Penulis Misterius

Reads
638
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

5. Malaikat Patah Hati

Kini aku berada di sebuah taman yang sangat indah. Ada bunga mawar, bunga melati, sedap malam, pokoknya semua bunga ada di taman ini. Di taman ini juga ada sungai yang mengalir deras, aku sendiri nggak tahu dari mana ke mana aliran sungai ini.
Selain itu di taman ini banyak wanita yang berparas jelita dengan kecantikan yang luar biasa sempurna, dengan mata-mata mereka yang jeli, lebar, dan berbinar. Aku melihat salah satu dari wanita berparas cantik berpindah tempat, seketika penuhlah tempat tersebut dengan wangi yang semerbak dan cahaya.
Oh, inikah yang namanya taman surga? Dan wanita-wanita yang berparas jelita dengan kecantikan yang luar biasa sempurna, dengan mata-mata mereka yang jeli, lebar, dan berbinar itu merupakan bidadari surga. Subhanallah, indah sekali.
Aku menggaruk kepala yang tak gatal. “Kenapa aku bisa ada di taman surga ini?” tanyaku dalam hati. Aku mencoba mengingat kejadian sebelumnya. Hal terakhir yang aku lakukan yaitu aku tidur jam dua belas malam. Apakah Tuhan mencabut nyawaku saat tidur?
Jika hal itu terjadi, aku sangat berterima kasih pada Tuhan. Pasalnya aku sudah bosan hidup di dunia. Lagi pula untuk apa hidup jika sudah tak memiliki cinta lagi?
“Kamu salah Risma, justru hidupmu itu dikelilingi oleh cinta yang tulus,” terdengar suara pria di belakang. Aku pikir di taman surga ini hanya ada bidadari surga saja, tapi ternyata ada cowoknya juga.
Aku merasakan ada yang mengganjal dalam hatiku. Sesuatu yang mengganjal itu, cowok yang di belakangku kok bisa tahu namaku? Aku membalikkan badan ingin mengetahui siapa cowok di belakangku ini.
Kini aku berhadapan dengan cowok yang sepertinya sudah tak asing lagi di mataku. Cowok itu memiliki berkulit putih, tinggi, berbadan tegap, alisnya tebal, tapi sayang wajahnya bercahaya. Karena cahaya itulah yang membuat mataku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
“Kamu siapa?”
“Aku adalah orang yang tulus mencintaimu selama sepuluh tahun ini,” hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Aku semakin bingung. Selama ini aku tak pernah merasa ada cowok yang mencintai selain Bastian, apalagi mencintaiku sampai sepuluh tahun.
“Kalau kamu mencintaiku, cepat katakan padaku namamu siapa dan orang mana!”
“Kamu nanti akan tahu sendiri siapa aku di waktu yang tepat.”
Teng… tong
Suara bel seperti di rumah terdengar oleh telingaku. Loh, emang di taman surga ada bel juga? Tiba-tiba cowok yang ada di depanku hilang dalam sekejap. “Hey, kamu mau ke mana? Jangan pergi!” teriakku.
“Aku akan muncul lagi di depanmu di waktu yang tepat.”
Seketika mataku terbuka. Lagit-langit kamarku yang menjadi pertama penglihatanku. Hah? Jadi yang tadi itu cuma mimpi? Aku masih bingung kayak sapi ompong, otakku berusaha mencerna apa arti mimpi itu? Selama 24 tahun aku hidup di dunia, tak pernah bermimpi didatangi cowok, apalagi cowoknya mengatakan cinta.
Teng… tong
Lagi-lagi terdengar suara bel. Barulah aku menyadari bahwa bunyi bel itu yang membuat terbangun dari mimpi indah. “Ah, siapa sih yang datang? Gara-gara dia gue gagal mengetahui siapa orang yang mencintai gue?” aku mulai menggerutu.
Teng… tong
Aku semakin kesal. Orang yang di luar rumah tak sabaran banget. Ini ketiga kalinya dia memencet bel. “Iya, sebentar!” teriakku. Dengan malas aku menyeret langkah ke luar kamar ingin membuka pintu rumah.
