Pencuri Yang Tak Pernah Ada
Key segera bersiap-siap setelah makan malam lalu menelepon Genta dan Ane agar langsung saja ke rumah Gozali.
\"Kalian mau ke mana?\" tanya Papa yang tak sengaja mendengar pembicaraan Key.
\"Kami harus ke suatu tempat, Pa.\"
\"Ini sudah malam Key, besok saja,\" saran Papa. Dia khawatir jika Key keluar di malam seperti ini.
\"Maaf, Pa. Besok kan Key harus ke sekolah, nggak bisa pergi ke tempat itu.\" Bibir Key mencebik manja.
\"Pulang sekolah kan juga bisa.\"
\"Ini darurat, Pa. Nggak bisa nunggu sampe pulang sekolah.\"
\"Tapi apa yang sebenarnya kau dan Ane kerjakan malam-malam begini?\"
\"Key belum bisa ngejelasinnya sekarang, Pa. Nanti setelah pulang.\"
\"Kalau begitu jangan naik sepeda sendirian. Papa yang akan mengantar.\"
Bibir Key menyungging senyum.\"Oke, Pa.\"
Tak lama kemudian mobil Papa sudah meluncur ke arah jalan menuju rumah Pak Gozali. Lima menit sudah berlalu, mereka akhirnya tiba di depan rumah besar bertingkat dua.
\"Untuk apa kalian ke sini, Sayang?\" tanya Papa heran. Dia memandang rumah yang terhalang garis polisi itu. Papa mulai merasa khawatir.
\"Kami sedang memecahkan suatu kasus, Pa.\" Key menjawab santai. Dia tahu Papa lebih mudah memahami yang dikatakannya dibanding mama yang akan panik setengah mati ketika tahu anaknya melibatkan diri pada sesuatu yang mungkin berbahaya.
\"Kasus? Maksud kamu?\" alis Papa berkernyit.
\"Nanti aku jelasin, Pa ... tunggu!\" Key merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
\"Kartu nama ini mungkin bisa menjelaskan sedikit,\" kata Key menyodorkan kartu nama detektif mereka pada Papa. Dia pun cengar-cengir melihat wajah Papa yang bertambah bingung. Baru saja Papa akan berkomentar, Key sudah turun dari mobil dan berlari kecil ke pintu pagar rumah yang sudah terbuka lebar. Dia menunduk untuk melewati garis polisi itu.
\"Nanti jemput ya, Pa,\" teriak Key. Papa tampak mengangguk. \"Nanti Key telepon kalau semuanya sudah selesai.\"
\"Iya, Sayang,\" jawab Papa datar. Ekspresinya penuh tanda tanya.
Setelah mobil Papa pergi, Key berjalan masuk ke dalam rumah lalu terdengar suara Ane memanggil Key.
\"Genta mana, Ne?\" tanya Key setelah Ane sudah berdiri di sampingnya.
\"Dia belum datang, tapi Pak Wisnu dan seluruh keluarga ini sudah berkumpul di ruang tengah.\"
\"Kita tunggu Genta dulu, Ne.”
\"Nah, itu dia orangnya!\" seru Ane menunjuk pada anak laki-laki bertumbuh jangkung yang berjalan ke arah mereka.
\"Jadi bagaimana Key? apa kamu udah yakin dengan keputusanmu kali ini?\" tanya Genta tersenyum geli. Dia yakin bahwa kali ini Key akan berterima kasih atas analisanya yang cepat tanggap.
\"Ne, mana buku risetmu. Aku pengen baca beberapa bagian supayaku nggak lupa membeberkan bukti-buktinya.\"
Ane menyodorkan buku tersebut pada Key. Gadis tomboy itu pun mulai membaca tulisan yang tercantum lalu mebolak balik halamannya. Setelah berpikir sejenak, dia pun berkata mantap. \"Kurasa aku sudah yakin siapa pencurinya.\"
\"Kalau begitu, ayo kita masuk saja ke dalam!\" ajak Genta tak sabar.
Mereka bergegas ke ruang tengah. Seluruh anggota keluarga itu sudah berkumpul dan duduk di tempat mereka masing-masing. Melingkari sebuah meja pendek persegi-panjang. Sudah ada juga penyidik Wisnu yang menyambut mereka dengan tatapan bertanya-tanya.
\"O, ya aku rasa sudah saatnya kau mengungkap siapa pencurinya, Key. Aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi,\" desak Wisnu.
Genta dan Ane mengambil tempat duduk di sebelah penyidik Wisnu sementara Key masih berdiri tegap. Key berdehem pelan sebelum membuka suara.
\"Awalnya kami berpikir bahwa Hastio adalah pelakunya.\"
Semua anggota keluarga terkejut mendengar pengakuan Key.
