapur. Hari pertama kegiatan masak memasak kami aman, meskipun dilakukan sambil dag dig dug kalau saja ada petugas lewat.
Suatu malam seorang teman wanita berdarah Minang memanasi rendang perbekalannya agar tidak rusak. Aroma khas rendang yang harum lezat dan spicy segara menyebar ke dalam lorong merembes ke kamar-kamar. Mungkin beberapa penghuni lain ada yang terganggu, dan membuat aduan kepada petugas, atau memang petugasnya mencium sendiri aroma masakan itu, akhirnya kami mendapat teguran langsung saat berada di dalam dapur umum. Tertangkap tangan, kami pun tidak bisa mengelak, hanya bisa mendengarkan saja teguran petugas dalam Nihongo itu, sambil haik... haik mengiyakan.
Di lain hari sesekali kami masih melakukannya sambil kucing-kucingan dengan petugas. Biasanya seorang dari kami bertugas menjaga di depan pintu dapur agar bisa cepat mengetahui kedatangan orang lain, terutama petugas jaga. Hahaha… dasar emak-emak bandel!
Perburuan warisan. Selama tinggal di Epoch merupakan masa perburuan barang-barang warisan kakak kelas untuk penunjang kehidupan sehari-hari di apato nanti. Mulai dari sepeda yang fungsinya sangat vital. Peralatan kamar tidur, seperti karpet, futon, selimut, meja belajar, pemanas ruangan. Alat rumah tangga seperti penyedot debu, kipas angin, setrika, dan televisi. Sampai peralatatan memasak di dapur, seperti rice cooker, wajan dan panci serta barang pecah belah untuk penyajiannya.
Bagi yang mempunyai kakak kelas, tidak perlu merasa khawatir karena pasti akan diwarisi barang-barang seniornya. Sementara kami bertiga hanya punya satu kakak kelas. Maka kami harus berbagi dan sisanya harus mengusahakan beli sendiri. Barang-barang kebutuhan seperti di atas dapat dicari dan dibeli di toko barang bekas yang masih layak pakai. Dengan kondisi yang masih lumayan bagus dan yang pasti masih bisa berfungi sesuai kegunaan, kita bisa mendapatkannya dengan harga sekitar 10 - 20 persen dari harga barunya. Sangat membantu.
Tak terasa dua minggu sudah kami tinggal di dormitory. Kakak kelas sudah habis masa tinggalnya dan harus kembali ke tanah air. Saatnya kami keluar dari Epoch dan pindah ke apartemen Bell Palazo. Untuk satu tahun ke depan kami akan tinggal di apato itu. Betapa senangnya, akhirnya bisa tinggal di kamar sendiri. Bebas mau apa saja di kamar sendiri tanpa khawatir akan mengganggu orang lain. Yeey… by Epoch!
***

Other Stories
Cahaya Menembus Semesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap

Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...

Cicak Di Dinding ( Halusinada )

Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...

The Fault

Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...

Hold Me Closer

Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...

Kepingan Hati Alisa

Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...

Download Titik & Koma