1. Ingin Sekolah Lagi
Ruang rapat di salah satu bagian di Sekretariat Daerah kabupaten tempatku bekerja tidak terlalu luas. Sambil melangkah masuk kulayangkan pandangan ke seluruh ruangan mengawasi satu-satu peserta rapat yang sudah duduk menghadap ke arah depan. Lalu kukenali satu sosok yang sudah tak asing dan aku segera menuju ke arahnya.
“Hai wi… apa kabar? Sudah lulus ya? Sudah mulai ngantor lagi?” sapaku bertubi-tubi setelah mengambil tempat duduk di kursi sebelahnya persis. Dwi adalah salah satu teman satu angkatan masuk CPNS dulu sehingga aku merasa santai ngobrol dengannya. Selama dua tahun ini dia jarang terlihat karena sedang tugas belajar melanjutkan pendidikan S2 program beasiswa Bapenas di UNSRI Palembang.
“Alhamdulillah sudah... tinggal nunggu wisuda. Belum waktunya masuk sih, tapi daripada nganggur di rumah, lebih baik saya masuk kerja ketemu kawan. Masih di Perikanan?” Dwi menjawab pertanyaanku dan balik bertanya.
“Wah senangnya. Selamat ya. Kalo aku masih di situ-situlah. Yaa dasar ilmunya tentang ikan, sepertinya ngga akan ke mana-mana. Di UNSRI kan, Wii? Ambil program apa?” aku memberondongnya dengan sejumlah pertanyaan ingin tahu lebih tentang sekolahnya.
“MAP, Manajemen Administrasi Publik,” sahutnya singkat.
“Oooh… banyak yaa temen kita yang ikut program beasiswa itu?” aku semakin tertarik dan penasaran.
“Bareng aku ada 6 orang… Empat di UNSRI, dua di UGM,\" yang di UGM salah satunya ada yang mendapat program Double Degree ke Jepang kalo ngga salah. Dia menyebutkan satu per satu nama-nama teman yang mendapatkan program beasiswa tahun kemarin itu. Sebagian besar aku kenal.
“Rata-rata sudah pada selesai, karena dibatasi waktu cuma satu tahun sampai 15 bulan. Kecuali si Yossi yang dapat Double Degree ke Jepang. Selesai tahun pertama di Yogya, tahun keduanya harus melanjutkan belajar di Jepang,” Dwi menambahkan penjelasannya lebih detail.
“Waah... hebat ya Yossi, bisa sekolah ke Jepang,” aku bergumam seperti bicara pada diriku sendiri. Mengagumi teman perempuan yang bekerja di Dinas Pertanian itu.
“Btw, cerita donk Wii, gimana caranya untuk bisa dapat beasiswa sepertimu? Daftarnya di mana?” aku bersemangat memintanya. Kulihat masih banyak kursi belum terisi, artinya masih ada waktu buat mendengarkan Dwi bercerita sedikit sambil menunggu rapat dimulai.
Dwi sebenarnya termasuk orang yang pelit bicara. Pembawaannya tenang, kalem dan bicaranya hati-hati. Semenjak kenal, aku belum pernah melihatnya bercanda dan tertawa lepas seperti teman-temannya yang lain bila sedang berkumpul ngobrol bareng. Tetapi karena permintaanku, akhirnya dia mau juga menceritakan bagaimana dia dan beberapa teman di lingkungan pemerintah daerah tempat kami bekerja bisa mendapatkan beasiswa pendidikan. Dwi bercerita mulai dari tahap seleksi berkas, pemanggilan untuk tes tertulis, sampai kepada pengumuman yang semuanya lewat internet.
Aku menyimak dengan antusias apa yang disampaikan Dwi. Hatiku serasa berbunga-bunga. Sudah lama memang aku ingin bisa melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Aku tidak mau hanya berhenti sampai gelar sarjana saja. Kurasa kini sudah waktunya tiba giliranku. Anak-anak sudah cukup besar untuk bisa ditinggal tanpa kekhawatiran berlebihan.