\"Itu tidak benar, aku tidak mencuri surat dan uang-uang itu,\" sergah Hastio dengan nada tinggi.
\"Tenang Pak, aku belum selesai. Itu hanya dugaan awal kami ketika semua Alibi mengarah padamu. Saat malam terjadinya pencurian itu kau mendadak pergi .... \"
\"Aku mendapat telepon dari kantor untuk menyelesaikan pekerjaanku,\" sela Hastio.
\"Ya aku tahu tapi dengarkan dulu, Pak. Aku masih belum selesai.\" Key berusaha menenangkan Hastio.
\"Alibi selanjutnya saat ada orang yang mencurigakan datang ke rumah ini siang sebelum pencurian. Hanya Anda satu-satunya laki-laki yang berada di rumah selain Pak Gozali sendiri sebagai orang yang kehilangan barang-barangnya.\"
\"Tapi ada mbak Desya dan Kak Hartina juga di rumah ini, bagaimana mungkin mengarah padaku?\" bantah Hastio.
Sementara yang lainnya, ikut menyimak apa yang terjadi antara Key dan Hastio.
“Ya memang, tapi ada bukti lain yang menguatkan jika seseorang yang menemui Pria di pagar itu adalah seorang laki-laki. Setelah kepergian Genta dan Ane sore tadi, aku menemukan sebuah sepatu sebelah kiri di tumpukan mainan Tisya dan aku banyak bertanya pada anak itu.\"
\"Jadi Key, kamu sengaja menyuruh kami duluan karena mencurigai sesuatu?\" tanya Genta merasa Key tak adil pada mereka. \"Ah kamu curang,\" protesnya.
\"Maaf, Gen. Kupikir jika aku mengajak kalian, seseorang yang kucurigai mungkin akan melarang Tisya bicara padaku.\" Key memberi alasan.
\"Lantas apa yang dikatakan anak kecil itu?\" tanya Gozali penasaran.
\"Teruskan Key, \" sahut Ane.
\"Meskipun ada beberapa alibi yang menempatkan Hastio sebagai orang yang patut dicurigai, aku tidak yakin dia yang melakukannya karena bukti-bukti lain yang kutemukan saat penggeledahan.\"
\"Suamiku tidak mungkin mencuri di rumah orang yang sudah menolong di masa-masa sulit kami,\" kata Febriana tulus sembari mendekap Hastio. Tadinya dia hampir saja shock mendengar penuturan Key.
\"Ya, aku tahu bukti yang dikatakan Key itu. Gagang pintu Pak Hastio yang macet,\" kata Ane. \"Saat itu aku bertanya padanya dan dia mengatakan bahwa dia baru tahu ketika pulang dari kantor siang itu sekitar pukul 13.00 Wib. Mbak Febriana sendiri baru tahu mengenai gagang pintu yang macet itu ketika dia pulang sore hari dan dia juga berkata bahwa sebelum dia pergi gagang pintu itu baik-baik saja. Bukankah begitu Mbak?”
Febriana mengangguk mengiyakan ucapan Ane.
\"Selain yang dikatakan Ane, aku pun sudah menemukan letak surat-surat tanah itu disembunyikan,\" timpal Key.
Semua orang di ruangan itu terkesiap.
\"Aku rasa para penyidik belum sempat memeriksa kamar-kamar lain selain kamar Pak Gozali hingga mereka tidak menemukan benda tersebut.\" Key melirik pada penyidik Wisnu.
\"Kau benar anak Detektif, kami hanya memeriksa kamar Gozali saat dia melaporkan pencurian itu,\" kata Wisnu dengan nada pelan. \"Kami bisa saja melakukannya, tapi kalian datang mengacaukan tugas kami dengan menyebut diri kalian detektif.\" Wisnu kembali menyindir anak-anak.
Ane mendengus kesal. \"Huh dia mulai lagi,\" batinnya.
\"Ternyata begitu banyak hal yang kamu sembunyikan, Key,\" gerutu Genta. Aku bahkan tidak berpikir bahwa dugaanku salah.\"
\"Maaf teman-teman, aku ingin menjelaskan pada kalian, tapi aku rasa jika kita terlambat sedikit saja para penyidik ini akan menangkap orang yang salah.\"
\"Itu tidak mungkin terjadi,\" seringai Wisnu dengan wajah masam. \"Kami pasti menangkap pencuri sebenarnya.\" Wisnu tidak ingin anak-anak itu memandang remeh tim penyidik.
\"Cepat lanjutkan pembuktianmu! aku sudah bosan mendengar celotehan kalian,\" desak Gozali.
\"Baiklah, aku menemukan surat-surat tanah itu di laci kedua dari meja lampu tidur Hastio. Kalian ingat saat aku buru-buru berdiri waktu menggeledah kamarnya? Aku sudah melihat surat-surat itu tapi ....\"
\"Sudah kuduga pasti Hastio yang mencuri uang dan aset-asetku,\" tuduh Gozali menyela perkataan Key.
