Chapter 3
Dua hari kemudian ....
Di sebuah ruang rawat rumah sakit swasta. Tara terbujur dengan baju pasien dan kepala yang diperban. Sebuah tangan terasa membelai pipinya. Sangat halus dan penuh perasaan.
“Tara! Tara udah sadar?” Ibu yang tak percaya dengan apa yang dilihat segera berteriak memanggil dokter. Perlahan, Tara membuka mata. Melihat ruangan putih dan seorang lelaki berjas putih yang berusaha menanganinya. Tara juga menyaksikan seorang lelaki, dengan tampang kurang tidurnya yang tergopoh bangun menghampiri Tara. Ayah.
Tara melihat mata ibu yang bengkak karena terus-terusan menangis. Dua anak laki-lakinya sama-sama masuk rumah sakit.
“Ibu, Kak Gilang di mana?” Ibu yang sedari tadi tak beranjak dari sisinya segera mendekatkan telinganya. Selama dua hari Tara tak sadarkan diri. Dia terlalu banyak kehabisan darah. Ibu tak menjawab, ia terisak.
“Kak Gilang ....” Tara mengernyit heran.
“Kak Gilang baik-baik aja kan, Bu? Nggak papa, kan? Apanya yang luka?” cecar Tara membuat ibu semakin tak bisa berkata-kata.
“Tara ....”
“Luna?” Mata Tara kini lebih lebar.
“Ibu, Luna bagaimana? Ibu aku pingin lihat Luna? Luna baik-baik aja, kan? Ibu!” Tara menuntut.
“Kak Gilang dan Luna baik-baik aja,” sahut ibu lirih.
“Bohong! Ibu pasti menyembunyikan sesuatu!” Tara tak percaya.
“Luna dan Kak Gilang tidak apa-apa. Hanya saja, mereka belum ada yang sadar,” terang ibu menahan tangis.
Tara menangis mendengar berita tentang kakaknya dan Luna. Kali ini dia percaya dengan apa yang dikatakan ibu.
***
Seminggu berlalu, Tara akhirnya bisa dibawa pulang.
“Bu, aku mau nemenin Luna dan Kak Gilang. Aku baik-baik aja. Aku nggak usah pulang, ya,” pintanya yang segera mendapat perhatian dari ayah dan ibu.
“Bu, aku mohon. Aku nggak mau pulang!” ujar Tara. Membuat ibu menghela napas.
“Tara harus pulang. Biar nggak tambah sakit. Tara butuh istirahat.”
“Enggak!” Tara menggeleng.
“Tara!” Ayah menggeram. Menatap tajam ke arahnya. Ini adalah kata pertama yang Tara dengar dari ayah. Sejak tara sadar, ayah sama sekali tak pernah berbicara kepadanya. Tara menunduk. Mau tidak mau, ia harus pulang.
***
Tara akan pulang nanti sore. Hari ini ayah harus ke kantor. Dan ibu berpamitan pulang sebentar. Tara main-main dengan kursi rodanya. Dia menuju ruang rawat Luna. Ruang khusus yang penuh alat. Separah ini kah Luna? Tara ingin tahu keadaan gadis itu, tapi siapa yang mau menjelaskan? Ia berdiri dari kursi roda mengintip dari kaca pintu bagian tengah.
“Kamu siapa?” Saat berusaha melihat Luna, seseorang mengagetkannya. Tara menoleh. Seketika raut wajah wanita itu berubah ketus.
“Oh. Jadi kamu Tara? Kamu yang buat anak saya seperti ini?” tuduh wanita itu tanpa basa-basi. Sekarang Tara bisa mengenali. Dia Mama Luna. Mama yang sering Luna ceritakan, yang membuat bekal untuk Tara.
“Saya tidak meyangka. Luna itu anak baik. Kenapa kamu lakukan itu kepada anak saya? Kenapa?” Wanita itu membentak Tara.
“Saya sudah izinkan dia main sama kamu, tapi apa balasannya? Luna sering cerita kamu tidak punya teman. Makanya dia mau jadi temanmu. Saya sudah pesan sama Bu Novika untuk menjauhkan kalian. Tapi apa? Bu Novika bilang jika Luna membawa pengaruh baik untuk kamu. Saya biarkan. Dan akhirnya, kekhawatiran saya terbukti! Kamu mencelakainya!” Mama Luna tidak terkendali. Ia marah-marah dan menangis. Tara yang mendengar itu menutup telinga. Dia tidak melakukan apa pun yang menyakiti Luna. Luna hanya berusaha menolongnya.