Setelah pintu terbuka lebar, aku malah celingak-celinguk, sebab aku tak mendapati seorang pun. “Siapa yang tadi mencet bel ya? Jangan-jangan…”
Bulu kudukku berdiri membayangkan orang yang mencet bel itu makhluk astral. Namun tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah kotak persegi panjang. Kotak itu dilapisi kertas payung. Aku penasaran dengan kotak tersebut. Aku lalu memungut kotak itu. Di atas kertas payung tertulis “To : Risma Nabilla” namun tak ada nama pengirimnya.
“Isi bingkisannya apa? Dan siapa yang mengirim bingkisan ini?” Rasa penasaran akan isi bingkisan menjalar dalam hatiku. Cepat-cepat kurobek kertas payung yang menyelimuti bingkisan itu. Dalam hitungan menit aku sudah dapat melihat isi bingkisan. Isinya ternyata hanya buku bersampul warna biru muda dan gambarnya seorang malaikat yang lagi murung. Sampulnya sangat sesuai dengan judul novel, Malaikat Patah hati.
Dahiku berkerut membaca tagline novel ini, “Saat hatimu terluka, percayalah akan ada malaikat yang siap mengobati luka hatimu.”
Aku sudah tidak asing lagi dengan kalimat itu. Tapi di mana mendengar kalimat itu? Entah apa yang membuat bola mataku tiba-tiba tertuju ke arah jam dinding yang menempel di ruang tamu. Aku terpekik kaget saat melihat jarum jamnya. “Oh, my God. Sudah jam delapan. Mampus aku telat ke kantor.”
Tadi malam aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa hari ini harus mulai masuk kantor lagi setelah empat hari cuti. Aku bergegas masuk ke rumah untuk bersiap-siap ke kantor. Sementara novel yang kupegang kutaruh di meja ruang tamu dulu. Nanti setelah pulang baru kubaca novelnya.
***
Aku memang tak pernah bosan, meskipun mengucapkan doa yang sama setiap harinya. “Semoga Tuhan mengizinkan kita selalu bersama.”
Hari ini pun begitu, hujan di luar sana sudah pasti mendengar meskipun aku mengucapkannya selirih embusan angin.
Sebelum kamu pergi ke suatu tempat yang jauh. Dalam hal ini kamu sudah tak mampu kujangkau dan tak bisa kuraih dalam pelukan. Memikirkan semua hal yang kamu katakan padaku.
“Aku selalu bersamamu, di hatimu. Aku akan menjagamu semampuku. Kamu tahu? Kamu itu mirip seperti bunga. Bunga mawar, aku tidak suka itu Kamu lebih seperti dandelion berdiri tegak di antara apapun. Menantang kelopaknya yang suatu hari akan pergi ditiup angin. Bukan pergi menghilang namun membawa harapan baru. Berjanjilah setelah inipun tetaplah menjadi dandelion. Ia mungkin rapuh tapi ia kuat.”
Padamu, sekali lagi selama rentang waktu yang telah kita lalui bersama, bukan hanya kebahagiaan yang kudapatkan. Ada kekosongan di sana. Aku menyebutnya kehampaan. Perlahan kehampaan itu menjadi lubang kesakitan. Aku berhasil bertahan hingga kemarin. Ya, pertahanan itu hancur ketika kamu mengakhiri hubungan ini dan memilih hidup bahagia bersama wanita lain.
Aku merasakan dada ini sakit. Berusaha mati-matian agar tidak menangis. Menguatkan diri bahwa aku tak selemah itu. Tapi percuma, malam ini ditemani hujan yang berubah gerimis, tangisku pun pecah.
Dan tiba-tiba aku mengingat ada sesuatu yang kutinggalkan di meja tamu pagi tadi sebelum jungkir balik bersiap-siap bekerja. Sebuah novel. Rasa penasaran menyelip lewat celah hatiku.
Begitu novelnya berhasil kutemukan. Hal pertama yang kubaca adalah sinopsisnya dulu.
