Namaku May

Reads
1.9K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Ayaka Prayitno

2. Beasiswa Ke Jepang

Sekolah ke Jepang? Iya, Jepang! Sebuah negara maju di Asia yang terkenal dengan bunga sakuranya yang cantik itu! Sungguh seperti mimpi saja. Mendapatkan kesempatan tugas belajar sambil jalan-jalan gratis, sementara kebutuhan untuk tinggal, hidup dan belajar sudah diatur dan dibiayai oleh negara. Apa ngga asyik tuh? Siapa yang ngga mau, sih?
Alhamdulillahirabbil’alamiin. Berkali-kali aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia yang sangat besar padaku. Nikmat kesempatan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Nikmat kemudahan untuk melewati setiap tahap seleksi dalam penerimaan mahasiswa calon penerima beasiswa negara. Sehingga pada akhirnya aku lolos seleksi.
Nikmat kedua berkaitan dengan statusku sebagai seorang pegawai negeri sipil daerah. Allah SWT telah menggerakkan hati para atasanku sehingga mereka berkenan memberikan izin kepadaku untuk meninggalkan pekerjaan dan mendukung niatku melanjutkan studi. Urusan mendapatkan izin ini sangat mudah dan cepat prosesnya. Aku sangat berterima kasih dan tidak akan melupakan kebaikan hati mereka semua. Semoga Allah SWT berkenan mengganjar mereka dengan keberkahan.
Nikmat ketiga berhubungan dengan predikatku sebagai seorang ibu dari tiga orang anak yang masih kecil-kecil. Anak tertuaku, Wildan baru duduk di kelas 5 SD. Khansa, anak kedua masih belum genap lima tahun. Neto, si bungsu belum genap tiga tahun. Bukanlah hal yang mudah memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah dan anak anak. Aku merasa berat saat harus berpisah dari ketiga buah hatiku itu. Beruntung mereka sudah terbiasa kutinggal tugas dinas ke luar kota selama beberapa hari sejak mereka bayi. Ditambah lagi aku mempunyai si mba, asisten rumah tangga yang baik dan pinter menjaga anak-anakku. Saat itu dia sudah mengabdi kepada keluarga kami selama dua tahun.
Nikmat luar biasa berikutnya yang selalu aku syukuri adalah memiliki suami yang sangat baik dan pengertian. Mas Tri, memberiku keleluasaan dan kebebasan untuk mencapai apa yang menjadi keinginanku. Dia adalah seorang kakak yang sabar dan rela mengalah sekaligus partner yang baik dan selalu mendukungku.
Meskipun suamiku juga berstatus pegawai negeri sipil, namun dia memiliki keleluasaan dalam mengatur waktu. Ini dimungkinkan karena posisinya sebagai kepala sebuah instansi di bawah unit pelaksana teknis Kementerian Kehutanan. Pekerjaannya lebih banyak di lapangan, terutama menggerakkan pasukan pemadam kebakaran hutan dan lahan. Artinya dia masih punya banyak waktu untuk bisa mengurus dan mengawasi anak-anak. Pagi hari sebelum berangkat ke kantor, dia masih punya waktu untuk mengurus anak-anak. Saat putri keduaku mulai sekolah di Taman Kanak-Kanak, suamiku masih bisa antar-jemput.
Namun, berkaitan dengan rencanaku untuk sekolah lagi bukannya tidak pernah ditentangnya sama sekali. Masih kuingat jelas percakapan antara aku dan suami di sebuah kamar pada suatu malam ketika anak-anak dan si mbak sudah terlelap tidur. Kamar anak yang saat malam hari tidak ditempati karena anak-anak lebih memilih tidur bersama kami.
Pembicaraan itu dimulai ketika aku menyampaikan keinginanku untuk sekolah lagi. Dengan wajah sumringah kusodorkan formulir pendaftaran penawaran beasiswa pendidikan dari Bappenas. Ada beberapa pilihan program studi dari beberapa universitas negeri yang bisa diambil, tapi pelamar hanya bisa memilih tiga saja dengan urutan prioritas.