\"Aku tidak melakukannya,\" bentak Hastio.
\"Aku tidak menyangka kau melakukan hal itu, Hastio,\" lirih Hartina dengan suara nyaris tertahan.
\"Kak, percaya padaku. Aku bukan pencuri!\" Air muka Hastio merah padam.
\"Tenang ... aku minta kalian tenang, Key belum selesai menjelaskannya,\" lerai Wisnu.
\"Aku minta jangan berkomentar sebelum aku selesai.\" Key membesarkan suaranya. Dia menyempurnakan posisi berdirinya lebih tegak seolah dia sedang megajar dan memberi penjelasan pada murid-muridnya.
\"Aku memang menemukan surat-surat itu, tapi aku juga melihat kertas desain Hastio yang tertera Jam dan tanggal pembuatannya. Di sana tertulis pukul 20.00 Wib serta tanggal 20 Desember 2016, ada juga tanda tangan persetujuan Manajer Desain di sana. Aku berkesimpulan memang benar malam itu Hastio berada di kantor,\" Kata Key dengan tenang.
\"Baru satu bukti yang mematahkan tuduhan pada Hastio, selain itu menurutku jika memang Hastio pelakunya, seharusnya yang gagang pintunya macet karena dibuka paksa adalah pintu kamar Gozali, tempat Surat-surat dan uang itu tersimpan, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Mengenai surat-surat di kamar Hastio, jika memang dia yang mencurinya, tempat penyimpanannya itu aku rasa terlalu mudah untuk ditemukan ... juga tidak ada sejumlah uang seperti yang dilaporkan Gozali.\"
\"Bisa saja dia menyembunyikannya di tempat lain,\" komentar Desya.
\"Tidak. Dia tidak menyembunyikannya atau lebih tepatnya dia tidak pernah mengambil uang itu,\" sanggah Key.
\"Jadi Key, siapa pencuri sebenarnya?\" Genta makin tak sabar.
\"Sabar dikit, Gen.\" ketus Ane.
Key mendesah. Dia sebenarnya sulit mengungkapkannya, tapi mereka sudah terlibat jauh dan dia tidak ingin seseorang yang tidak pernah melakukannya akan menanggung kesalahan yang sebenarnya tak pernah ada. \"Pelakunya adalah Pak Gozali sendiri.\"
\"Apa?\" Genta dan Ane secara tak sengaja melontarkan tanya bersamaan.
Gozali mendegus geli. \"Jadi menurutmu aku mencuri milikku sendiri? jawaban yang tidak masuk akal. Dasar anak-anak!\"
\"Kasus ini bukan lelucon, Key. Sejak awal aku sudah menduga jika kalian hanyalah anak-anak pengacau yang sok pintar,\" cibir Wisnu.
\"Lebih tepatnya surat-surat tanah dan uang ratusan juta rupiah itu tak pernah dicuri, semua itu hanya rekayasa,\" tegas Key.
\"Apa maksudmu?\" Wisnu tercengang.
\"Ya, dengan cerdiknya Pak Gozali merencanakan semua ini.\"
\"Tapi Key bagaimana bisa?\" tanya Genta.
\"Orang misterius yang datang siang itu adalah manajer interior. Pak Gozali meneleponnya dan memerintahkan manajer itu untuk segera membuat desain furniture baru yang harus selesai malam itu untuk membuat si manajer memberikan pekerjaan pada Hastio saat Gozali mengajak mereka makan malam.\" Key memandang Tisya yang telah tertidur digendonganebriana.
\"Aku bertanya pada Tisya siapa yang datang hari itu. Gadis kecil yang pintar itu berkata Paman Manajer yang datang, aku ngerasa kalau anak itu seringelihat Manajer datang ke rumah ini hingga dia bisa menghafal wajah laki-laki itu. tentang sepatu yang diambil Tisya diam-diam, Pak Gozali sendiri yang melepasnya ketika dia merasa bunyi ketukan sepatunya bisa membuat orang rumah keluar untuk melihat siapa yang datang. Sebelum itu Gozali telah mematikan Cctv agar pertemuan mereka tidak terekam.\"
\"Tapi Key, kapan semua surat tanah dan uang itu dipindahkan?\" selidik Genta.
\"Ketika makan siang, saat semua orang di rumah berkumpul untuk makan siang. Waktu itu Hastio belum tiba di rumah karena kata Ane, Hastio mendapati gagang pintu yang macet sekitar pukul 13.00. Artinya Pak Gozali melakukannya sekitar pukul 12.00 siang.\"
\"Aku ingat, Kemarin kak Gozali memang sedkit terlambat untuk turun makan siang,\" ujar Desya spontan.