Risma Nabilla, saat menerima undangan dari sahabat waktu di SD yang bernama Keyzia Anastasya, perasaannya campur aduk antara sedih dan bahagia. Bahagia karena akhirnya Keyzia menemukan pasangan yang tepat setelah 20 kali gonta-ganti pacar, sedangkan sedihnya karena sahabatnya itu nikah mendahului dirinya. Waktu SD-SMA ia dan Keyzia selalu jajan sama-sama, bolos sama-sama, sakit sama-sama, bahkan pernah ke toilet sama-sama. Ia inginnya sama-sama sukses dulu baru deh sama-sama nikah.
Bukan hanya itu saja yang dirasakan Risma, ia juga bingung mau datang ke nikahan Keyzia bersama siapa. Jika ia datang sendirian maka dirinya akan jadi santapan empuk sahabat-sahabatnya yang melempari pertanyaan, “Kapan nyusul?” Pasalnya semua teman-temannya waktu SD sudah memiliki suami dan anaknya masing-masing.
Di usia Risma yang 24 tahun, ia masih setia dengan status jomblonya. Bukan karena tak laku tapi karena dirinya susah move on dari Bastian Yoel Permana, cowok yang memiliki senyum termanis di antara semua cowok di sekolah SMA-nya dulu. Risma dan Bastian pernah menjalin cinta selama 11 bulan, sebelum dia pergi ke London untuk melanjutkan kuliah di sana.
Untung ada Felis, sahabatnya dari SD juga. Felis yang selalu setia menemani Risma jadi Risma tak terlalu sedih dengan status jomblonya. Felis memberikan saran ke Risma untuk cari gebetan baru biar bisa dibawa ke nikahan Keyzia. Agar saat ditanya ‘kapan nyusul’ maka Risma menjawab, ‘Insya Allah nggak akan lama lagi, doain aja agar cinta kami sampai ke pelaminan.’
Risma setuju dengan ide Felis, ia pun minta Felis mencarikan gebetan sementara sampai Bastian kembali ke Indonesia. Cara Felis adalah membuka audisi pencarian gebetan sementara untuk Risma. Awalnya Risma tak setuju dengan audisi itu, namun setelah dibujuk akhirnya luluh juga. Justru audisi itu mempertemukan Risma kembali dengan Bastian.
Akankah cinta Risma dan Bastian berjalan dengan mulus? Yuk, temukan jawabannya di novel ini.
Hanya membutuhkan waktu satu jam, aku telah menyelesaikan membaca novel ini. Jujur, novel Malaikat Patah Hati merupakan novel pertama yang sukses membuatku menitikkan air mata. Dan novel ini juga yang membuatku penasaran setengah mati akan siapa penulisnya? Di novel hanya tertulis nama Pangeran Cinta, dia tak mencantumkan biodata di belakang novel.
Firasatku mengatakan penulis novel ini sangat mengenalku, terbukti jalan cerita novel sama persis dengan apa yang kualami. Tak hanya itu, nama dan karakter tokoh juga sama memakai orang-orang di sekitarku, termasuk Bastian.
Aku mencoba mengingat siapa orang terdekat yang bisa bikin novel. Mas Bima? Rasanya tidak mungkin. Mas Bima itu sama sepertiku tertariknya dengan dunia kuliner dan tidak suka membaca. Felis? Memang dia suka membaca, tapi sejak SD jika disuruh membuat puisi saja dia minta buatkan sama aku. Tak mungkin kan dia bisa nulis novel?
“Aku harus mencari tahu siapa penulis novel Malaikat Patah Hati,” tekadku bulat.
Felis itu sangat suka membaca. Tak heran kalu koleksi novel di lemarinya banyak. Bahkan dia juga berteman dengan banyak penulis di twitter-nya. Hemmm… mungkin saja dia tahu siapa penulis novel ini.
Begitu besar rasa penasaranku, hingga detik berikutnya aku sudah mengetik satu pesan BBM kepada Felis.
Felis, bisa datang ke rumah gue sekarang? Ada yang mau gue tanyain ke lo.