“Aku ambil Magister Perencanaan Wilayah IPB, Mas. Secara aku masih cinta IPB. Pengin balik ke Bogor yang sudah familier kotanya. Selain itu Bogor masih relatif dekat, cukup sekali naik pesawat dari Jakarta ke Palembang,” aku menjelaskan alasanku.
Suamiku hanya diam mendengar rentetan ucapanku. Matanya khusyuk mengamati formulir yang ada di tangannya.
“Pilihan kedua Magister Perencanaan Kota dan Daerah UGM. Memang jauh siih… tapi kan ada Ana di Yogya. Aku bisa tinggal di sana tanpa harus merasa asing di daerah baru,” aku memberi tekanan pada pilihan keduaku.
Ana adalah adik perempuan yang lahir tepat di bawahku. Usia kami hanya beda satu tahun. Kami mulai sekolah bersama sehingga sering dikira anak kembar. Walaupun wajah kami tidak terlalu mirip. Kata orang, aku mirip bapak, sedangkan adikku mirip ibu. Sejak lulus kuliah di sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi swasta di Yogyakarta, dia tidak mau kembali lagi ke Pringsewu, kampung halaman kami. Apalagi kemudian dia dinikahi seorang teman kuliahnya asal Solo. Jadilah mereka menetap di kota pelajar, Yogyakarta.
“Iyaa... kalo di UGM malah enak, deket Ana. Adik bisa tinggal di rumah Ana nanti,” suamiku sepertinya lebih setuju dengan pilihan ini. Mungkin karena alasan yang berhubungan dengan keamanan dan kenyamananku.
“Tapi yaa... lebih jauuh... naik pesawatnya dua kali. Ongkos pulang jadi lebih mahal,” aku menyeimbangkan nilai antara dua pilihan kota. Saat itu belum ada penerbangan langsung dari Palembang ke Yogyakarta atau sebaliknya. Harus transit Jakarta dulu.
“Pilihan terakhirku UNSRI Mas. Magisteeer... Administrasi Publik.”
Aku menarik formulir yang sedang dibaca suamiku agar terbaca jelas untuk meyakinkan apa betul nama programnya begitu. Maklum masih belum familier.
“Agak kurang sreg sih. Tapi ngga apa-apa dicoba. Ini pilihan pamungkas kalo pilihan pertama dan kedua lewat. Lagian kalo di UNSRI kan kampusnya deket dari rumah. Adik bisa ngelajo pulang pergi. Ngga perlu ngekost. Ya ngga?”
“Iyaa… sudah bagus semua kok pilihannya,” suamiku berusaha mengimbangi perasaanku yang tengah dibakar semangat.
“Ini yang di bawah apa... milih ke Jepang?” suamiku menyodorkan formulir ke arahku dengan tatap mata heran.
“Ooh itu optional aja... tawaran pilihan seandainya memenuhi syarat dan diberi kesempatan ke luar negeri, mau pilih universitas mana dan program studi apa? Aku pilih ke Jepang saja ya Mas. Sepertinya menarik. Masih satu Asia, kulturnya gak jauh beda. Alamnya juga cantik, bisa lihat salju dan sakura,\" aku nyerocos terus dengan semangat.
“Apa sih yang Adik cari di sana? Kalo masih sendiri ya ngga masalah mau melanglang ke mana saja!” suamiku berkata dengan nada tinggi dan menatapku tajam. Aku sangat terkejut dan tersadar. Ternyata suamiku menanggapi serius ucapanku barusan.
“Lho Mas... belajar sampai ke negeri jauh itu kan dibolehkan oleh agama kita. Lagian ini juga baru mau daftar. Belum tahu diterima apa ngga. Bisa lolos dapat yang dalam negeri aja sudah senang. Mas mbok tolong jangan larang aku,\" aku memohon, tapi juga dengan suara agak tinggi tanpa berani melihat wajah suamiku.
