Pencarian Kasus
Keesokan harinya Key, Ane dan Genta sudah siap dengan sepeda masing-masing. Matahari pagi masih begitu hangat menyinari Kota Jakarta.
\"Genta, gimana kartu namanya?\" tanya key tiba-tiba.
\"Siap, Bos!\" seru Genta memperlihatkan beberapa buah kartu nama di tangannya.
\"Note-ku juga sudah siap.\" Ane ikut memperlihatkan benda kecil di tangannya.
\"Oke, target kita hari ini di sekitar sekolah. Siapa tahu ada kejadian di dekat-dekat situ yang bisa kita selidiki. Apapun itu kita harus siap,\" jelas Key bersemangat.
Key lalu membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
\"Semalam aku udah beli walkie talkie, masing-masing harus pegang ini,” kata Key lagi sembari menjulurkan tangannya menyerahkan walkie talkie tersebut. \"Apapun yang terjadi kita harus tetap berkomunikasi.\"
\"Wow, keren. Kita udah kayak detektif sungguhan,\" ucap Genta dengan mata berbinar-binar.
\"Kita emang detektif beneran, Gen. Bukan bacanda, ah,” omel Key.
Genta tertawa kecil. \"Aku masih nggak percaya, Key. Secara kita masih anak SMP.\"
\"Ish, kenapa sekarang kamu yang nggak percaya diri. Ane malah nggak komentar,\" sinis Key.
\"Aku diam karena masih mikir sih, Key. Nanti kita bakal menghadapi kasus apa?\" ujar Ane.
\"Nggak usah khawatir gitu, Ne. Serahin semua ke aku, kalian tunggu instruksi aja.\" Key berkata optimis.
\"Siap Ketua Tim,\" ujar Genta.
\"Oke, Key,\" sambung Ane.
Anak-anak itu akhirnya sepakat untuk bersepeda di sekitar sekolah mereka. Satu persatu mereka melaju ke luar dari halaman rumah Key.
Mereka berheti di gerbang SMP Labschool, tampak di halaman beberapa murid sedang bermain basket. Sekoah itu memang tak pernah sepi sekalipun di hari libur. Mereka memanfaatknnya untuk berkumpul di masing-masing klub kegiatan ekstrakurikuler seperti klub musik, klub teater, klub basket, klub cheerleader, dan klub-klub lainnya. Namun bagi Key, Ane dan Genta tak ada satu pun klub yang sesuai dengan pribadi mereka. Key lebih suka membaca komik dan novel detektif, sementara Ane senang menulis, sedangkan Genta lebih suka berlama-lama di depan laptopnya dan seminggu sekali mengikuti kegiatan karate di luar sekolah.
\"Kita dah nyampe nih, Key, trus kita kemana?\" tanya Genta terlihat tak sabar.
\"Aku sama Ane jalan ke arah kiri dan kamu ke arah kanan. kalau ada sesuatu yang menarik yang kamu temukan hubungi aku atau Ane,\" jelas Key.
\"Kalo nggak ada sama sekali, gimana?\" tanya Genta lagi.
\"Kita ketemu lagi di sini.\"
\"Oke,\" jawab Genta lalu memutar sepedanya ke arah kanan depan gerbang sekolah, sedangkan Key dan Ane memutar ke arah kiri. Mereka pun memulai pencarian kasus.
Key dan Ane mengayuh lambat sepeda mereka sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling. Genta yang mengayuh sepedanya ke arah yang berbeda memilih menuntun sepedanya ketika tiba di area perumahan.
\"Kemana lagi kita, Key. Udah sejauh ini tapi nggak ada tanda-tanda kita nemuin kasus?\" wajah Ane terlihat lelah. Key tidak terpengaruh sama sekali
\"Kita baru separuh jalan juga, kamu udah mau nyerah. Coba lihat di sana! sepertinya ada sesuatu yang terjadi,\" seru Key sembari mengayuh sepedanya lebih cepat dari Ane. Ane pun mengikuti anak itu dari belakang.
Mereka menghampiri kerumunan orang di jalan. Di sana sudah ada seorang polisi yang mewawancarai salah satu orang yang ikut bergabung dalam kerumunan itu.