Dua menit berselang balasan BBM dari Felis muncul.
Mau tanya soal apa? Nggak bisa lewat telepon?
Mungkin Felis sibuk, tapi aku sedang membutuhkannya sekarang. Secepat kilat aku balas kembali pesannya.
Kayaknya harus bicara langsung. Bisa kan, Fel?
Aku sudah merajuk padanya, jurus ampuh yang membuat Felis tak mungkin bisa menolak permintaanku.
Oke, tunggu deh. Sebentar lagi gue akan sampai di sana.
Inilah salah satu sifat yang aku suka darinya. Dia selalu siap sedia bila aku meminta bantuannya. Dia selalu mengatakan, “Itulah gunanya teman.”
Kami memang saling membantu, senang memiliki sahabat seperti Felis. Jarak rumahnya tak terlalu jauh, mungkin aku bisa menyiapkan teh hangat untuknya.
***
Felis tiba di rumahku tepat pada pukul delapan malam. Begitu duduk di sampingku, dengan cepat aku menunjukkan novel itu padanya. Raut wajahnya menunjukkan keheranan. Felis menaikkan satu alisnya.
\"Sejak kapan lo beli novel? Selama ini kan lo cuma tertarik beli ice cream,\" tukasnya sambil membolak-balikkan halaman novel. Aku tersenyum masam sebelum menjawab.
\"Bukan gue yang beli kok. Tadi pagi sebelum berangkat kerja, gue dapat bingkisan di depan rumah. Dan ternyata isinya novel itu,\" kataku menjelaskan kronologi kejadiannya. Lalu melanjutkan, \"Gue penasaran banget sama penulis novel itu, Fel. Coba deh lihat isi ceritanya. Nama dan tokoh di novel ini persis dengan kehidupan gue, meski nggak semuanya. Tapi apa itu cuma kebetulan?\"
\"Iya. Gue udah lihat sekilas sinopsisnya dan sama penasarannya kayak lo. Karyanya keren. Gue sempat baca berita di media online, dia itu penulis best seller tahun lalu! Baru satu bulan bukunya terbit, udah terjual 3500 eks. Karena novelnya cepet banget habis ya gue belum sempat baca, nggak disangka isinya tentang lo,\" Felis menceritakan semua yang dia ketahui tentang penulis itu, lalu dengan sikap yang dibuat-buat dia kembali bertanya.
\"Dan lo tau…?\" Felis menggantungkan pertanyaan, menatapku seolah-olah aku tidak tau apa-apa. Dan itu memang benar!
\"Apa?\"
\"Identitas penulis novel ini... belum ada yang tau dia siapa.\"
“Hemmm … gue kira lo tau siapa penulisnya, kan lo banyak punya kenalan penulis di twitter.”
“Ratusan penulis ada di twitter gue dan sering mention-mention-an sama gue, kecuali penulis novel ini. Dia kalau gue mention nggak pernah balas.”
Informasi yang diberikan Felis kurang memuaskan. Yang ada aku semakin penasaran dengan penulis itu. Entah ada angin apa pikiranku lagi-lagi tertuju sama Bastian. Astaga, aku baru ingat ternyata tagline novel ini sama persis dengan isi sms terakhir dari Bastian.
Tapi satu hal yang harus kamu tahu, Saat hatimu terluka, percayalah akan ada malaikat yang siap mengobati luka hatimu.
Aku tersenyum simpul. Secercah harapan muncul, aku menduga Bastian memang penulis novel Malaikat Patah Hati. Jika memang benar dugaanku, berarti Bastian masih sangat mencintaiku, tapi keadaan yang membuatnya menikah dengan wanita lain. Kala dua hati saling mencintai, aku yakin suatu saat pasti dipersatukan lagi. Dan aku akan menunggu hal itu tiba.
Felis bertepuk tangan di depan mataku. “Woy, kok lo senyum-senyum sendiri? Kesambet ya?”
“Fel, mungkin nggak sih kalau penulis novel Malaikat Patah Hati itu si Bastian?” tanyaku meminta pendapat Felis.
Felis menggeleng, “Kayaknya nggak mungkin deh. Tahun lalu kan Bastian masih di London. Lagian lo kan tahu Bastian jagonya di pelajaran matematika bukan bahasa Indonesia. Kenapa lo nyangka penulis misterius itu si Bastian?”