“Aku juga pengen seperti temen-temen sekolahku dulu. Mereka sekarang ini sudah pada punya embel-embel tambahan di belakang namanya. Kereen! Aku juga ingin menunjukkan eksistensiku. Aku masih sanggup untuk belajar lagi!” aku terus berusaha membela diri sambil melembutkan suaraku, berharap suami akan mendukungku.
“Ya trus apa ngga kasihan sama anak-anak? Bagaimana dengan mereka kalau ditinggal pergi ibunya? Pikirkanlah Dik!” suamiku masih bicara dengan nada serius.
Kali ini aku terdiam. Bibirku terkatup rapat. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan suamiku. Pertanyaan yang sebenarnya juga menjadi kekhawatiranku. Aku duduk di tempat tidur dengan posisi tetap membelakangi suamiku yang segera menuju pintu keluar kamar. Meninggalkan aku sendiri yang masih belum rela bila harus melepas keinginanku untuk sekolah jauh sampai ke Jepang.
Entah mengapa malam itu aku jadi sangat emosi dan berusaha mempertahankan sesuatu yang belum pasti terjadi. Padahal baru rencana saja. Seperti yakin akan menjadi yang termasuk diberi kesempatan ke luar negeri dan akan berangkat ke Jepang. Antara aku dan suami sempat terjadi aksi diam-diaman selama tiga hari. Bicara seperlunya dan tidak ada canda tawa. Capek, tapi tidak ada yang mau mengalah. Hingga hari ketiga kami bisa baikan kembali. Seperti sudah menjadi kesepakatan kami. Tiga hari waktu paling lama buat kami diem-dieman. Aku sendiri takut dosa kalau lebih dari itu tak segera berbaikan lagi dengan suami.
Hari-hari selanjutnya setelah formulir lamaran dikirim, aku melupakan tentang kejadian malam itu. Aku hanya berharap bisa diterima di salah satu dari tiga perguruan tinggi dalam negeri yang kupilih. Tiga kali tes dalam dua gelombang untuk tahap seleksi kujalani, lalu menunggu hasilnya. Hingga suatu ketika aku ditelepon oleh seseorang dari Lembaga Bahasa Universitas Gajah Mada. Aku perlu waktu lama untuk menyadari kalau aku termasuk ke dalam kelompok yang diberi kesempatan menerima beasiswa ke luar negeri.
“Maaf Mba, ini maksudnya… saya diterima program Double Degree yaa?” tanyaku pelan dan tidak yakin kepada lawan bicara di balik telepon.
“Iya Mba… apa belum lihat pengumuman? Hari Senin tanggal 10 Maret ini, Mba harus sudah masuk kelas pembekalan bahasa Inggris di Lembaga Bahasa UGM.”
“Ooh... baik Mba, terima kasih informasinya,” telepon genggamku masih menempel di telinga saat terdengar bunyi telepon ditutup dari jauh. Aku masih terbengong.
Serasa disambar petir, aku terdiam sasaat. Lalu gelisah datang. Kulirik kalender yang tergantung di dinding kamar di atas meja kerjaku. Ini hari Rabu tanggal 5 Maret. Waduuh aku hanya punya waktu 4 hari lagi untuk bersiap. Tiba-tiba aku ingin menangis. Antara senang dan sedih. Senang berhasil diterima di perguruan tinggi pilihanku plus bonus kesempatan berangkat ke Jepang jika lulus dalam pembekalan bahasa. Tapi juga sedih bila harus segera berpisah dari anak-anakku. Kulihat putra bungsuku yang dua bulan lagi genap berusia tiga tahun tengah bermain sama si mbak di ruang TV. Haruskah aku pergi sekarang? Aku benar-benar merasa belum siap.
Segera kuhubungi suami yang sedang berada di tempat kerja dan memintanya segera pulang, untuk membagi gelisahku dan mengambil langkah-langkah selanjutnya.
“Gimana ini Maas… berangkat apa ngga yaa?” tanyaku setelah menunjukkan pengumuman hasil seleksi beasiswa Bappenas yang baru sempat kubuka setelah menerima telepon dari UGM. Aku sungguh belum siap.
