BAB V: TITIK BALIK— SEBUAH SURAT DARI KAKAK
Hari yang Berbeda
Hari itu, angin bertiup dari arah timur — tanda ombak akan tenang. Arunika bangun lebih awal dari biasanya. Ia tidak membuka ponsel. Ia tidak langsung kembali ke kamar. Ia duduk di teras, menatap laut yang berkilauan di bawah sinar matahari pagi.
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia merasa hatinya tidak sepenuhnya kosong.
Masih ada luka. Masih ada rasa gagal. Tapi ada juga sesuatu yang baru: keinginan untuk mencoba.
Ia tidak tahu dari mana datangnya. Mungkin dari kata-kata ayahnya. Mungkin dari kalung kerang yang kini selalu ia kenakan. Mungkin dari ombak yang setia datang dan pergi, meski tidak pernah diminta.
Tapi ia tahu: ia tidak ingin terus diam.
Raka Datang Dengan Angin Baru
Pada sore harinya, Arunika melihat sosok tinggi berjalan mendekati rumah. Topi bisbolnya sudah pudar, kaosnya lusuh, tapi matanya bersinar.
“Kak Raka!” serunya, berlari kecil.
Raka tersenyum lebar. Ia membawa tas gendong dan kotak kue khas Jogja. “Aku bawa oleh-oleh. Ada geblek, ada dawet, ada sosis solo.”
Arunika tertawa. “Kamu kayak bawa pasar.”
“Ya, biar kamu kangen Jogja sebelum kamu pergi,” jawab Raka, sambil mengedip.
Arunika berhenti tertawa. “Apa maksudmu?”
Raka menatap adiknya. “Aku baca statusmu. Kamu bilang kamu gagal. Tapi menurutku, kamu belum mencoba yang lain.”
Mereka duduk di bawah pohon kelapa tua, tempat dulu mereka sering bermain saat kecil. Raka membuka tasnya, mengeluarkan amplop coklat yang sudah agak kusut.
“Ini surat dari temanku di Jogja. Dia kerja di komunitas literasi. Mereka butuh relawan — bantu ngajar anak-anak, urus perpustakaan kecil. Makan dan tempat tinggal disediakan. Kamu bisa coba, Run.”
Arunika menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya, ada surat tulisan tangan dan brosur kecil berjudul:
“Baca Bersama: Menyemai Harapan dari Sudut Kota”
Kami mencari orang-orang muda yang peduli, yang ingin belajar dan tumbuh bersama. Tidak perlu lulusan universitas. Cukup niat dan hati yang tulus. Kami percaya, setiap manusia punya cerita yang layak didengar.”
Arunika menatap Raka. “Tapi… aku nggak punya uang, Kak. Biaya hidup di Jogja mahal.”
Raka mengangguk. “Aku tahu. Tapi kamu nggak perlu bayar apa-apa. Mereka yang akan bantu kamu. Mereka butuh orang seperti kamu — yang pernah merasa tersesat, tapi masih punya hati.”
Arunika menunduk. “Tapi aku nggak punya apa-apa. Aku bukan siapa-siapa.”
“Kamu salah,” kata Raka pelan. “Kamu punya sesuatu yang lebih berharga dari gelar: kamu punya empati. Kamu tahu rasanya jatuh. Dan itu yang membuatmu bisa memahami orang lain.”
Arunika diam. Ia menatap laut di kejauhan. Ombak datang pelan, seperti mengangguk.
Malam itu, Arunika tidak langsung tidur. Ia duduk di batu karang, memegang kalung kerang, membaca ulang surat itu kembali.
Ia membayangkan dirinya di kota besar. Di gang sempit. Di ruang kecil penuh buku. Mengajar anak-anak yang mungkin tidak punya sepatu, tapi punya senyum yang lebar.
Lalu ia membayangkan dirinya tetap di Tirtamulya. Terus duduk di teras. Terus menatap laut. Terus hidup dalam bayang-bayang kegagalan.
Ia menulis di jurnalnya:
“Aku takut. Aku takut gagal lagi. Aku takut tidak cukup baik. Aku takut jauh dari laut.
Tapi aku juga takut: kalau aku tidak pergi, aku akan menyesal seumur hidup.
Laut, apakah ini saatnya aku berlayar?”
Angin berhembus pelan. Ombak datang, membasahi kakinya, lalu surut.