Aku mengotak-atik smartphone yang masih kupegang lalu menunjukkan sms terakhir Bastian ke Felis. “Coba deh lo baca, itu sms terakhir dari Bastian! Isinya sama persis kan dengan tagline di novel ini?” tangan kiriku menyentuh novel Malaikat Patah Hati.
Mata Felis membulat, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Oh iya benar kata lo. Isi sms terakhir dari Bastian sama persis dengan tagline novel ini.”
“Lo mau nggak bantuin gue lagi?”
“Bantuin apa? Lo minta gue menyelidiki Bastian, bener nggak sih Bastian itu penulis novel Malaikat Patah Hati?” tebak Felis. Tapi tebakannya benar 100%. Aku sendiri juga heran mengapa Felis selalu tahu apa yang ada di hatiku. Mungkin dia punya indra keenam yang bisa membaca pikiran orang. Entahlah.
Aku mengangguk mantap. “Lo mau kan? Pasti mau dong? Please…”
Kali ini aku yang mengeluarkan jurus andalan, memasang muka memelas ke Felis biar hatinya luluh membantuku.
“Oke deh gue bakal bantu lo menyelidiki si Bastian.”
“Serius?” aku jingkrak-jingkrak bagai dapat kupon hadiah senilai satu milyar. Lalu aku memeluk Felis erat.
“Thanks banget ya, Fel. Lo selalu siap membantu gue. Lo memang sahabat yang paling bisa diandalkan.”
“Yups, sama-sama. Apa sih yang nggak buat lo? Sekarang lepasin pelukan lo ke gue. Badan lo bau acem, lo pasti belum mandi sore kan?”
Aku nyengir kuda dan melepaskan pelukan ke Felis. Yang dikatakan Felis benar, aku memang belum mandi. Sepulang dari kantor sudah jam enam, apalagi tadi hujan deras, bikin malas mandi karena air di kamar mandi dingin.
“Udah nggak ada yang lo tanyain lagi kan? Gue pulang dulu ya, udah malam nih. Nggak enak bertamu lama-lama, gue juga ga sempat pamit ma nyokap.”
“Ya udah deh. Sekali lagi thanks ya.”
“Oke, sama-sama.”
Felis pulang ke rumahnya membawa rasa penasaran tentang penulis misterius itu. Sedangkan aku, rasa penasaran itu berkali-kali daripada yang dibawa Felis malam ini.
***
“Coba deh lo baca, itu sms terakhir dari Bastian! Isinya sama persis kan dengan tagline di novel ini?”
Kalimat itulah yang berhasil ditangkap oleh telinga gue. Ajaib, kalimat itu mampu menyulut emosi. Ah, sial. Apa coba maksud Bastian mengirim sms ke Risma dengan kata-kata yang sama persis dengan tagline novel gue? Apakah dia ingin berniat merebut Risma lagi dari gue?
Dengan gusar gue menambah kecepatan laju motor agar cepat sampai di rumah Bastian. Gue tahu sekarang sudah jam sembilan malam, jam di mana orang sudah beristirahat tapi gue tak peduli akan hal itu. Yang ada di otak gue hanyalah ingin segera mendengar penjelasannya tentang maksud sms terakhir yang dikirimkannya ke Risma.
Rumah Bastian itu ada di Kartopuran, jaraknya cukup jauh dari rumah Risma. Sekitar tiga puluh menitan baru sampai di sana.
Karena kecepatan laju motor gue yang tinggi akhirnya gue sampai di rumah Bastian hanya dalam waktu lima belas menit. Untungnya gue selamat sampai tujuan. Langsung saja gue turun dari motor lalu mengetuk pintu rumah Bastian.
Tok… tok… tok
Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya yang mengenakan daster lusuh membukakan pintu. Dari pakaiannya gue menduga wanita paruh baya itu asisten rumah tangga Bastian.
“Maaf, Anda mau cari siapa?” tanya wanita paruh baya itu.
“Saya mencari Bastian. Dia ada di rumah?”