Setelah menjalani tes seleksi tahap kedua pada pertengahan bulan Februari, aku memang begitu yakin akan lulus. Namun, aku mempersiapkan diri menunggu pengumuman kelulusan sekitar bulan Juni. Iya. Itu adalah jadwal pengumuman kelulusan untuk penerima beasiswa dalam negeri. Sama sekali tidak menduga kalau aku akhirnya diberi kesempatan mendapat program beasiswa keluar negeri yang pengumumannya keluar di bulan Maret.
“Ambil saja Dik. Berangkatlah! Ini kesempatan langka yang tidak semua orang bisa mendapatkannya!” suamiku menatapku dengan pandangan yang sulit kuterka maksudnya. Apakah benar itu ucapan dari dalam hatinya, atau karena tidak ingin mengecewakanku. Suamiku memang sangat baik. Dia melupakan apa yang sempat ditentangnya dan sempat membuat kami tidak akur beberapa bulan lalu. Dengan besar hati dia malah mendukungku untuk berangkat.
“Tapi Maas... bagaimana dengan anak-anak? Aku sepertinya tidak bisa. Apa aku telepon Bappenas saja yaa... minta dialihkan ke dalam negeri?”
“Ngga usah! Berangkatlah! Sudah ngga usah mikirin anak-anak. Insya Allah… Mas bisa mengurus mereka. Adik ngga usah khawatir! Ada Mbah dan Buliknya juga yang bisa bantu menjaga mereka,” Suamiku berusaha meyakinkan aku yang kala itu sangat rapuh. Aku kembali menangis di pelukannya.
***
Demikianlah. Sejak pertengahan Maret itu aku harus berpisah dengan suami dan anak-anakku untuk waktu yang lama. Aku harus menjalani pendidikan pembekalan Bahasa Inggris di Lembaga Bahasa Universitas Gadjah Mada selama 5 bulan. Kemudian dilanjutkan dengan pendidikan master program di Magister Perencanaan Kota dan Daerah di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Arsitektur Perencanaan selama satu tahun. Satu tahun berikutnya aku harus melanjutkan pendidikan ke sebuah universitas di Jepang. Yang terakhir belum diketahui kampusnya karena harus melalui tahap seleksi lagi untuk bisa mendapatkan profesor yang bersedia membimbing selama di Jepang.
Tahun pertama aku di Yogya merupakan tahun terberat bagi kehidupan kami, terutama bagi suami dan anak-anakku. Kami harus terpisah di tiga tempat yang berbeda. Aku di Yogya, suami dan si sulung di rumah di Kayuagung, si tengah dan si bungsu yang masih kecil diasuh ibu mertua dan adik ipar yang tinggal bersama di Pringsewu.
Hari-hari pertama kulewati dengan rasa aneh dan asing. Semua berubah drastis, aku yang setiap pagi biasanya menyiapkan keperluan suami dan anak-anak, lalu pergi berangkat bekerja, tiba-tiba hanya mendapati diriku sendiri yang harus berangkat sekolah. Tak ada rengek tangis si kecil memanggil mama dan celoteh mbaknya membela diri saat keduanya bertengkar. Tak ada pelukan hangat suami yang selalu menyejukkan hati dan menghilangkan segala keluh kala letih menderaku. Aku kadang terbengong sendiri dan melamun kala berada di ruang belajar.
Suamiku yang harus tinggal berdua saja dengan si sulung mengalami penderitaan dan tekanan mental yang membuatnya senewen dan uring-uringan. Rumah yang semula ramai kini sepi. Tak ada suara lucu si kecil memanggil papa dan meminta digendong saat membuka pintu rumah sepulang dari tempat kerja. Si sulung yang sudah kelas V Sekolah Dasar sudah memiliki dunia sendiri di luar rumah. Sepulang sekolah dia langsung berganti baju dan pergi main ke rumah teman-temannya di satu kompleks perumahan.
