Tak Terduga
\"Gimana tugasmu, udah kelar?” tanya Neva sambil menghempaskan tubuhnya di sebelah kananku.
Aku mengangguk.
“Gila, semalam aku tidur jam tiga pagi,” jawabku.
Rasa kantuk itu masih ada meskipun mencuri waktu tidur sehabis subuh tadi. Tidak lupa sarapan kilat dua potong roti dan susu kopi sebagai pengganjal perut agar tidak protes sampai jam makan siang nanti. Tapi entah kenapa tiba-tiba aku kebelet pipis.
“Ne, aku ke toilet dulu ya. Tadi berangkat buru-buru soalnya,” kataku pada Neva.
“Yaudah, gue ke atas duluan,” jawabnya sambil beranjak dari bangku besi yang biasa kami tempati.
“Okeh.”
Setelah menyelesaikan hajatku dan melihat penampilanku di cermin, aku bergegas menuju ke lift. Pagi ini ruang kuliahku ada di lantai lima. Karena mendekati jam masuk, antrian lift sudah cukup ramai. Angkutan terakhir penuh dan aku tidak terangkut. Sambil menunggu giliran berikutnya, kuperiksa notifikasi hape yang belum kubuka sejak pagi. Begitu pintu lift terbuka aku masuk sendirian. Namun sebelum kupencet tombol nomor 5, seseorang berteriak, “Tunggu, tahan liftnya!”
Oh God! Suara Pak Angga. Dosen yang cukup disegani itu setengah berlari menuju ke arahku. Kuanggukkan kepala dengan sopan ketika ia masuk ke dalam lift.
“Terima kasih,” ucapnya dengan formal.
Kutekan tombol lantai lima dan pintu lift menutup kembali. Dengan sentakan perlahan, lift mulai bergerak. Kami sama-sama tidak bersuara. Kuamati pantulan kami berdua yang terlihat jelas di pintu logam. Dalam keadaan sama-sama berdiri seperti ini, aku hanya setinggi dadanya. Senada dengan manik matanya yang berwarna biru gelap, hari ini dia mengenakan kemeja warna biru tua. Satu kancing teratas dibiarkannya terbuka.
Rasanya lift ini berjalan pelan sekali. Jika dalam keadaan berbeda, aku pasti merasa beruntung satu lift dengan cowok kece seperti ini. Sayangnya dia dosenku, killer lagi. Aroma segar seperti pinus dan mint dari tubuh Pak Angga memenuhi indra penciumanku. Membuatku sedikit mabuk. Keringat dingin tiba-tiba terasa meleleh di dahi. Telapak tanganku lembap membuat hape yang kupegang di tangan kiri terasa agak licin. Agar tidak terjatuh, aku bermaksud memasukkannya ke dalam tas. Kulepas ransel yang ada di punggung dalam keadaan berdiri.
\"Masih suka baca kartun?\" pertanyaannya membuatku sedikit terkejut. Ternyata dia masih mengingat peristiwa itu.
\"Eh, iya Pak.\"
Aku tersenyum kikuk padanya sambil memasukkan ponselku ke dalam tas. Pak Angga terlihat hendak berkata sesuatu, tapi diurungkannya ketika gerakan lift tiba-tiba berhenti. Lampu penunjuk menyala di lantai 5 dan pintunya terbuka. Pak Angga mempersilakan aku keluar terlebih dahulu.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, aku berjalan sedikit cepat agar dia tertinggal di belakang. Kelasku berada di ujung koridor, jadi perjalanan masih lumayan jauh. Dengan langkahnya yang panjang ia bisa menjajariku. Berjalan di sisinya membuatku nervous. Belum lagi ada beberapa mahasiswa yang masih berdiri di luar kelasnya memberikan salam pada Pak Angga. Perlahan kulambatkan langkah agar aku berjalan di belakangnya. Tiba-tiba dia berhenti, membuatku menabrak punggungnya. Dia berbalik.
“Kenapa berjalan di belakangku?”
