Mentari Dalam Melody

Reads
656
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Genta Amethyst

Chapter 5

Ibu merasa aneh. Semenjak tadi siang, tak dilihatnya Tara. Ia memang belum tahu insiden di sekolah perihal Tara yang mengamuk. Ayah belum cerita apa-apa.
“Tara di mana?” Ibu bertanya pada ayah yang tengah bersantai membaca koran di ruang tengah. Ayah mengedikkan bahu.
“Tau!” Jawaban ayah dingin. Ibu menghela napas. Ayah mungkin tidak ingin diganggu. Ia berinisiatif menuju kamar Tara. Pelan-pelan, dibukanya pintu kamar Tara. Ibu tersenyum menyaksikan anaknya yang tengah tertidur pulas. Ia mendekat, mengelus kepalanya. Tapi kemudian mengernyit, begitu menemukan sesuatu di dahi Tara. Kepalanya lebam.
“Kenapa dia?” Ibu menatap cemas. Ia tidak ingin menanyakan sebab pada Tara. Tidak ingin mengganggu tidurnya. Diselimuti anak bungsunya itu. Lagi-lagi ibu menemukan luka lebam di tangan Tara. Usai menengok Tara, ibu menuju ruang tengah tempat ayah tadi.
“Yah, Tara kenapa kok lebam-lebam?” Seketika ayah menutup korannya. Bangkit berdiri seperti malas ditanya-tanya.
“Tanya saja sama anakmu,” ujarnya yang segera menuju kamar. Ibu mendesah pelan. Lagi-lagi suaminya ini dingin setiap kali ia menggunakan Tara sebagai topik obrolan mereka.
***
Dua hari Tara menyendiri. Mengurung diri di kamar. Tapi tak pernah mengunci kamar tersebut. Sehingga ibu dengan mudahnya masuk ke kamar Tara membawa makanan. Kadang ibu sedih, melihat makanan yang disediakannya sama sekali tidak disentuh oleh Tara. Setiap kali dirinya masuk ke kamar Tara, Tara selalu bersikap acuh tak acuh. Menjadi pendiam akut yang tak tersentuh.
Anak itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Kotak musik pemberian Luna. Luna benar. Di saat seperti ini, cuma kotak musik ini yang memberikan ketenangan untuknya. Mendengar alunan musik yang bersenandung membuatnya jadi ingat Luna. Tara sangat merindukan gadis kecil itu.
“Lun, maafkan aku.” Tara menangis. Merasakan buliran air bening jatuh memenuhi bantalnya.
“Sekarang, udah nggak ada lagi yang percaya sama aku. Nggak ada lagi yang mau bantuin aku membaca.” Tara beranjak dari tempat tidurnya menuju rak bacaan. Diambilnya sebuah buku berjudul Gaun Biru Warisan. Didekapnya buku itu.
“Ini buku terakhir yang kamu bacain buat aku. Berkatmu, untuk pertama kalinya aku lolos dari semua pertanyaan-pertanyaan Ayah. Lun, aku rindu kamu. Kamu cepet sembuh, ya, Luna ....” Mata Tara memancar lagi. Ia menangis. Membawa buku dan kotak musik itu tetap dalam dekapannya sampai terlelap.
***
7 hari Tara mendekam. Ibu melihatnya seperti mayat hidup. Tanpa semangat seperti dulu. Tara malah terkesan cuek. Ibu mendesah pelan, saat disaksikannya tubuh kurus Tara yang tengah meringkuk di bawah selimut. Ia jadi khawatir sendiri melihat kondisi anaknya.
“Yah, Ibu khawatir sama Tara,” keluh ibu yang baru saja pulang dari rumah sakit. Ayah sedang sibuk dengan leptopnya. Masih menuntaskan pekerjaan yang harus dia selesaikan buat besok, sebelum berangkat ke rumah sakit, menggantikan ibu berjaga.
“Akhir-akhir ini, Tara sangat berbeda, Yah. Dia lebih senang menyendiri. Menghabiskan waktunya di kamar.”
“Bukankah memang sudah biasa begitu?” sahut ayah sekenanya. Masih fokus ke layar leptop. Ibu menggeleng.
“Ini berbeda, Yah. Tara terlihat tidak bergairah sama sekali. Dia ... seperti hilang semangat.” Ibu menatap tak menentu. Ayah mendesah pelan. Melepas kaca matanya dan menutup leptop.
“Jangan pikir macem-macem, Bu!” kesalnya.
***
Pagi-pagi, ibu mendatangi kamar Tara. Membawakan senampan makanan beserta susu. Anak bungsunya itu masih seperti kemarin.
“Tara, ayo berangkat sekolah,” pintanya dengan halus. Tara terdiam tanpa jawaban. Dibukanya kotak musik itu.
“Ibu baru liat benda itu.” Ibu mencoba mengajak Tara bicara. Tapi anak itu hanya melihatnya tanpa ekspresi. Lalu memandangi lagi kotak musiknya. Ibu menghela napas.
“Tara, Kak Gilang keadaannya sudah membaik. Tapi masih belum sadar. Dan Luna ....” Tara langsung terlonjak menatap ibu. Seolah ia ingin bicara.