“Saya kecewa sama kamu! Lihat dia tidak bangun-bangun. Ini semua salahmu!” Mama Luna semakin mengamuk. Beruntung ada beberapa suster dan seorang laki-laki yang berusaha menenangkannya. Tara yakin itu Papa Luna.
“Jangan dekati Luna! Pergi kamu! Pergi!” Mama Luna meronta. Tara semakin tersudut. Dia berjalan mundur dan berlari. Berlari sekencang-kencangnya. Bukan dia! Tidak dia! Dia tidak melakukan apa pun kepada Luna. Luna berusaha menolongnya. Dan itu membuatnya celaka.
“Dek, tunggu, Dek!” Seorang suster mengejar Tara. Tapi lari anak itu begitu cepat. Sampai ia tak menemukannya.
“Pasien kabur!” ujar suster kepada satpam. “Anak kecil laki-laki. Dia sedang terguncang. Kira-kira tingginya segini.” Suster itu menambahkan. Mengukur tinggi Tara dengan dirinya. Satpam segera mencari keberadaan Tara. Mereka menyebar ke bagian taman rumah sakit, sekaligus di setiap koridor.
***
“Bu Novika?” Tara yang meringkuk di tepi jalan melihat seorang wanita berdiri di sisinya. Seorang wanita yang menatapnya iba.
“Tara, kok di sini?” Suara tangis Tara semakin kencang. Bu Novika mengelus kepala anak itu.
“Tara, apa yang terjadi? Ayo ceritakan sama Ibu. Kenapa kamu sampai ke sini?” Bu Novika duduk jongkok. Tara masih menangis. Hingga wanita itu memilih diam dan menenangkan.
“Bu, apa iya Tara yang salah, Bu? Tara yang membuat Luna dan Kak Gilang jadi sakit?” ujar Tara akhirnya. Membuat Bu Novika menghela napas. Dadanya menjadi sesak. Bingung harus ngomong apa. Menurut pengakuan Aldan dan dua orang temannya, yang kebetulan melihat kejadian itu, Tara menjaili gerombolan anak-anak SMP. Menggoda mereka sampai anak-anak SMP itu marah. Tara berkelahi, Luna berusaha melerai, tapi Tara malah mendorongnya. Sedang Gilang berusaha melindungi adiknya. Tara mengolok dan mengejek anak-anak itu. Saat Dody dan kawan-kawannya ditanya, juga sama jawabannya. Jika Tara membuat mereka sebal. Bu Novika tidak bisa lagi membela Tara. Malam itu setelah kejadian, seluruh wali murid dikumpulkan dan dimusyawarahkan. Mama Luna jelas-jelas tidak terima anaknya diperlakukan seperti ini. Belum lagi tuntutan dari seluruh korban yang telah dilukai Tara. Dilihatnya Ayah Tara yang pada malam itu benar-benar terpukul. Bu Novika takut jika Tara akan mendapat amukan dari orang tuanya.
“Bu Novika kok diam?” Tara kecewa. Tak ada sahutan dari guru itu. Itu seperti pengakuan jika Tara lah yang salah.
“Bu Novikaa!” Tara memanggil wanita itu. Yang lagi-lagi disambut dengan desah napas pelan.
“Tara ... Sebenarnya ....”
“Apa? Bu Novika ternyata sama seperti mereka. Bu Novika nggak percaya sama Tara? Anak-anak itu datang dan mengeroyok Kak Gilang. Mereka dorong Tara ke jalanan. Luna berusaha menyelamatkan Tara. Sampai dia yang tertabrak.” Tara menangis sejadi-jadinya. Ketika Bu Novika berusaha menyentuh kepalanya, anak itu menepis.
“Aku benci Bu Novika! Bu Novika sama saja!” Tara berlari.
“Tara!” Bu Novika bangkit dari duduk. Dan segera menelepon ayah Tara.
***
“Sini! Masuk kamu!” Ayah menarik kasar Tara dari dalam mobil. menghempaskan anak itu ke sofa ruang tamu. Tara merasakan sakit bekas cekalan tangan ayah di lengannya. Malam ini Tara telah ditemukan. Berkat bantuan Bu Novika dan polisi.
