Mentari Dalam Melody

Reads
657
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
mentari dalam melody
Mentari Dalam Melody
Penulis Genta Amethyst

Chapter 1

Seorang anak laki-laki sibuk memainkan pedal sepedanya yang dijungkir balik. Di halaman depan rumah, Tara sering menghabiskan waktunya bermain sendiri.
“Hei, Tara!” Mendengar namanya dipanggil Tara menoleh ke gerombolan anak laki-laki. Mereka semua menaiki sepeda. Tara tersenyum menghampiri.
“Boleh aku gabung sama kalian?” pintanya. Kelima anak itu saling berpandangan satu sama lain. Seolah meminta persetujuan. Tara harap-harap cemas. Tapi dugaannya meleset. Mereka malah mentertawakannya.
“Hahaha, emang kita mau temenan sama kamu?” ujar salah seorang yang bertubuh gemuk. “Kita ke sini Cuma mau nanyain ke kamu. Katanya kamu nggak naik kelas, ya? Hahaha,” suara tawa bergemuruh riuh.
“Nggak sudi kita main sama kamu. Anak bodoh sepertimu nggak cocok jadi temen kita. Ya nggak?” Anak bertubuh gemuk itu menjulurkan lidah ke Tara diikutin yang lain. Tara kesal. Tangannya mengepal kuat.
“Anak bodoh. Anak bodoh! Wek!” Anak-anak itu turun dari sepedanya. Menggoyang-goyang tubuh sambil menjulurkan lidah.
“Diam!” Tara berteriak. Tapi anak-anak itu terus meledeknya.
“Ahhahaha. Dia marah. Dasar anak bodoh,” ejek mereka. Dada Tara terasa ingin meledak. Dia benci dibilang bodoh.
“Aku tidak bodoh! Aku tidak bodoh!” Tara tidak bisa menahan diri. Anak laki-laki itu merunduk. Mengambil batu sekepalan tangannya. Lalu melempar ke yang paling gemuk.
“Aduh!” Si gendut mengaduh. Darah keluar dari pelipisnya. Anak-anak yang lain melongo melihat itu.
“Kurang ajar. Beraninya dia lempar batu. Teman-teman, ayo kita hajar dia!” Anak-anak itu maju, mengeroyok Tara. Tara tak gentar. Dia meladeni anak-anak yang telah mengejeknya.
Dua orang berusaha memegangi Tara. Anak itu berontak. Menginjak kaki lawan-lawannya, lalu melakukan gerakan menendang. Salah seorang rubuh. Mereka tidak menyangka, Tara sekuat ini. Tara membenturkan kepalanya kepada satu anak lagi yang masih memeganginya. Lalu menggigit telinga anak itu sampai berdarah.
“Arrgh!” Anak itu berteriak kesakitan. Kali ini dari arah belakang, seorang anak bertubuh ceking membawa kayu hendak memukul kepala Tara dari belakang. Tara berkelit. Anak itu terjerembab jatuh, sebab Tara mendorongnya sampai menghantam aspal. Dagunya berdarah. Lalu dia memelintir tangan anak itu sampai berbunyi kretek. Seperti suara tulang yang patah.
Anak yang tadi ditendang perutnya bangkit, memeluk Tara dari belakang.
“Ayo hajar dia!” Anak yang tadi digigit telinganya bangun hendak meninju perut Tara. Tapi Tara justru mengangkat kaki ke atas, meninju tepat mengenai hidung anak di depannya sampai berdarah. Lalu meraih kepala anak yang masih berusaha memeluknya dari belakang. Tara memelintir kepala anak itu, sampai berbunyi kretek. Seperti tulang yang patah. Semua roboh. Tara telah membabat habis keempat anak yang menghinanya.
“Jangan pernah kalian bilang aku bodoh. Aku tidak bodoh, tau!” Tara mengusap darah yang mengalir di hidung juga tepi bibirnya. Suara teriakan tiba-tiba terdengar dari dalam rumah. Ibu. Tara mengusap wajah panjang. Dia akan kena masalah.
***
Ayah membanting pintu mobil begitu keluar dan masuk ke rumah tanpa bicara. Tara menelan ludah dan hanya mengikuti saja. Disusul ibu yang harap-harap cemas.