Aku terdiam dan menunduk di hadapannya. Jarak di antara kami yang begitu dekat membuat jantungku berdetak tak beraturan.
“Ayo, cepat. Sebentar lagi bel. JIka terlambat, nanti kamu saya skors!”
Aku mengangguk, tidak berani mendonggakkan kepala. Dia kembali menjajari langkahku hingga sampai di depan kelas. Seperti tadi, dibukanya pintu dan mempersilakan aku masuk lebih dulu. Tanpa memandang seisi kelas, aku menuju kursi yang biasa kutempati.
“Pagi semua!”
Suara Pak Angga membuat teman-teman yang ada di dalam kelas segera kembali ke tempat masing-masing. Neva memandangku dengan tatapan aneh dan kubalas dengan senyuman. Kulirik bangku di sebelahku, sudah seminggu ini bangku Chandra kosong. Aku sibuk mengeluarkan diktat dan buku catatan ketika kudengar suara ketukan di pintu.
“Masuk,” jawab Pak Angga tanpa melihat ke arah suara.
Chandra datang dengan sedikit pincang. Setelah Chandra menutup pintu, bel kuliah jam pertama berbunyi. Untung saja ada lift di gedung ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Chandra naik ke ruangan kuliah dengan terpincag-pincang.
“Akhirnya kamu datang juga, Bro,” ucap Rio begitu Chandra duduk di kursinya.
“Gimana kabarmu, masih sakit?” tanyaku.
“Udah nggak apa-apa, kok.”
Chandra terlihat jengah. Wajahnya menegang ketika melihat siapa yang ada di depan.
“Kenapa?’ tanyaku sambil berbisik.
“Nggak apa-apa, Rena sayang,” jawabnya sambil menatap ke arah Pak Angga. Beberapa saat kemudian dia menoleh padaku sambil tersenyum.
Dasar aneh!
Jika pertemuan kemarin Pak Angga masih mau menjelaskan dengan bahasa Indonesia secara penuh, tapi tidak sekarang. Dia memberikan penjelasan menggunakan bahasa Inggris. Coretan catatan penting di pojokan diktat kuliahku sudah tidak karuan bentuknya. Meskipun begitu sangat berharga untuk kupelajari kembali nanti. Mendengarkan kuliah bilingual cukup menguras konsentrasiku. Apalagi orang yang memberikan kuliah penampilannya sangat kece seperti itu.
Pak Angga sedang menuliskan sesuatu di whiteboard. Tangan kanannya lincah bergerak memegang boardmarker, sementara tangan kirinya memegang diktat yang terlipat. Jam tangan sporty melingkar di pergelangan tangan kiri, terekspos jelas karena lengan kemejanya dilipat hingga siku.
\"Psst, psstt, Ren, Serenada,\" Chandra membuyarkan pengamatanku.
Aku menoleh tanpa bersuara. Kuberikan tatapan ‘apa?’ lalu Chandra memonyongkan bibirnya. Jari telunjuk kuletakkan di bibirku, menyuruhnya diam.
“Ren, Rena,” panggilnya lagi. Kali ini aku tidak menoleh.
Tiba-tiba Chandra melemparkan kertas yang sudah diremas-remas berbentuk bola ke mejaku. Benar-benar usil nih orang. Tanpa menoleh, kubuka kertas itu. Tampak gambar dua orang yang dibuat asal-asalan sedang berciuman. Lalu ada tulisan dibawahnya ‘I miss You’. Aku menoleh ke arah Chandra dengan tatapan kesal.
“Apa-apaan kamu?” tanyaku.
Chandra tidak menjawab, tapi malah membuat gerakan kiss bye. Spontan saja kulemparkan kembali kertas yang sudah kuremas ke mukanya.
\"Saudara Serenade, ada yang kurang jelas?\"
Suara Pak Angga menggelegar di dalam kelas. Aku mengerut, sementara seluruh mata di kelas menatap padaku.
Chandra sialan!
