Jejak Pencurian
\"Sebenarnya apa yang dicuri di rumah ini, Pak?\" tanya Key tiba-tiba ketika dia menyadari bahwa seluruh perabotan rumah itu masih lengkap. Tidak ada satu barang pun yang terlihat berpindah dari tempatnya.
Prayogo menoleh, sementara yang lainnya masih memeriksa beberapa berkas di tangan mereka. \"Sejumlah uang ratusan juta rupiah di brankas serta beberapa surat-surat tanah Gozali-- pemilik rumah ini,\" jawabnya.
\"Bukankah di rumah ini ada cctv? Kenapa tidak diperiksa?\" tanya Key lagi.
\"Kami sudah memeriksanya tapi saat kejadian cctv rumah ini tidak menyala sama sekali.\"
\"Bisakah kami memeriksanya kembali, Pak?\"
\"Silakan, lakukan saja apa yang menurut kalian harus dilakukan seorang detektif,” kata Prayogo dengan senyum ramah.
\"Siap, Pak.\"
\"Baiklah anak-anak, kami harus kembali ke kantor untuk memeriksa beberapa hal. Pak Wisnu yang akan menemani penyelidikan kalian di sini.\"
\"Baik, Pak. Setelah ini kami ingin menanyai pemilik rumah serta seluruh anggota keluarganya,” sahut Key
Setelah tim penyidik itu pergi meninggalkan mereka. Polisi yang bernama Wisnu malah menyindir anak-anak itu. \"Jangan membuat ulah ya anak-anak!\"
\"Kami datang untuk menyelidiki kasus, Pak, bukan untuk bermain-main,\" sinis Ane.
Genta hanya mengulum senyum melihat ekspresi Ane yang mudah sekali tersinggung.
\"Sudahlah, Ne. Oh ya Pak wisnu, di mana kami bisa bertemu pemilik rumah?\" tanya Key
\"Mereka ada di ruang tengah, saya sudah bertanya beberapa hal pada mereka, jika kalian perlu menanyakan sesuatu silakan saja, tapi jangan bertanya hal-hal yang tidak masuk akal.\"
Ane baru saja akan membalas perkataan penyidik itu, tapi Key sudah menyentuh lengan Ane untuk tidak mengatakan apapun.
\"Gen, periksa cctvnya!\" perintah Key.
\"Tapi ruang kendalinya di mana?\" tanya Genta
\"Mari kuantar ke ruang kendali, aku ingin tahu seberapa hebat anak detektif ini,” sindir Wisnu.
\"Oke, siapa takut.\"
Mendengar jawaban Genta, Wisnu mendelik. Genta malah berjalan santai lebih dulu kemudian menoleh.
\"Pak Wisnu .... \"
Wisnu berjalan cepat mendahului Genta seraya mendecakkan lidah. Genta tersenyum lebar. Mereka berdua menuju ruangan yang tampak dibuat tersendiri. Key dan Ane menghentikan pandangan mereka ketika Genta dan Penyidik itu menghilang di balik pintu.
Key dan Ane menuju ke ruang tengah, di sana sudah ada beberapa orang yang berkumpul dengan ekpresi mereka masing-masing. Seorang Pria yang berusia kurang lebih 58 tahun menampakkan wajah muram dan sedih. Di sampingnya duduk seorang wanita yang usianya mungkin tidak terlampau jauh dari laki-laki berwajah muram itu. Wanita itu pun tak kalah sedihnya, bisa terlihat dari jejak-jejak airmata yang terlukis di wajahnya.
Di sisi sofa yang lain di ruangan itu ada juga Pria dan Wanita berusia sekitar 35 tahun serta seorang anak perempuan berusia sekitar 5 tahun. Wajah kedua orang itu tampak tak menunjukkan bahwa yang terjadi di rumah mereka adalah hal yang patut ditangisi.