Lagi pula saat ini aku merasa terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang bisa dikatakan itu-itu saja dan membuatku tidak berkembang. Aku jenuh. Aku ingin ada tantangan yang bisa membuatku bergairah lagi. “So, apa yang kau pikirkan lagi? Inilah saatnya untukmu May! Jadilah berani!” bisik hatiku.
Tiba-tiba pikiranku kembali ke masa silam. Masih kuingat 6 tahun lalu kala aku masih belum genap dua tahun bekerja, sekitar tahun 2001. Aku sempat membaca surat penawaran yang di-copy dan diteruskan dari Bappeda ke kantor kami, Dinas Perikanan. Aku sudah tertarik untuk coba-coba daftar. Tapi waktu itu aku belum memenuhi syarat untuk bisa mendaftar. Salah satu persyaratan untuk bisa apply adalah minimal sudah dua tahun menjadi PNS.
Selain itu, anak pertamaku, Wildan baru berumur 2 tahun. Tidak mungkin aku akan meninggalkannya. Suamiku pasti tidak akan memberiku izin. Maka kusimpan rapi keinginanku itu. Kutunjukkan surat itu kepada seniorku satu almamater di Bogor yang juga satu kantor. Namun, entah dengan alasan apa, ternyata dia tidak berminat mendaftar. Sangat disayangkan. Padahal aku yakin dengan kecerdasannya dia pasti akan berhasil.
“Ikut saja tahun ini!” Dwi mengejutkanku. Seperti tahu apa yang sedang aku pikirkan.
“Yaa... aku akan coba. Aku yakin sekali bisa seperti mereka,” Aku hanya menjawabnya dalam hati.
“Biasanya surat penawaran itu datang bulan September. Nanti kalau ada aku kasih tahu,” lanjut Dwi. Posisinya sebagai staf Badan Kepegawaian Daerah membuatnya cepat tahu bila ada surat berkaitan dengan peningkatan kapasitas pegawai, seperti pelatihan, diklat, termasuk beasiswa pendidikan.
“Ok... terima kasih sebelumnya yaa,” Obrolan kami pun terhenti karena pak Asisten II yang akan memimpin rapat sudah memasuki ruangan dan menuju tempat duduknya di meja depan kami. Rapat segera di mulai.
***
Dua bulan kemudian. Di suatu hari kerja ketika aku tengah sibuk dengan pekerjaan menyusun rencana kegiatan untuk tahun depan, aku dikejutkan oleh suara dering telepon genggamku. Dwi menghubungiku.
“Pengumuman sudah ada tuh, jadi mau ikut daftar sekolah ngga? Suratnya bisa dilihat di BKD, ditempel di papan pengumuman. Kalau mau informasi lebih lanjut, hubungi kasubbag diklat saja.\"
“Ooh... iyaa... nanti aku lihat ke sana sekalian istirahat siang,” aku menjawab cepat. Jantungku berdetak lebih kencang. Bunga harap bermekaran. Tapi aku berusaha menyembunyikannya. Aku tidak ingin rekan-rekan kerja satu kantor mengetahui rencanaku.
“Harus cepat yaa… soalnya batas waktu penyampaian berkas lamaran hanya tinggal 3 hari lagi. Jangan sampai telat!” suara dibalik telepon mengingatkanku.
“Ooh, Ok. Aku segera ke sana. Terima kasih infonya Wii,” aku menyimpan kembali Nokia jadulku ke dalam saku baju seragam dinas sesaat setelah Dwi menutup teleponnya. Dalam hati aku bergumam agak kesal. Kenapa juga baru ngasih tahu pas sudah mepet waktunya gini sih! Ya sudahlah, lebih baik aku segera ke sana biar lebih jelas informasinya. Teman sebelah mejaku melihat dengan pandangan penuh tanda tanya. Mungkin sempat menangkap raut muka cemberutku tadi.
“Mau ke mana Bu, kok buru-buru?” pertanyaannya muncul mengagetkanku.
“Ah. Mau keluar sebentar Pak, ado gawe dhikit!” kuberi jawaban paling mudah yang biasa diberikan orang di lingkungan tempat tinggalku. Dengan jawaban itu, orang yang bertanya tidak akan bertanya lebih jauh lagi, karena jawaban itu mengisyaratkan kalau yang ditanya tidak ingin bercerita tentang apa yang akan dikerjakannya.