\"Maaf, tidak ada pertanyaan, Pak,\" jawabku gugup.
Kuberanikan diri melihat ke arah beliau, manik matanya yang biru kelam memandangku tanpa berkedip.
\"Jika masih ada urusan selain kuliah, silakan selesaikan di luar. Saat jam kuliah berlangsung, saya minta perhatian penuh pada materi kuliah. Ini berlaku untuk semuanya,\" lanjut Pak Angga.
\"Tapi, Paaak,\" aku berusaha protes.
\"Silakan saudara Serenada, tutup pintunya dari luar!\" perintahnya tegas dan tak terbantahkan.
Kukemas diktat kuliah ke dalam tas dengan perasaan tak karuan. Wajahku memanas dan mataku berair, rasanya ingin menghilang saat itu juga. Sambil menahan tangis aku berjalan lunglai ke luar kelas. Ketika sudah berada di luar, kutarik napas sambil menutup pintu. Tapi belum sampai tertutup sempurna terdengar kegaduhan dari dalam.
\"Saya juga mau keluar!\" teriak Chandra.
Aku tertegun memandangnya yang tengah bergerak ke arahku. Chandra kini sudah berdiri di ambang pintu, menatapku dengan penuh penyesalan.
\"Ayo kita ke kantin, kutraktir kamu.\"
Chandra mengatakan itu sambil menoleh pada Pak Angga. Aku pun terpaku menatap beliau. Dia terlihat kaget tapi tidak berbuat apa pun. Akhirnya Chandra menggandeng tanganku dan menyeretku pergi meninggalkan kelas. Kejadian itu seperti mimpi. Aku baru sadar sepenuhnya saat kami berdua berhenti di depan lift. Chandra masih menggenggam tanganku. Dengan jengah kutarik lepas tanganku lalu bersedekap.
\"Eh maaf,\" katanya sambil cengengesan.
Pintu lift terbuka, kosong karena jam kuliah masih berlangsung. Chandra masuk lebih dulu, aku menyusul di belakangnya. Rasa kesalku padanya masih cukup tinggi. Jika saja dia tidak cidera, mungkin saat ini sudah kutendang kakinya.
“Rena, maafin aku, ya” rengeknya
Aku hanya diam tidak menyahut.
“Si tua bangka itu memang brengsek,\" kata Chandra tiba-tiba.
Aku menoleh, menatapnya tak percaya. Terlihat jelas rasa tidak suka Chandra pada Pak Angga.
“Emangnya kamu ada masalah apa sama dia? Bukannya kamu ya, yang bikin aku dalam masalah?\" tanyaku sinis.
“Jangan gitu dong, Ren. Aku ‘kan cuma bercanda. Nggak Nyangka kalo dosen brengsek itu bertindak sejauh ini,” elaknya.
Aku mendengus kesal. Sudah tahu salah malah ngeles.
“Maafin aku ya, Ren. Pliiisss.”
Aku buru-buru keluar ketika pintu lift terbuka.
“Ren, Renaaaa. Tungguuuu!”
Kuacuhkan panggilan Chandra. Aku benar-benar kesal. Langkah kakiku semakin cepat menuju kantin. Hanya itu satu-satunya tempat yang paling mungkin kudatangi saat ini. Mungkin sekitar satu jam lagi waktunya istirahat. Kuhempaskan tas ransel di salah satu meja bundar. beberapa saat kemudian aku menyesal melakukan itu, mengingat hape-ku masih ada di dalam. Buru-buru kuambil smartphone kesayanganku sambil duduk. Tidak kusangka Chandra berhasil menyusulku, dia kini duduk di seberang meja.
“Ren, jangan marah gitu dong. Kamu mau makan apa? Aku traktir deh,” bujuknya.
Aku tidak berminat menatapnya, pura-pura sibuk membuka hape.
“Kamu makin cantik deh kalo marah gitu. Mau nggak jadi pacarku?”
Aku mendongak karena terkejut mendengar ucapan Chandra.