Sementara itu ada juga Pria dan Wanita lain yang sedang sibuk memanjakan kedua anak kembar yang ada digendongan mereka masing-masing.
\"Kalian siapa?\" tanya seorang Pria berwajah muram dengan tatapan bingung melihat dua anak perempuan yang tidak mereka kenali tiba-tiba muncul di ruangan itu.
\"Maaf, Pak. Nama saya Key dan ini teman saya namanya Ane,\" jawab Key sembari menggerakkan tangannya ke arah Ane. \"Kami adalah detektif yang akan membantu para penyidik memecahkan kasus pencurian di rumah ini,\" lanjutnya lagi.
\"Anak-anak jadi detektif? Apa penyidik itu sudah tidak waras mempekerjakan anak-anak seperti kalian?\" pria itu mendelik tak percaya.
\"Kalau Bapak tidak percaya, ini kartu nama kami.\" Key menyodorkan selembar kartu pada orang itu. Pria yang menggendong seorang anak dan Pria satunya lagi mendekat pada Pria berwajah muram itu dan berdiri di belakangnya dengan mata terpentang lebar. Mereka ikut membaca tulisan yang tertera pada kartu itu.
\"Ini tidak mungkin,\" gumam Pria berwajah muram.
\"Mungkin Bapak masih tidak percaya karena kami anak-anak, tapi kami pasti berhasil menemukan pencurinya,\" yakin key menegakkan tubuh.
\"Lagi pula tim penyidik telah memberi izin pada kami untuk memecahkan kasus ini, Pak.\" Ane ikut menambahkan.
\"Aku rasa mereka tidak berbohong, Kak,” kata Pria berambut ikal yang kemungkinan ayah dari anak berusia 5 tahun itu.
Pria paruh baya itu mengangguk sekali. \"Aku tidak ingin berdebat panjang, jadi apa yang kalian lakukan di sini setelah para penyidik itu pergi? Apa kalian sengaja dibiarkan berkeliaran di rumah ini?\" sinisnya.
\"Kami ingin bertanya beberapa hal pada Bapak, sementara teman kami yang satunya sedang memeriksa cctv bersama penyidik Wisnu,\" jawab Key.
\"Baiklah apa yang ingin kalian ketahui?\" tanya Pria itu lagi tidak sabar. Dia ingin anak-anak itu segera pergi.
\"Baiklah, Ane siapkan catatanmu!\" perintah Key.
\"Oke.\" Ane mengangguk pasti.
Key mengambil tempat duduk di seberang meja. \"Baik Pak, saya ingin Bapak memperkenalkan siapa saja yang menghuni rumah ini.\"
Pria paruh baya itu berdehem pelan. \"Saya—Gozali, pemilik rumah ini dan ini istri saya, Hartina,\" katanya sambil merangkulkan satu tangan pada wanita yang duduk di sebelahnya. Sementara wanita itu hanya memandang datar pada Key dan Ane. \"Yang di sebelah kalian itu Desya dan istrinya—Desya serta kedua anak kembarnya. Adam adalah adik bungsu saya. Mereka tinggal di rumah ini,\" lanjutnya. \"Dan yang itu . ...\"
\"Biarkan aku memperkenalkan diriku pada anak-anak detektif ini,\" sela Pria berambut ikal yang duduk berseberangan dengan Key dan Ane. \"Namaku Hastio—adik laki-laki Ibu Hartina, dan ini istriku—Febriana serta Tisya, dia anakku satu-satunya. Kami tinggal di rumah ini hanya sampai kami menemukan kontrakan baru. Kami pindah ke rumah ini sekitar lima bulan yang lalu.\"
\"Baiklah, apa di rumah ini tidak ada orang lain lagi selain kalian semua? Mungkin pembantu?\" tanya Key sementara Ane sibuk dengan catatannya.
\"Tidak ada,\" balas Gozali singkat.