“Mau jadi apa kamu? Mau jadi jagoan?” sembur ayah. Membuat Tara mengkeret. Seorang anak laki-laki keluar dari dalam. Menatap keheranan, tapi tak berani bertanya.
Ayah melempar kunci mobilnya ke meja kaca, duduk di sofa mengacak-acak rambut. Dia baru saja mengganti rugi untuk 4 orang anak yang sudah dihajar habis oleh Tara. Mereka semua anak-anak tetangga. Mengalami kepala bocor, tulang hidung dan leher retak. Telinga yang nyaris putus, dagu lecet dan tangan patah. Ayah sangat pusing menghadapi Tara. Ini sudah kesekian kalinya dia melakukan keonaran.
“Mau sampai kapan kamu bikin malu ayah?” bentak Ayah. Napasnya beradu menahan emosi. Tara tak berani melihat ayah. Menunduk sedalam yang ia bisa, menikmati rasa nyut-nyutan yang masih mendera perutnya.
“Ayah tidak tahu lagi bagaimana cara mendidikmu! Ayah malu punya anak sepertimu. Tidak bisakah seperti kakakmu?” Ayah melotot. Tara merasa pipinya panas. Mendengar kakaknya dibawa-bawa Tara kesal. Matanya menangkap sesosok anak laki-laki mengenakan kaos kuning yang berdiri di sudut. Tara mengepal tangan kuat-kuat bangkit.
“Tara! Mau ke mana kamu? Ayah belum selesai bicara!” Teriakan Ayah tak lagi dihiraukan Tara. Ia menghambur dan menutup kencang pintu kamarnya sampai berbunyi bruaak!
“Tara! Anak kurang ajar!” maki Ayah. Matanya melihat tumpukan koran yang tertimbun di rak rotan sisi sofa. Ayah menghamburkan semua koran itu.
“Ayah ...,” ibu memekik. Melihat ayah yang tidak terkendali. Melempar bantal-bantal di atas sofa dan taplak meja. Beruntung ayah tidak menghancurkan vas bunga yang tertangkap oleh Gilang saat hendak jatuh. Usai mengobrak-abrik ruang tamu, ayah pergi.
“Urus anakmu itu, Bu!” Sebelum jantungnya bermasalah, ayah harus segera meredam marahnya ini.
Ibu merapikan koran-koran itu, dengan wajah sedih. Gilang tak tega melihatnya.
“Biar Gilang aja, Bu,” tawar Gilang yang segera memungut. Sedang ibunya terduduk di sofa. Gilang bisa melihat jelas kekhawatiran ibu. Dia juga kesal pada tingkah Tara. Anak itu bisanya Cuma nyusahin ayah sama ibu. Membuat mereka sedih dan terkena masalah. Gilang harus memberi pelajaran pada adiknya nanti.
Gedoran keras terdengar dari luar.
“Tar, buka!” Tara malas. Itu suara Gilang.
“Buka! Atau aku dobrak nih!” Tak ada jawaban.
“Tara!” Gilang memukul semakin keras. Tara terpaksa bangkit membukakan pintu.
“Apaan sih?” Gilang tak banyak bicara, dia masuk ke kamar Tara dan mengunci pintu.
“Ngapain masuk ke sini. Keluar nggak!”
“Nggak!”
“Aku bilang keluar!” Gilang mendengus melihat Tara yang berusaha mengusirnya.
“Ngapain kamu ke sini? Pasti mau ngehinakan? Mau ngetawain? Mau marah juga sama kek Ayah?” Tara bersungut. Gilang masih memandangi adiknya dengan tatapan tajam.
“Bodoh! Mana pernah aku melakukan itu!”
“Ya aku bodoh. Masalah?” tantang Tara. Membuat mata Gilang melotot.
“Udahlah, Kak. Aku tau. Dalam hati Kakak, pasti sekarang sedang tepuk tangan, kan? Ngetawain aku?” Gilang mendorong adiknya sampai jatuh terduduk di kasur.
“Mau sampai kapan kamu mikir aku kek gitu?” Tara hendak menyahut. Tapi Gilang keburu ngomong lagi.