Setelah memiringkan sepeda mereka di tepi jalan, Key dan Ane mencoba masuk di antara celah-celah orang-orang itu. Key diam dan memperhatikan percakapan polisi dan orang itu yang diduga sebagai saksi mata. Tadinya Key mengira hal tersebut akan menjadi kasus pertama yang akan mereka tangani, nyatanya kejadian tersebut bukanlah kejadian yang membutuhkan penyelidikan lebih lanjut karena hanya kecelakaan mobil biasa yang sudah jelas penabrak dan yang ditabraknya.
\"Ne, yuk lanjut! Ini cuma kasus kecelakaan.\" Tergambar jelas raut kecewa di wajah Key.
Ane mengangguk lalu mengikuti langkah Key yang keluar dari sela-sela orang yang mulai ramai berdatangan untuk mencari tahu apa yang terjadi.
\"Padahal tadinya aku jadi semangat,\" kata Ane mengembuskan napas kasar. \"Sekarang malah berasa banget lelahnya,” lanjutnya lagi sembari menyeka peluh yang mengalir dari celah-celah rambut. Dia menarik ikat rambutnya lalu kembali menguncirnya lebih rapi. Postur tubuhnya yang lebih kecil dari Key jelas mudah lelah jika bersepeda terlalu jauh.
\"Semangat aku juga hampir hilang. Yuk kita pulang! besok kita lanjut lagi di tempat lain setelah pulang sekolah,\" sahut Key.
\"Genta gimana?\"
“Oh iya, sms gih.\"
Ane pun menggeser jarinya di layar ponsel. Mengirim pesan pada Genta untuk menghentikan pencarian mereka hari itu dan akan dilanjutkan besok setelah pulang sekolah.
Kini Key dan Ane menyusuri jalan pulang dengan berjalan kaki dan menuntun sepedanya. Beberapa menit kemudian terdengar bunyi ponsel Ane yang berdering.
\"Key, yuk kita ke tempat Genta! Ada sesuatu yang mau diperlihatkannya,\" seru Ane antusias setelah beberapa detik sebelumnya membaca pesan dari Genta.
\"Oke,\" jawab Key bersemangat dan menaiki sepedanya. Ane pun buru-buru memasukkan ponsel ke dalam tas lalu mengikuti Key yang sudah lebih dulu melaju ke depan.
***
\"Jadi ada apa Gen?\" tanya Key langsung ketika sepeda mereka berhenti mendadak tak jauh dari Genta yang berdiri dengan kedua tangan memegang setang sepeda.
\"Coba lihat rumah itu! sepertinya ada kejadian besar.\" Genta mengarahkan telunjuknya ke depan-- ke arah rumah besar yang sedang dipasangkan garis polisi.
Key mengangguk serius. \"Iya, kamu benar.\"
\"Semoga ini kasus pertama kita,” harap Ane.
\"Kalian siap?\" tanya Key tanpa menoleh sedikitpun. Dia terus mengamati pemandangan yang berlangsung di depan mereka. Kesibukan beberapa orang polisi.
\"Siap!\" tukas Ane dan Genta hampir bersamaan.
\"Yuk,\" Key melambaikan tangannya sebagai isyarat agar kedua temannya mengikutinya.
Anak-anak pun meletakkan sepeda mereka tak jauh dari gerbang rumah yang menganga lebar. Mereka mulai mendekat.
\"Hey anak-anak, kalian mau kemana?\" tanya seorang Pria berseragam Polisi dengan suara tegas.
\"Apa yang terjadi di sini, Pak?\" Key balik bertanya.
\"Ada pencurian. Kalian lebih baik pulang, penghuni rumah ini belum bisa kalian temui,\" jawab Pria dewasa itu.
\"Apa pencurinya sudah diketahui, Pak?\" kini giliran Genta yang mengajukan pertanyaan.
\"Belum, kami masih menyelidiki. Untuk itu anak-anak silakan kembali ke rumah kalian.\"
\"Kami di sini untuk ikut menemukan pencurinya, Pak,\" ujar Key.
Polisi itu nampak tak senang dengan pernyataan Key. Dia tersenyum mengejek. \"Anak-anak manis, pulang ya. Kami tidak butuh bantuan anak-anak SD seperti kalian.\"
\"Kami sudah SMP, Pak,\" sinis Ane.