Sementara kedua anakku yang tinggal di rumah neneknya pun meninggalkan cerita-cerita sedih. Si mbak yang cerewet itu punya kalimat pamungkas setiap kali diganggu oleh saudara-saudara sepupunya yang membuat siapapun yang mendengar merasa haru dan iba, “Aku jangan dinakalin yaa... aku kan ngga ada Mama, ngga ada Papa di sini,” kata-kata si tengah, Khansa yang didengar dan diceritakan kembali oleh suami kepadaku. Bagai teriris hatiku mendengarnya.
Entah dari mana si mba yang baru berusia 5 tahun mendapatkan kalimat seperti itu. Mungkin saja dia mendengar perkataan neneknya saat mengingatkan cucu-cucu yang lain untuk tidak menggangu mereka berdua. Bagaimanapun, aku merasa sedih mendengarnya. Ingin rasanya kubawa mereka ke Yogya, terutama si kecil. Tetapi suami dan ibu mertuaku melarang niatku. “Jangan, biar anak-anak di sini saja!. Nanti malah kamu repot sendiri. Anak ngga keurus, kuliah terganggu,” suamiku mencegah.
Aku belum merasa puas dan masih merasa kami telah mengambil keputusan yang salah dengan meninggalkan mereka berdua bersama neneknya. Kuutarakan pada suami untuk mengambil kembali si mba dan si kecil. Suamiku setuju dan mengambil kedua anakku dari Pringsewu untuk tinggal bersama ayah dan kakaknya. Setidaknya masih ada sosok ayah yang siap melindungi dan menjaganya ketika ibunya tidak ada, sehingga mereka tidak kehilangan figur ayah dan ibu sekaligus. Buat suamiku sendiri, dia merasa suasana rumah lebih hidup dengan kehadiran si kecil. Meskipun kerepotan bertambah.
Untung saja Yeni, asisten rumah tanggaku yang semula berhenti bekerja sejak aku berangkat ke Yogya, bersedia bekerja lagi. Alhamdulillah. Bersamaan dengan itu adik perempuan bungsuku, Septi, sudah diwisuda dari Universitas Jendral Soedirman. Maka dia langsung kuminta tinggal di Kayuagung. Dia bisa mengisi waktu sebagai tenaga honorer di kantorku sekaligus menemani si mba membantu menjaga anak-anakku.
Waktu berjalan, aku akhirnya sadar tidak boleh terlalu lama larut dalam kesedihan, karena aku sudah memutuskan memilih jalan ini. Aku harus segera bangkit dan mengikuti pelajaran bila tidak ingin tertinggal dan gagal. Lingkungan tempat tinggal sementara (kost) di Yogya juga membuatku mudah beradaptasi. Berangsur-angsur aku memiliki beberapa teman yang ada dalam posisi yang sama sehingga bisa saling berbagi.
Di kampus aku butuh banyak penyesuaian untuk dapat menerima pelajaran layaknya mahasiswa kembali, setelah dua belas tahun sejak lulus dari pendidikan S1 otakku nganggur. Apalagi ilmu yang kupelajari adalah ilmu yang baru, yang sebagian besar belum pernah kudapat saat menjadi mahasiswa Fakultas Perikanan IPB. Aku harus berlari agar bisa mengikuti materi pelajaran.
Semua butuh penyesuaian-penyesuaian dan memakan waktu cukup lama. Setiap ada waktu libur meskipun cuma lima hari pulang pergi, selalu kupergunakan untuk pulang menemui suami dan anak-anakku. Maka jadilah masa-masa awal studi itu berat di ongkos.
Saat pulang ke rumah untuk mengunjungi suami dan anak-anak sering kali juga menjadi saat yang tidak nyaman untukku bila bertemu tetangga. Mereka yang mendapatiku tengah ada di teras rumah, sedang main di tetangga atau sedang berbelanja di warung, secara spontan mengucapkan basa-basi menyapaku. Namun, kadang beberapa orang menambahi dengan komentar dan pendapatnya atas kepergianku dari rumah. Maklum saat itu kami tinggal di sebuah kompleks perumahan sederhana di mana penghuninya padat dan jarak antar rumah sangat dekat. Interaksi antar warga di lingkungan perumahan padat penduduk sangatlah tinggi. Membuka pintu rumah saja sudah bisa bertemu tetangga. Masih kuingat beberapa percakapanku dengan tetangga yang membuatku sedih dan terusik.