Aku segera membereskan pekerjaanku. Kututup semua map yang terbuka dan terserak di atas meja, lalu kusimpan ke dalam laci. Demikian pula pena dan kalkulator kukembalikan di tempat semula tersusun rapi di dalam laci. Berjalan cepat, aku menuju ruangan Kepala Bidang Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, pamit kepada atasanku, Pak Tholib. Bosku itu tampak heran dengan cara pamitku yang tampak terburu-buru.
“Ada apa ke BKD, sepertinya penting sekali?” tanya Pak Thalib ingin tahu sekali. Aku menoleh sebentar ke arah bosku dan tersenyum.
“Ngga Pak, saya mau ketemu teman di sana,” sementara ini aku tidak ingin bercerita dulu kepada siapa-siapa di kantor, termasuk atasanku sendiri. Nanti saja kalau semuanya sudah jelas dan aku lolos seleksi. Kalau nanti tidak lolos kan bisa malu.
Kularikan sepeda motorku menuju kantor Badan Kepegawaian Daerah yang jaraknya kurang lebih 1,5 KM dari kantorku. Benakku dipenuhi tanya dan angan seputar beasiswa itu. Kira-kira program pendidikan apa yang akan kupilih nanti yaa? Tentang Kelautan Perikanan lagi? Apa ada yaa? Terbayang bila nanti aku lolos seleksi dan diterima di salah satu perguruan tinggi negeri. Aah... keren sekalii.
Anganku dibuyarkan oleh kenyataan waktu pengiriman berkas yang sudah mepet. Aah, semoga saja persyaratan berkas yang harus dikirimkan tidak banyak dan mudah diurus. “Ya Allah… tolong mudahkanlah langkahku,” doaku kepada Dzat Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, Maha Penolong kepada hamba-Nya.
Dalam dua hari berkas yang diperlukan sudah kelar kusiapkan. Permohonan lamaran mengikuti program beasiswa sudah ditandatangani oleh kepala dinasku tanpa ada masalah. Beliau hanya menanyakan “Apakah aku siap kuliah ke luar kota dengan meninggalkan anak-anak”. Pertanyaan seorang ayah yang khawatir dengan keluarganya. Aku pun berusaha menyakinkan pak bos dengan menjawab “Bisa pak, Insya Allah”.
Pak Syafri, kepala dinasku ini memang baik orangnya. Sebagai seorang pemimpin, beliau sangat mendukung stafnya yang ingin maju. Beliau juga tidak memaksakan stafnya untuk melakukan suatu tugas kantor yang menurutnya tidak terlalu prinsip apabila ditinggalkan asalkan bisa menjelaskan dengan baik dan mempunyai alasan yang logis. Pernah seorang teman perempuan di kantor dikabulkan permohonannya untuk tidak pergi, ketika dia ditugaskan oleh kepala bidangnya mengikuti pendidikan ke luar kota selama tiga bulan, sementara anaknya masih kecil.
Dua hari sebelum batas akhir pemasukan dokumen permohonan beasiswa itu, kukirim berkasku melalui pos dengan kilat khusus. “Semoga bisa tiba tepat waktu dalam dua hari ini,” Doaku dalam hati. Memohon kelancaran kepada Allah SWT agar niatku terwujud.
Sebulan kemudian aku mendapat telepon panggilan untuk Tes Kemampuan Akademik (TPA) yang pelaksanaannya dua hari ke depan. Aku belajar dengan bahan seadanya. Tidak punya buku tantang TPA yang bisa kupelajari. Yang ada malah buku Tes AQ. Belajarku tidak maksimal. Sehingga saat menjalani tes TPA aku sangat keteteran. Banyak soal pada bagian ke dua lembaran tes yang merupakan soal hitungan, tidak kukerjakan. Mungkin hanya sepertiga dari seluruh soal berbentuk pilihan ganda itu yang bisa kukerjakan dan kuberi jawaban. Itu pun tidak yakin semuanya benar. Aku agak tertolong di bagian ketiga yang merupakan soal-soal yang umum dijumpai dalam tes AQ.