“Ayah benar-benar bingung harus apa kan kamu,” ayah mendengus putus asa. Menjatuhkan tubuhnya di kursi.
“Ayah tau kamu nggak suka sama Gilang. Kamu membencinya. Tapi nggak seharusnya kamu melakukan ini! Ayah kecewa sama kamu!” Ayah memegangi dadanya. Ia merasakan sakit di bagian dada. Ibu menatap khawatir.
“Apa yang membuatmu seperti ini, Tara? Apa?” Ayah bangkit. Menatap anak laki-lakinya yang terisak.
“Katakan pada Ayah. Apa salah kami mendidikmu? Hah? Kenapa kamu jadi seperti ini?” Ayah menatap tajam. Tara makin sesenggukan. Ibu coba menghalaunya.
“Ayah, mending Ayah masuk dulu. Jaga kesehatanmu,” ibu mendekati ayah. Memegang tangannya. Ayah tak menghiraukan. Matanya masih menatap Tara.
“Apa maumu Tara? Katakan!” Suaranya melemah. Ayah tidak bisa marah-marah. Dia masih ingat kondisi jantungnya.
“Ayah selama ini menerimamu. Meski kau bodoh, Ayah terima. Ayah masih mau mengajarimu. Tapi apa balasanmu?” Tara semakin terisak. Dadanya terasa terbakar.
“Bukan begini caranya dapat perhatian!” Lagi-lagi ayah menganggap kenalakannya adalah bagian dari mencari perhatian. Tara membenci ini. Tara tidak suka dibilang cari perhatian.
“Kau memang anak kurang ajar!” Ayah tak tahan. Dadanya semakin sakit. Ibu berusaha menuntunnya. Tapi tiba-tiba perkataan Tara membuat langkah ayah berhenti.
“Mau tau apa dosa Ayah?” ujar Tara dengan tubuh bergetar. Ia siap mendapat pukulan macam apa pun dari lelaki paruh baya ini. Ayah menoleh. Ibu menggeleng kepala, agar Tara mengalah saja. Tapi anak itu berdiri dengan berani.
“Di rumah ini, aku seperti hidup sendiri. Tidak ada yang mempedulikan aku. Ayah setiap hari membanding-bandingkan aku dengan Kak Gilang. Ayah membuat persaingan di rumah ini. Ayah membuatku dan Kak Gilang saling bersaing untuk mendapat perhatian. Ayah sendirilah yang merenggangkan hubunganku dengan Kak Gilang. Menumbuhkan kebencian satu sama lain di antara kami. Ayah membeda-bedakan kami. Siapa yang paling membanggakan Ayah, dialah yang paling disayangi. Aku sampai berpikir apakah aku hanya anak pungut di rumah ini. Apakah aku anak tiri? Kenapa Ayah begitu pilih kasih?” Tara sesenggukan. Sesekali ia mengusap air matanya dengan lengan.
“Ayah berubah sejak tau aku lebih bodoh dari Kak Gilang. Aku lebih tolol. Ayah mengubah rumah yang dulunya seperti surga bagiku, menjadi neraka. Karena aku bodoh, Ayah tidak mempercayaiku. Ayah tidak pernah mau mendengarkan keluh kesahku. Ayah hanya bisa menuntut! Menuntut!” Di kalimat terakhir Tara membentak. Membuat Ayah semakin emosi.
“Kenapa? Ayah marah? Ayah marah saat tahu siapa yang salah di rumah ini? Ayah!” Tara semakin berani. Ayah memegangi dadanya.
“Jadi sekarang Ayah jangan kaget kalo aku menjadi seperti ini. Karena itu caramu menanamkan kebencian kepadaku. Setiap hari aku selalu berpikir. Apakah aku cukup berguna di rumah ini? Apakah kehadiranku cukup diinginkan dan berarti?” Ayah menunjuk Tara.
“K-Kamu! Kurang a-jar!” Ayah berkata tersendat. Dadanya semakin sakit. Tara tidak mau menatap wajah ayah lagi. Dia berlari menuju kamar. Ibu tak kuasa menahan tangis. Dipapahnya ayah menuju kamar.
“Ayah harus minum obat.”
Other Stories
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
First Snow At Laiden
Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...