“Eh, Mbaa... pulang yaa...? Duuh senengnya... Mamanya pulang,” kata si tante tetangga satu kompleks yang sedang lewat, menyapaku sambil menyentuh tangan bungsuku yang ada dalam gendonganku, ketika aku tengah main ke tetangga sebelah rumah untuk mencari si bungsu, Neto yang dibawa si mba pengasuhnya main ke tetangga.
“Iyaa Tee… ada libur sebentar, lumayan bisa jenguk anak-anak,” jawabku.
“Iya Mbaa… kasihan anak-anak. Kasihan Mas Tri yang jagain sendirian! Demi karier sih yaa…” kata-katanya yang entah disengaja atau tidak, telah menggores hatiku. Ibu mana sih yang tidak sayang dan kasih pada suami dan anak-anaknya. Tanpa dia mengucapkan demikian saja aku sudah merasa bersalah kepada suami dan anak-anakku karena telah meninggalkan mereka. Aku hanya diam, tidak menanggapi lagi ucapannya. Lalu permisi pulang kepada pemilik rumah.
Suatu hari saat aku tengah menyapu teras depan rumah, dan putri keduaku mengikuti di belakangku. Seorang nenek yang tengah mengasuh cucunya di depan rumah anaknya menyapaku, “Waah… senengnya Khansa, Mamanya balik! Kapan datang Mbaa?” tanya sang nenek yang tak lain adalah orang tua dari tetanggaku yang kebetulan datang dari luar provinsi untuk mengunjungi cucu-cucunya.
“Tadi malam, Bu...” aku menjawab singkat.
“Iyalaah… kasihan Mba, Khansanya ditinggal Mamanya sekolah… Mamanya Khansa mau jadi walikota,” si nenek bicara pada cucunya seolah bergumam, namun aku masih bisa mendengar jelas kata-katanya.
Deg! Astaghfirullahaladhiim... Aku hanya membatin dalam hati, kaget sekali mendengar kata-kata si nenek itu. Kesannya seolah aku begitu ambisi mengejar karier hingga tega pergi sekolah jauh meninggalkan keluarga. Entah mungkin aku yang menjadi terlalu sensitif karena rasa bersalah meninggalkan keluargaku. Yang jelas aku merasa sangat tidak nyaman mendengar kata-kata si nenek. Tanpa menanggapi pernyataannya dan tidak ingin mendengar lebih banyak kata-katanya, aku segera masuk ke dalam rumah.
Di saat suamiku sela, aku menyampaikan kepadanya apa yang membuatku resah dan galau akibat tanggapan negatif yang kuterima dari para tetangga. Seperti biasanya, dia hanya menghibur dan memintaku untuk tidak mengambil hati atas ucapan mereka. Dia mendukungku untuk tetap semangat melanjutkan belajarku.
Demikianlah, aku menjalani kehidupan kami seterusnya sampai akhirnya semua itu terbayar ketika aku bisa menyelesaikan pendidikanku di Yogyakarta dan berhasil mendapatkan tiket untuk berangkat ke Jepang. Aku diterima di salah satu universitas swasta terkenal di Kyoto, Ritsumeikan University. Tentunya setelah melalui beberapa tahap seleksi, meliputi pendaftaran dan pengusulan proposal penelitian yang kemudian dilanjutkan dengan tahap presentasi proposal tersebut dan interview langsung dengan profesor dari universitas yang dituju.
***

Other Stories
DIARY SUPERHERO

lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...

Romance Reloaded

Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...

I See Your Monster, I See Your Pain

Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...

Dengan Ini Saya Terima Nikahnya

Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...

Kala Kisah Menjadi Cahaya

seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Download Titik & Koma