“Kamu memang bodoh ya, Tar. Mau sampai kapan kamu kayak gini. Mau jadi apa kamu? Preman? Nggak bermasa depan? Hah?” Gilang mencecar. Tara menutup telinganya tidak ingin mendengar.
“Denger ya, Tar. Usahamu buat dapet perhatian Ayah, nggakkan berhasil Cuma dengan cara begini. Yang ada Ayah makin benci sama kamu. Oke. Aku tau kamu emang nggak pinter. Tapi seenggaknya kamu berhenti bikin Ayah dan Ibu sedih. Sampai kapan kamu bikin sakit hati mereka? Hah?” Gilang menyalak. Membuat Tara semakin menutup telinganya kuat-kuat, menggeleng.
“Aku nggak caper. Aku nggak seperti itu!” Gilang terdiam menyaksikan adiknya berusaha menolak perkataannya. Ia mendengus.
“Terserah kamu. Aku harap ini terakhir kalinya kamu bikin malu keluarga. Berhenti, Tar. Kasian Ayah sama Ibu.” Gilang merasa sudah cukup perkataannya. Ia berbalik menuju pintu.
“Aku nggak kayak gitu! Nggak gituuu! Keluar kamu!” Tara melempar bantalnya dan mengenai pintu yang baru saja ditutup Gilang. Tara melempar apa pun yang ada di sekitarnya. Buku-buku, guling, sepatu, tas sekolah.
“Pergiii!”
***
Pagi itu di ruang kelas tiga, seorang anak perempuan masih tak mau keluar kelas. Ditatapnya kotak bekal warna biru bergambar Princess, yang tergeletak di atas meja. Bu guru Novika kembali ke kelas, berniat ingin mengambil ponselnya yang ketinggalan. Dia tidak sengaja melihat Luna yang tengah terdiam sendirian.
“Luna, kok nggak main?” Luna melihat Bu Novika yang berdiri di ambang pintu, hendak keluar. Dia menggeleng.
“Luna males main, Bu.” Bu Novika memandangi anak perempuan itu. Wajah Luna terlihat lebih murung dari biasa. Dia menghampiri anak muridnya.
“Lho, kok males. Memangnya kenapa? Luna sakit? Nggak biasanya lho murung gini,” Bu Novika mengelus rambut Luna. Luna tak menjawab. Memandang ibu gurunya itu.
“Bu, Tara ke mana?” Sekarang Bu Novika tahu penyebabnya. Diperhatikan, akhir-akhir ini Luna cukup dekat dengan Tara. Ia mendengus pelan. Agak khawatir.
“Tara sakit, Sayang. Jadi Luna males main karena mikirin Tara?” Luna terlihat malu-malu. Namun perlahan mengangguk.
“Sakit apa ya, Bu?”
“Demam. Kamu nggak usah khawatir. Tara pasti baik-baik saja. Doakan Tara biar sembuh,” ujar Bu Novika. Luna tersenyum.
“Iya, Bu. Luna pasti doain Tara.”
“Nah, ya udah. Sekarang Luna nggak boleh sedih lagi, ya. Luna bisa main sama yang lain.”
Luna menggeleng.
“Luna maunya main sama Tara. Luna nggak mau main sama yang lain.” Bu Novika mendesah pelan.
“Ya sudah. Luna baik-baik ya. Ibu tinggal ke kantor,” Bu Novika pergi meninggalkan ruang kelas tiga. Selama berjalan menuju kantor, wanita itu cukup kepikiran tentang Luna. Dia khawatir melihat kedekatan Luna dan Tara. Ditakutkan Tara membawa pengaruh buruk baginya. Tapi ... Bu Novika segera membuang cepat pikirannya. Dia tidak boleh membeda-bedakan murid. Senakal dan sebodoh apa pun Tara, dia tetap muridnya. Bu Novika tidak boleh pilih kasih.
***
Tara membuka pintu kamarnya terhuyung. Kepalanya pusing. Perlahan ia menggapai pintu. Dilihatnya jam yang bertengger di ujung lorong. Pukul 8 pagi. Sudah dipastikan rumahnya sepi.
Jadi nggak ada yang bangunin Tara? Atau bahkan tanya keadaan?