“Apa-apaan sih, kamu Chan? Males banget tau nggak!” sergahku kesal.
“Mau pesan apa, Mbak, Mas?” tanya seorang laki-laki menghampiri kami. Dia pasti pelayan kantin yang kurang kerjaan.
\"Saya bakso aja mas, ama es teh. Kalau pacar saya nanti dulu, dia masih ngambek,” ujar Chandra.
Aku melotot ke arah Chandra.
“Langsung bayar di kasir ya, Mas.” kata laki-laki itu sambil ngeloyor pergi.
Chandra benar-benar membuatku kesal. Buru-buru aku berdiri dan membawa tas ransel hendak pergi.
“Ren, Rena. Aduuuhhhh!” rintihan Chandra membuatku mengurungkan niat untuk cabut dari situ.
“Kamu nggak apa-apa, Chan?” tanyaku khawatir sambil duduk kembali.
“Kaki gue nyeri banget. Kayaknya gara-gara setengah lari ngejar kamu tadi,” ujarnya sambil meringis. Dia mengelus-elus kakinya. Perasaan bersalah menyergapku.
“Minta tolong bayarin dong, sekalian kamu pesan makanan juga,” ujarnya tiba-tiba sambil menyerahkan dompetnya padaku. Mau tidak mau aku terpaksa menuruti kemauannya.
Dasar Chandra, ngerepotin orang saja!
Begitu kembali dari kasir, kulihat wajahnya sudah kembali ceria. Aku jadi ragu, jangan-jangan tadi dia cuma akting.
“Makasih, ya,” katanya sambil menerima kembali dompet yang kusodorkan.
“Sama-sama,” jawabku pendek.
“Udah, jangan marah mulu. Nanti wajah cantiknya ilang, loh.”
Hampir saja Chandra kusemprot, tapi keburu mas pelayan datang mengantarkan pesanan kami. Dua porsi bakso, es teh, dan es jeruk sudah tersaji di meja.
“Ayo makan dulu, keburu dingin,” kata Chandra.
Jujur saja, aroma bakso membuat air liurku bereaksi. Kuahnya yang mengepul, bola-bola daging yang terlihat menggiurkan, membuat aku tidak tahan akan godaannya. Chandra tahu kelemahanku. Setelah berdoa dalam hati, kueksekusi bakso yang ada di hadapanku.
Hemmm, yummy!
“Gak nyangka, cewek makannya cepet banget,” ujar Chandra melihat mangkok bakso yang sudah kososng di hadapanku.
“Emang kenapa?” ujarku sambil berdesis menahan rasa pedas. Gara-gara emosi kutambahkan tiga sendok makan sambal dalam kuah baksoku tadi. Segera kuraih gelas es jeruk dan mengisap cairan kuning cerah itu lewat sedotan. Segar!
“Kamu itu doyan apa laper, sih?”
Aku hanya mengangkat bahu.
“Udah dong marahnya, Rena. Aku juga kesel sama dosen itu,” kata Chandra sambil meletakkan sendok. Sepertinya dia tidak begitu antusias makan bakso.
“Emangnya kenapa?” tanyaku heran.
“Dia itu, orang yang ngelindas kaki gue, tau!\" jawabnya sambil berapi-api.
“Hah, serius?”
Aku ingin tertawa tapi kutahan. Wajah Chandra menegang dan sorot matanya terlihat geram penuh kebencian. Menurutku kejadian itu akibat kecerobohan Chandra sendiri, tapi aku tidak berani mengatakannya. Anehnya, dia seperti kebakaran jenggot. Dasar cowok, egonya sebesar gunung Krakatau. Tersenggol sedikit saja bisa meledak. Ah sudahlah, sebaiknya kupikirkan nasibku sendiri nanti.
Gila nggak sih, baru seminggu kuliah udah diskors dosen? Wow, hebat kamu Rena!
Other Stories
Dream Analyst
Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...
Jika Nanti
Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...
Sinopsis
hdhjjfdseetyyygfd ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...