Aku pulang dengan perasaan menyesal mengapa tidak bisa membagi waktu dengan baik. Harusnya aku tidak perlu mengerjakan sesuai urutan sehingga terjebak dalam soal yang susah dan banyak menyita waktu. Harusnya aku lihat dulu dengan cepat jenis soalnya lalu pilih yang paling mudah untuk dikerjakan lebih dulu. Tapi semua sudah terjadi dan penyesalanku tak berguna. Setidaknya aku mengerti letak kesalahanku, dan bisa menjadi pelajaran untuk tes yang akan datang. Ya, aku akan mencobanya lagi pada seleksi gelombang kedua.
Satu minggu setelah tes itu, pengumuman sudah keluar dan bisa dilihat di link-nya Bappenas. Seperti dugaanku, aku tidak lulus tes TPA. Aku gugur dan tidak bisa ikut tes selanjutnya. Baiklah tak mengapa, aku sudah siap menerimanya.
Aku melupakan tentang seleksi beasiswa itu sampai aku bertemu teman satu angkatan saat studi S1 di Bogor dulu, Neneng. Ketika itu aku diajak suami mampir ke rumah teman akrabnya di Palembang. Kebetulan rumah Neneng berada tepat di seberang jalan rumah teman suamiku. Aku menyempatkan mampir ke rumahnya. Dia yang bekerja di sebuah Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kehutanan juga merupakan penerima beasiswa Bappenas. Belum lama lulus. Maka kugunakan kesempatan bertemu itu untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang program beasiswa dan tahapan seleksinya.
“Ooh…” dia terheran ketika aku cerita tidak punya bahan untuk belajar TPA.
“Beli buku TPA saja May! Banyak buku tentang TPA, cari saja di toko buku Gunung Agung. Belajar dari buku-buku itu saja. Banyak kok soal yang mirip-mirip,” Neneng dengan semangat menunjukkan sebuah harapan baru buatku.
“Iya, to,” jawabku naïf sekali. Beginilah nasib orang yang tinggal di daerah. Hampir tidak pernah ke toko buku. Di kotaku tidak ada toko buku besar yang koleksinya lengkap dan menjual buku tentang TPA. Sementara untuk pergi ke Kota Palembang tidak bisa setiap saat, karena aku harus bekerja di saat weekday dan menemani anak-anak di rumah di kala weekend.
Singkat cerita sepulang dari rumah Neneng dan sekelar urusan suamiku dengan temannya, aku mengajak suami menuju ke arah kota dulu untuk mampir ke toko buku. Aku membeli sekaligus tiga buah buku tentang TPA. Pokoknya punya dulu, entah kapan diperlukannya.
Tahun berganti dan Januari pun tiba. Seorang teman di Dinas Perikanan Provinsi yang juga adik tingkat di Bogor, Faisal, meneleponku memberi informasi akan ada lagi penerimaan gelombang kedua dan menyarankan aku untuk memasukkan lamaran lagi. Dia sendiri juga yang gagal di gelombang pertama sudah mengirimkan berkasnya. Maka aku pun segera mengulangi membuat lamaran beasiswa menggunakan data sama seperti pada gelombang pertama. Untuk kedua kalinya aku menghadap kepala dinasku guna meminta lagi persetujuan dan tanda tangan.
Benar saja. Panggilan tes datang di awal bulan Februari. Di dalam daftar panggilan tes itu, aku dan empat orang lain dari regional Sumatera Selatan, termasuk Faisal, dimasukkan ke dalam kategori peserta yang diberi kesempatan untuk mengikuti tes kedua. Tes itu merupakan kesempatan yang diberikan kepada yang berhalangan datang saat tes gelombang pertama dan kepada yang nilai tes pada gelombang pertama mendekati kelulusan.