\"Saat pencurian terjadi di manakah posisi kalian semua?\"
\"Saya mengajak mereka semua untuk makan malam di luar, tepatnya kami semua berada di rumah makan yang tidak cukup jauh dari rumah ini,\" jelas Gozali.
\"Jadi saat pencurian di malam itu, kalian semua berada di tempat yang sama? Kapan saat anda menyadari bahwa anda kehilangan surat-surat dan uang itu?\" Key bertanya penuh selidik.
\"Ya, seperti yang sudah saya katakan kami semua berada di sana kecuali Hastio yang tiba-tiba pergi karena menerima telepon dan saat saya pulang ke rumah surat-surat tanah dan uang itu sudah hilang dari brankas.\"
Key diam dan berpikir.
\"Hai Key, kami sudah memeriksa cctvnya.\" Suara Genta membuyarkan semua pikiran Key. Genta dan penyidik Wisnu melangkah mendekati mereka.
\"Jadi kalian sudah menemukan jawabannya?” tanya Wisnu dengan senyum meremehkan.
\"Kami belum selesai menginterogasi mereka, Pak,\" balas Ane.
\"Bagaimana Genta? apa yang kalian temukan?\" Key bertanya antusias.
\"Saat pencurian terjadi cctv dimatikan. Yang terekam hanya aktifitas siang hari.\"
\"Jadi menurutmu, pencuri itu yang mematikan cctv?\"
Genta mengangguk. \"Kemungkinan seperti itu.
\"Bagaimana bisa rekaman saat mereka masuk tidak ada jika memang benar mereka mematikannya, sementara ruang kendali itu ada di dalam rumah?\"
\"Bisa jadi mereka lewat di tempat yang tidak terekam.\" Genta menyimpulkan.
\"Aku rasa tidak ada tempat yang luput dari pantauan cctv di rumah ini dan aku sudah memeriksanya berkali-kali,\" timpal Wisnu dengan suara angkuh.
Key mengerutkan dahi. Dia mulai merasa ada sesuatu yang janggal dalam kasus ini.
\"Pak Hastio, kapan anda meninggalkan rumah makan?” Key kembali melakukan interogasi.
\"Lima belas menit kemudian karena aku mendapat telepon dari kantor ada sesuatu yang harus kukerjakan.\"
\"Anda bekerja di mana dan sebagai apa?\"
\"Aku bekerja di perusahaan furniture Kak Gozali sebagai desain interior.\"
\"Oh jadi anda bekerja di perusahaan Pak Gozali sendiri.\"
\"Iya.\"
\"Pak Gozali, apakah ....\"
\"Tunggu Key, \" Sela Genta. Anak laki-laki itu mengamati layar laptop di hadapannya. Dia memutar kembali rekaman cctv kemarin siang yang tadi sempat dipindahkannya di laptop.
\"Ada apa?\" Key begeser sedikit ke kiri lebih dekat pada Genta yang duduk satu sofa dengannya.
\"Lihat ini, sepertinya ada seseorang yang berdiri lama di depan pintu pagar. Apakah ada seorang tamu yang datang siang itu?\"
\"Saya sama sekali tidak tahu,\" sahut Gozali cepat.
\"Siapa yang berada di rumah saat itu?\" balas Key.
\"Saya, Kak Hartina, Kak Gozali dan Hastio yang saat itu baru sja pulangari kantor.\" Desya akhirnya bersuara.
\"Apa Mbak Desya melihat orang itu?\"
\"Iya, aku melihatnya tetapi setelah orang itu pergi.\"
\"Apa mbak Desya mengenal orang itu?\"
\"Aku tidak bisa mengenalinya karena hanya melihat punggungnya saja.\"
\"Sepertinya kasus ini semakin rumit karena tidak ada sesuatu yang membuktikan kalau seseorang masuk ke rumah ini malam itu.\" Dahi Key berkerut.