Gumamnya dalam hati. Tara menarik napas panjang, berusaha masa bodoh. Dia berjalan tertatih menuju ruang tengah. Di sini, Tara menggayuh kotak P3K. Mencari obat pusing.
“Sialan!” Tara memaki. Dia tidak tahu harus meminum obat yang mana. Tara berusaha membaca tulisan obat itu, tapi tulisannya kabur.
“bara ... barace ... arrgh!” Tara kesal membanting tutup P3K. Daripada ngaco minum obat yang mana, dia memilih rebahan di sofa krem yang memenuhi sudut ruangan ini.
Tara mengambil toples berisi cemilan. Memenuhi mulutnya degan makanan dan menghidupkan televisi, mengganti-ganti chanel. Tak ada yang menarik baginya. Tara melempar remote itu ke meja bersamaan dengan matinya televisi.
Dia merasa terusik. Bukan hanya tayangan televisinya, tapi ruangan ini seperti kutukan baginya. Ditatapnya tembok-tembok ruangan ini yang penuh dengan foto-foto Gilang. Piagam dan sebuah lemari kayu di sisi televisi penuh piala kemenangan Gilang.
Tara bangkit menghampiri salah satu piagam Gilang. Itu piagam terakhir yang diterima Gilang tahun kemarin saat Gilang kelas 1 SMP. Meski dia kesusahan membaca, Tara bisa melihat tulisan besar di tengah yang ditulis tebal.
Kami berikan dengan bangga kepada :
GEMILANG MAHESA PUTRA
SMP Negeri Tunas Bangsa
Sebagai Juara 1 Olimpiade sains Nasional (OSN) tingkat Provinsi tahun 2010
Tara menatap sengit. Gara-gara benda-benda ini, ayah selalu membanding-bandingkan ia dengan Gilang. Piagam ini yang membuat ayah tidak hadir dalam penerimaan raportnya, dan memilih hadir di penerimaan raport Gilang. Semenjak Tara sekolah, hanya ibu yang berkenan mengambilkan raportnya. Dan sialnya pada saat itu, Tara tidak naik kelas, menetap di kelas tiga. Tara frustrasi. Ia mengacak rambut.
“Gimana, Nak di sekolah tadi?” Ayah membuka pembicaraan malam ini. Ibu sibuk membawa piring ke meja makan di bantu Gilang. Juga nasi beserta lauk-pauknya.
“Baik, Yah. Tadi Gilang ulangan harian. Alhamdulillah nilainya sempurna,” Gilang mengambil duduk di salah satu sisi.
“Kamu hebat. Ayah selalu percaya sama kamu. Kamu memang selalu bisa diandalkan,” Ayah tersenyum manggut-manggut. Ibu juga sudah duduk di meja makan.
“Gilang, panggil adik kamu, gih!” pinta ibu.
“Kebiasaan anak itu,” Ayah menyahut sinis. Gilang tak banyak bicara. Dia menurut saja menuju kamar adiknya. Menggedor-gedor keras kamar Tara. Anak laki-laki yang tengah meringkuk di kamar tidak bergerak. Dia masih terpejam.
“Tar, bangun. Nyusahin banget sih. Ini waktunya makan malam. Seharusnya kamu datang ke meja makan tanpa perlu dipanggil,” celoteh Gilang. Tapi tak ada sahutan dari dalam kamar.
“Ada apa Gilang?” Terdengar dari ruang makan suara ibu.
“Nggak ada apa-apa, Bu.” Gilang menyahuti. Dia sudah mulai kehabisan kesabaran. Anak laki-laki itu mendorong keras pintu kamar Tara.
“Bangun, Bodoh!” Mendengar suara berisik, Tara akhirnya menggeliat juga.
“Apaan sih!” protesnya. “Ganggu orang aja. Bisa nggak biasa aja,” sungut Tara. Gilang mendesah pelan. Menahan emosi.
“Kamu tuh yang apaan. Udah tau jamnya makan malam malah tidur. Dipanggil tuh sama Ibu,” tak banyak kata. Gilang segera balik menuju pintu.
