Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Reads
603
Votes
9
Parts
12
Vote
Report
Arungi waktu; ombak bergulung, waktu berderai—namun jangkar tak pernah ia turunkan
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Penulis Ivoryfloome

BAB III: UJIAN MASUK DAN MIMPI YANG RETAK

Hari yang Membeku

Ujian nasional bukan momok bagi Arunika. Ia selalu siap. Ia belajar lebih awal, mengerjakan soal-soal tahun lalu. Namun, ujian masuk perguruan tinggi negeri adalah hal lain. Di sana, bukan hanya soal yang sulit, tapi juga persaingan yang sangat ketat. Ribuan pelajar dari seluruh provinsi, semua dengan mimpi yang sama.

Arunika mendaftar ke jurusan Farmasi di Universitas Negeri Jawa Timur, dan untuk mimpi yang sesungguhnya ia mendaftarkan diri ke jurusan hukum sebagai pilihan kedua, yang tak pernah ia bicarakan dengan siapapun. Ia yakin, dengan nilai rapor yang bagus dan prestasi ekstrakurikuler, peluangnya besar.

Hari pengumuman tiba.

Ia membuka laman pengumuman dengan tangan gemetar. Ia mengetikkan nomor peserta, menunggu loading, lalu…

TIDAK LULUS.

Layar ponselnya seolah membeku. Dunia di sekitarnya berhenti berputar.

Ia membaca ulang. Kali kedua. Kali ketiga. Tapi hasilnya tetap sama.

Tidak lulus.

Air matanya mengalir tanpa suara. Ia menutup muka dengan bantal, berharap ini hanya mimpi. Tapi nyatanya, ini nyata. Ia gagal.

Ketika ibunya masuk ke kamar, melihat Arunika menangis, ia hanya bisa memeluk erat.
“Nggak apa-apa, Nak. Masih ada jalur lain.”

Tapi Arunika tahu: tidak ada jalur lain.

Biaya kuliah di universitas swasta sangat mahal. Biaya pendaftaran saja sudah setara dengan penghasilan ayahnya selama tiga bulan. Belum lagi biaya hidup, buku, praktikum, transportasi.

“Kita nggak mampu, Nak,” kata ayahnya pelan, sambil menatap lantai. “Kita sudah nggak punya tabungan. Raka juga lagi nabung buat rumah.”
Arunika mengangguk. Ia tak bisa menyalahkan siapa pun. Ia hanya merasa… kosong.

Malam di Tepi Laut

Malam itu, ia kabur ke pantai. Duduk di batu karang yang biasa jadi tempatnya merenung. Angin malam menusuk kulit, tapi ia tak peduli.

“Aku gagal,” bisiknya, menatap laut yang gelap gulita. “Aku mengecewakan semua orang.”

Ombak datang pelan. Tidak keras. Seperti menjawab:

"Kamu belum gagal. Kamu hanya belum sampai."

Ia menangis. Tidak keras. Hanya isak yang terbawa angin, larut dalam suara laut.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa laut bukan sekadar teman.
Ia adalah tempat pulang.


Other Stories
Namaku Amelia

Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...

Prince Reckless Dan Miss Invisible

Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...

Mendua

Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...

Pasti Ada Jalan

Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Download Titik & Koma