Alhamdulillah… aku mendapat kesempatan tes lagi. Kala itu aku sudah siap dengan amunisi cukup untuk tempur. Alhamdulillah aku bisa menghindari kesalahan seperti pada saat tes gelombang pertama November lalu. Soal penalaran pada bagian pertama banyak yang bisa kukerjakan dengan keyakinan betul lebih dari 50%. Soal hitungan pada bagian kedua banyak yang bisa kujawab. Aku merasa puas dengan usahaku saat waktu tes habis. Aku menemui suamiku dengan wajah sumringah.
“Gimana… bisa ngga?” suamiku penasaran.
“Insya Allah! Banyak yang bisa adik kerjakan dibanding tes sebelumnya. Ayo kita ke toko buku, Mas!” aku menatap suamiku dengan yakin.
“Sekaraaang...?” suamiku tidak yakin dengan ucapanku. “Apa ngga cari makan dulu? Mas lapar nih, perut sudah kruyuk-kruyuk dari tadi!” suamiku memelas dan meletakkan tangan kanannya di atas perutnya.
“Iyaa... maksud Adik, kita cari makan dulu, sudah itu baru ke toko buku. Ayo kita berangkat!” Aku tak bisa menyembunyikan rasa gembiraku.
“Adik nanti mau beli buku-buku Toefl, Mas!” aku kembali bicara dengan semangat, saat sudah duduk di dalam mobil yang bergerak keluar dari areal kampus Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya tempatku tes.
“Adik kayaknya yakin banget lulus TPA?” suamiku masih tidak percaya.
“Yakin! Insya Allah!” jawabku mantap.
Seminggu setelah tes, pengumuman kelulusan sudah bisa dilihat di link-nya Bappenas. Alhamdulillah aku benar-benar lulus. Seminggu kemudian aku menjalani tes Toefl. Tes kali ini aku sudah lebih siap dengan berbekal belajar sendiri dari 3 buah buku Toefl milikku.
Satu dari tiga buku yang kubeli disertai kaset radio tape yang bisa digunakan untuk belajar listening. Agar tidak mengganggu anggota keluarga lain di rumah, aku latihan tes di kamar anakku yang tidak ditempati untuk tidur. Aku mengerjakan hampir semua tes di buku Toefl itu dan menggunakan bantuan HP jadulku sebagai stopwatch pembatas waktu tes. Dari tiap tes yang kukerjakan dengan jujur dan tepat waktu, aku sudah bisa mendapatkan skor lebih dari 400. Antara 420 - 470. Kurasa aku sudah cukup mampu untuk bisa lolos persyaratan beasiswa dalam negeri yang mengharuskan capaian Toefl minimal 400.
Keberuntungan memang tengah berpihak padaku. Allah telah menolongku memudahkan tes Toefl kala itu. Alhamdulilah! Aku puas sekali dengan tes yang baru saja kukerjakan. “Pasti lebih dari 400,” bisik hatiku. Aku keluar dari ruangan Lab Bahasa Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya Palembang dengan semangat dan senyum puas.
“Gimana tesnya... bisa yaa... kok sepertinya Adik seneng banget?\" tanya suamiku yang menyambut di depan pintu keluar ruangan lab bahasa.
“Alhamdulillah, Mas.... tadi itu soalnya mudah-mudah dan listening-nya jelas banget. Insya Allah bisa lebih dari 400. Adik sih yakin lulus, Mas!” jawabku kala itu sangat yakin. Suamiku hanya diam dan segera menjalankan si merah APV, kendaraan dinasnya itu melaju meninggalkan lokasi tes. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Mungkinkah dia mulai khawatir bila aku benar-benar lulus seleksi? Menggambar situasi saat aku pergi dari rumah meninggalkannya? Entahlah.
Sesaat kemudian suasana sepi, tak ada pembicaraan lagi. Anganku pun mulai melayang, membayangkan datang kembali ke Kota Bogor. Kota yang pernah menjadi saksi perjuanganku menyelesaikan pendidikan sarjana belasan tahun lalu. Suasana kampus Branangsiang dengan takol dan pohon saljunya. Suasana jalanan Babakan Raya Darmaga dengan deretan warung makan dan angkutan Kampus Dalam yang melaluinya. Selama 4 tahun aku tinggal di lingkungan itu, meskipun sampai 3 kali pindah kost.