“Aku nggak lapar!” Suara gebrakan terdengar. Tara memilih tidur lagi. Malam ini tubuhnya panas. Sejak perkelahian itu, badannya terasa sakit-sakit semua. Dan sekarang demam. Apalagi seharian tadi Tara tidak makan. Memilih menyendiri di kamar. Malas bertatap muka dengan keluarganya.
“Mana dia?” Ayah menyambut kedatangan Gilang.
“Males katanya, Yah.”
“Hrrrghh! Anak itu!” Ayah menggeram.
“Jangan kasih makan sekalian!”
***
Briliantara Ega Putra. Luna memandangi papan absensi siswa. Tertera nama Tara di sana. Ini sudah hari kedua Tara nggak masuk. Luna khawatir dengan keadaan Tara. Dia kemarin sempat mengusulkan kepada Egy si ketua kelas untuk menjenguk Tara. Tapi ditolak mentah-mentah.
“Maafin ya, Lun. Aku nggak bisa maksa temen-temen yang lain. Mereka nggak ada yang mau njenguk Tara. Lagian kamu kan tau sendiri, Tara anaknya kayak apa,” ujar Egy selepas istirahat. Luna menumpukan janggutnya ke meja. Pikirannya masih memikirkan Tara. Pokoknya nanti, Luna harus minta dianterin Mama buat jenguk Tara. Luna nggak mau tahu.
Saat jam istirahat, Luna memberanikan diri ke kantor menghadap Bu Novika. Guru bahasa sekaligus wali kelasnya.
“Bu, boleh minta alamat rumah Tara?” Luna menggigit bibir. Terkesan malu-malu. Bu Novika tersenyum mempersilakan Luna duduk.
“Buat apa Luna?” Anak perempuan berkepang dua itu diam. Bu Novika paham siapa Luna. Dia memang sedikit pemalu. Berbeda dengan anak-anak yang lain. Itu yang membuat Bu Novika terheran. Bagaimana bisa Luna yang pemalu itu, bisa temenan sama Tara yang terkenal nakal. Bandel dan suka berkelahi. Lagi-lagi, Bu Novika memikirkan pertemanan mereka. Takut kalau sampai Tara membawa dampak buruk bagi Luna.
“Luna pengen jenguk Tara,” ujarnya lirih. Bu Novika menghela napas. Sebagian dari sisinya merasa ditampar. Bahkan dirinya sama sekali tidak terbesit untuk menjenguk anak didiknya.
“Kemarin Luna bilang ke teman-teman. Tapi nggak ada yang mau. Jadi Luna mau jenguk sendiri aja.” Bu Novika berpikir sejenak.
“Yaudah, nanti Luna jenguknya sama Ibu aja, ya. Kita lihat Tara bareng-bareng,” seketika mata Luna berbinar.
“Beneran, Bu?” Bu Novika mengangguk mantap.
“Yeay! Makasih ya, Bu.” Luna berlari kembali ke kelas dengan riang. Bu Novika senyum-senyum melihat antusias Luna.
***
Terik matahari tak menyurutkan semangat Luna untuk pergi ke rumah Tara. Dengan dibonceng Bu Novika, mereka berangkat siang ini ke rumah Tara. Bu Novika juga sudah meminta izin ke Mama Luna. Supaya tidak usah menjemput anaknya. Karena Bu Novika nanti yang mengantar pulang Luna.
Di halaman depan rumah bercat biru, Bu Novika memberhentikan motornya. Suasana rumah ini sepi dan nyaman. Ia menekan bel yang berada di sisi kiri pagar besi. Tak lama, seorang wanita berusia sekitar 30-an keluar.
“Lho, Bu Novika sama Luna, toh,” sambut Ibu Tara membukakan pintu pagar. Bu Novika tersenyum. Luna salim pada ibu Tara.
“Anak manis,” ujar Ibu Tara membelai kepala Luna.
“Kami ke sini mau liat Tara, Bu.” Luna terlihat tak sabar ingin ketemu Tara. Kakak kelasnya, yang menjadi teman sekelasnya.
“Wah jadi nggak enak. Sampai repot-repot.”
“Ah, tidak, Bu. Ini sudah kewajiban saya sebagai wali kelas Tara,” timpal Bu Novika.
