Chapter 4
Hari ini, Tara berniat masuk ke sekolah. Pagi-pagi dia bangun. Sengaja bangun lebih awal untuk menghindari pertemuannya dengan ayah. Hanya ada ibu di sana yang baru bangun dan mau memasak.
“Tara ....” Tara kepergok sedang menuang susu ke dalam gelas yang baru diambilnya dari kulkas. Dia sudah siap berseragam. Tara menjadi malu sendiri pada ibu. Tapi ya sudah. Dia duduk dan hendak menyiapkan sarapannya.
“Sini, biar Ibu saja.” Tara melihat ibu yang kikuk mengambilkan roti untuk Tara. Dia juga memoles dengan selai kacang. Tidak ada yang bersuara. Tara juga tidak berniat ingin menyapa.
“Tara ....” Ibu mengambil duduk di sisi anak bungsunya itu. “Maafin Ibu, ya. Selama ini, Ibu sudah mendidik kamu dengan cara yang salah.” Tara bisa melihat mata ibu berkaca-kaca. Tara mengalihkan pandang ke sudut lain. Ia tidak tega jika harus melihat ibu menangis.
“Tara sudah baikan? Kok mau berangkat sekolah?” Ibu berusaha membuang suasana canggung di antara mereka.
“Ya, Bu. Tara bosen. Tara pengen sekolah.” Aslinya sama saja bagi Tara. Tak ada tempat yang menyenangkan. Baik di rumah ataupun sekolah. Semuanya sama-sama membosankan. Ibu mengangguk-angguk. Tidak juga melarang Tara.
“Hati-hati, ya, Nak!” Ibu mengelus rambut Tara ketika akan berangkat. Tara juga tak menolak. Ia diantar sopir.
Tara memasuki gerbang sekolah. Sepanjang jalan, beberapa anak yang melihat kedatangannya terkaget dan langsung lari pergi. Tara mengernyitkan dahi. Kenapa mereka? Tara terus menapaki koridor, sampai ia masuk ke dalam kelas. Di kelas, tiga orang anak perempuan sedang duduk-duduk. Mereka yang tadi terlihat santai tertawa langsung diam begitu melihat kedatangan Tara. Anak-anak itu kemudian lari keluar kelas.
“Ada apa sih?” teriak Tara pada mereka. Yang tak bersambut jawaban. Pagi semakin siang. Satu persatu anak mulai berdatangan. Tara duduk sendiri di bangku paling belakang. Dari tadi, ia mendapat pandangan aneh dari teman-temannya. Ada apa dengan teman-temannya ini?
“Kalian kenapa sih?” Tara sudah lelah. Dia berkata nyaring, membuat mereka semua terkejut.
“Tara, benar kamu mau bunuh Luna?” celetuk salah seorang di bangku paling depan. Tara mendelik.
“Apa maksud kalian?”
“Sudahlah Tara, kamu mengaku saja. Kamu kan yang sengaja dorong Luna sampai di ketabrak mobil?” celetukan lagi berasal dari tengah.
“Iya. Dan kamu juga kan yang ngambil kotak musik anak SMP itu?” Hah? Kotak musik? Tara semakin bingung. Kenapa jadi begini?
“Kamu mengganggu mereka. Mengambil kotak musik sampai mereka marah.”
“Kamu yang mendorong Luna!”
“Kamu yang membuat Kakakmu celaka!”
“Kamu jahat Tara!”
“Bisa-bisanya kamu berbuat seperti itu!”
“Ada Preman di kelas kita!” Tara merasa pusing. Seketika kelas jadi ramai.
“DIAAAAM!” Tara berteriak yang membuat teman-temannya langsung terdiam.
“Itu semua tidak benar. Siapa yang bilang begitu?” Tara hampir menangis dituduh demikian. Salah seorang anak perempuan langsung lari keluar kelas.
“Aku nggak mau sekelas sama Tara. Tara pembunuh!” ujarnya. Tindakan gadis itu segera disusul teman-temannya.