“Den Bastian lagi tidak ada di rumah. Tadi sore pergi sama istrinya.”
“Pergi ke mana?”
“Kalau soal ke mana perginya saya tidak tahu.”
Gue mengacak rambut sendiri. “Ah, sial. Begonya gue. Kenapa gue tadi nggak nelepon dia dulu sebelum datang ke rumahnya?” gue memaki diri sendiri.
Gue merogoh saku celana untuk mengambil smartphone, setelah itu menekan nomor Bastian yang sudah ada di luar kepala. Barulah mendekatkan telepon ke telinga.
“Halo, lo lagi. Ngapain nelepon malam-malam?” ujarnya di ujung telepon. Untung dia langsung mengangkat telepon dari gue.
“Gue lagi ada di rumah lo nih. Lo sekarang lagi ada di mana?”
“Ngapain lo ke rumah gue? Kangen ya ma gue?”
Gue mendengus kesal. Gue nanya eh dia malah nanya balik. “Ada sesuatu yang mau gue tanyakan ke lo. Penting! Sekarang juga cepet lo bilang di mana keberadaan lo!”
“Nggak bisa besok aja apa? Gue lagi honeymoon ma istri gue nih.”
“Nggk bisa. Cepet deh lo bilang di mana keberadaan lo!”
“Ya udah deh. Gue sekarang lagi di hotel bokap gue.”
“Oke, gue langsung ke sana.”
Gue memutuskan sambungan telepon. Gue berlalu begitu saja meninggalkan rumah Bastian.
***
Bastian sudah menyambut kedatangan gue di depan pintu masuk hotel. Baguslah, jadi gue tak perlu nanya receptionis di mana kamar Bastian.
“Hey, wajah lo kusut banget. Kenapa sih lo malam-malam nyamperin gue?” tanya dia begitu gue berdiri di depannya.
“Gue mau nanya ma lo, apa maksud lo ngirim sms terakhir ke Risma make kata-kata yang sama persis di tagline novel gue?”
Bastian menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Maksud lo apa sih? Nggak ngerti gue.”
“Lo ada kirim sms ke Risma make kata-kata Saat hatimu terluka, percayalah akan ada malaikat yang siap mengobati luka hatimu, kan?”
“Iya, emang kenapa?”
“Kalimat yang lo kirim ke Risma lewat sms itu merupakan kalimat tagline di novel gue. Lo tau nggak gara-gara lo, Risma mengira penulis novel Malaikat Patah Hati itu lo, padahal kan gue.”
Bastian geleng-geleng kepala sambil terkekeh. “Hahaha… jadi lo nyamperin gue malam-malam cuma nanyain itu doing?
“Bagi gue hal itu penting! Sekarang lo jelasin maksud lo kirim kata-kata itu ke Risma.”
“Oke, sorry banget. Gue sama sekali nggak ada maksud apapun. Gue juga nggak tau, kalimat sms terakhir yang gue kirim ke Risma itu tagline novel lo.”
“Pokoknya lo harus tanggung jawab!”
“Dengan cara?”
“Lo bilang ke Risma bahwa lo bukan penulis novel Malaikat Patah Hati.”
“Kalau dia curiga gimana? Terus nanyain siapa penulis asli novel Malaikat Patah Hati gue harus jawab apa?”
“Itu terserah lo. Yang jelas lo harus bilang kayak gitu ke Risma, tapi jangan sampai Risma curiga! Dan satu lagi, lo jangan ngasih tau bahwa gue penulis novel itu sebenarnya. Gue pengen bikin dia penasaran dulu.”
“Oke, deh. Gampang lah. Ada lagi nggak yang mau lo tanyain ke gue?”
“Kayaknya itu aja deh. Gue pamit dulu ya. Sorry kalau gue ganggu lo.”
Lega rasanya. Setelah menjelaskan ke Bastian, gue kembali melajukan motor kesayangan untuk pulang ke rumah. 

Other Stories
Blek Metal

Dahlia selalu dibanding-bandingkan dengan sepupunya karena terlalu urakan dan suka musik m ...

Hati Yang Beku

Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...

Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...

Kehidupan Yang Sebelumnya

Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...

Download Titik & Koma