\"Oh, SMP. Kelas berapa?\"
\"Kelas VII, Pak.\"
Pria berseragam itu pun menyeringai lebar. \"Tetap saja, kalian itu masih anak-anak. Dan anak-anak dilarang berada di lokasi kejadian yang sedang diselidiki. Kalian lihat ini!\" Polisi itu menunjukkan pita kuning bertuliskan police line berwarna hitam yang memanjang menghalangi jalan masuk ke lokasi rumah. \"Kalian tidak boleh melewati garis polisi ini,\" lanjutnya lagi.
\"Tapi, Pak. Kami punya kemampuan untuk melakukannya.\" Key mencoba meyakinkan.
\"Kemampuan apa yang dimiliki anak kecil seperti kalian?\"
\"Genta,\" panggil Key sambil menadah satu tangan di hadapan Genta. Genta paham apa maksud Key, dia lalu membuka resleting tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam.
\"Ini,\" Genta menyodorkan beberapa kartu yang diminta Key. Key menerimanya.
\"Ini kartu nama kami, Pak.\" Key menyerahkan sebuah kartu nama pada Pria dewasa itu.
Polisi itu mengambilnya dari tangan Key kemudian membaca tulisan yang tertera di sana.
THE LABSKY
KEYRA SHIFA : PENYELIDIK SATU
GENTA PUTRA : PENYELIDIK DUA
ANE AHIRA : PENYELIDIK TIGA
KAMI BISA MENYELIDIKI APA SAJA!!!
Pria itu masih tidak percaya dengan apa yang dibacanya
\"Keyra, Genta dan Ane? Kalian detektif? Ini benar-benar tidak masuk akal. Bagaimana bisa anak-anak ....\"
\"Saya Keyra ... Kami memang masih anak- anak, tapi kami bisa melakukannya, Pak. Percayalah kepada kami,\" sela Key kembali meyakinkan.
\"Saya Genta. Beri kami kesempatan untuk membuktikannya, Pak,\" sambung Genta.
\"Dan saya Ane, Beri kami kesempatan, Pak,” tambah Ane.
\"Tidak bisa anak-anak, di sini bukan tempat untuk bermain-main.\"
\"Saya mohon, Pak. Kita janji kalau kita gagal mengungkap pencurinya, kita bakal mundur, Pak. Nggak akan menyelidiki lagi. Gimana Pak?\"
Polisi itu diam sejenak, mengerutkan kening dan berkata tegas, \"Tidak bisa. Atasan kami bisa marah jika kami mengizinkan anak-anak mengganggu tugas kami. Pulang sana! Sebelum saya mengambil tindakan.\" Pria itu melangkah masuk ke teras rumah meninggalkan anak-anak yang masih berdiri di gerbang.
\"Tunggu, Pak. Tunggu sebentar!\" teriak Key kemudian menunduk sebentar melewati garis polisi yang menghalangi jalan.
\"Hey anak-anak nakal, ada apalagi? saya sudah mengatakan dengan jelas bahwa kami tidak membutuhkan bantuan anak-anak.\"
\"Tapi kami adalah saksi mata pencurian itu, Pak,\" tegas Key.
Ane dan Genta saling memandang dengan mata membelalak tak percaya karena Key mengatakan kebohongan. Mereka tidak pernah menyaksikan pencurian itu bahkan mereka juga tidak tahu kapan pencurian itu terjadi.
Pria berseragam itu pun menghentikan langkahnya yang baru akan tiba di pintu masuk rumah. Dia berbalik dan menatap anak-anak yang membututinya. Key, Ane dan Genta menghentikan langkah mereka ketika jarak mereka dan pria itu sudah tidak terlalu jauh.
\"Apa katamu? Kau melihat pencurian itu terjadi?\"
\"Iya, Pak.\"
\"Apa kau sudah tahu seperti apa wajah pencurinya?\"
\"Tidak, Pak. Hanya saja saya melihat malam itu ada seseorang yang keluar diam-diam dari rumah ini saat saya sedang bersepeda, dan saya pasti bisa menemukannya jika kami menyelidikinya lebih lanjut.\"
Ane dan Genta bungkam. Masing-masing dari mereka sudah menyimpan segala macam pertanyaan dan omelan yang bersarang di kepala mereka. Setelah ini mereka berencana menumpahkannya di hadapan Key. Bagaimana bisa Key melakukan hal seberani itu?