“Gara-gara kamu, Luna jadi koma. Kalopun dia sembuh, dia akan lumpuh permanen,” ujar anak perempuan yang lain. Telinga Tara seperti disambar petir. Luna lumpuh? Dan itu semua karenanya?
“Temen-temen. Jangan ada yang temenan sama Tara,” seorang anak laki-laki mempelopori untuk seluruh anak kelas tiga agar pergi keluar kelas. Tara terduduk. Kepalanya sangat pusing. Di pikirannya hanya ada Luna, Luna dan Luna.
“Luna lumpuh?” katanya tak percaya.
“Luna lumpuh permanen? Itu berarti dia tidak bisa sembuh?” Tara kesal kepada dirinya. Teman-temannya benar. Dialah yang menyebabkan Luna seperti ini. Tara menyesal.
“Aaarrgghhh!” Tara mengamuk. Menggulingkan kursi. Lalu meja. Kursi-kursi itu dilempar-lemparnya.
“Ini semua salahku. Luna lumpuh!” marahnya yang terus mencaci maki diri.
“Aku bodoh. Tidak berguna. Bahkan tidak bisa menjadi teman yang baik!” Beberapa anak mengerubung di jendela. Menyaksikan Tara yang menendang-nendang bangku.
“Dia ngamuk. Kita harus kasih tau Ibu Guru,” inisiatif seseorang.
***
Bu Novika yang baru saja tiba, terkejut mendengar laporan muridnya.
“Apa? Tara ngamuk di kelas?” Bu Novika segera bergegas menuju kelas tiga. Tapi dia terlambat. Seseorang telah menghentikannya dulu.
“Tangkap dia, Pak!” ujar kepala sekolah kepada satpam. Tara berbahaya. Anak itu tak terkendali. Perlu tiga orang satpam untuk menghentikannya.
“Bawa ke ruangan saya!” pinta kepala sekolah dengan muka judesnya. Bu Novika menyesali keterlambatannya. Seharusnya, dia bisa lebih cepat dari kepala sekolah.
***
Ayah tergopoh menuju ruang kepala sekolah setelah memarkirkan mobilnya. Mukanya memerah berusaha meredam amarah.
“Anak itu!” Ayah menggeram. “Bikin masalah lagi!” Dia berjalan dengan langkah cepat. Disaksikannya Tara yang tengah terisak duduk di sofa. Ayah sudah terlalu marah. Dia menghampiri Tara dan PLAAAK! Satu tamparan mendarat di pipi anak itu.
“Tidak bisakah kamu tidak membuat jantung Ayah kumat? Tidak bisakah kamu tidak membuat malu Ayah? Hah? Mau sampai kapan seperti ini? Sampai Ayah mati?” Ayah tak peduli lagi meski ini ruang kepala sekolah. Dia terlalu marah hari ini.
“Tenangkan diri Anda, Pak. Mari duduk. Kita bicarakan baik-baik masalah ini,” ayah mendengarkan perintah kepala sekolah. Ia duduk di samping Tara. Bu Novika yang turut hadir di sana, menatap iba anak didiknya. Entah mengapa dia memiliki keyakinan kuat, jika Tara tidak seperti itu. Tara anak yang baik. Andai saja Tara diperlakukan sama seperti yang lain, mungkin dia tidak merasa berbeda. Bu Novika paham siapa Tara. Hanya saja, membelanya di saat-saat seperti ini, tidak begitu kuat. Dia butuh bukti untuk meyakinkan yang lain.
Tara! Apa yang kau ambil dari anak SMP itu?” Interogasi kepala sekolah membuat Tara mendongakkan kepalanya.
“Mengambil? Mengambil apa?”
“Jangan bohong sama Ibu. Kamu mengambil kotak musik milik mereka, kan? Itu yang membuat mereka marah karena ulahmu.” Tara menyeringai mendengar perkataan kepala sekolah.