“Yuk, masuk!” Luna berjalan mendahului dengan semangat. Bu Novika membawa masuk motor ke halaman rumah Tara.
“Taranya di mana?” Luna bertanya tak sabar.
“Di kamar. Semalam Tara demam. Tapi sekarang agak mendingan. Bentar ya, Tante buatin minum dulu. Sebentar ya, Bu guru.” Bu Novika mencegah. Tapi Ibu Tara bersikukuh.
“Tante, boleh Luna nemuin Tara?” Ibu Tara tersenyum.
“Boleh dong. Luna bisa ke kamar Tara. Ayo Tante tunjukin kamarnya,” Luna mengikuti Ibu Tara. Sedang Bu Novika hanya memandangi anak didiknya itu yang sangat bersemangat.
Luna berdiri di ambang pintu. Melihat Tara yang tengah tidur tertutup selimut tebal. Luna mendekat, berjalan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Luna menutup mulut saat melihat kondisi wajah Tara yang babak belur. Dengan hati-hati coba disentuhnya wajah itu.
“Mau ngapain kamu?” Tara terlonjak kaget. Dia hampir saja memelintir tangan Luna. Luna sendiri terkejut sekaligus mringis.
“Luna?” Tara langsung melepas cekalannya.
“Maaf. Aku pikir siapa,” ujar Tara. Dia bangkit duduk.
“Luna nggak papa kok, Tara.” Luna duduk di tepi ranjang. Tara mengamati heran.
“Kok kamu bisa ada di sini? Ngapain?”
“Jenguk Tara. Abis Tara udah 2 hari nggak masuk. Luna khawatir.” Tara mendesah pelan.
“Tara, itu kenapa lebam-lebam semua?” Tara terdiam memandangi. Falaluna Alicea. Sekarang Tara sudah mampu mengingat betul siapa nama anak perempuan ini. Setelah hampir satu tahun, Luna berjuang keras menjadi temannya.
“Aku berkelahi,” ujarnya. Luna ternganga, mendelik.
“Tapi Tara nggak papa, kan? Nggak ada luka yang parah?” Luna coba mengecek keadaan Tara yang masih terpaku.
“Nggak papa, kok. Lun, kamu nggak seharusnya ke sini.”
“Lho, kenapa? Tara nggak suka dijenguk Luna?” Terlintas tatapan kecewa di wajah Luna. Tara menggeleng.
“Enggak. Cuma aku nggak pengen aja kamu liat aku dalam keadaan begini. Aku berkelahi lagi. Padahal aku udah janji sama kamu buat nggak berkelahi. Tapi mereka selalu hina aku. Aku nggak bisa tinggal diam.” Luna mendesah pelan.
“Jangan disesali. Luna nggak marah kok. Tapi Tara harus bisa kontrol emosi. Luna harap, setelah ini Tara berhenti kelahi. Jangan ladeni mereka.”
“Mereka itu jahat!” sanggah Tara.
“Luna tau. Tapi alangkah baiknya Tara nggak ladenin. Tara itu kuat. Tara berani. Luna juga tau, kalo Tara anak baik. Tara harus tunjukin ke semua orang kalo Tara bisa,” Tara terdiam.
“Sekarang Tara maukan janji sama Luna buat nggak kelahi lagi?” Luna mengangkat kelingkingnya.
“Ayo, jawab Tara ...,” desak Luna. Yang akhirnya Tara mengangkat kelingkingnya juga.
“Nah, gitu, dong!” Luna tersenyum.
“Tapi Luna janji ya, nggak ninggalin Tara. Cuma Luna yang mau dengerin Tara, percaya sama Tara. Selain Luna, nggak ada lagi.” Luna mengangguk mantap. Setelah kedatangan Luna, Tara merasa dadanya dipenuhi oksigen. Dalam hatinya berdoa. Semoga dia dan Luna bisa temenan selamanya.
“Oh, iya. Luna hampir lupa. Luna punya sesuatu buat Tara,” Luna tergopoh membuka ransel pinknya.
“Apa?” Luna tak menyahut. Dia sibuk memilah tumpukan buku. Mengambil sesuatu yang berada paling bawah di dalam tasnya.
