BAB III: UJIAN MASUK DAN MIMPI YANG RETAK
Hari yang Membeku
Ujian nasional bukan momok bagi Arunika. Ia selalu siap. Ia belajar lebih awal, mengerjakan soal-soal tahun lalu. Namun, ujian masuk perguruan tinggi negeri adalah hal lain. Di sana, bukan hanya soal yang sulit, tapi juga persaingan yang sangat ketat. Ribuan pelajar dari seluruh provinsi, semua dengan mimpi yang sama.
Arunika mendaftar ke jurusan Farmasi di Universitas Negeri Jawa Timur, dan untuk mimpi yang sesungguhnya ia mendaftarkan diri ke jurusan hukum sebagai pilihan kedua, yang tak pernah ia bicarakan dengan siapapun. Ia yakin, dengan nilai rapor yang bagus dan prestasi ekstrakurikuler, peluangnya besar.
Hari pengumuman tiba.
Ia membuka laman pengumuman dengan tangan gemetar. Ia mengetikkan nomor peserta, menunggu loading, lalu…
TIDAK LULUS.
Layar ponselnya seolah membeku. Dunia di sekitarnya berhenti berputar.
Ia membaca ulang. Kali kedua. Kali ketiga. Tapi hasilnya tetap sama.
Tidak lulus.
Air matanya mengalir tanpa suara. Ia menutup muka dengan bantal, berharap ini hanya mimpi. Tapi nyatanya, ini nyata. Ia gagal.
Ketika ibunya masuk ke kamar, melihat Arunika menangis, ia hanya bisa memeluk erat.
“Nggak apa-apa, Nak. Masih ada jalur lain.”
Tapi Arunika tahu: tidak ada jalur lain.
Biaya kuliah di universitas swasta sangat mahal. Biaya pendaftaran saja sudah setara dengan penghasilan ayahnya selama tiga bulan. Belum lagi biaya hidup, buku, praktikum, transportasi.
“Kita nggak mampu, Nak,” kata ayahnya pelan, sambil menatap lantai. “Kita sudah nggak punya tabungan. Raka juga lagi nabung buat rumah.”
Arunika mengangguk. Ia tak bisa menyalahkan siapa pun. Ia hanya merasa… kosong.
Malam di Tepi Laut
Malam itu, ia kabur ke pantai. Duduk di batu karang yang biasa jadi tempatnya merenung. Angin malam menusuk kulit, tapi ia tak peduli.
“Aku gagal,” bisiknya, menatap laut yang gelap gulita. “Aku mengecewakan semua orang.”
Ombak datang pelan. Tidak keras. Seperti menjawab:
"Kamu belum gagal. Kamu hanya belum sampai."
Ia menangis. Tidak keras. Hanya isak yang terbawa angin, larut dalam suara laut.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa laut bukan sekadar teman.
Ia adalah tempat pulang.
Ujian nasional bukan momok bagi Arunika. Ia selalu siap. Ia belajar lebih awal, mengerjakan soal-soal tahun lalu. Namun, ujian masuk perguruan tinggi negeri adalah hal lain. Di sana, bukan hanya soal yang sulit, tapi juga persaingan yang sangat ketat. Ribuan pelajar dari seluruh provinsi, semua dengan mimpi yang sama.
Arunika mendaftar ke jurusan Farmasi di Universitas Negeri Jawa Timur, dan untuk mimpi yang sesungguhnya ia mendaftarkan diri ke jurusan hukum sebagai pilihan kedua, yang tak pernah ia bicarakan dengan siapapun. Ia yakin, dengan nilai rapor yang bagus dan prestasi ekstrakurikuler, peluangnya besar.
Hari pengumuman tiba.
Ia membuka laman pengumuman dengan tangan gemetar. Ia mengetikkan nomor peserta, menunggu loading, lalu…
TIDAK LULUS.
Layar ponselnya seolah membeku. Dunia di sekitarnya berhenti berputar.
Ia membaca ulang. Kali kedua. Kali ketiga. Tapi hasilnya tetap sama.
Tidak lulus.
Air matanya mengalir tanpa suara. Ia menutup muka dengan bantal, berharap ini hanya mimpi. Tapi nyatanya, ini nyata. Ia gagal.
Ketika ibunya masuk ke kamar, melihat Arunika menangis, ia hanya bisa memeluk erat.
“Nggak apa-apa, Nak. Masih ada jalur lain.”
Tapi Arunika tahu: tidak ada jalur lain.
Biaya kuliah di universitas swasta sangat mahal. Biaya pendaftaran saja sudah setara dengan penghasilan ayahnya selama tiga bulan. Belum lagi biaya hidup, buku, praktikum, transportasi.
“Kita nggak mampu, Nak,” kata ayahnya pelan, sambil menatap lantai. “Kita sudah nggak punya tabungan. Raka juga lagi nabung buat rumah.”
Arunika mengangguk. Ia tak bisa menyalahkan siapa pun. Ia hanya merasa… kosong.
Malam di Tepi Laut
Malam itu, ia kabur ke pantai. Duduk di batu karang yang biasa jadi tempatnya merenung. Angin malam menusuk kulit, tapi ia tak peduli.
“Aku gagal,” bisiknya, menatap laut yang gelap gulita. “Aku mengecewakan semua orang.”
Ombak datang pelan. Tidak keras. Seperti menjawab:
"Kamu belum gagal. Kamu hanya belum sampai."
Ia menangis. Tidak keras. Hanya isak yang terbawa angin, larut dalam suara laut.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa laut bukan sekadar teman.
Ia adalah tempat pulang.
Other Stories
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...
Cinta Satu Paket
Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...