“Aku tidak mengambilnya, Bu. Ibu harus percaya itu!” Tara berkata kasar di depan kepala sekolah.
“Tara, jangan bohong!” cecar kepala sekolah.
“Harus dengan cara apa agar aku dipercaya?” Tara berkata menantang. Ayah langsung menengok ke arahnya.
“Tara! Jaga sikapmu!” bentak ayah.
“Apa Ayah tidak percaya kepadaku juga? Aku tidak mengambil!” sungutnya.
“Bu, izinkan saya yang bicara.” Bu Novika mengajukan diri. Kepala sekolah mengizinkan.
“Tara, Nak. Coba jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.” Dengan suara lemah lembutnya, Bu Novika berusaha membujuk Tara. Ditatapnya anak laki-laki itu yang mulai terisak.
“Tara tidak melakukannya, Bu. Waktu itu, Tara hendak pulang bersama Luna. Tara melihat Kak Gilang sudah pingsan diinjak-injak oleh mereka. Tara tidak tahu masalahnya apa. Tara hanya kesal melihat mereka memperlakukan Kak Gilang. Tara membalasnya. Mereka mendorong Tara sampai jatuh ke tengah jalan. Kejadiannya begitu cepat. Tara tidak begitu ingat. Tara hanya merasa seseorang mendorong dengan sangat kuat. Dan ternyata itu Luna. Hingga membuatnya tertabrak.” Bu Novika menghela napas. Pandangannya beralih ke kepala sekolah.
“Bagaimana, Bu?” Kepala sekolah tidak mempedulikan pertanyaan Bu Novika.
“Mungkin Ibu bisa mempertimbangkan pengakuan Tara,” rajuk Bu Novika lagi. berharap mereka mau mempercayai Tara.
“Dia bohong! Tara jawab yang jujur!” Mendengar kalimat yang terlontar dari kepala sekolah,Tara bangkit berdiri kesal.
“Tara benar-benar tidak mengerti dengan kalian semua. Kenapa kalian selalu menuduhku? Kenapa? Apa yang salah denganku?”
“Tara!” Ayah meminta Tara untuk menjaga sikap. Tapi anak itu sudah terlalu muak.
“Kenapa tidak ada yang mempercayaiku? Kenapa? Apa karena aku bodoh? Karena aku bodoh tidak pantas dipercaya? Aku akui aku memang bodoh. Tapi kebodohan tidak menjadikanku pembohong. Kenapa kalian susah sekali menerima pengakuanku?” Tara berkata menggebu-gebu. Hingga tiga anak memasuki ruang kepala sekolah. Tara terkejut. Aldan, Fiki dan Rey.
“Mengakulah Tara. Kami melihat sendiri kejadiannya.” Aldan berkata manis di depan kepala sekolah. Dia anak kelas 4 yang pintar. Sebentar lagi Aldan akan diikutkan OSN tingkat kota. Dia adalah anak emas di sekolah ini. Jadi pantas saja semua orang mempercayai anak itu.
“Apa maksudmu?”
“Kamu yang mengambil kotak musik itu. Menjaili Kakak-Kakak itu sampai mereka kesal kepadamu. Mereka sudah meminta baik-baik. Hanya saja, Bu ...” Aldan menatap kepala sekolah. “Tara tidak mau mengembalikannya. Padahal mereka memintanya dengan baik-baik. Akhirnya mereka kesal dan marah. Mereka berniat ingin menghajar Tara. Tapi Kak Gilang malah ikut-ikutan ingin menyelamatkan adiknya. Waktu itu juga Luna maju berusaha ingin melerai mereka. Tapi Tara tidak mau dan mendorong Luna sampai jatuh ke tengah jalan. Kenapa kau tidak mau mengakuinya Tara?” Tara mendelik. Bisa-bisanya Aldan mengarang cerita.
“Itu semua tidak benar!” Tara menyangkal.