“Nah ini dia. Tadaaa ...!” Luna menunjukan sebuah kotak kayu klasik berbentuk hati dan membukanya. Perlahan, kotak itu mengalunkan nada merdu.
“Kotak musik?” Luna mengangguk. Menyodorkan benda itu ke Tara. Tara mengambilnya.
“Buat apa?”
“Nanti, kalo Tara sedih, kesel atau apa pun, Tara dengerin ini aja. Luna suka lagu-lagunya,” terang Luna. Alunan mozart mengiringi perbincangan mereka. Tara tersenyum. Buru-buru menutup ketika Ibu Guru Novika dan ibunya menghampiri mereka.
***
Tara tidak tahu apa yang terjadi malam ini. Usai kepergian Luna dan Bu Novika, anak laki-laki itu terus saja memandangi kotak musik dari Luna. Di kamar sebelah, terdengar ribut-ribut. Tara bangun melongokkan separuh tubuhnya keluar kamar.
“Ibu?” Tara melihat ibu baru saja keluar dari kamar Gilang membawa tas yang belum sempat terrisleting. Menyembul di sana baju Gilang. Seolah paham dengan tatapan Tara, ibu menatapnya khawatir.
“Gilang keserempet mobil. Tulang keringnya retak. Ibu harus ke rumah sakit. Kamu di rumah ya,” ujarnya tergopoh-gopoh. Tara melongo.
“Ayah udah tau?”
“Ayahmu langsung berangkat ke rumah sakit. Ibu takut kena serangan jantung. Tara taukan Ayah nggak bisa kaget?” Ibu menelengkan wajah menatap Tara. Tara mendesah pelan.
“Tara paham, Bu. Apa pun yang menyangkut Kak Gilang, pasti bikin Ayah kaget. Secara Kak Gilang kan anak kesayangannya. Beda sama Ta....”
“Tara!” Ibu menatap tajam. Tara menghentikan kalimatnya dan memilih menutup pintu kamar.
“Semoga cepet sembuh. Salam buat dia,” ketusnya. Dia yang dimaksud adalah Gilang. Tara nggak mau sebut-sebut nama Gilang lagi.
***
Tara tidak tahu kapan mereka pulang, pagi-pagi dilihatnya ayah tengah bersantai membaca koran di ruang tengah. Sedang ibu masih sibuk di dapur. Malas bertatap muka dengan ayah, Tara menghampiri ibu.
“Kok belum siap-siap?” herannya sambil merapikan kerah seragam.
“Ibu juga. Nggak biasanya jam segini masak. Biasanya udah pada rapi aja. Tumben?” singgung Tara. Ibu menatapnya tersenyum.
“Iya nih. Ibu buatin bubur buat Gilang.” Ibu mengaduk isi panci dengan sendok sayur. Tara menatapnya sinis.
“Oh. Terus dia ke mana?”
“Dia? Gilang maksudmu?”
“Ya siapa lagi,” jawaban Tara terdengar sengit. Tapi ibu tidak menyadarinya.
“Emang kamu nggak tau? Dokter udah ngebolehin pulang semalem. Katanya bisa rawat jalan. Tapi harus digips kakinya. Oh iya Tara, tolong bawain ini ya, buat Gilang.” Ibu menuangkan bubur di mangkuk. Tara mendengus.
“Kok aku, sih?”
“Terus Ibu harus nyuruh siapa lagi? Kan nggak mungkin Ibu nyuruh Gilang ke sini? Ibu juga mau buatin kamu nasi goreng, nih.” Tara manyun. Terpaksa mengambil mangkuk yang disodorin ibunya.
“Nah gitu dong. Sekali-kali kayak kakakmu, Tar. Gilang itu nggak pernah ngebantah kalo disuruh.” Tara berdecak.
“Bisa nggak sih, Ibu nggak usah nyama-nyamain aku sama dia terus?” kesalnya berjalan cepat menuju kamar kakaknya. Ibu menatap punggung Tara yang menghilang di pintu dapur. Ia menghela napas panjang.

Other Stories
Chronicles Of The Lost Heart

Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...

Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Kesempurnaan Cintamu

Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...

2r

Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Download Titik & Koma