Wisnu tertawa kecil. \"Apa kalian sudah menyerah? Jangan sok pintar. Pulanglah ke rumah dan bermain seperti yang seharusnya kalian lakukan di usia seperti ini.\"
Ane mendesis. Sejak awal dia tidak suka dengan sikap penyidik yang satu itu.
\"Kami sama sekali belum menyerah,\" ucap Ane lantang.
Wisnu menaikkan kedua alisnya. \"Ya ya, cepat temukan pencurinya dan pulanglah!”
\"Apa mungkin orang itu datang untuk memastikan targetnya?\" gumam Key masih menekuri gambar di cctv itu lalu menepuk lengan Genta ketika dia menyadari sesuatu.
\"Gen, coba mundurin videonya!\"
Genta tersentak secara tak sadar kemudian buru-buru mengikuti perintah Key. \"Ada apa?\"
\"Stop!\" tegur Key.
Genta mengklik tombol pause.
\"Coba lihat! saat orang itu datang ada anak kecil yang bermain di teras rumah ini.\"
\"Itu Tisya,\" ujar Desya yang saat itu sedang berdiri di belakang Genta sambil menggendong anaknya.
Key melirik pada anak kecil bernama Tisya yang sedang asyik bermain boneka di pangkuan Febriana.
\"Kita nggak mungkin tanya padanya, Key,\" komentar Genta yang paham arti tatapan Key.
\"Oke, saya ingin bertanya sekali lagi Pak Gozali, apa Bapak sama sekali tidak melihat wajah orang itu?\"
\"Bagaimana mungkin saya melihat, saat itu saya sedang berada di kamar atas,\" tegas Gozali.
\"Baiklah, sudah cukup. Sekarang sudah siang, Aku rasa kalian semua butuh makan siang,\" ucap Wisnu untuk mencegah Key tidak mengajukan pertanyaan lagi. Dia bisa melihat situasi sudah mulai tidak nyaman lagi bagi penghuni rumah.
\"Itulah yang kuharapkan,\" cetus Hastio lalu beranjak menuju ruang lain diikuti Febriana yang menuntun Tisya. Di belakang mereka ada Adam dan Desya serta kedua anak kembar di pelukan mereka masing-masing.
\"Terima kasih atas waktunya, Pak Gozali. Jangan khawatir! Kami pasti menemukan pencuri itu agar berkas-berkas dan uang Bapak bisa kembali secepatnya,\" Kata Key.
\"Saya harap begitu.\"
\"Ayo anak-anak waktu kalian sudah habis, kalian bisa kembali siang nanti,\" Komentar Wisnu.
\"Pak Gozali, saya harap anda tidak merasa direpotkan oleh anak-anak ini,\" imbuhnya.
Ane berdiri dan memandang sengit pada Wisnu. Key pun merangkul bahu Ane. \"Ayo, kita pulang!\"
Genta memasukkan laptopnya ke dalam tas lalu menyampirkan talinya ke punggung. Dia tersenyum geli menatap wajah cemberut Ane.
\"Ane sepertinya kita butuh makanan yang dimasak di rumah Key,\" Sindir Genta.
\"Tidak masalah,\" gumam Key tak mau kalah.
Mereka bertiga berjalan beriringan keluar dari rumah besar itu sementara Wisnu membuntuti mereka dari belakang. Key memutuskan menoleh. \"Jangan khawatir, Pak. Kami akan kembali,\" ledeknya. Genta terkikik geli ketika terdengar desisan penyidik Wisnu.
\"Dasar Penyidik sok pintar,\" omel Ane.
\"Aku bisa mendengarmu,\" celetuk Wisnu.
Key dan Genta tak hentinya menahan tawa mendengar Ane terus mengumpat penyidik itu sepanjang jalan hingga sampai ke rumah Key. Key akhirnya tertawa lebar ketika membayangkan penyidik itu tersedak berkali-kali karena Ane terus saja menyebutkan namanya.
Other Stories
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
Dream Analyst
Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...
Srikandi
Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...