\"Baiklah, saya akan memberikan kesempatan kepada kalian untuk membuktikannya dan jika kalian gagal, kalian harus membubarkan tim konyol kalian ini,\" ancam pria berseragam itu setelah selama beberapa saat dia berpikir.
Key tersenyum semringah.
\"Terima kasih, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik. Kami akan memulai penyelidikan sekarang juga,\" ucap Key dengan raut wajah gembira.
\"Bisakah kami ikut masuk ke rumah, Pak Henry?\" tanya Key mengangkat kedua alisnya.
Polisi itu tersentak ketika Key menyebutkan namanya. Dia melirik nametag di dadanya lalu mendesah perlahan, \"Oh ... Iya, masuklah!\"
Key menjawil lengan Ane dan Genta yang belum bicara apapun dan mengikuti Polisi itu. \"Ayo, jangan bengong!\"
Genta menelan ludah menyadari bahwa Key sudah mengambil resiko.
Setelah mereka di dalam rumah sudah ada Tiga Polisi lainnya yang berdiri menyambut mereka.
\"Siapa anak-anak ini?\" tanya pria berseragam yang bernama Wisnu di nametag-nya.
\"Mereka detektif yang ingin ikut menyelidiki kasus ini,\" Jawab Henry lalu memperlihatkan kartu nama yang tadi diserahkan oleh Key.
\"Wow, anak-anak?\" celetuk yang ber-nametag Cakra dengan senyum mengejek.
\"Tapi kita tidak bisa mengikutkan anak-anak dalam suatu kasus,\" ucap Wisnu lagi dengan tatapan menolak.
\"Mereka memaksa, anak ini berkata bahwa mereka saksi mata pencurian dan ingin membuktikan pencurinya,\" jelas Henry.
\"Tidak bisa, kita tidak bisa melibatkan anak-anak ini,\" tolak Wisnu lagi.
Key terlihat cemas.
\"Tidak masalah, kita beri mereka kesempatan,\" sahut polisi yang terlihat lebih tua dari yang lainnya. Namanya Prayogo. Sepertinya dia adalah Ketua tim penyidik. Terlihat jelas bahwa omongannya tidak bisa diabaikan. Sekali dia memberi izin, rekan lainnya hanya bisa diam sekaligus mengiyakan.
\"Terima kasih, Pak,\" ujar Key penuh semangat.
\"Baiklah anak-anak kalian bisa mulai,\" perintah Kapten Prayogo.
\"Huh, semoga anak-anak ini tidak merepotkan,\" keluh Wisnu lalu mengikuti rekannya yang lain kembali melakukan penyelidikan.
Sementara Key, Ane dan Genta pergi ke sudut ruangan yang lain untuk mengatur rencana.
\"Key, kamu udah gila ya?\" bisik Ane dengan sinis.
\"Memangnya kenapa?\" jawab Key bingung.
\"Kamu nggak pernah kan lihat wajah pencuri itu? Kamu bohong kan?\"
\"Jangan khawatir, Ne. Hanya itu satu-satunya cara agar kita bisa menyelidiki kasus ini.\"
\"Ini terlalu beresiko, Key. Kalau kita ketahuan dan gagal,\" protes Genta.
\"Dengerin aku baik-baik teman-teman, selama kita belum mencoba kita nggak akan tahu hasilnya kan?\"
\"Iya sih, Key. Tapi ....”
\"Nggak ada tapi-tapi, Ne. Kita harus bisa. Kamu jangan khawatir kita nggak akan ketahuan,\" sela Key.
\"Kadang-kadang kamu terlihat keren, Key. Baiklah Ane kita harus percaya pada ketua tim kita ini,\" ucap Genta tersenyum miring.
Ane mendesah dan mengangguk,\" Oke Key, selama ada kamu aku percaya kita bisa.\"
\"Kalian siap?\"
\"Siap, Bos!\" seru Genta tegas
\"Siap, Key,\" jawab Ane kembali bersemangat.
\"Mari kita mulai menyelidiki, kalian sudah tahu kan tugas kalian masing-masing?\"
Ane dan Genta mengangguk mengiyakan
Other Stories
Broken Wings
Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Hafidz Cerdik
Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...