Seperti jawaban:
"Berlayarlah. Aku akan tetap di sini. Aku selalu di sini."
Keesokan pagi, Arunika masuk ke dapur. Ibunya sedang menyiapkan jamu.
“Bu…” panggilnya pelan.
Bu Sari menoleh. “Iya, Nak?”
“Aku… mau pergi ke Jogja. Jadi relawan di komunitas baca.”
Ibu berhenti mengaduk. Matanya berkaca-kaca. “Sendirian?”
Arunika mengangguk. “Iya. Tapi aku akan baik-baik saja.”
Bu Sari mendekat, memeluk erat. “Kamu nggak perlu jadi dokter atau apoteker buat membuat kami bangga. Kamu sudah membuat kami bangga sejak kamu lahir.”
Ia menatap mata Arunika.
“Pergilah. Tapi janji, kamu akan kembali.”
Arunika mengangguk. “Aku janji, Bu.”
Persiapan yang Sederhana
Arunika tidak punya banyak. Ia hanya punya:
Satu koper kecil warisan Raka.
Beberapa buku tulis dan pena.
Jurnalnya.
Kalung kerang dari Nenek Laut.
Foto keluarga.
Ia menulis surat kecil untuk Nenek Laut:
Ia juga menulis di jurnal:
“Hari ini, aku memilih. Bukan karena aku sudah sembuh. Tapi karena aku ingin mencoba. Aku tidak tahu jalan selanjutnya. Tapi aku tahu: aku harus mulai.”
Malam sebelum berangkat, Arunika kembali ke pantai.
Ia duduk di batu karang, memandang laut yang tenang. Ia melempar satu kerikil kecil ke air.
“Terima kasih,” bisiknya. “Karena kamu selalu mendengarkan. Karena kamu tidak pernah menyerah. Karena kamu mengajariku bahwa surut bukan akhir — itu hanya persiapan untuk pasang.”
Ia memegang kalung kerang.
“Aku akan kembali. Aku janji.”
Ombak datang, memeluk pantai, lalu surut.
Seperti mengatakan:
“Pergilah. Tapi jangan lupa: jangkarmu tetap di sini.”
Hari itu, angin bertiup dari arah timur — tanda ombak akan tenang. Arunika bangun lebih awal dari biasanya. Ia tidak membuka ponsel. Ia tidak langsung kembali ke kamar. Ia duduk di teras, menatap laut yang berkilauan di bawah sinar matahari pagi.
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia merasa hatinya tidak sepenuhnya kosong.
Masih ada luka. Masih ada rasa gagal. Tapi ada juga sesuatu yang baru: keinginan untuk mencoba.
Ia tidak tahu dari mana datangnya. Mungkin dari kata-kata ayahnya. Mungkin dari kalung kerang yang kini selalu ia kenakan. Mungkin dari ombak yang setia datang dan pergi, meski tidak pernah diminta.
Tapi ia tahu: ia tidak ingin terus diam.
Raka Datang Dengan Angin Baru
Pada sore harinya, Arunika melihat sosok tinggi berjalan mendekati rumah. Topi bisbolnya sudah pudar, kaosnya lusuh, tapi matanya bersinar.
“Kak Raka!” serunya, berlari kecil.
Raka tersenyum lebar. Ia membawa tas gendong dan kotak kue khas Jogja. “Aku bawa oleh-oleh. Ada geblek, ada dawet, ada sosis solo.”
Arunika tertawa. “Kamu kayak bawa pasar.”
“Ya, biar kamu kangen Jogja sebelum kamu pergi,” jawab Raka, sambil mengedip.
Arunika berhenti tertawa. “Apa maksudmu?”
Raka menatap adiknya. “Aku baca statusmu. Kamu bilang kamu gagal. Tapi menurutku, kamu belum mencoba yang lain.”
Mereka duduk di bawah pohon kelapa tua, tempat dulu mereka sering bermain saat kecil. Raka membuka tasnya, mengeluarkan amplop coklat yang sudah agak kusut.
“Ini surat dari temanku di Jogja. Dia kerja di komunitas literasi. Mereka butuh relawan — bantu ngajar anak-anak, urus perpustakaan kecil. Makan dan tempat tinggal disediakan. Kamu bisa coba, Run.”