\"Baiklah Key, aku akan ke kamar Hastio mengambil surat tanah itu.\" Wisnu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan cepat untuk menaiki anak tanggga ke kamar Hastio di lantai dua.
\"Tapi, Key. Bukannya yang kamu temukan hanya surat-surat tanah, lantas uang ratusan juta rupiah itu dipindahkannya ke mana?\" tanya Ane karena dia merasa ada sesuatu janggal.
\"Hastio pasti sudah memindahkannya karena aku meletakkan surat itu di laci dengan uang ratusan juta rupiah di amplop cokelat,\" aku Gozali mencoba menyudutkan Hastio.
Sebelum sempat Key menanggapi pernyataan Gozali, Wisnu sudah menyapa Key dan menuruni tangga. \"Aku sudah menemukannya.\" Wisnu mengangkat tangan yang memegang map tebal berisi surat-surat tanah Gozali.
Key membalasnya dengan senyuman hangat.
\"Anda bohong, Pak Gozali,\" sergah Key.
\"Buktinya uang di brankas saya juga tidak ada.\" Gozali menyela.
\"Uang itu memang tak pernah ada, saat aku memeriksa brankas dan menyadari brankas itu tidak rusak, aku sudah menduga jika surat dan uang itu tidak dicuri. Lalu aku juga menyadari satu hal jika anda tidak pernah menaruh uanag di brankas itu. Jika uang itu baru saja dicuri dan dipindahkan sesuai laporan anda, pastilah brankas tertutup yang bahkan tak ada celah angin itu akan menguarkan bau uang ketika dibuka. Namun aku tidak mencium bau apapun, selain bau kertas di sana. Laci meja kamar Hastio juga sama, tidak ada bau uang di tempat itu. Bagaimana bisa anda bersikeras mengatakan uang anda dicuri jika uang itu tak pernah ada?\"
Gozali tertunduk mendengar seluruh penuturan Key. Air mukanya berubah, nampak pucat.
\"Kenapa kau melakukan semua ini, Mas?\" Hartina mulai terisak. Dia tidak percaya suaminya melakukan semua itu untuk membuat adiknya dituduh.
\"Aku baru sadar kalau Kak Gozali tidak menyukaiku,\" kata Hastio pelan penuh sesal. Febriana memeluk suaminya dengan cucuran air mata yang tak bisa lagi ditahannya. Adam dan Desya hanya menatap iba kepada mereka.
\"Maaf, Aku terpaksa melakukan ini karena mendengar pembicaraanmu dan Hastio tentang penyakitku. Kupikir ... kalian sedang menunggu kematianku untuk menguasai seluruh kekayaanku,\" tutur Gozali dengan suara lemah.
\"Aku tidak mungkin melakukan itu, Kak. Aku hanya melarang Ka Hartina membawa Kak Gozali ke rumah sakit Jakarta karena aku ingin kakak pergi berobat ke Singapura di rumah sakit yang lebih besar dan canggih untuk kesembuhanmu,\" ucap Hastio tulus lalu memeluk Gozali erat-erat.
“Hastio benar, Mas. Kau mungkin tidak mendengar seluruh pembicaraan kami hingga berpikiran seperti itu. Maafkan aku Mas, tidak menjelaskannya padamu. Aku juga tidak tahu kalau kau mendengar semuanya,\" isak Hartina penuh penyesalan.
\"Aku yang seharusnya minta maaf,\" balas Gozali lagi.
Key, Ane, Genta dan Wisnu memandang kasihan pada tangisan tertahan mereka. Ketiga anak dan penyidik itu hanya bisa diam membisu. Key merasa lega telah membuat segalanya berubah jadi lebih baik.
Ane terpaku dengan perasaan menyedihkan seolah dia adalah bagian dari keluarga ini.
Genta melirik pada Key sebentar lalu tersenyum. Dia bangga menjadi bagian dari tim detektif itu.
Wisnu melangkah ke samping Key dan merangkulkan tangannya di bahu Key. \"Hebat, Key. Sekarang aku percaya bahwa kalian anak-anak hebat. Tim yang hebat.\"
Key mendongak, \"Terima kasih, Pak Wisnu. Sekarang anda bisa tenang karena penghuni tahanan telah berkurang,” canda Key sembari terkikik geli.
Wisnu mendesah berat. \"Benar ... Sepertinya aku butuh istirahat panjang untuk bisa mencerna semua kata-kata ajaibmu itu.\"
Key tersenyum lebar mendengar ucapan Wisnu. Dia pun berdiri di antara kedua temannya lalu melingkarkan tangan kanan di lengan Ane dan memegang tangan Genta dengan tangan kirinya. Lalu sejenak Mereka saling memandang dan tersenyum lega.
Other Stories
First Snow At Laiden
Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...
Padang Kuyang
Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...