“Luna juga masih belum sadar. Tapi dia sudah melewati masa-masa kritisnya. Kemungkinan Luna akan segera sembuh. Jadi, Tara jangan khawatir, ya!” Tara kembali melamun. Menatap kotak musik di sisinya.
“Itu kok bagus. Ibu belum pernah liat. Tara dapat dari mana?” ujar ibu. Memancing anaknya untuk mau berinteraksi dengannya. Tara tak menyahut. Hanya memandang benda itu sambil senyum.
“Lunnaa ....” Baru saja Tara mulai berkata, seseorang merampas kotak musik itu.
“Jadi ini? Jadi karena benda ini?” Ayah menjunjung tinggi benda itu. Tara membuka mulut hendak bicara. Dia was-was melihat ayah memegang kotak musik pemberian Luna.
“Karena benda ini? Kau membuat kekacauan?” Ayah langsung melempar benda itu ke lantai sampai hancur tak berbentuk.
“TIDAAAAKKK!!!” Tara bangun dari tempat tidurnya berlari menghampiri tempat jatuhnya benda itu. Tara meraup puing-puing, mendekapnya lalu menangis. Ibu yang masih bertanya-tanya tidak tahu menahu apa yang terjadi. Seakan ayah bisa membaca ekspresi muka ibu, ayah berkata.
“Tau, Bu! Kenapa Gilang sekarang terkapar di rumah sakit? Itu semua karena benda itu. Benda itu milik teman Gilang yang diambil oleh Tara. Lalu mereka mengeroyoknya. Gilang tidak tega melihat Tara. Makanya sebisa mungkin Gilang berusaha menyelamatkan adiknya. Selain itu, Luna juga menjadi korbannya. Lihat dia, Bu! Lihat anakmu ini!” Ayah menunjuk-nunjuk Tara dengan kesal. Tara yang masih terpaku dengan benda-benda itu tidak dapat mencerna dengan pasti apa yang dikatakan ayah. Ayah berbicara terlalu cepat, membuat otaknya tak mampu menangkap. Selain itu ada bagian dirinya yang teramat sakit. Hatinya.
“Ayaaah jahaaatttt!” teriaknya sambil berlari keluar ruangan. Tara menuju taman belakang rumah, dan menangis di sana.
***
“Luna ....” Berjam-jam Tara menangis. Hingga tak tahu lagi bagaimana wajahnya saat ini. Ibu dari tadi mengawasi Tara. Meski Tara tak menyadari itu. Mata Tara memerah dan bengkak seperti balon.
“Maafkan aku Luna.” Hampir menjelang malam. Senja sudah menampakkan kemerahan di langit barat. Air mata Tara sudah kering. Hingga dia tidak bisa menangis lagi. dikuburkannya kotak musik pemberian Luna. Setelahnya, Tara lari ke dalam rumah. Mengunci pintu kamar.
***
Ibu semakin memikirkan yang tidak-tidak tentang Tara. Ia khawatir kondisi jiwa anaknya. Pada suatu malam, ibu memberanikan diri mengatakan apa yang sempat terbesit dalam pikirannya.
“Ayah ....”
“Hem?” Ayah menyahuti dengan dehaman. Seperti biasa, bahkan menjelang tidur pun ayah masih mengetik.
“Tara nggak mau sekolah,” ujar ibu lirih. Ayah mendesah pelan. Seketika tangannya berhenti mengetik.
“Tidak perlu susah-susah membujuknya untuk sekolah. Dia dikeluarkan,” ujar ayah dengan suara yang hampir tercekik.
“Apa?” Ibu kaget. Menatap ayah tak percaya. Ayah menatap ibu. Mengambil sebuah amplop yang berada di atas meja kecil sisi tempat tidur.
“Ini Ayah terima tadi. Kepala sekolah memutuskan untuk mengeluarkan Tara berdasarkan persetujuan Dewan Yayasan. Kepala sekolah tidak bisa lagi membantunya. Mengingat Tara sudah melakukan beberapa kali keonaran yang tidak termaafkan. Ayah juga diminta mengganti kursi-kursi yang rusak atas perlakuan Tara.” Ibu semakin ternganga.
“Kursi?”
“He’em. Jadi Tara sempat mengamuk di sekolah. Dia tidak terima jika dituduh sebagai penyebab kecelakaan Luna....” Ayah menceritakan kronologinya. Membuat ibu menutup mulut tak percaya. Air matanya berkaca-kaca.
“Ayah tidak tahu lagi, bagaimana seharusnya mengatasi anak itu. Ayah tidak sanggup,” ayah berkata dengan nada menyerah. Mematikan leptopnya, menutup dan menaruhnya ke meja di sisi tempat tidur.
“Tapi bagaimanapun Tara anak kita, Yah.” Ayah terdiam. Sampai istrinya membuka mulut lagi.
“Bagaimana kalo kita rehabilitasi Tara?” Kini giliran ayah yang ternganga mendengar usul ibu.

Other Stories
Kepentok Kacung Kampret

Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Namaku May

Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...

Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap

Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...

Kepingan Hati Alisa

Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...

Download Titik & Koma