Arunika menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya, ada surat tulisan tangan dan brosur kecil berjudul:
“Baca Bersama: Menyemai Harapan dari Sudut Kota”
Kami mencari orang-orang muda yang peduli, yang ingin belajar dan tumbuh bersama. Tidak perlu lulusan universitas. Cukup niat dan hati yang tulus. Kami percaya, setiap manusia punya cerita yang layak didengar.”
Arunika menatap Raka. “Tapi… aku nggak punya uang, Kak. Biaya hidup di Jogja mahal.”
Raka mengangguk. “Aku tahu. Tapi kamu nggak perlu bayar apa-apa. Mereka yang akan bantu kamu. Mereka butuh orang seperti kamu — yang pernah merasa tersesat, tapi masih punya hati.”
Arunika menunduk. “Tapi aku nggak punya apa-apa. Aku bukan siapa-siapa.”
“Kamu salah,” kata Raka pelan. “Kamu punya sesuatu yang lebih berharga dari gelar: kamu punya empati. Kamu tahu rasanya jatuh. Dan itu yang membuatmu bisa memahami orang lain.”
Arunika diam. Ia menatap laut di kejauhan. Ombak datang pelan, seperti mengangguk.
Malam itu, Arunika tidak langsung tidur. Ia duduk di batu karang, memegang kalung kerang, membaca ulang surat itu kembali.
Ia membayangkan dirinya di kota besar. Di gang sempit. Di ruang kecil penuh buku. Mengajar anak-anak yang mungkin tidak punya sepatu, tapi punya senyum yang lebar.
Lalu ia membayangkan dirinya tetap di Tirtamulya. Terus duduk di teras. Terus menatap laut. Terus hidup dalam bayang-bayang kegagalan.
Ia menulis di jurnalnya:
“Aku takut. Aku takut gagal lagi. Aku takut tidak cukup baik. Aku takut jauh dari laut.
Tapi aku juga takut: kalau aku tidak pergi, aku akan menyesal seumur hidup.
Laut, apakah ini saatnya aku berlayar?”
Angin berhembus pelan. Ombak datang, membasahi kakinya, lalu surut.
Seperti jawaban:
"Berlayarlah. Aku akan tetap di sini. Aku selalu di sini."
Keesokan pagi, Arunika masuk ke dapur. Ibunya sedang menyiapkan jamu.
“Bu…” panggilnya pelan.
Bu Sari menoleh. “Iya, Nak?”
“Aku… mau pergi ke Jogja. Jadi relawan di komunitas baca.”
Ibu berhenti mengaduk. Matanya berkaca-kaca. “Sendirian?”
Arunika mengangguk. “Iya. Tapi aku akan baik-baik saja.”
Bu Sari mendekat, memeluk erat. “Kamu nggak perlu jadi dokter atau apoteker buat membuat kami bangga. Kamu sudah membuat kami bangga sejak kamu lahir.”
Ia menatap mata Arunika.
“Pergilah. Tapi janji, kamu akan kembali.”
Arunika mengangguk. “Aku janji, Bu.”
Persiapan yang Sederhana
Arunika tidak punya banyak. Ia hanya punya:
Satu koper kecil warisan Raka.
Beberapa buku tulis dan pena.
Jurnalnya.
Kalung kerang dari Nenek Laut.
Foto keluarga.
Ia menulis surat kecil untuk Nenek Laut:
“Nek, aku mau pergi. Tapi aku bawa kalung ini. Aku bawa laut dalam hati. Terima kasih sudah mengajariku bahwa bertahan itu bukan tentang kuat, tapi tentang terus berjalan.”
Ia juga menulis di jurnal:
“Hari ini, aku memilih. Bukan karena aku sudah sembuh. Tapi karena aku ingin mencoba. Aku tidak tahu jalan selanjutnya. Tapi aku tahu: aku harus mulai.”
Malam sebelum berangkat, Arunika kembali ke pantai.
Ia duduk di batu karang, memandang laut yang tenang. Ia melempar satu kerikil kecil ke air.
“Terima kasih,” bisiknya. “Karena kamu selalu mendengarkan. Karena kamu tidak pernah menyerah. Karena kamu mengajariku bahwa surut bukan akhir — itu hanya persiapan untuk pasang.”
Ia memegang kalung kerang.
“Aku akan kembali. Aku janji.”
Ombak datang, memeluk pantai, lalu surut.
Seperti mengatakan:
“Pergilah. Tapi jangan lupa: jangkarmu tetap di sini.”
Other Stories
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
Bahagiakan Ibu
Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...