“Maaf Tara. Kami tidak bisa berbohong.” Aldan memasang wajah takut.
“Kalian ngomong apa sih? Aku tidak melakukan yang kalian tuduhkan!” Tara keukeuh. Ditatapnya Bu Novika. Hanya dari guru ini, Tara bisa melihat belas kasihan itu.
“Ibu percayakan sama Tara? Tara nggak bohong, Bu!” Tara ngotot. Bu Novika hanya mengulurkan tangannya mengelus rambut Tara.
“Bu Kepala Sekolah, demi apa pun kami tidak berbohong.” Aldan memberi kesaksian dan diiyakan oleh temannya.
“Kalian tega!” Tara marah. Tangannya mengepal kuat.
“Aku pun tidak menyangka kamu akan berbuat seperti itu, Tara....” ujar Aldan. Menatap prihatin.
“Hentikan pura-pura kalian!” Tara menggeram. Ia semakin kesal.
“Lihatlah, Bu. Bahkan Tara menganggap kami pura-pura.” Aldan merasa kasihan melihat Tara.
“Kurang ajar kalian! Aku tidak pernah melakukan itu! Tidak pernah! Kalian ....” Tara merangsek maju hendak menghajar mereka.
“Tara!” Ayah dengan tanggap langsung menahan anak bungsunya itu.
“Jangan bikin malu Ayah!” Lelaki paruh baya itu melotot. Tara tak peduli. Dia ingin sekali memukuli Aldan dan teman-temannya. Tega-teganya mereka memfitnah dirinya.
“Lepaskaan! Lepaskaaan!” Tara ngamuk. Dibantu satpam Tara dibawa keluar.
“Tanpa mengurangi rasa hormat, saya mohon maaf sekali Bu, atas perlakuan anak saya tadi,” ujar ayah merasa sangat malu.
Di mobil, Tara menghempaskan tubuhnya kesal ke jok. Ayah segera masuk ke tempat kemudi. Menjalankan mobil tanpa banyak bicara.
“Masuk!” Ayah menyeret paksa lengan Tara. Lalu menghempaskannya di ruang tamu. PLAAK! Satu tamparan mengenai wajahnya. Lagi ayah kini menampar pipi kiri Tara.
“Anak tidak tau diri!” Ayah menarik Tara dan menghempaskannya ke lantai. Sampai kening Tara terantuk meja. Tara sesenggukan. Tapi tak berani berkata-kata.
“Seharusnya kamu mikir!” Ayah menendang-nendang anak itu. Sampai Tara meringkuk. Ujung sepatu fantofel ayah mendarat di perut, di bokong dan sekujur tubuhnya. Tara menangis tanpa suara. Dia tidak heran jika ayah tidak mempercayainya.
“Anak kurang ajar! Bodoh! Tidak berguna!” Ayah menarik Tara dengan paksa agar anak itu berdiri. Menyeretnya ke kamar mandi. Ayah menyiram Tara. Seluruh tubuhnya.
“Sini kamu biar sadar! Biar bangun!” Tara gelagapan tidak bisa napas ketika air itu mengguyur seluruh tubuhnya.
“Anak tidak tau diuntung! Kamu benar-benar ingin melihat Ayah mati? Hah?” Ayah terus mengguyurnya dengan kasar. Sampai dia lelah sendiri dan melemparkan gayung plastik ke tembok sampai retak.
“Anak sialan! Setelah ini, aku tak peduli lagi denganmu!” Dengan napas tersengal-sengal karena marahnya, ayah pergi meninggalkan kamar mandi. Lelaki itu masuk ke kamarnya. Terdengar suara benda-benda jatuh di sana. Ayah berteriak-teriak marah. Menyumpah nyerapahinya. Tara memegangi tubuhnya yang terasa remuk-remuk dan menggigil. Ia menangis.
Other Stories
Devil's Bait
Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...
Melepasmu Untuk Sementara
Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...
Mauren, Lupakan Masa Lalu
“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...