Masih kuingat jelas liku-liku jalan menuju kampus tempatku menuntut ilmu. Mulai dari ‘Tembok Berlin’, melewati jalan di antara kampus GMSK dan Fahutan, melewati Masjid Al-Hurriyah, sampai ke gedung perkuliahan perikanan. Gedung berlantai 4 dengan wing-nya, berdiri megah dan terhubung dengan gedung perkuliahan peternakan. Kala itu setiap hari pulang pergi dari tempat kost menuju kampus dengan berjalan kaki tidak terasa lelah karena terbiasa dan banyak teman.
Satu per satu tergambar lagi wajah-wajah teman di masa lampauku. Teman kost, teman satu kelas, dan beberapa cowok idolaku kala itu. Ups! Sampai lulus aku tidak pernah dekat dengan satu orang cowok pun. Serius! Padahal tidak sedikit yang berusaha mendekatiku. Semua kuanggap sekadar teman. Mungkin karena waktu itu aku yang sangat pemalu dan lugu masih dibayangi rasa takut akan gagal sekolah bila menjalin hubungan khusus dengan teman cowok.
“Mau makan apa kita, Dik? Pindangan atau penyetan? Dik!!” suamiku mengeraskan suaranya minta pendapat untuk menu makan siang kami. Mungkin karena melihatku tidak bereaksi menanggapinya.
“Aaa…” aku tergagap. Sambil nyengir aku balik bertanya, “Apa tadi Mas?”
“Mau makan pin-dang-aan atau pe-nyet-aan?” suamiku mengulangi lagi pertanyaannya dengan pelan. Dia tahu kalau aku tadi sedang melamun.
“Hmm... penyetan aja kali yaa?” sambil senyum malu aku menjawab cepat. Seketika aku tersadar keluar dari bayang masa lalu tentang Bogor. Gambaran kenangan yang akan tetap terpatri abadi dengan wajah-wajah kami yang muda, ceria, dan penuh semangat meski sesekali terlihat kusut oleh tugas bertumpuk. Aah... aku rindu suasana itu, aku rindu kalian sahabat-sahabatku.
Mobil sudah berbelok ke sebuah warung makan penyetan. Sambil menunggu pesanan makanan datang, kami bergantian melaksanakan salat zuhur. Sejam kemudian kami pun melanjutkan perjalanan pulang kembali ke Kayuagung yang berjarak sekitar 70 KM dari Kota Palembang. Waktu tempuh normalnya 2 jam kalau tidak macet. Maklum, jalan menuju Kayuagung adalah rangkaian Jalan Lintas Timur yang padat dengan kendaraan besar. Jika ada satu kendaraan besar patah as atau terjadi kecelakaan, bisa dipastikan jalanan akan macet.
Sebenarnya bukan karena tidak bisa lewat, akan tetapi lebih kepada kurangnya displin para pengguna jalan lain untuk mengantre. Sebagian mobil terus menerobos ke sisi kanan jalan ketika mendapati antrean panjang kendaraan yang jalan bergantian saat melintasi kendaraan yang mogok. Sudah tentu kendaraan penerobos itu menghalangi jalan kendaraan dari arah berlawanan. Biasanya kendaraan lain akan mengikuti penerobos itu di belakangnya. Macet pun jadi bertambah parah, hingga tak ada kendaraan yang bisa bergerak. Kalau sudah demikian perjalanan ke Kayuagung bisa memakan waktu sampai 4 jam. Bahkan, pernah seorang teman bermalam di jalan karena macet parah dan menunggu sampai petugas datang mengatur kendaraan dan mengurai kemacetan.
Hari itu aku sangat gembira. Puas dengan pencapaian maksimal atas apa yang sudah aku upayakan dan aku persiapkan sebelumnya. Yakinlah bahwa kita akan menuai hasil sesuai dengan upaya yang telah kita kerjakan. Tentu saja harus dibarengi dengan doa memohon pertolongan kepada Allah SWT. Karena Allah-lah yang akan menentukan hasilnya.
***
Other Stories
Tea Love
Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...
Rembulan Di Mata Syua
Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...